Musikal 46
Hari Senin pun tiba. Bersamaan dengan itu ujian akhir
semester pun dimulai. Ketegangan mulai dirasa di sana dan sini. Berharap apa
yang mereka pelajari menjadi jawaban untuk semua soal yang diujikan. Pelajaran
pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan
matematika. Sepertinya hari pertama ujian adalah gempuran terbesar bagi semua
siswa.
Hari demi hari dilewati. Satu persatu mata pelajaran
pun telah usai diujikan. Sekarang hari sabtu, hari terakhir ujian. Di
menit-menit terakhir semua siswa harus memperjuangkan kemampuan mereka untuk
menjawab soal. Hingga bel pulang berbunyi, seluruh siswa mulai merasakan
kelegaan yang tiada tara.
“ Akhirnya, selesaaaaai…” Ben merenggangkan punggung
serta kedua tangannya.
Wenda mencolek bahu Ben, “ Jalan yuk, kita refreshing.”
Ben menjentikkan jarinya, “ Good idea! Kita ajak yang lain juga. Terus kita karaokean aja.”
“ Yah, jangan karaoke dong,” sahut Anjani. “ Kalo
karaoke aku suka lupa diri, nanti malah suara aku habis. Bisa kena marah Miss Tifa kalau suara aku serak-serak.”
“ Kita nonton aja deh, terus makan-makan,” ujar Wenda.
“ Lagian ada film keren nih, perdana tayang hari ini.”
Ben mengangguk-angguk, “ Kayaknya seru juga, sip deh.
Eh iya, kita ajak anak-anak LM yang kelas 11 juga yuk, biar ramai.”
Wenda dan Anjani menjawab sepakat. Mereka pun langsung
menyebarkan kabar itu ke teman-teman mereka. Beberapa orang ada yang tidak bisa
ikut, seperti Priyanka yang bilang harus bertemu dengan seseorang, Andani yang
harus latihan vokal, termasuk Kemal yang tiba-tiba berhalangan.
“ Kalian ngajaknya dadakan sih. Aku udah janji sama
Mamaku untuk jemput dia pulang dari sanggar terus nganterin belanja”
“ Yaaah, padahal gak seru kalo gak ada kamu, Mal,”
ujar Anjani.
Kemal tertawa, “ Salam aja buat cewek-cewek cantik
yang hadir yah,” Kemal mengedipkan matanya, kemudian menyambar tasnya. “ Aku
jalan duluan, ya.”
Ketiga sahabatnya hanya bisa melambai kecewa.
Sebenarnya ia juga tak mau melewatkan kesempatan hang out bersama teman-temannya, tapi sebagai upaya agar ia tak
dikutuk jadi batu oleh ibunya, ia lebih memilih merelakan kesempatan ini.
Kemal memacu motornya ke salah satu sanggar dansa yang
berada di seputaran jalan R. Sukamto. Sampai di sana ia disambut hangat oleh
senyuman manis sang resepsionis.
“ Gladyyys, Mamaku udah selesai belum?” sapa Kemal
sambil mengedipkan matanya.
“ Masih lama kayaknya. Tadi banyak yang datang soalnya,”
jawab wanita yang sebenarnya berselisih empat tahun dari Kemal. “ Kamu mau
tunggu di sini?”
“ Hmm, gimana ya?” Kemal melihat arlojinya, di saat
yang sama ada dua wanita cantik melintas di depannya, senyumnya langsung
mengembang. “ Citra, Serly, udah pada selesai ya?”
“ Iya nih, kita mau kuliah dulu,” jawab cewek yang
bernama Citra. “ Duluan ya, Kemal.”
Kemal melambaikan tangan. Tepat di saat Citra dan
Serly membuka pintu, ada seorang gadis baru saja masuk, dan Kemal belum sempat
meredupkan senyumnya.
“ Mbak Anis, baru datang ya?”
“ Eh, Kemal. Nungguin Mamanya ya?”
Kemal mengangguk, ia pun mengobrol sebentar dengan
wanita yang bernama Anis itu. Setelah Anis berlalu, banyak wanita-wanita lain
yang berlalu-lalang di depannya. Herannya, Kemal hapal semua nama-nama mereka
dan menyapanya. Entah, apakah itu anggota, pegawai, atau instruktur di sanggar
itu. Baginya menghapal nama-nama wanita cantik itu tidak sesulit menaruh titik
koma pada sebuah paragraf.
“ Aku tunggu di kafe sebelah aja deh,” ujar Kemal
setelah merasa tak ada lagi wanita-wanita cantik yang melintas. “ Nanti kalau
Mamaku udah selesai, kabarin aku ya, Dys.”
Gladys mengangguk. Kemal melambaikan tangan dan
meninggalkan sanggar tersebut. Ia menuju sebuah kafe yang berada di sebuah mall
yang tak jauh dari sana. Ia memesan secangkir cappuccino dan menikmati layanan wifi gratis di sana.
Matanya tiba-tiba teralihkan pada seorang gadis yang
duduk di seberang mejanya. Ia sangat mengenali wanita berpostur proposional
meski wanita itu masih mengenakan seragam SMA. Kemal yakin bahwa matanya tak
salah mengenali kalau wanita itu adalah Priyanka dari divisi tari Love Musical. Cappucinonya belum datang
dan Kemal pun berniat menghampiri gadis itu.
“ Priyanka? Sendiri aja?’
Gadis itu terkejut dengan kehadiran Kemal, “ Eh—eh,
Ke—kemal? I—iya, ta—tapi a—aku nung—nunggu o—orang.”
Kemal tertawa menangkap kelakuan gadis itu yang tiba-tiba
menjadi gagap, “Boleh aku duduk di sini sampai orang yang kamu tunggu itu
datang?”
Priyanka bisa saja berkata ‘tidak’, tapi tentu
bertentangan dengan etika kesopanannya. Selain itu, tanpa persetujuan pun Kemal
sudah mendudukkan pantatnya pada kursi yang ada di sebelah Priyanka.
“ So, kamu
gak ikut anak-anak jalan?”
“ Emm, a—aku kan udah bilang ma—mau ketemu o—orang,”
Priyanka menelan ludah. Matanya terlihat mencari-cari seseorang. “ Ka—kamu
sendiri?”
Kemal kembali tertawa, “ Kamu kok tiba-tiba gagap gitu
sih? Biasanya kamu lancar kalau ngomong.”
“ Bu—bukan gitu, se—sebenarnya aku―”
“ Priyanka, sama siapa ini?”
Jantung Priyanka serasa berhenti berdetak. Ia melirik
Kemal dengan takut. Sementara Kemal terlihat bingung, tapi ia tetap santai. Ia
berdiri dan mengulurkan tangan pada laki-laki yang tiba-tiba datang ini.
“ Hai, aku Kemal. Aku teman sekelasnya, Priyanka.”
“ Erick,” balasnya dengan nada sinis, lalu melirik
Priyanka. “ Jadi, kamu minta antar dengan cowok ini?”
Kemal buru-buru mengangkat tangannya, “ Wow, wow, easy, man. Kami cuma kebetulan ketemu,
dan aku negur dia duluan. Kamu gak usah nuduh yang aneh-aneh. Hmm, okay, aku
gak mau ganggu kalian. So, enjoy your
date.”
Di saat yang sama, cappuccino pesanan Kemal datang.
Kemal meraih kopinya dari sang pelayan dan menuju meja yang agak jauh. Sebelum
pergi ia membisikkan sesuatu yang membuat pipi Priyanka bersemu merah karena
malu.
“ Pacarmu kampret.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar