Total Tayangan Halaman

Sabtu, 11 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 37)



Musikal 37



Sehari setelah pengumuman nama-nama yang terpilih untuk mengikuti parade, kelima orang yang terpilih tersebut sengaja diabsenkan dari latihan. Mereka dikirim untuk mengikuti latihan parade. Khusus untuk Wenda, ia diberikan latihan intesif pada tarian yang akan ia tampilkan saat parade nanti.

Hari parade pun tiba. Acara itu diselenggarakan di area Benteng Kuto Besak. Rencananya, semua busana yang sudah dirancang akan dipamerkan secara outdoor. Akan disiapkan area catwalk khusus untuk para model. Di sanalah Ririn dan ketiga anggota LM lainnya akan mengenakan rancangan dari Tri Kurniati. Sementara Wenda sendiri akan mengiringi penyanyi Melisa Chantika menuju panggung. Melisa akan bernyanyi sambil berjalan menuju panggung. Wenda dan back dancer lainnya bertugas sebagai penari sekaligus pelindung wanita itu dari tangan-tangan jahil para penonton. Ketika sampai di atas panggung, barulah semua back dancer menari secara bersamaan.

Tifa memerintahkan semua anggota LM untuk datang tanpa terkecuali. Meski hanya beberapa orang yang bertugas, tetapi ia ingin membangkitkan rasa kebersamaan dengan mengajak mereka semua.

Acara dimulai pukul sembilan. Anggota marching band mulai memainkan musik, disusul dengan iring-iringan para model yang mengenakan kostum super heboh. Terlihat Ririn dan beberapa anggota LM lainnya tergabung dalam iring-iringan itu. Mereka melambai-lambaikan tangan pada orang-orang yang menonton.

Satu jam setelah iring-iringan panjang itu usai, barulah Melisa dan penari-penarinya muncul. Hal yang menarik perhatian adalah keberadaan Wenda yang tepat di samping Melisa. Tak ada yang mengira bahwa ia akan ditempatkan pada posisi penari yang paling depan. Gadis itu tampak lincah mengiringi Melisa hingga sampai di atas panggung.

Wenda dan penari lainnya kompak mengenakan warna hitam dan putih, meski dengan tampilan yang berbeda. Ia memilih mengenakan hot pants dan outter hitam, dengan tank top dan sneaker putih. Meski simple tapi ia justru terlihat lebih seksi dari pada penari lainnya.

Sementara itu, dari kejauhan Tifa mengawasi rombongan musikalnya. Herannya ia tidak bergabung dengan rombongan, tetapi justru menyepi di salah satu stand khusus yang lengkap dengan pendingin ruangan.

“ Kamu ini gak pernah nonton parade apa, Tif? Ngapain coba bawa-bawa opera glasses?”

Tifa hanya nyengir seraya menyedot iced Americano-nya. Matanya masih fokus mengawasi anak buahnya dari balik opera glasses.

“ Tapi semua berjalan lancar’kan?” Tifa menyingkirkan teropong kecil itu, lalu menatap wanita berwajah oriental yang ada di depannya. “ Tepati janjimu.”

“ Iya, iya, aku mengerti,” wanita itu mengangkat tangannya, kemudian menyerahkan selembar kertas pada Tifa. “ Aku sudah tanda tangan di sini. Hari Selasa akan aku kirim anak buahku ke sana.”

Tifa meraih kertas tersebut. Ia tersenyum riang seraya merentangkan tangannya seperti hendak memeluk.

I love you, Triii!”

Namun, dengan cepat wanita itu berkelit. Ia tak suka dipeluk-peluk oleh wanita yang baginya menggelikan ini.

“ Ya, ya, ya, gak usah pake peluk-peluk,” ia mendesah pendek tapi terdengar berat. “ Kalau bukan karena Love Musical, jangan harap aku mau menandatangani MOU dengan syarat yang sedemikian mudahnya. Kamu berhutang banyak denganku.”

“ Aku tahu, aku tahu. Tuliskan saja beserta bunga-bunganya,” Tifa terkekeh.

Wanita itu mendumal, “ Hei, ngapain kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu bergabung dengan anak buahmu?”

“ Sudah ada Riani dan Gloria di sana. Lagi pula aku tidak suka panas-panasan dan sesuatu yang membuat lututku lelah. Di sini enak.”

Tifa menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi seraya menikmati kopinya. Sesekali ia menguap. Sepertinya ia sangat menikmati apa dan dimana ia sekarang.

“ Cih, sutradara macam apa kamu?”

ooOoo

“ Eh, Tri Kurniati itu anggota Love Musical juga?”

Riani dan Gloria mengiyakan pertanyaan Ben. Jawaban tersebut tentu membuat semua anggota LM terkejut, sekaligus mengerti bagaimana cara Tifa mendapatkan koneksi dengan wanita tesebut.

“ Dari masa kami masih menjadi anggota, dia memang selalu memegang bagain kostum dan make up. Tidak disangka ternyata pengalamannya selama menjadi anggota Love Musical menjadikannya seorang desainer,” ujar Gloria.

Para siswa saling berkomentar. Sebagian besar dari mereka merasa kagum, ternyata hampir semua alumni LM menjadi orang-orang yang berkualitas.

Hari semakin siang, parade telah usai. Namun, acara di panggung masih terus berlanjut. Ririn, Wenda, dan yang lainnya pun mendapat kesempatan untuk beristirahat. Mereka pun segera bergabung dengan rombongan LM yang telah menunggu. Beruntung, Ririn masih diperbolehkan mengenakan kostum parade yang super heboh itu. Teman-teman yang lainnya pun berlomba untuk berfoto bersamanya.

Di tengah hiruk pikuk teman-temannya yang asyik mengambil gambar, tak sengaja matanya menangkap sosok si kacamata tebal. Ririn melempar senyum padanya dan laki-laki itu membalas seraya mengeluarkan kamera digitalnya. Namun, tidak seperti teman-temannya yang sibuk berfoto, Alexi justru menggunakan kameranya untuk memotret gadis itu seorang diri.

“ Kenapa gak foto bareng aja?” ujar Ririn yang baru saja hilang rasa kagetnya akibat blitz kamera Alexi.

“ Kalo kita foto bareng nanti aku malah ngerusak pemandangan gaun kamu aja,” Alexi tersenyum seraya menyentuh sayap kupu-kupu yang menjadi hiasan baju Ririn. “Butterfly ini cocok buat kamu. Lucu.”

Ririn tertawa kecil, “ Bisa aja. Ini lumayan berat loh,” mata Ririn tertuju pada ransel besar yang ada di punggung Alexi. “ By the way, ngapain bawa-bawa ransel segala? Kamu mau pergi jauh?”

“ Aaah, baru mau bilang, malah ketahuan duluan,” gantian Alexi yang tertawa kecil seraya menggaruk-garuk kepalanya.

Ririn tersentak, “ Eh, serius? Mau kemana? Kapan?”

“ Australia. Sore ini.”

Australia. Ya, Australia. Sebuah Negara, sebuah benua. Ini bukan lagi perjalanan antar kota yang bisa yang bisa ditempuh kendaraan roda empat. Ririn tak percaya kalau Alexi mengatakan perjalanannya yang jauh itu segampang ia mengatakan membeli cabai.

“ Ke—kenapa?”

Alexi mendesah pendek, “ Hmm, kamu ingat’kan waktu itu aku diajak bicara empat mata oleh Miss Tifa. Nah, inilah tugasku yang dibicarakan waktu itu. Aku dan Miss Tifa akan pergi ke sana, tapi aku tidak bisa mengatakan padamu apa yang akan aku lakukan di sana. Intinya perjalananku ini demi kelancaran pementasan kita.”

Ririn mengangguk pelan. Suasana seketika berubah kelabu. Sayap kupu-kupu yang menggantung di punggungnya pun terasa lebih berat.

“ Aku bakal balik kok,” Alexi tertawa untuk mencairkan suasana. “ Seminggu lagi.”

“ Aku tahu. Hmm, aku cuma kaget aja pas kamu tiba-tiba bilang mau pergi,” Ririn mencoba tersenyum. “ Well, jangan lupa oleh-olehnya yah.”

Alexi ikut tersenyum, “ Baiklah, kamu mau anak kangguru’kan?”

Keduanya sama-sama tertawa. Namun, suasana yang menyenangkan itu kembali rusak. Kali ini kedatangan Kemal dan teman-temannya yang menjadi biang keladi.

“ Whoaa, jadi kamu cuma pamit sama Ririn,” ujar Kemal seraya mengalungkan lengannya pada leher Alexi, “ Kami juga mau oleh-oleh. Iya’kan, Ben?”

“ Iya dong, masa Ririn doang yang dapat oleh-oleh,” sahut Ben, lalu melirik Ririn dan Alexi bergantian. “ Waah, jangan-jangan kalian berdua ini ada apa-apanya?”

Ucapan Ben membuat teman-temannya yang lain besorak. Alexi sempat cemas kalau-kalau Ririn jadi salah tingkah akibat ucapan Ben. Untungnya gadis itu hanya tertawa dan mengabaikan semua sorak-sorakan itu.

“ Iya, iya, iya, katakan saja apa mau kalian,” Alexi melepaskan lengan Kemal dengan gusar. “ Kalian mau anak kangguru juga?”

“ Idiiih, buat apa. Kamu pikir kami ini badan konservasi kangguru apa?” sahut Kemal. “ Mendingan nomor ponsel anak gadis Australia aja. Betul’kan, Ben?”

Ben mengangguk. Alexi dan teman-teman yang lain ikut tertawa.

“ Eh, kapan kamu mau pergi?” ujar Wenda yang baru bergabung.

“ Sore ini. Kalau Miss Tifa datang, aku dan dia akan langsung pergi.”

“ Ohh…” terdengar nada kecewa dari suara Wenda.

Alexi kembali tersenyum, “ Kamu mau aku bawakan oleh-oleh juga?”

Wenda menggeleng dan tersenyum lebar, “ Nope, yang terpenting kamu baik-baik aja di sana.”

Alexi mengucapkan terima kasih lewat senyuman terakhirnya sebelum Tifa muncul. Begitu melihat lambaian wanita itu, Alexi pun bergegas pamit.

“ Oke, guys. Aku pergi dulu ya, see yaaa.”

Semua anggota LM mengucapkan salam perpisahan. Bahkan Kemal masih terus mengingatkan “oleh-oleh” yang harus dibawa Alexi tatkala pulang nanti. Alexi menyempatkan untuk tersenyum pada Wenda dan juga Ririn, hingga akhirnya ia menghilang di balik kepulan asap mobil Tifa.

Mobil Tifa berlalu. Entah kenapa hanya Wenda dan Ririn yang masih setia memandangi tempat dimana mobil Tifa sebelumnya berada. Tanpa mereka sadari mereka saling bertukar pandang.

Ririn tersenyum, tapi Wenda justru merasa sedang tertangkap basah karena telah memerhatikan Alexi terlalu lama. Ia menarik sedikit sudut bibirnya untuk membalas senyuman Ririn. Untungnya gadis itu dipanggil salah satu staf festival, mungkin mereka ingin mengambil kembali kostum yang dikenakannya. Gadis itu bergegas pergi. Wenda pun tak bisa lebih bersyukur dari pada ini.



please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar