Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 48)



Musikal 48


Bagi rapor baru saja selesai. Sesuai dengan perkiraan yang mendapat rangking satu di kelas Love Musical adalah Ririn, sedangkan runner up-nya adalah Alexi. Hal yang tidak diduga justru datang dari si juara tiga. Siapa sangka pemegang estafet berikutnya adalah Kemal. Si Casanova yang lebih suka menghapal nomor ponsel gadis cantik ketimbang belajar, justru mendapatkan selisih nilai yang tak jauh dari Alexi. Ketiga sahabatnya—Anjani, Ben, dan Wenda—bahkan tidak menyangka kalau Kemal bisa dapat juara. Seusai pembagian rapor mereka bertiga melakukan puja kepada Kemal.

Tepat setelah pembagian rapor, mereka juga diperintahkan untuk segera berkumpuk di gedung teater. Sebagian besar berpendapat mereka dikumpulkan untuk membicarakan tentang perjalanan mereka besok. Sang sutradara tak mengatakan mereka akan diajak pergi kemana.

“ Selamat siang, semuanya. Selamat atas pembagian rapor kalian. Ah ya, saya harap nilai kalian tidak ada yang anjlok ya,” Tifa memulai pidatonya.

“ Baiklah, mungkin kalian sudah menebak kalau kalian dikumpulkan di sini untuk membicarakan masalah pelatihan kita besok. Intinya kalian siapkan saja baju ganti dan peralatan pribadi lainnya untuk lima hari ke depan. Besok kalian semua berkumpul di sekolah pukul delapan pagi. Kami sudah siapkan bis untuk perjalanan kita besok.

“ Kalian dilarang membawa kendaraan pribadi dan juga tidak ada yang membawa anggota keluarga atau teman atau pacar kalian,” Tifa melirik Gloria dan Riani sambil tersenyum. “ Masalah logistik dan yang lainnya sudah kami siapkan. Ingat, perjalanan ini bukan untuk darmawisata, tapi untuk latihan berat. Siapkan fisik dan mental kalian. Saya juga berharap kalian sudah berkemas dari jauh-jauh hari. Nah, sampai di sini ada yang mau ditanyakan?”

Orang pertama yang mengangkat tangannya adalah Ben, “ Miss, sebenarnya arah tujuan kita ini kemana ya? Dan berapa lama waktu perjalanan kita?”

“ Sekitar enam jam, tapi tenang saja kalian pasti menyukai tempatnya,” Tifa tersenyum manis. “ Kita ke Lampung.”

Semua anggota LM terkejut. Mereka tidak menyangka kalau perjalanan mereka akan sejauh itu.

“ Oh ya, ada satu pengumuman lagi,” Tifa berdeham. “ Anjani, kemarilah.”

Anjani merasa semua mata tertuju padanya saat ia berdiri di samping Tifa. Ia sudah tahu akan diperlakukan demikian, oleh karena itu ia tidak merasa gugup.

“Akan ada kabar buruk dan kabar baik yang akan kalian dengar dari salah satu teman kalian ini,” Tifa menatap Anjani. “ Kamu yang katakan atau saya yang katakan?”

Mi—miss aja yang sampaikan pada mereka.”

Tifa mengangguk, lalu pandangannya kembali kepada para muridnya, “ Akan saya mulai dari kabar buruk terlebih dahulu. Kabar buruknya adalah Anjani tidak akan ikut dalam perjalanan kita dan dia juga akan berhenti dari Love Musical.”

Andani adalah orang yang pertama dan paling terkejut mendengar kabar ini. Kali ini setiap pasang mata justru beralih dan bertanya-tanya padanya.

“ Alasan Anjani berhenti adalah kabar baik yang akan saya sampaikan. Minggu lalu Anjani lolos seleksi tahap awal di sebuah ajang pencarian bakat menyanyi. Teman kalian ini berhasil mendapatkan golden ticket dan akan terbang ke Jakarta besok pagi.”

Keriuhan kembali terdengar. Rasa kaget dan kagum bertumpah ruah dalam ruangan tersebut. Tifa membisikkan pada Anjani untuk mengucapkan salam terakhir supaya mereka tenang.

“ Ehem, ehem, semuanya. Ada yang mau aku sampaikan,” ujar Anjani sambil membetulkan posisi berdirinya. “Pertama aku mau minta maaf, terutama kepada ketiga sahabatku, Wenda, Ben, dan Kemal. Aku sudah ikut audisi tanpa bilang-bilang pada siapapun. Aku tahu tindakanku ini salah, tapi aku punya alasan tersendiri. Waktu aku mendaftar, aku merasa takut. Aku takut tidak lolos. Makanya aku menyimpan rahasia ini sendirian. Selain itu, aku juga masih terdaftar sebagai anggota Love Musical. Aku juga takut kalau Miss Tifa, Bu Riani, dan Bu Gloria menjadi tidak senang denganku. Untuk itu aku juga minta maaf.

“ Karena aku akan meninggalkan kalian sementara waktu, aku juga akan meminta maaf. Maaf karena meninggalkan kalian tiba-tiba. Maaf karena harus melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku juga minta maaf untuk semua kesalahan dan kekhilafanku selama aku bergabung di tim Love Musical ini.

“ Tapi aku juga berterima kasih kepada kalian semua. Kalian sudah mengisi hari-hariku dengan penuh warna dan kejutan. Aku mendapat banyak pengalaman dari kalian semua. Untuk ketiga tentor Love Musical juga aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkat kalian aku mendapatkan banyak pelajaran beharga.

“ Akhir kata aku ucapkan, sampai jumpa semuanya. Aku harap pertunjukkan kalian sukses, dan aku juga berharap kalian akan mendukungku di ajang pencarian bakat ini. Semangat!”

Anjani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suasana hening pun dengan cepat  mengganti keriuhan yang baru saja terjadi. Orang pertama yang memecahkan keheningan itu adalah Wenda. Ia berlari dan langsung memeluk Anjani. Matanya basah, dan bicaranya sesegukkan. Tak ada yang tahu ia menangis karena apa, mungkin karena haru atau sedih. Namun, apa yang dilakukan Wenda diikuti oleh Ben, lalu Kemal, dan kemudian menular ke semua anggota LM. Mereka bergantian memeluk Anjani, mengucapkan selamat, semangat, dan salam perpisahan.

Lucunya, di tengah suasana haru tersebut, Andani justru membatu di tempatnya berdiri. Memandangi Anjani yang sedang dikerumuni anggota LM. Tak ada rona haru atau sedih terpancar di wajahnya. Ia hanya menatap datar pada kerumunan itu.

“ Waaah, apakah kamu ini musuh gadis itu?”

Andani tersentak oleh suara itu. Bahasa Indonesia yang putus-putus dengan logat Jepang yang kental. Entah itu Jiro atau Hiro, tapi salah satu dari Hasegawa bersaudara itu berhasil memecahkan lamunan Andani.

Jawaban Andani hanya gelengan kepalanya.

“ Ooh, berarti kamu adalah saudaranya.”

Ucapan si laki-laki Jepang itu berhasil membuatnya kembali tersentak. Ia memang pernah berkenalan dengan si kembar Hasegawa ini, tapi ia tak pernah merasa seakrab itu sampai-sampai harus menyebutkan kalau ia mempunyai saudara bernama Anjani yang juga anggota LM. Lagi pula laki-laki ini baru saja bertanya, tapi kenapa ia langsung menjawab tepat pada sasarannya.

Laki-laki itu tersenyum pada Andani, “ Hanya ada dua alasan kenapa seseorang bisa menatap orang lain dengan tatapan seperti itu. Pertama, ia adalah musuh orang itu. Kedua, dia adalah saudara dari orang itu.”

“ Memangnya ada apa dengan caraku menatapnya?”

“ Komplikasi. Campuran antara kaget, cemburu, dan kesal. Hmm, itu yang bisa aku tangkap dari tatapanmu.”

“ Kamu terlalu sok tahu.”

Ia tertawa, “ Aku bukan sok tahu, tapi aku tahu.”

Andani mendengus kesal, “ Kamu memang sok tahu, Jiro.

Gadis itu berbalik dan pergi. Laki-laki yang dipanggil Andani dengan nama Jiro itu kembali tertawa, lalu melirik name tag yang ada di dada kanannya.

“ Padahal aku sudah pakai name tag-nya Hiro. Hmm, mereka memang tidak bisa ditipu.”

ooOoo

Si kembar Bramastya malam ini sibuk mengecek barang-barang yang sudah mereka kemas. Bedanya, Andani hanya untuk lima hari, sementara Anjani untuk berhari-hari. Bawaan Anjani tentu lebih banyak dari saudarinya. Setelah melakukan pengecekkan, keduanya berkumpul di ruang keluarga. Di sana mereka mendapat banyak nasehat dari kedua orang tuanya, terutama Anjani. Hanya saja kali ini Anjani tidak mendapatkan teguran atau omelan yang biasa ia terima. Ia justru mendapat banyak pujian dari kedua orang tuanya karena kepergiannya kali ini akan membawa harum nama keluarganya.

Andani mempercepat langkahnya. Ia menghadang tepat di depan pintu kamar saudarinya. Anjani yang berniat masuk ke kamar terpaksa mengurungkan niatnya.

“ Mau apa lagi, An?”

“ Jawab pertanyaan aku, Jane. Kenapa aku jadi orang terakhir yang tahu kalau kamu lulus audisi?”

“ Nggak juga, buktinya kamu tahu bareng teman-teman LM’kan.”

Andani melipat kedua tangannya di depan dada, “ Lantas kenapa kamu gak bilang secara pribadi sama aku? Kamu bilang sama Mama dan Papa, tapi kenapa gak sama aku? Jane, aku ini saudara kamu, kenapa aku jadi orang terakhir yang gak tahu apa-apa?”

“ Kamu gak usah hiperbolis, itu cuma masalah sepele,” Anjani mencoba mendobrak barikade saudarinya. “ An, please. Aku mau ngecek barang-barang aku lagi, dan aku juga capek. Aku mau istirahat. Perjalanan aku lebih jauh daripada kamu, An.”

Andani memperkuat pertahanannya, “ Jawab dulu, Jane. Aku gak bakal biarin kamu masuk sampai kamu jawab pertanyaan aku. Kamu selalu aja menghindar di balik pintu ini.”

“ An, minggir! Aku bakal marah sama kamu.”

“ Gak mau!”

Anjani mendengus kesal, “ An, jangan sampai aku lepas kendali. Kamu bakalan menyesal nantinya.”

“ Kenapa, Jane? Kenapa?”

Amarah Anjani sudah sampai ke pucuk kepalanya. Sepertinya kemarahan yang selama ini ia pendam akan meluap semuanya.

“ Tahu kenapa, An? Karena aku benci kamu! Selama ini aku selalu menekan perasaanku sama kamu! Aku capek dan aku benci selalu dibanding-bandingin sama kamu! Sekarang aku mau pergi dan selamanya gak mau hidup terus dalam bayang-bayang seorang Andani. Aku ini Anjani!”

Andani terhenyak. Baru kali ini ia melihat Anjani begitu murka. Ia merasa saudarinya ini sudah melepaskan segala emosinya. Andani menjadi gamang. Ia senang sudah mengetahui isi hati saudarinya, tapi di sisi lain ia juga sedih, ternyata selama ini saudarinya itu tak pernah menyukainya.

“ Sudah dengar’kan? Sekarang minggir, aku capek, mau istirahat.”

Anjani menggeser tubuh saudarinya ke samping. Tanpa mengindahkan perasaan Andani, ia membanting pintu begitu ia sudah masuk di kamar. Anjani menghela napas panjang seraya bersandar di balik pintu.

‘ Maaf, An…’


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar