Total Tayangan Halaman

Sabtu, 11 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 39)



Musikal 39



“ Jadi, kalian berdua ikut drama musikal garapan Latifa Kusuma Ningsih? Wah, itu kabar baik! Kenapa kalian tidak bercerita pada kami?”

Andani melirik saudari kembarnya. Namun, sepertinya Anjani lebih fokus pada makanan ketimbang menjawab pertanyaan ayah mereka.

“ Hmm, kami takut Papa sama Mama gak suka kalau kami justru belok ke drama musikal.”

“ Asalkan itu masih berhubungan dengan dunia seni, nggak masalah kok,” ujar Tuan Bramastya.

“ Benar, Mama sama Papa justru bangga, karena kalian berdua bisa bekerja sama dengan orang sehebat Latifa itu,” sahut Nyonya Bramastya. “ Itu juga bagus untuk Anjani. Setidaknya dia bisa mengisi waktunya untuk hal yang lebih bermanfaat ketimbang nongkrong-nongkrong gak jelas hampir tiap malam.”

Andani kembali melirik Anjani. Saudarinya itu mulai terlihat jengah.

“ Memangnya kamu ngapain aja, Jane?” tanya Papanya. “ Anak gadis gak baik terus-terusan keluar malam. Kalau ada apa-apa gimana?”

“ Aku pulangnya selalu diantar Ben atau Kemal. Lagian aku pulang sebelum jam sepuluh.”

“ Kamu ini, kalau dinasehati orang tua selalu saja ada alasan,” sahut Mamanya. “Memangnya kamu gak belajar apa? Bukannya sebentar lagi kalian sudah mau UAS?”

Anjani menghabiskan air minumnya, lalu berdiri, “ Aku udah selesai. Sekarang aku mau ke kamar. Belajar. Gak keluyuran.”

“ Dinasehati selalu saja melawan,”omel Mamanya. “ Pa, nasehati anakmu itu.”

Tuan Bramastya hanya mengiyakan perintah istrinya. Makan malam keluarga Bramastya pun kembali dilanjutkan. Namun, Andani kini merasa terpaksa menghabiskan makannyanya, karena sejak Anjani meninggalkan meja makan, semua yang ada di piringnya terasa hambar.

ooOoo

Selalu dan selalu saja!

Anjani merebahkan tubuhnya di kasur. Ia tahu orang tuanya pasti mengomel karena ia langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Namun, jika ia tetap bertahan di sana orang tuanya pasti akan menyangkut-pautkan dirinya dengan saudarinya. Andani beginilah, Andani begitulah, sedangkan Anjani hanya begini, Anjani hanya begitu.

Bosan! Kenapa ia dan saudarinya selalu diibaratkan seperti pepatah. Andani adalah minyak sedangkan ia hanyalah air. Andani akan selalu baik, sedangkan ia akan terus diperlakukan seperti anak nakal.

Sejujurnya Anjani juga ingin orang tuanya memandanganya hanya sebagai Anjani, tanpa perbandingan dari siapapun. Ia tak mengerti kenapa orang tuanya selalu menganggapnya selalu salah. Apa karena ia dilahirkan dengan suara kontralto? Atau karena ia tidak pernah berpakaian feminine seperti saudarinya?

Anjani memutuskan untuk melupakan semua kekesalannya dengan mendengarkan musik. Baru saja ia berniat memasang headphone, tiba-tiba ponselnya berdering. Keningnya mengerenyit saat melihat nomor yang tak dikenal tertera di layar.

“ Halo?”

“ Jane, ini aku!”

Kening Anjani kembali berkerut saat mendengar suara yang begitu familier di telinganya, “ Andani? Ngapain kamu telepon aku? Jarak kita gak sampai dua meter tahu! Terus ini nomor siapa?”

Anjani dapat mendengar tawa saudarinya dari balik speaker, “ Soalnya kalau kamu lagi kesal begini, kamu pasti gak mau bukain pintu, meski aku udah gedor-gedor pakai martil. Anyway, nomor ini memang bukan nomor yang biasa aku pakai. Sengaja aku pakai, soalnya kamu juga pasti gak mau angkat telepon kalau aku pakai nomor yang biasa.”

“ Terus kamu mau ngapain?” Anjani mendesah kesal. “ Buang-buang pulsa!”

“ Hei, Jane. Jangan marah gitu dong. Aku tahu kamu masih kesal sama omongan Mama tadi. Aku tadi udah berusaha kok untuk meyakinkan Mama kalau kamu itu gak keluyuran tiap malam, dan aku juga bilang kalau keluyuran kamu itu keluyuran yang bermanfaat.”

“ Jadi, kamu bilang sama Mama dan Papa kalau aku kerja sambilan?” suara Anjani seketika naik dua oktaf.

Eng—enggak kok. Aku cuma bilang kalau keluyuran kamu itu keluyuran yang bermanfaat. Kamu’kan gak pernah bilang sama Papa dan Mama kalau kamu itu kerja sambilan. Aku jadi gak berani bilang sama mereka, takut kamu marah.”

Anjani mendesah lega.

“ Jane, kenapa sih kamu jujur aja kalau kamu itu kerja sambilan jadi penyanyi kafe? Mungkin Mama dan Papa bisa mengerti, dan enggak nuduh kamu yang enggak-enggak terus. Aku bisa kok bantu menyakinkan mereka kalau kamu itu memang kerja sambilan”

“ Percuma, An. Mereka gak bakal menganggap itu suatu hal yang bagus. Meskipun kamu juga ikut ngomong, mereka juga gak 100% percaya sama aku.”

“ Kamu gak percaya sama aku, Jane?”

“ An, aku ini bukan kamu. Kalau kamu  apapun pasti dibolehkan, pasti dibenarkan. Ya, karena kamu anak penurut, anak emas. Beda sama aku yang bandel, dan selalu dianggap sebelah mata.”

Andani menghela napas, “ Jane, aku memang penurut, tapi semua itu aku lakuin supaya Papa dan Mama gak semakin marah sama kita. Asal kamu tahu, aku gak suka kamu bilang aku ini anak emas, karena aku juga gak suka selalu bergerak di bawah komando Papa dan Mama.”

“ Terus kenapa kamu gak jadi kayak aku? Kamu takut?”

Andani terdiam beberapa saat, “ Sebenarnya aku cuma mau menghindari masalah, tapi mungkin kamu benar, aku memang penakut. Aku takut Mama marah, aku takut Papa kecewa, dan aku juga gak punya keberanian yang besar kayak kamu,” Andani kembali terdiam, kali ini cukup lama. “ Jane, kamu benci sama aku?”

Tanpa sadar mata Anjani tertuju pada pintu kamarnya. Ia membayangkan Andani sedang menunggu jawabannya dari balik pintu itu. Dengan ponsel yang menempel di telinga, saudarinya itu pasti sedang menatapnya penuh harap.

Anjani merasa seperti orang jahat jika ia mengiyakan pertanyaan Andani. Saudarinya itu memang tidak pernah berbuat salah, tapi entah mengapa apa yang dilakukannya selalu benar, sehingga apa yang Anjani lakukan selalu diragukan. Andani tidak membela diri, tapi ia mencoba menetralkan suasana. Selalu seperti itu di saat Anjani baru saja berbuat sesuatu yang menurut orang tuanya itu adalah kekacauan. Disitulah letak ketidaksukaan Anjani. Orang tuanya selalu mempercayai saudarinya, kemudian membandingkan dengan dirinya.

Anjani kesal, tapi ia tidak bisa menyalahkan saudarinya. Ia juga tidak bisa menyalahkan orang tuanya. Namun, ia juga tak mau kalau dirinya dipersalahkan.

“ Nggak, aku gak benci kamu. Aku benci keadaan yang membuat kita seperti ini.”

Piip. Anjani memutuskan sambungan telepon, lalu mencabut baterai ponselnya. Ia menarik napas panjang. Perasaannya sekarang jadi kacau balau. Matanya kembali tertuju pada pintu kamarnya, kemudian ia kembali menarik napas dalam-dalam.

“ Sepertinya aku memang tidak menyukaimu. Maaf, An.”

ooOoo

Andani masih terpaku di depan kamar saudarinya. Ponselnya masih menempel di telinga. Ia tak sadar kalau Anjani sudah mematikan sambungan telepon. Tangannya merosot lemas saat suara Anjani berganti dengan nada sambung.

Padahal ia berharap kalau saudarinya ini mau berbicara banyak padanya. Apa saja, karena Andani benar-benar merindukan kebersamaan mereka. Jangan tertawa, ia sendiri bahkan lupa kapan terakhir mereka berbagi cerita.

Memang sejak SMP kelas tiga, sikap Anjani perlahan berubah. Ia lebih sering menghabiskan waktu di luar, sering bolos les vokal, puncaknya ketika mereka lulus. Anjani benar-benar jarang terlihat di rumah, ia juga minta berhenti les vokal, hingga ia meminta agar masuk SMA yang berbeda. Dengan semua jarak yang dibuat Anjani, Andani juga merasa kalau Anjani selalu menghindarinya. Anjani hanya berbicara seperlunya, dan jika di rumah Anjani selalu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.

Andani selalu berpikir, kalau bukan hanya pintu kamarnya, tapi pintu hatinya pun sudah dikunci permanen. Namun, ia tak tahu apa yang menyebabkan saudarinya selalu menghindarinya, karena Anjani tak pernah bercerita apapun.

Andani menarik napas dalam-dalam. Ia menatap pintu kamar Anjani dengan tatapan sedih.

“ Jane, kalau kamu benci sama aku, kamu tinggal bilang alasannya. Tapi jangan terus-terusan diam seperti ini. Aku cuma mau kamu bicara sama aku. Aku cuma butuh itu.”



please comment and share

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar