Musikal
32
“ Jadi, sudah jelas’kan
siapa yang mendapatkan pemeran utamanya?”
Tifa membuka percakapan
dengan para juri ketika mereka bediskusi. Ia sangat yakin bahwa pilihannya akan
sama dengan juri yang lainnya. Setidaknya sang keponakan sudah memberi sumbangan
satu suara.
“ Sebelum itu, ada yang
ingin aku tanyakan padamu, Adrian,” Hana menyela pembicaraan. Matanya terlihat
serius saat bertatapan dengan pemuda itu. “ Apa yang membuatmu turun dari kursi
juri dan berdansa dengan gadis itu?”
Adrian tersenyum, “ Bukan
pertanyaan yang sulit. Aku berdansa karena aku suka pada tariannya. Dia
membuatku bergairah. Sayang sekali bila melewatkan kesempatan berdansa dengan
orang seperti itu.”
“ Begitu?” Hana
menganggguk-anggukkan kepalanya. “ Menurutmu bagaimana tariannya?”
“ Dia menggodaku. Aku pikir
dia berusaha keras untuk itu, dan memang berhasil.”
“ Tepat sekali!” Hana
menjentikkan jemarinya, lalu ia menatap Tifa. “ Kamu dengar sendiri’kan, Tif?
Anak yang berdansa dengan Adrian tadi pasti sudah berusaha keras untuk
menampilkan tarian yang terbaik.”
Kerutan di kening Tifa
menandakan ia tak mengerti, “ Oho, lantas?”
“ Ingat, Tif. Kita ini
sedang melakukan audisi pemeran utama, bukan penari utama. Aku akan memberikan
semua suaraku bila ia ada di tim tari, tapi masalahnya dia akan menjadi pemeran
utama. Pemeran utama tak hanya menari, tapi juga berakting. Akan memakan waktu
yang lebih lama jika harus memadukan akting dan tari lalu mengajarkannya pada
gadis itu.
“ Aku tak bilang dia tak
berbakat, tapi bukannya kamu sendiri yang memakai Adrian dengan alasan untuk
menghemat waktu hanya karena ia seorang profesional. Berarti kita juga butuh
orang yang profesional atau paling tidak yang berpengalaman untuk menjadi
pemeran utama. Kita semua tahu siapa yang berpengalaman dan yang amatiran di
antara kedua peserta tadi, bukan?”
“ Berarti kamu mendukung
peserta yang pertama dong?” tanya Riani.
Hana mengangguk, “ Aku tidak
memaksa kalian, tapi tolong pikirkan semua pertimbangan yang aku katakan tadi.
Waktu kita tidak banyak, dan menggunakan orang yang sudah berpengalaman akan
jauh lebih efisien.”
Riani dan Gloria terlihat
ragu dengan pilihan mereka. Di satu sisi mereka terpukau dengan penampilan
Ririn, tapi di sisi lain mereka juga tak bisa mengabaikan pendapat Hana. Tifa
merasakan ada kegalauan menyelimuti diskusi mereka. Ia mulai merasa tak senang.
“ Langsung voting saja, tapi
aku tidak akan mengubah pendirianku. Nah, sekarang siapa yang memilih peserta
nomor satu angkat tangan!”
ooOoo
Tifa
masih merasa kesal dengan hasil keputusan audisi dua hari lalu. Pikirannya
masih melayang-layang pada suasana diskusi waktu itu. Ia sampai tak fokus
menonton drama detektif ‘Kagi no Kakata Heya’ yang sedang ia tonton di laptopnya.
Bahkan ia tak sadar kalau Adrian masuk ke dalam apartemennya.
Hana, Gloria, dan Riani
mengangkat tangan mereka. Ketiganya sepakat untuk memilih Fi sebagai pemeran
utama. Sementara ia dan Adrian tetap pada pendirian mereka. Namun, tetap saja
keduanya kalah suara.
“
Huaaaah…. Aku kesaaaal!”
Adrian
sampai terlonjak karena tiba-tiba Tifa berteriak dan mengagetkannya. Wajah Tifa
masih terlihat cemberut. Adrian masih tak mengerti kenapa Tantenya itu
berteriak, padahal baru saja Ohno Satoshi menemukan trik pembunuhan di ruang
tertutup pada drama yang sedang diputar.
“
Eh, Adrian. Sejak kapan di sini?” akhirnya Tifa sadar kalau ada mahluk hidup
lain di apartemennya.
“
Tante tuh nonton atau ngapain sih, sampai-sampai orang masuk gak ketahuan.
Kalau aku maling gimana coba?” omel Adrian. “ Terus teriak-teriak lagi. Aku
kira Tante tuh kesurupan, tahu!”
Tifa
terkekeh, “ Ah, mau tahu aja. Terus kamu mau ngapain ke sini?”
Lagi-lagi
Adrian hanya bisa mendumal dalam hati. Namun, ketika melihat di sekeliling Tifa
ia justru menjadi heran. Di apartemen Tifa kosong tapi berantakan. Hanya ada
sebuah sofa besar dan sebuah meja. Di atas meja ada sebuah laptop dan ditemani
kopi kaleng, mie cup, dan sosis siap makan. Adrian menduga itu adalah makan
siang Tantenya. Di sudut ruangan terlihat koper yang bercampur dengan tumpukan
baju dan buku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi ini alasan Tantenya tak
mau pulang ke rumah.
“
Jadi, makan siang Tante cuma mie cup, kopi, sama sosis?”
“
Aku malas. Jadi, cuma ambil yang ada di
dalam kulkas,” ujar Tifa sambil nyengir.
Adrian
menghela napas lalu meletakkan sebuah bungkusan di samping laptop, “Nenek masak
ikan sale kuah santan, kesukaan Tante. Berterima kasihlah padaku, karena sudah
capek-capek aku bawakan.”
Mata
Tifa berbinar melihat bungkusan itu, “ Bawa nasi juga’kan?”
Adrian
mengangguk. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu pun segera menyerbu masakan
Ibunya.
“
Kenapa gak pulang aja sih, Tan? ‘Kan gak enak makan masakan orang terus.
Memangnya gak kangen apa sama Nenek?”
“
Ntar kalo aku pulang bakalan diserang pake sapu lidi no jutsu,” jawab Tifa
sambil menyeruput kuah ikan. “ Wuaaah, ini enak banget. Udah lama gak makan
beginian.”
“
Ada masalah apa sih antara Tante sama Nenek?”
“
Anak kecil gak perlu tahu,” Tifa terkekeh, lalu menghirup sisa kuah terakhir
langsung dari wadah bekalnya. “ Puaaah… enak banget. Nih, aku balikin. Makasih
yah.”
“
Cuciin dulu kek,” gerutu Adrian, tapi ia langsung memasukkan wadah bekal itu
kembali ke dalam plastik. “ Eh, Tan. Aku dengar kedua sekolah itu digabung
untuk kepentingan pementasan. Pasti Tante yang minta ya?”
“
Iih, bukan, tapi aku baru mau minta. Sebenernya itu keputusan Hana sendiri. Dia
bilang kasihan sama anak-anak Panji Semirang yang harus bolak-balik. Makanya
dia buat kebijakan kayak gitu,” jawab Tifa. “ Tapi aku memang minta supaya
mereka dibuat satu kelas aja. Soalnya kebanyakan dari mereka baru kelas 10.”
Adrian
mengangguk-anggukkan kepalanya, “ Wah, enak dong ya. Bisa langsung akrab mereka, coba kalau aku masih sekolah.
Eh iya, Tan, hari ini hari pertama kita
latihan’kan?”
“
Yuhuuu…” ekspresi Tifa terlihat senang,
sekaligus mengerikan. “ Ayo, kita bantai mereka!”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar