Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 40)



Musikal 40



Sejak Tifa meninggalkan LM sementara waktu, Fi bisa lebih leluasa berdekatan dengan Adrian. Selama ini Adrian seperti anak kucing yang selalu menempel pada induknya. Tifa pun demikian, ia selalu berada di sisi Adrian. Sepertinya ia menyadari kalau keponakannya ini memiliki kharisma yang luar biasa, dan kalau ditinggalkan bisa-bisa ditelan oleh para gadis. Tifa tak ubahnya seperti ibu kandung pria tampan ini.

Fi tak menyia-nyiakan waktu. Di tiap kesempatan, ia menyempatkan diri untuk berdekatan dengan Adrian. Apapun ia lakukan, entah itu berpura-pura bertanya adegan selanjutnya, atau sekadar memberikan air minum.

Tentu saja apa yang dilakukan Fi bukan tak mengundang bisik-bisik dari anggota LM yang lain. Entah mereka iri atau sekadar ingin bergosip, tapi yang jelas apapun yang mereka katakan bukanlah hal yang baik. Namun, Fi tak peduli. Asalkan ia bisa berada di sisi Adrian, masa bodoh dengan dunia.

Latihan hari ini telah usai. Adrian segera memberi komando untuk berkumpul membentuk lingkaran. Setelah semua duduk rapi, ia pun segera mengambil tempat yang biasa Tifa duduki.

“ Oke, karena semua sudah berkumpul aku akan menyampaikan pesan yang Miss Tifa sampaikan,” ujar Adrian. “ Untuk dua minggu ke depan kita akan cuti latihan, karena kalian harus mengikuti ujian akhir semester. Jadi, hari ini adalah hari terakhir kalian latihan.”

Hampir semua anggota LM bersorak. Akhirnya mereka bisa lepas dari latihan yang melelahkan itu meski hanya dua minggu. Ternyata Tifa masih memiliki rasa kasihan pada para anggotanya.

Latihan hari itu pun berakhir. Tidak seperti biasanya, mereka pulang dengan wajah yang riang. Padahal biasanya ada saja yang mengeluhkan soal latihannya. Mungkin karena pengumuman liburan atau mungkin juga karena ketidakhadiran Tifa, sehingga omelan pedas yang mereka terima berkurang.

Begitu anggota mulai bubar, Fi langsung mengambil kesempatan untuk berduaan dengan Adrian. Ia pun memasang senyum termanisnya, lalu menegur pria itu.

“ Wah, kalau latihan ditiadakan berarti aku bakalan jarang ketemu kamu dong.”

Adrian balas tersenyum, “ Kenapa? Kamu kangen sama aku?”

“ Ih, ge er kamu,” Fi memukul lengan Adrian sambil tertawa.

“ Yaah, padahal kalau kamu kangen sama aku tinggal bilang aja. Aku bisa jemput kamu tiap hari kok.”

“ Eh, gak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri kok.”

“ Gak repot kok,” alis Adrian terangkat sebelah. “ Ataaau pacar kamu marah kalau aku jemput?”

“ Aku cuma gak mau kamu capek tiap hari jemput aku,” Fi mencoba menyembunyikan senyumnya. “ Tapi aku belum punya pacar kok.”

“ Kalau gitu kamu gak boleh nolak,” ujar Adrian seraya merangkul pundak Fi. “Yuk, pulang!”

Meski Fi sangat menginginkan adanya skinship seperti ini, tapi tetap saja ia gugup ketika Adrian mengalungkan lengan di pundaknya. Bukan Fi namanya kalau tidak bisa berakting untuk menyembunyikan rona di pipinya. Fi berharap momen bahagia seperti ini  bisa berlangsung lama. Tangan Adrian begitu hangat dan ia menyukainya.

“ Rin, mau pulang bareng gak?”

Fi menggeram dalam hati. Kenapa sih di setiap detik yang ia miliki ketika bersama Adrian, si ikal itu selalu muncul? Dia itu setan pengganggu atau apa? Begitu ia melihat gadis itu, seketika kehangatan Adrian memudar.

Gadis itu terlihat kebingungan. Ia celingak-celinguk ke sana kemari, sampai Adrian mendekatinya. Barulah ia sadar kalau memang dirinya yang diajak.

Fi berdeham, “ Kamu ajak Ririn juga?”

“ Oh iya, aku lupa bilang sama kamu kalau aku dan Ririn satu komplek. Makanya aku ajak dia aja biar sekali jalan.”

“ Oh, gitu,” Fi memelankan suaranya agar kesinisannya tidak terdengar. Namun, ia sengaja menggenggam tangan Adrian yang masih menganggung di pundaknya. Tak lupa ia lempar tatapan menusuk pada gadis itu.”

Sepertinya gadis itu mengerti. Ia menolak dengan alasan akan pulang bersama yang lainnya. Fi senang karena gadis itu cukup pintar membaca bahasa tubuh.

“ Sayang yah, dia gak bisa ikut,” Fi berusaha untuk tetap menjadi gadis baik di depan Adrian.

Adrian mengangkat bahu, “ Ya, apa boleh buat, kita gak bisa paksa dia. Ngomong-ngomong, Fi. Kamu gak keberatan’kan kalau aku gak langsung antar kamu ke rumah?”

Mana mungkin Fi keberatan. Ia justru senang, karena Adrian pandai menerka pikirannya. Ia pun mengangguk dan memberikan senyum termanisnya.

ooOoo

“ Kamu masih takut sama ambulans?” tanya Fi saat mereka sedang bersantai di salah satu taman kota.

“ Sudah nggak lagi,” jawab Adrian, lalu ia melirik Fi, “ Yaa, semuanya berkat seseorang.”

Fi tersenyum-senyum saat mendengar jawaban Adrian. Namun, Adrian justru tertawa geli.

“ Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu?”

Refleks senyum Fi langsung lenyap. Ia pun memalingkan wajahnya sambil cemberut. Tawa Adrian makin menjadi.

“ Kok cemberut gitu sih? Kamu tambah lucu tau.”

Adrian mencoba membuat Fi tersenyum dengan mencubit kedua pipinya. Fi menepisnya dengan kasar, tapi kemudian ia pun ikut tertawa.

“ Naaah, gitu dong, ‘kan cantik kalo ketawa,” ujar Adrian sambil tersenyum. “Makasih ya, berkat kamu phobia aku sembuh.”

“ Sama-sama. Senang kalau kamu udah gak takut lagi sama suara itu.”

Adrian mendesah napas berat, kemudian ia merenggangkan tubuhnya, “ Yaa ampuuun. Hari ini aku capek banget. Ternyata ada di posisi Tanteku itu bukan hal yang gampang ya. Pantes dia suka marah-marah terus kalau kita ada kesalahan,” Adrian kembali melirik Fi, lalu tanpa meminta lagi ia langsung merebahkan kepalanya di pundak gadis itu. “ Aku numpang istirahat di sini sebentar ya.”

Fi terkejut, tapi ia sama sekali tak menolak saat kepala Adrian jatuh di pundaknya. Ia ingin berbincang lagi dengan laki-laki ini, tapi ia urungkan niatnya tatkala suara dengkuran halus Adrian terdengar. Fi tersenyum. Laki-laki itu cepat sekali terlelapnya.

‘ Ya, istirahatlah di sisiku.’


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar