Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 32)




Musikal 32
 

“ Jadi, sudah jelas’kan siapa yang mendapatkan pemeran utamanya?”

Tifa membuka percakapan dengan para juri ketika mereka bediskusi. Ia sangat yakin bahwa pilihannya akan sama dengan juri yang lainnya. Setidaknya sang keponakan sudah memberi sumbangan satu suara.

“ Sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Adrian,” Hana menyela pembicaraan. Matanya terlihat serius saat bertatapan dengan pemuda itu. “ Apa yang membuatmu turun dari kursi juri dan berdansa dengan gadis itu?”

Adrian tersenyum, “ Bukan pertanyaan yang sulit. Aku berdansa karena aku suka pada tariannya. Dia membuatku bergairah. Sayang sekali bila melewatkan kesempatan berdansa dengan orang seperti itu.”

“ Begitu?” Hana menganggguk-anggukkan kepalanya. “ Menurutmu bagaimana tariannya?”

“ Dia menggodaku. Aku pikir dia berusaha keras untuk itu, dan memang berhasil.”

“ Tepat sekali!” Hana menjentikkan jemarinya, lalu ia menatap Tifa. “ Kamu dengar sendiri’kan, Tif? Anak yang berdansa dengan Adrian tadi pasti sudah berusaha keras untuk menampilkan tarian yang terbaik.”

Kerutan di kening Tifa menandakan ia tak mengerti, “ Oho, lantas?”

“ Ingat, Tif. Kita ini sedang melakukan audisi pemeran utama, bukan penari utama. Aku akan memberikan semua suaraku bila ia ada di tim tari, tapi masalahnya dia akan menjadi pemeran utama. Pemeran utama tak hanya menari, tapi juga berakting. Akan memakan waktu yang lebih lama jika harus memadukan akting dan tari lalu mengajarkannya pada gadis itu.

“ Aku tak bilang dia tak berbakat, tapi bukannya kamu sendiri yang memakai Adrian dengan alasan untuk menghemat waktu hanya karena ia seorang profesional. Berarti kita juga butuh orang yang profesional atau paling tidak yang berpengalaman untuk menjadi pemeran utama. Kita semua tahu siapa yang berpengalaman dan yang amatiran di antara kedua peserta tadi, bukan?”

“ Berarti kamu mendukung peserta yang pertama dong?” tanya Riani.

Hana mengangguk, “ Aku tidak memaksa kalian, tapi tolong pikirkan semua pertimbangan yang aku katakan tadi. Waktu kita tidak banyak, dan menggunakan orang yang sudah berpengalaman akan jauh lebih efisien.”

Riani dan Gloria terlihat ragu dengan pilihan mereka. Di satu sisi mereka terpukau dengan penampilan Ririn, tapi di sisi lain mereka juga tak bisa mengabaikan pendapat Hana. Tifa merasakan ada kegalauan menyelimuti diskusi mereka. Ia mulai merasa tak senang.

“ Langsung voting saja, tapi aku tidak akan mengubah pendirianku. Nah, sekarang siapa yang memilih peserta nomor satu angkat tangan!”

ooOoo

Tifa masih merasa kesal dengan hasil keputusan audisi dua hari lalu. Pikirannya masih melayang-layang pada suasana diskusi waktu itu. Ia sampai tak fokus menonton drama detektif ‘Kagi no Kakata  Heya’ yang sedang ia tonton di laptopnya. Bahkan ia tak sadar kalau Adrian masuk ke dalam apartemennya.

Hana, Gloria, dan Riani mengangkat tangan mereka. Ketiganya sepakat untuk memilih Fi sebagai pemeran utama. Sementara ia dan Adrian tetap pada pendirian mereka. Namun, tetap saja keduanya kalah suara.

“ Huaaaah…. Aku kesaaaal!”

Adrian sampai terlonjak karena tiba-tiba Tifa berteriak dan mengagetkannya. Wajah Tifa masih terlihat cemberut. Adrian masih tak mengerti kenapa Tantenya itu berteriak, padahal baru saja Ohno Satoshi menemukan trik pembunuhan di ruang tertutup pada drama yang sedang diputar.

“ Eh, Adrian. Sejak kapan di sini?” akhirnya Tifa sadar kalau ada mahluk hidup lain di apartemennya.

“ Tante tuh nonton atau ngapain sih, sampai-sampai orang masuk gak ketahuan. Kalau aku maling gimana coba?” omel Adrian. “ Terus teriak-teriak lagi. Aku kira Tante tuh kesurupan, tahu!”

Tifa terkekeh, “ Ah, mau tahu aja. Terus kamu mau ngapain ke sini?”

Lagi-lagi Adrian hanya bisa mendumal dalam hati. Namun, ketika melihat di sekeliling Tifa ia justru menjadi heran. Di apartemen Tifa kosong tapi berantakan. Hanya ada sebuah sofa besar dan sebuah meja. Di atas meja ada sebuah laptop dan ditemani kopi kaleng, mie cup, dan sosis siap makan. Adrian menduga itu adalah makan siang Tantenya. Di sudut ruangan terlihat koper yang bercampur dengan tumpukan baju dan buku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi ini alasan Tantenya tak mau pulang ke rumah.

“ Jadi, makan siang Tante cuma mie cup, kopi, sama sosis?”

“ Aku malas. Jadi, cuma ambil yang ada di dalam kulkas,” ujar Tifa sambil nyengir.

Adrian menghela napas lalu meletakkan sebuah bungkusan di samping laptop, “Nenek masak ikan sale kuah santan, kesukaan Tante. Berterima kasihlah padaku, karena sudah capek-capek aku bawakan.”

Mata Tifa berbinar melihat bungkusan itu, “ Bawa nasi juga’kan?”

Adrian mengangguk. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu pun segera menyerbu masakan Ibunya.

“ Kenapa gak pulang aja sih, Tan? ‘Kan gak enak makan masakan orang terus. Memangnya gak kangen apa sama Nenek?”

“ Ntar kalo aku pulang bakalan diserang pake sapu lidi no jutsu,” jawab Tifa sambil menyeruput kuah ikan. “ Wuaaah, ini enak banget. Udah lama gak makan beginian.”

“ Ada masalah apa sih antara Tante sama Nenek?”

“ Anak kecil gak perlu tahu,” Tifa terkekeh, lalu menghirup sisa kuah terakhir langsung dari wadah bekalnya. “ Puaaah… enak banget. Nih, aku balikin. Makasih yah.”

“ Cuciin dulu kek,” gerutu Adrian, tapi ia langsung memasukkan wadah bekal itu kembali ke dalam plastik. “ Eh, Tan. Aku dengar kedua sekolah itu digabung untuk kepentingan pementasan. Pasti Tante yang minta ya?”

“ Iih, bukan, tapi aku baru mau minta. Sebenernya itu keputusan Hana sendiri. Dia bilang kasihan sama anak-anak Panji Semirang yang harus bolak-balik. Makanya dia buat kebijakan kayak gitu,” jawab Tifa. “ Tapi aku memang minta supaya mereka dibuat satu kelas aja. Soalnya kebanyakan dari mereka baru kelas 10.”

Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya, “ Wah, enak dong ya. Bisa langsung akrab mereka, coba kalau aku masih sekolah. Eh iya, Tan, hari ini hari pertama kita latihan’kan?”

“ Yuhuuu…”  ekspresi Tifa terlihat senang, sekaligus mengerikan. “ Ayo, kita bantai mereka!”



please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar