Musikal 37
Sehari setelah pengumuman nama-nama yang terpilih
untuk mengikuti parade, kelima orang yang terpilih tersebut sengaja diabsenkan
dari latihan. Mereka dikirim untuk mengikuti latihan parade. Khusus untuk
Wenda, ia diberikan latihan intesif pada tarian yang akan ia tampilkan saat
parade nanti.
Hari parade pun tiba. Acara itu diselenggarakan di
area Benteng Kuto Besak. Rencananya, semua busana yang sudah dirancang akan
dipamerkan secara outdoor. Akan
disiapkan area catwalk khusus untuk
para model. Di sanalah Ririn dan ketiga anggota LM lainnya akan mengenakan
rancangan dari Tri Kurniati. Sementara Wenda sendiri akan mengiringi penyanyi Melisa
Chantika menuju panggung. Melisa akan bernyanyi sambil berjalan menuju
panggung. Wenda dan back dancer
lainnya bertugas sebagai penari sekaligus pelindung wanita itu dari
tangan-tangan jahil para penonton. Ketika sampai di atas panggung, barulah
semua back dancer menari secara
bersamaan.
Tifa memerintahkan semua anggota LM untuk datang tanpa
terkecuali. Meski hanya beberapa orang yang bertugas, tetapi ia ingin
membangkitkan rasa kebersamaan dengan mengajak mereka semua.
Acara dimulai pukul sembilan. Anggota marching band mulai memainkan musik,
disusul dengan iring-iringan para model yang mengenakan kostum super heboh.
Terlihat Ririn dan beberapa anggota LM lainnya tergabung dalam iring-iringan itu.
Mereka melambai-lambaikan tangan pada orang-orang yang menonton.
Satu jam setelah iring-iringan panjang itu usai,
barulah Melisa dan penari-penarinya muncul. Hal yang menarik perhatian adalah
keberadaan Wenda yang tepat di samping Melisa. Tak ada yang mengira bahwa ia
akan ditempatkan pada posisi penari yang paling depan. Gadis itu tampak lincah
mengiringi Melisa hingga sampai di atas panggung.
Wenda dan penari lainnya kompak mengenakan warna hitam
dan putih, meski dengan tampilan yang berbeda. Ia memilih mengenakan hot pants dan outter hitam, dengan tank top
dan sneaker putih. Meski simple
tapi ia justru terlihat lebih seksi dari pada penari lainnya.
Sementara itu, dari kejauhan Tifa mengawasi rombongan
musikalnya. Herannya ia tidak bergabung dengan rombongan, tetapi justru menyepi
di salah satu stand khusus yang
lengkap dengan pendingin ruangan.
“ Kamu ini gak pernah nonton parade apa, Tif? Ngapain
coba bawa-bawa opera glasses?”
Tifa hanya nyengir seraya menyedot iced Americano-nya. Matanya masih fokus
mengawasi anak buahnya dari balik opera
glasses.
“ Tapi semua berjalan lancar’kan?” Tifa menyingkirkan
teropong kecil itu, lalu menatap wanita berwajah oriental yang ada di depannya.
“ Tepati janjimu.”
“ Iya, iya, aku mengerti,” wanita itu mengangkat
tangannya, kemudian menyerahkan selembar kertas pada Tifa. “ Aku sudah tanda
tangan di sini. Hari Selasa akan aku kirim anak buahku ke sana.”
Tifa meraih kertas tersebut. Ia tersenyum riang seraya
merentangkan tangannya seperti hendak memeluk.
“ I love you, Triii!”
Namun, dengan cepat wanita itu berkelit. Ia tak suka
dipeluk-peluk oleh wanita yang baginya menggelikan ini.
“ Ya, ya, ya, gak usah pake peluk-peluk,” ia mendesah
pendek tapi terdengar berat. “ Kalau bukan karena Love Musical, jangan harap aku mau menandatangani MOU dengan syarat
yang sedemikian mudahnya. Kamu berhutang banyak denganku.”
“ Aku tahu, aku tahu. Tuliskan saja beserta
bunga-bunganya,” Tifa terkekeh.
Wanita itu mendumal, “ Hei, ngapain kamu di sini?
Bukankah seharusnya kamu bergabung dengan anak buahmu?”
“ Sudah ada Riani dan Gloria di sana. Lagi pula aku
tidak suka panas-panasan dan sesuatu yang membuat lututku lelah. Di sini enak.”
Tifa menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi seraya
menikmati kopinya. Sesekali ia menguap. Sepertinya ia sangat menikmati apa dan
dimana ia sekarang.
“ Cih, sutradara macam apa kamu?”
ooOoo
“ Eh, Tri Kurniati itu anggota Love Musical juga?”
Riani dan Gloria mengiyakan pertanyaan Ben. Jawaban
tersebut tentu membuat semua anggota LM
terkejut, sekaligus mengerti bagaimana cara Tifa mendapatkan koneksi dengan
wanita tesebut.
“ Dari masa kami masih menjadi anggota, dia memang
selalu memegang bagain kostum dan make
up. Tidak disangka ternyata pengalamannya selama menjadi anggota Love Musical menjadikannya seorang
desainer,” ujar Gloria.
Para siswa saling berkomentar. Sebagian besar dari
mereka merasa kagum, ternyata hampir semua alumni LM menjadi orang-orang yang
berkualitas.
Hari semakin siang, parade telah usai. Namun, acara di
panggung masih terus berlanjut. Ririn, Wenda, dan yang lainnya pun mendapat
kesempatan untuk beristirahat. Mereka pun segera bergabung dengan rombongan LM
yang telah menunggu. Beruntung, Ririn masih diperbolehkan mengenakan kostum
parade yang super heboh itu. Teman-teman yang lainnya pun berlomba untuk
berfoto bersamanya.
Di tengah hiruk pikuk teman-temannya yang asyik
mengambil gambar, tak sengaja matanya menangkap sosok si kacamata tebal. Ririn
melempar senyum padanya dan laki-laki itu membalas seraya mengeluarkan kamera
digitalnya. Namun, tidak seperti teman-temannya yang sibuk berfoto, Alexi
justru menggunakan kameranya untuk memotret gadis itu seorang diri.
“ Kenapa gak foto bareng aja?” ujar Ririn yang baru
saja hilang rasa kagetnya akibat blitz kamera
Alexi.
“ Kalo kita foto bareng nanti aku malah ngerusak
pemandangan gaun kamu aja,” Alexi tersenyum seraya menyentuh sayap kupu-kupu
yang menjadi hiasan baju Ririn. “Butterfly
ini cocok buat kamu. Lucu.”
Ririn tertawa kecil, “ Bisa aja. Ini lumayan berat loh,”
mata Ririn tertuju pada ransel besar yang ada di punggung Alexi. “ By the way, ngapain bawa-bawa ransel
segala? Kamu mau pergi jauh?”
“ Aaah, baru mau bilang, malah ketahuan duluan,”
gantian Alexi yang tertawa kecil seraya menggaruk-garuk kepalanya.
Ririn tersentak, “ Eh, serius? Mau kemana? Kapan?”
“ Australia. Sore ini.”
Australia. Ya, Australia. Sebuah Negara, sebuah benua.
Ini bukan lagi perjalanan antar kota yang bisa yang bisa ditempuh kendaraan
roda empat. Ririn tak percaya kalau Alexi mengatakan perjalanannya yang jauh
itu segampang ia mengatakan membeli cabai.
“ Ke—kenapa?”
Alexi mendesah pendek, “ Hmm, kamu ingat’kan waktu itu
aku diajak bicara empat mata oleh Miss Tifa.
Nah, inilah tugasku yang dibicarakan waktu itu. Aku dan Miss Tifa akan pergi ke sana, tapi aku tidak bisa mengatakan padamu
apa yang akan aku lakukan di sana. Intinya perjalananku ini demi kelancaran
pementasan kita.”
Ririn mengangguk pelan. Suasana seketika berubah
kelabu. Sayap kupu-kupu yang menggantung di punggungnya pun terasa lebih berat.
“ Aku bakal balik kok,” Alexi tertawa untuk mencairkan
suasana. “ Seminggu lagi.”
“ Aku tahu. Hmm, aku cuma kaget aja pas kamu tiba-tiba
bilang mau pergi,” Ririn mencoba tersenyum. “ Well, jangan lupa oleh-olehnya yah.”
Alexi ikut tersenyum, “ Baiklah, kamu mau anak
kangguru’kan?”
Keduanya sama-sama tertawa. Namun, suasana yang
menyenangkan itu kembali rusak. Kali ini kedatangan Kemal dan teman-temannya
yang menjadi biang keladi.
“ Whoaa, jadi kamu cuma pamit sama Ririn,” ujar Kemal
seraya mengalungkan lengannya pada leher Alexi, “ Kami juga mau oleh-oleh.
Iya’kan, Ben?”
“ Iya dong, masa Ririn doang yang dapat oleh-oleh,”
sahut Ben, lalu melirik Ririn dan Alexi bergantian. “ Waah, jangan-jangan
kalian berdua ini ada apa-apanya?”
Ucapan Ben membuat teman-temannya yang lain besorak.
Alexi sempat cemas kalau-kalau Ririn jadi salah tingkah akibat ucapan Ben.
Untungnya gadis itu hanya tertawa dan mengabaikan semua sorak-sorakan itu.
“ Iya, iya, iya, katakan saja apa mau kalian,” Alexi
melepaskan lengan Kemal dengan gusar. “ Kalian mau anak kangguru juga?”
“ Idiiih, buat apa. Kamu pikir kami ini badan
konservasi kangguru apa?” sahut Kemal. “ Mendingan nomor ponsel anak gadis
Australia aja. Betul’kan, Ben?”
Ben mengangguk. Alexi dan teman-teman yang lain ikut
tertawa.
“ Eh, kapan kamu mau pergi?” ujar Wenda yang baru
bergabung.
“ Sore ini. Kalau Miss
Tifa datang, aku dan dia akan langsung pergi.”
“ Ohh…” terdengar nada kecewa dari suara Wenda.
Alexi kembali tersenyum, “ Kamu mau aku bawakan
oleh-oleh juga?”
Wenda menggeleng dan tersenyum lebar, “ Nope, yang terpenting kamu baik-baik aja
di sana.”
Alexi mengucapkan terima kasih lewat senyuman
terakhirnya sebelum Tifa muncul. Begitu melihat lambaian wanita itu, Alexi pun
bergegas pamit.
“ Oke, guys.
Aku pergi dulu ya, see yaaa.”
Semua anggota LM mengucapkan salam perpisahan. Bahkan
Kemal masih terus mengingatkan “oleh-oleh” yang harus dibawa Alexi tatkala
pulang nanti. Alexi menyempatkan untuk tersenyum pada Wenda dan juga Ririn,
hingga akhirnya ia menghilang di balik kepulan asap mobil Tifa.
Mobil Tifa berlalu. Entah kenapa hanya Wenda dan Ririn
yang masih setia memandangi tempat dimana mobil Tifa sebelumnya berada. Tanpa
mereka sadari mereka saling bertukar pandang.
Ririn tersenyum, tapi Wenda justru merasa sedang
tertangkap basah karena telah memerhatikan Alexi terlalu lama. Ia menarik
sedikit sudut bibirnya untuk membalas senyuman Ririn. Untungnya gadis itu
dipanggil salah satu staf festival, mungkin mereka ingin mengambil kembali
kostum yang dikenakannya. Gadis itu bergegas pergi. Wenda pun tak bisa lebih
bersyukur dari pada ini.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar