Musikal 39
“ Jadi, kalian berdua ikut drama musikal garapan
Latifa Kusuma Ningsih? Wah, itu kabar baik! Kenapa kalian tidak bercerita pada
kami?”
Andani melirik saudari kembarnya. Namun, sepertinya
Anjani lebih fokus pada makanan ketimbang menjawab pertanyaan ayah mereka.
“ Hmm, kami takut Papa sama Mama gak suka kalau kami
justru belok ke drama musikal.”
“ Asalkan itu masih berhubungan dengan dunia seni,
nggak masalah kok,” ujar Tuan Bramastya.
“ Benar, Mama sama Papa justru bangga, karena kalian
berdua bisa bekerja sama dengan orang sehebat Latifa itu,” sahut Nyonya
Bramastya. “ Itu juga bagus untuk Anjani. Setidaknya dia bisa mengisi waktunya
untuk hal yang lebih bermanfaat ketimbang nongkrong-nongkrong gak jelas hampir
tiap malam.”
Andani kembali melirik Anjani. Saudarinya itu mulai
terlihat jengah.
“ Memangnya kamu ngapain aja, Jane?” tanya Papanya. “ Anak
gadis gak baik terus-terusan keluar malam. Kalau ada apa-apa gimana?”
“ Aku pulangnya selalu diantar Ben atau Kemal. Lagian
aku pulang sebelum jam sepuluh.”
“ Kamu ini, kalau dinasehati orang tua selalu saja ada
alasan,” sahut Mamanya. “Memangnya kamu gak belajar apa? Bukannya sebentar lagi
kalian sudah mau UAS?”
Anjani menghabiskan air minumnya, lalu berdiri, “ Aku
udah selesai. Sekarang aku mau ke kamar. Belajar. Gak keluyuran.”
“ Dinasehati selalu saja melawan,”omel Mamanya. “ Pa,
nasehati anakmu itu.”
Tuan Bramastya hanya mengiyakan perintah istrinya.
Makan malam keluarga Bramastya pun kembali dilanjutkan. Namun, Andani kini
merasa terpaksa menghabiskan makannyanya, karena sejak Anjani meninggalkan meja
makan, semua yang ada di piringnya terasa hambar.
ooOoo
Selalu dan
selalu saja!
Anjani merebahkan tubuhnya di kasur. Ia tahu orang
tuanya pasti mengomel karena ia langsung meninggalkan meja makan begitu saja.
Namun, jika ia tetap bertahan di sana orang tuanya pasti akan
menyangkut-pautkan dirinya dengan saudarinya. Andani beginilah, Andani
begitulah, sedangkan Anjani hanya begini, Anjani hanya begitu.
Bosan! Kenapa ia dan saudarinya selalu diibaratkan
seperti pepatah. Andani adalah minyak sedangkan ia hanyalah air. Andani akan
selalu baik, sedangkan ia akan terus diperlakukan seperti anak nakal.
Sejujurnya Anjani juga ingin orang tuanya
memandanganya hanya sebagai Anjani, tanpa perbandingan dari siapapun. Ia tak
mengerti kenapa orang tuanya selalu menganggapnya selalu salah. Apa karena ia
dilahirkan dengan suara kontralto? Atau karena ia tidak pernah berpakaian
feminine seperti saudarinya?
Anjani memutuskan untuk melupakan semua kekesalannya
dengan mendengarkan musik. Baru saja ia berniat memasang headphone, tiba-tiba ponselnya berdering. Keningnya mengerenyit
saat melihat nomor yang tak dikenal tertera di layar.
“ Halo?”
“ Jane, ini
aku!”
Kening Anjani kembali berkerut saat mendengar suara
yang begitu familier di telinganya, “ Andani? Ngapain kamu telepon aku? Jarak
kita gak sampai dua meter tahu! Terus ini nomor siapa?”
Anjani dapat mendengar tawa saudarinya dari balik speaker, “ Soalnya kalau kamu lagi kesal begini, kamu pasti gak mau bukain
pintu, meski aku udah gedor-gedor pakai martil. Anyway, nomor ini memang bukan nomor yang biasa aku pakai. Sengaja aku pakai,
soalnya kamu juga pasti gak mau angkat telepon kalau aku pakai nomor yang
biasa.”
“ Terus kamu mau ngapain?” Anjani mendesah kesal. “
Buang-buang pulsa!”
“ Hei, Jane.
Jangan marah gitu dong. Aku tahu kamu masih kesal sama omongan Mama tadi. Aku
tadi udah berusaha kok untuk meyakinkan Mama kalau kamu itu gak keluyuran tiap
malam, dan aku juga bilang kalau keluyuran kamu itu keluyuran yang bermanfaat.”
“ Jadi, kamu bilang sama Mama dan Papa kalau aku kerja
sambilan?” suara Anjani seketika naik dua oktaf.
“Eng—enggak kok. Aku cuma bilang kalau keluyuran kamu itu keluyuran yang bermanfaat.
Kamu’kan gak pernah bilang sama Papa dan Mama kalau kamu itu kerja sambilan.
Aku jadi gak berani bilang sama mereka, takut kamu marah.”
Anjani mendesah lega.
“ Jane, kenapa
sih kamu jujur aja kalau kamu itu kerja sambilan jadi penyanyi kafe? Mungkin
Mama dan Papa bisa mengerti, dan enggak nuduh kamu yang enggak-enggak terus.
Aku bisa kok bantu menyakinkan mereka kalau kamu itu memang kerja sambilan”
“ Percuma, An. Mereka gak bakal menganggap itu suatu
hal yang bagus. Meskipun kamu juga ikut ngomong, mereka juga gak 100% percaya
sama aku.”
“ Kamu gak
percaya sama aku, Jane?”
“ An, aku ini bukan kamu. Kalau kamu apapun pasti dibolehkan, pasti dibenarkan.
Ya, karena kamu anak penurut, anak emas. Beda sama aku yang bandel, dan selalu
dianggap sebelah mata.”
Andani menghela napas, “ Jane, aku memang penurut, tapi semua itu aku lakuin supaya Papa dan
Mama gak semakin marah sama kita. Asal kamu tahu, aku gak suka kamu bilang aku
ini anak emas, karena aku juga gak suka selalu bergerak di bawah komando Papa
dan Mama.”
“ Terus kenapa kamu gak jadi kayak aku? Kamu takut?”
Andani terdiam beberapa saat, “ Sebenarnya aku cuma mau menghindari masalah, tapi mungkin kamu benar,
aku memang penakut. Aku takut Mama marah, aku takut Papa kecewa, dan aku juga
gak punya keberanian yang besar kayak kamu,” Andani kembali terdiam, kali
ini cukup lama. “ Jane, kamu benci sama
aku?”
Tanpa sadar mata Anjani tertuju pada pintu kamarnya.
Ia membayangkan Andani sedang menunggu jawabannya dari balik pintu itu. Dengan
ponsel yang menempel di telinga, saudarinya itu pasti sedang menatapnya penuh
harap.
Anjani merasa seperti orang jahat jika ia mengiyakan
pertanyaan Andani. Saudarinya itu memang tidak pernah berbuat salah, tapi entah
mengapa apa yang dilakukannya selalu benar, sehingga apa yang Anjani lakukan
selalu diragukan. Andani tidak membela diri, tapi ia mencoba menetralkan
suasana. Selalu seperti itu di saat Anjani baru saja berbuat sesuatu yang
menurut orang tuanya itu adalah kekacauan. Disitulah letak ketidaksukaan
Anjani. Orang tuanya selalu mempercayai saudarinya, kemudian membandingkan
dengan dirinya.
Anjani kesal, tapi ia tidak bisa menyalahkan
saudarinya. Ia juga tidak bisa menyalahkan orang tuanya. Namun, ia juga tak mau
kalau dirinya dipersalahkan.
“ Nggak, aku gak benci kamu. Aku benci keadaan yang
membuat kita seperti ini.”
Piip. Anjani memutuskan sambungan telepon, lalu
mencabut baterai ponselnya. Ia menarik napas panjang. Perasaannya sekarang jadi
kacau balau. Matanya kembali tertuju pada pintu kamarnya, kemudian ia kembali
menarik napas dalam-dalam.
“ Sepertinya aku memang tidak menyukaimu. Maaf, An.”
ooOoo
Andani masih terpaku di depan kamar saudarinya.
Ponselnya masih menempel di telinga. Ia tak sadar kalau Anjani sudah mematikan
sambungan telepon. Tangannya merosot lemas saat suara Anjani berganti dengan
nada sambung.
Padahal ia berharap kalau saudarinya ini mau berbicara
banyak padanya. Apa saja, karena Andani benar-benar merindukan kebersamaan
mereka. Jangan tertawa, ia sendiri bahkan lupa kapan terakhir mereka berbagi
cerita.
Memang sejak SMP kelas tiga, sikap Anjani perlahan
berubah. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar, sering bolos les vokal,
puncaknya ketika mereka lulus. Anjani benar-benar jarang terlihat di rumah, ia
juga minta berhenti les vokal, hingga ia meminta agar masuk SMA yang berbeda.
Dengan semua jarak yang dibuat Anjani, Andani juga merasa kalau Anjani selalu
menghindarinya. Anjani hanya berbicara seperlunya, dan jika di rumah Anjani
selalu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Andani selalu berpikir, kalau bukan hanya pintu
kamarnya, tapi pintu hatinya pun sudah dikunci permanen. Namun, ia tak tahu apa
yang menyebabkan saudarinya selalu menghindarinya, karena Anjani tak pernah
bercerita apapun.
Andani menarik napas dalam-dalam. Ia menatap pintu
kamar Anjani dengan tatapan sedih.
“ Jane, kalau kamu benci sama aku, kamu tinggal bilang
alasannya. Tapi jangan terus-terusan diam seperti ini. Aku cuma mau kamu bicara
sama aku. Aku cuma butuh itu.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar