Musikal 48
Bagi rapor baru saja selesai. Sesuai dengan perkiraan
yang mendapat rangking satu di kelas Love
Musical adalah Ririn, sedangkan runner
up-nya adalah Alexi. Hal yang tidak diduga justru datang dari si juara
tiga. Siapa sangka pemegang estafet berikutnya adalah Kemal. Si Casanova yang
lebih suka menghapal nomor ponsel gadis cantik ketimbang belajar, justru
mendapatkan selisih nilai yang tak jauh dari Alexi. Ketiga sahabatnya—Anjani,
Ben, dan Wenda—bahkan tidak menyangka kalau Kemal bisa dapat juara. Seusai
pembagian rapor mereka bertiga melakukan puja kepada Kemal.
Tepat setelah pembagian rapor, mereka juga
diperintahkan untuk segera berkumpuk di gedung teater. Sebagian besar
berpendapat mereka dikumpulkan untuk membicarakan tentang perjalanan mereka
besok. Sang sutradara tak mengatakan mereka akan diajak pergi kemana.
“ Selamat siang, semuanya. Selamat atas pembagian
rapor kalian. Ah ya, saya harap nilai kalian tidak ada yang anjlok ya,” Tifa
memulai pidatonya.
“ Baiklah, mungkin kalian sudah menebak kalau kalian
dikumpulkan di sini untuk membicarakan masalah pelatihan kita besok. Intinya
kalian siapkan saja baju ganti dan peralatan pribadi lainnya untuk lima hari ke
depan. Besok kalian semua berkumpul di sekolah pukul delapan pagi. Kami sudah
siapkan bis untuk perjalanan kita besok.
“ Kalian dilarang membawa kendaraan pribadi dan juga
tidak ada yang membawa anggota keluarga atau teman atau pacar kalian,” Tifa
melirik Gloria dan Riani sambil tersenyum. “ Masalah logistik dan yang lainnya
sudah kami siapkan. Ingat, perjalanan ini bukan untuk darmawisata, tapi untuk
latihan berat. Siapkan fisik dan mental kalian. Saya juga berharap kalian sudah
berkemas dari jauh-jauh hari. Nah, sampai di sini ada yang mau ditanyakan?”
Orang pertama yang mengangkat tangannya adalah Ben, “ Miss, sebenarnya arah tujuan kita ini
kemana ya? Dan berapa lama waktu perjalanan kita?”
“ Sekitar enam jam, tapi tenang saja kalian pasti
menyukai tempatnya,” Tifa tersenyum manis. “ Kita ke Lampung.”
Semua anggota LM terkejut. Mereka tidak menyangka
kalau perjalanan mereka akan sejauh itu.
“ Oh ya, ada satu pengumuman lagi,” Tifa berdeham. “
Anjani, kemarilah.”
Anjani merasa semua mata tertuju padanya saat ia
berdiri di samping Tifa. Ia sudah tahu akan diperlakukan demikian, oleh karena
itu ia tidak merasa gugup.
“Akan ada kabar buruk dan kabar baik yang akan kalian
dengar dari salah satu teman kalian ini,” Tifa menatap Anjani. “ Kamu yang
katakan atau saya yang katakan?”
“ Mi—miss aja
yang sampaikan pada mereka.”
Tifa mengangguk, lalu pandangannya kembali kepada para
muridnya, “ Akan saya mulai dari kabar buruk terlebih dahulu. Kabar buruknya
adalah Anjani tidak akan ikut dalam perjalanan kita dan dia juga akan berhenti
dari Love Musical.”
Andani adalah orang yang pertama dan paling terkejut
mendengar kabar ini. Kali ini setiap pasang mata justru beralih dan
bertanya-tanya padanya.
“ Alasan Anjani berhenti adalah kabar baik yang akan
saya sampaikan. Minggu lalu Anjani lolos seleksi tahap awal di sebuah ajang
pencarian bakat menyanyi. Teman kalian ini berhasil mendapatkan golden ticket dan akan terbang ke
Jakarta besok pagi.”
Keriuhan kembali terdengar. Rasa kaget dan kagum
bertumpah ruah dalam ruangan tersebut. Tifa membisikkan pada Anjani untuk
mengucapkan salam terakhir supaya mereka tenang.
“ Ehem, ehem, semuanya. Ada yang mau aku sampaikan,”
ujar Anjani sambil membetulkan posisi berdirinya. “Pertama aku mau minta maaf,
terutama kepada ketiga sahabatku, Wenda, Ben, dan Kemal. Aku sudah ikut audisi
tanpa bilang-bilang pada siapapun. Aku tahu tindakanku ini salah, tapi aku
punya alasan tersendiri. Waktu aku mendaftar, aku merasa takut. Aku takut tidak
lolos. Makanya aku menyimpan rahasia ini sendirian. Selain itu, aku juga masih
terdaftar sebagai anggota Love Musical.
Aku juga takut kalau Miss Tifa, Bu
Riani, dan Bu Gloria menjadi tidak senang denganku. Untuk itu aku juga minta
maaf.
“ Karena aku akan meninggalkan kalian sementara waktu,
aku juga akan meminta maaf. Maaf karena meninggalkan kalian tiba-tiba. Maaf
karena harus melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku juga minta maaf untuk
semua kesalahan dan kekhilafanku selama aku bergabung di tim Love Musical ini.
“ Tapi aku juga berterima kasih kepada kalian semua.
Kalian sudah mengisi hari-hariku dengan penuh warna dan kejutan. Aku mendapat
banyak pengalaman dari kalian semua. Untuk ketiga tentor Love Musical juga aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkat
kalian aku mendapatkan banyak pelajaran beharga.
“ Akhir kata aku ucapkan, sampai jumpa semuanya. Aku
harap pertunjukkan kalian sukses, dan aku juga berharap kalian akan mendukungku
di ajang pencarian bakat ini. Semangat!”
Anjani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suasana
hening pun dengan cepat mengganti
keriuhan yang baru saja terjadi. Orang pertama yang memecahkan keheningan itu
adalah Wenda. Ia berlari dan langsung memeluk Anjani. Matanya basah, dan
bicaranya sesegukkan. Tak ada yang tahu ia menangis karena apa, mungkin karena
haru atau sedih. Namun, apa yang dilakukan Wenda diikuti oleh Ben, lalu Kemal,
dan kemudian menular ke semua anggota LM. Mereka bergantian memeluk Anjani,
mengucapkan selamat, semangat, dan salam perpisahan.
Lucunya, di tengah suasana haru tersebut, Andani
justru membatu di tempatnya berdiri. Memandangi Anjani yang sedang dikerumuni
anggota LM. Tak ada rona haru atau sedih terpancar di wajahnya. Ia hanya menatap
datar pada kerumunan itu.
“ Waaah, apakah kamu ini musuh gadis itu?”
Andani tersentak oleh suara itu. Bahasa Indonesia yang
putus-putus dengan logat Jepang yang kental. Entah itu Jiro atau Hiro, tapi
salah satu dari Hasegawa bersaudara itu berhasil memecahkan lamunan Andani.
Jawaban Andani hanya gelengan kepalanya.
“ Ooh, berarti kamu adalah saudaranya.”
Ucapan si laki-laki Jepang itu berhasil membuatnya
kembali tersentak. Ia memang pernah berkenalan dengan si kembar Hasegawa ini,
tapi ia tak pernah merasa seakrab itu sampai-sampai harus menyebutkan kalau ia
mempunyai saudara bernama Anjani yang juga anggota LM. Lagi pula laki-laki ini
baru saja bertanya, tapi kenapa ia langsung menjawab tepat pada sasarannya.
Laki-laki itu tersenyum pada Andani, “ Hanya ada dua
alasan kenapa seseorang bisa menatap orang lain dengan tatapan seperti itu.
Pertama, ia adalah musuh orang itu. Kedua, dia adalah saudara dari orang itu.”
“ Memangnya ada apa dengan caraku menatapnya?”
“ Komplikasi. Campuran antara kaget, cemburu, dan
kesal. Hmm, itu yang bisa aku tangkap dari tatapanmu.”
“ Kamu terlalu sok tahu.”
Ia tertawa, “ Aku bukan sok tahu, tapi aku tahu.”
Andani mendengus kesal, “ Kamu memang sok tahu, Jiro.”
Gadis itu berbalik dan pergi. Laki-laki yang dipanggil
Andani dengan nama Jiro itu kembali tertawa, lalu melirik name tag yang ada di dada kanannya.
“ Padahal aku sudah pakai name tag-nya Hiro. Hmm, mereka memang tidak bisa ditipu.”
ooOoo
Si kembar Bramastya malam ini sibuk mengecek
barang-barang yang sudah mereka kemas. Bedanya, Andani hanya untuk lima hari,
sementara Anjani untuk berhari-hari. Bawaan Anjani tentu lebih banyak dari
saudarinya. Setelah melakukan pengecekkan, keduanya berkumpul di ruang
keluarga. Di sana mereka mendapat banyak nasehat dari kedua orang tuanya,
terutama Anjani. Hanya saja kali ini Anjani tidak mendapatkan teguran atau
omelan yang biasa ia terima. Ia justru mendapat banyak pujian dari kedua orang
tuanya karena kepergiannya kali ini akan membawa harum nama keluarganya.
Andani mempercepat langkahnya. Ia menghadang tepat di
depan pintu kamar saudarinya. Anjani yang berniat masuk ke kamar terpaksa
mengurungkan niatnya.
“ Mau apa lagi, An?”
“ Jawab pertanyaan aku, Jane. Kenapa aku jadi orang
terakhir yang tahu kalau kamu lulus audisi?”
“ Nggak juga, buktinya kamu tahu bareng teman-teman
LM’kan.”
Andani melipat kedua tangannya di depan dada, “ Lantas
kenapa kamu gak bilang secara pribadi sama aku? Kamu bilang sama Mama dan Papa,
tapi kenapa gak sama aku? Jane, aku ini saudara kamu, kenapa aku jadi orang
terakhir yang gak tahu apa-apa?”
“ Kamu gak usah hiperbolis, itu cuma masalah sepele,”
Anjani mencoba mendobrak barikade saudarinya. “ An, please. Aku mau ngecek barang-barang aku lagi, dan aku juga capek.
Aku mau istirahat. Perjalanan aku lebih jauh daripada kamu, An.”
Andani memperkuat pertahanannya, “ Jawab dulu, Jane.
Aku gak bakal biarin kamu masuk sampai kamu jawab pertanyaan aku. Kamu selalu
aja menghindar di balik pintu ini.”
“ An, minggir! Aku bakal marah sama kamu.”
“ Gak mau!”
Anjani mendengus kesal, “ An, jangan sampai aku lepas
kendali. Kamu bakalan menyesal nantinya.”
“ Kenapa, Jane? Kenapa?”
Amarah Anjani sudah sampai ke pucuk kepalanya. Sepertinya
kemarahan yang selama ini ia pendam akan meluap semuanya.
“ Tahu kenapa, An? Karena aku benci kamu! Selama ini
aku selalu menekan perasaanku sama kamu! Aku capek dan aku benci selalu
dibanding-bandingin sama kamu! Sekarang aku mau pergi dan selamanya gak mau
hidup terus dalam bayang-bayang seorang Andani. Aku ini Anjani!”
Andani terhenyak. Baru kali ini ia melihat Anjani
begitu murka. Ia merasa saudarinya ini sudah melepaskan segala emosinya. Andani
menjadi gamang. Ia senang sudah mengetahui isi hati saudarinya, tapi di sisi
lain ia juga sedih, ternyata selama ini saudarinya itu tak pernah menyukainya.
“ Sudah dengar’kan? Sekarang minggir, aku capek, mau
istirahat.”
Anjani menggeser tubuh saudarinya ke samping. Tanpa
mengindahkan perasaan Andani, ia membanting pintu begitu ia sudah masuk di
kamar. Anjani menghela napas panjang seraya bersandar di balik pintu.
‘ Maaf, An…’
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar