Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 46)



Musikal 46



Hari Senin pun tiba. Bersamaan dengan itu ujian akhir semester pun dimulai. Ketegangan mulai dirasa di sana dan sini. Berharap apa yang mereka pelajari menjadi jawaban untuk semua soal yang diujikan. Pelajaran pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan matematika. Sepertinya hari pertama ujian adalah gempuran terbesar bagi semua siswa.

Hari demi hari dilewati. Satu persatu mata pelajaran pun telah usai diujikan. Sekarang hari sabtu, hari terakhir ujian. Di menit-menit terakhir semua siswa harus memperjuangkan kemampuan mereka untuk menjawab soal. Hingga bel pulang berbunyi, seluruh siswa mulai merasakan kelegaan yang tiada tara.

“ Akhirnya, selesaaaaai…” Ben merenggangkan punggung serta kedua tangannya.

Wenda mencolek bahu Ben, “ Jalan yuk, kita refreshing.

Ben menjentikkan jarinya, “ Good idea! Kita ajak yang lain juga. Terus kita karaokean aja.”

“ Yah, jangan karaoke dong,” sahut Anjani. “ Kalo karaoke aku suka lupa diri, nanti malah suara aku habis. Bisa kena marah Miss Tifa kalau suara aku serak-serak.”

“ Kita nonton aja deh, terus makan-makan,” ujar Wenda. “ Lagian ada film keren nih, perdana tayang hari ini.”

Ben mengangguk-angguk, “ Kayaknya seru juga, sip deh. Eh iya, kita ajak anak-anak LM yang kelas 11 juga yuk, biar ramai.”

Wenda dan Anjani menjawab sepakat. Mereka pun langsung menyebarkan kabar itu ke teman-teman mereka. Beberapa orang ada yang tidak bisa ikut, seperti Priyanka yang bilang harus bertemu dengan seseorang, Andani yang harus latihan vokal, termasuk Kemal yang tiba-tiba berhalangan.

“ Kalian ngajaknya dadakan sih. Aku udah janji sama Mamaku untuk jemput dia pulang dari sanggar terus nganterin belanja”

“ Yaaah, padahal gak seru kalo gak ada kamu, Mal,” ujar Anjani.

Kemal tertawa, “ Salam aja buat cewek-cewek cantik yang hadir yah,” Kemal mengedipkan matanya, kemudian menyambar tasnya. “ Aku jalan duluan, ya.”

Ketiga sahabatnya hanya bisa melambai kecewa. Sebenarnya ia juga tak mau melewatkan kesempatan hang out bersama teman-temannya, tapi sebagai upaya agar ia tak dikutuk jadi batu oleh ibunya, ia lebih memilih merelakan kesempatan ini.

Kemal memacu motornya ke salah satu sanggar dansa yang berada di seputaran jalan R. Sukamto. Sampai di sana ia disambut hangat oleh senyuman manis sang resepsionis.

“ Gladyyys, Mamaku udah selesai belum?” sapa Kemal sambil mengedipkan matanya.

“ Masih lama kayaknya. Tadi banyak yang datang soalnya,” jawab wanita yang sebenarnya berselisih empat tahun dari Kemal. “ Kamu mau tunggu di sini?”

“ Hmm, gimana ya?” Kemal melihat arlojinya, di saat yang sama ada dua wanita cantik melintas di depannya, senyumnya langsung mengembang. “ Citra, Serly, udah pada selesai ya?”

“ Iya nih, kita mau kuliah dulu,” jawab cewek yang bernama Citra. “ Duluan ya, Kemal.”

Kemal melambaikan tangan. Tepat di saat Citra dan Serly membuka pintu, ada seorang gadis baru saja masuk, dan Kemal belum sempat meredupkan senyumnya.

“ Mbak Anis, baru datang ya?”

“ Eh, Kemal. Nungguin Mamanya ya?”

Kemal mengangguk, ia pun mengobrol sebentar dengan wanita yang bernama Anis itu. Setelah Anis berlalu, banyak wanita-wanita lain yang berlalu-lalang di depannya. Herannya, Kemal hapal semua nama-nama mereka dan menyapanya. Entah, apakah itu anggota, pegawai, atau instruktur di sanggar itu. Baginya menghapal nama-nama wanita cantik itu tidak sesulit menaruh titik koma pada sebuah paragraf.

“ Aku tunggu di kafe sebelah aja deh,” ujar Kemal setelah merasa tak ada lagi wanita-wanita cantik yang melintas. “ Nanti kalau Mamaku udah selesai, kabarin aku ya, Dys.”

Gladys mengangguk. Kemal melambaikan tangan dan meninggalkan sanggar tersebut. Ia menuju sebuah kafe yang berada di sebuah mall yang tak jauh dari sana. Ia memesan secangkir cappuccino dan menikmati layanan wifi gratis di sana.

Matanya tiba-tiba teralihkan pada seorang gadis yang duduk di seberang mejanya. Ia sangat mengenali wanita berpostur proposional meski wanita itu masih mengenakan seragam SMA. Kemal yakin bahwa matanya tak salah mengenali kalau wanita itu adalah Priyanka dari divisi tari Love Musical. Cappucinonya belum datang dan Kemal pun berniat menghampiri gadis itu.

“ Priyanka? Sendiri aja?’

Gadis itu terkejut dengan kehadiran Kemal, “ Eh—eh, Ke—kemal? I—iya, ta—tapi a—aku nung—nunggu o—orang.”

Kemal tertawa menangkap kelakuan gadis itu yang tiba-tiba menjadi gagap, “Boleh aku duduk di sini sampai orang yang kamu tunggu itu datang?”

Priyanka bisa saja berkata ‘tidak’, tapi tentu bertentangan dengan etika kesopanannya. Selain itu, tanpa persetujuan pun Kemal sudah mendudukkan pantatnya pada kursi yang ada di sebelah Priyanka.

So, kamu gak ikut anak-anak jalan?”

“ Emm, a—aku kan udah bilang ma—mau ketemu o—orang,” Priyanka menelan ludah. Matanya terlihat mencari-cari seseorang. “ Ka—kamu sendiri?”

Kemal kembali tertawa, “ Kamu kok tiba-tiba gagap gitu sih? Biasanya kamu lancar kalau ngomong.”

“ Bu—bukan gitu, se—sebenarnya aku―”

“ Priyanka, sama siapa ini?”

Jantung Priyanka serasa berhenti berdetak. Ia melirik Kemal dengan takut. Sementara Kemal terlihat bingung, tapi ia tetap santai. Ia berdiri dan mengulurkan tangan pada laki-laki yang tiba-tiba datang ini.

“ Hai, aku Kemal. Aku teman sekelasnya, Priyanka.”

“ Erick,” balasnya dengan nada sinis, lalu melirik Priyanka. “ Jadi, kamu minta antar dengan cowok ini?”

Kemal buru-buru mengangkat tangannya, “ Wow, wow, easy, man. Kami cuma kebetulan ketemu, dan aku negur dia duluan. Kamu gak usah nuduh yang aneh-aneh. Hmm, okay, aku gak mau ganggu kalian. So, enjoy your date.

Di saat yang sama, cappuccino pesanan Kemal datang. Kemal meraih kopinya dari sang pelayan dan menuju meja yang agak jauh. Sebelum pergi ia membisikkan sesuatu yang membuat pipi Priyanka bersemu merah karena malu.

“ Pacarmu kampret.”

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar