Musikal 40
Sejak Tifa meninggalkan LM sementara waktu, Fi bisa
lebih leluasa berdekatan dengan Adrian. Selama ini Adrian seperti anak kucing
yang selalu menempel pada induknya. Tifa pun demikian, ia selalu berada di sisi
Adrian. Sepertinya ia menyadari kalau keponakannya ini memiliki kharisma yang
luar biasa, dan kalau ditinggalkan bisa-bisa ditelan oleh para gadis. Tifa tak
ubahnya seperti ibu kandung pria tampan ini.
Fi tak menyia-nyiakan waktu. Di tiap kesempatan, ia
menyempatkan diri untuk berdekatan dengan Adrian. Apapun ia lakukan, entah itu
berpura-pura bertanya adegan selanjutnya, atau sekadar memberikan air minum.
Tentu saja apa yang dilakukan Fi bukan tak mengundang
bisik-bisik dari anggota LM yang lain. Entah mereka iri atau sekadar ingin
bergosip, tapi yang jelas apapun yang mereka katakan bukanlah hal yang baik.
Namun, Fi tak peduli. Asalkan ia bisa berada di sisi Adrian, masa bodoh dengan
dunia.
Latihan hari ini telah usai. Adrian segera memberi
komando untuk berkumpul membentuk lingkaran. Setelah semua duduk rapi, ia pun
segera mengambil tempat yang biasa Tifa duduki.
“ Oke, karena semua sudah berkumpul aku akan
menyampaikan pesan yang Miss Tifa
sampaikan,” ujar Adrian. “ Untuk dua minggu ke depan kita akan cuti latihan,
karena kalian harus mengikuti ujian akhir semester. Jadi, hari ini adalah hari
terakhir kalian latihan.”
Hampir semua anggota LM bersorak. Akhirnya mereka bisa
lepas dari latihan yang melelahkan itu meski hanya dua minggu. Ternyata Tifa
masih memiliki rasa kasihan pada para anggotanya.
Latihan hari itu pun berakhir. Tidak seperti biasanya,
mereka pulang dengan wajah yang riang. Padahal biasanya ada saja yang mengeluhkan
soal latihannya. Mungkin karena pengumuman liburan atau mungkin juga karena
ketidakhadiran Tifa, sehingga omelan pedas yang mereka terima berkurang.
Begitu anggota mulai bubar, Fi langsung mengambil
kesempatan untuk berduaan dengan Adrian. Ia pun memasang senyum termanisnya,
lalu menegur pria itu.
“ Wah, kalau latihan ditiadakan berarti aku bakalan
jarang ketemu kamu dong.”
Adrian balas tersenyum, “ Kenapa? Kamu kangen sama
aku?”
“ Ih, ge er kamu,” Fi memukul lengan Adrian sambil
tertawa.
“ Yaah, padahal kalau kamu kangen sama aku tinggal
bilang aja. Aku bisa jemput kamu tiap hari kok.”
“ Eh, gak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri
kok.”
“ Gak repot kok,” alis Adrian terangkat sebelah. “
Ataaau pacar kamu marah kalau aku jemput?”
“ Aku cuma gak mau kamu capek tiap hari jemput aku,”
Fi mencoba menyembunyikan senyumnya. “ Tapi aku belum punya pacar kok.”
“ Kalau gitu kamu gak boleh nolak,” ujar Adrian seraya
merangkul pundak Fi. “Yuk, pulang!”
Meski Fi sangat menginginkan adanya skinship seperti ini, tapi tetap saja ia
gugup ketika Adrian mengalungkan lengan di pundaknya. Bukan Fi namanya kalau
tidak bisa berakting untuk menyembunyikan rona di pipinya. Fi berharap momen
bahagia seperti ini bisa berlangsung
lama. Tangan Adrian begitu hangat dan ia menyukainya.
“ Rin, mau pulang bareng gak?”
Fi menggeram dalam hati. Kenapa sih di setiap detik
yang ia miliki ketika bersama Adrian, si ikal itu selalu muncul? Dia itu setan
pengganggu atau apa? Begitu ia melihat gadis itu, seketika kehangatan Adrian
memudar.
Gadis itu terlihat kebingungan. Ia celingak-celinguk
ke sana kemari, sampai Adrian mendekatinya. Barulah ia sadar kalau memang
dirinya yang diajak.
Fi berdeham, “ Kamu ajak Ririn juga?”
“ Oh iya, aku lupa bilang sama kamu kalau aku dan
Ririn satu komplek. Makanya aku ajak dia aja biar sekali jalan.”
“ Oh, gitu,” Fi memelankan suaranya agar kesinisannya
tidak terdengar. Namun, ia sengaja menggenggam tangan Adrian yang masih
menganggung di pundaknya. Tak lupa ia lempar tatapan menusuk pada gadis itu.”
Sepertinya gadis itu mengerti. Ia menolak dengan
alasan akan pulang bersama yang lainnya. Fi senang karena gadis itu cukup
pintar membaca bahasa tubuh.
“ Sayang yah, dia gak bisa ikut,” Fi berusaha untuk
tetap menjadi gadis baik di depan Adrian.
Adrian mengangkat bahu, “ Ya, apa boleh buat, kita gak
bisa paksa dia. Ngomong-ngomong, Fi. Kamu gak keberatan’kan kalau aku gak
langsung antar kamu ke rumah?”
Mana mungkin Fi keberatan. Ia justru senang, karena
Adrian pandai menerka pikirannya. Ia pun mengangguk dan memberikan senyum
termanisnya.
ooOoo
“ Kamu masih takut sama ambulans?” tanya Fi saat
mereka sedang bersantai di salah satu taman kota.
“ Sudah nggak lagi,” jawab Adrian, lalu ia melirik Fi,
“ Yaa, semuanya berkat seseorang.”
Fi tersenyum-senyum saat mendengar jawaban Adrian.
Namun, Adrian justru tertawa geli.
“ Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu?”
Refleks senyum Fi langsung lenyap. Ia pun memalingkan
wajahnya sambil cemberut. Tawa Adrian makin menjadi.
“ Kok cemberut gitu sih? Kamu tambah lucu tau.”
Adrian mencoba membuat Fi tersenyum dengan mencubit
kedua pipinya. Fi menepisnya dengan kasar, tapi kemudian ia pun ikut tertawa.
“ Naaah, gitu dong, ‘kan cantik kalo ketawa,” ujar
Adrian sambil tersenyum. “Makasih ya, berkat kamu phobia aku sembuh.”
“ Sama-sama. Senang kalau kamu udah gak takut lagi
sama suara itu.”
Adrian mendesah napas berat, kemudian ia merenggangkan
tubuhnya, “ Yaa ampuuun. Hari ini aku capek banget. Ternyata ada di posisi
Tanteku itu bukan hal yang gampang ya. Pantes dia suka marah-marah terus kalau
kita ada kesalahan,” Adrian kembali melirik Fi, lalu tanpa meminta lagi ia
langsung merebahkan kepalanya di pundak gadis itu. “ Aku numpang istirahat di
sini sebentar ya.”
Fi terkejut, tapi ia sama sekali tak menolak saat
kepala Adrian jatuh di pundaknya. Ia ingin berbincang lagi dengan laki-laki
ini, tapi ia urungkan niatnya tatkala suara dengkuran halus Adrian terdengar.
Fi tersenyum. Laki-laki itu cepat sekali terlelapnya.
‘ Ya,
istirahatlah di sisiku.’
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar