Musikal 42
Ririn memilih mundur. Tatapan Fi begitu
mengintimidasinya saat Adrian mengajaknya pulang bersama. Padahal itu adalah
kesempatan emasnya untuk lebih dekat dengan Adrian, tapi kalau ia harus menahan
hati pada Fi, lebih baik ia pulang naik angkot saja.
Ririn meletakkan tasnya di atas kasur, lalu mengambil
handuknya dan berniat mandi. Namun, baru saja ia mau melangkah masuk ke kamar
mandi, ponselnya berbunyi. Ia pun mendahulukan menjawab telepon tersebut.
‘ Nomor yang gak
dikenal,’ gumam Ririn dalam hati. “ Ya,
halo?”
‘ Do you miss me?’
Kening Ririn berkerut. Ia kembali menatap layar
ponselnya untuk memastikan nomor yang masuk. Benar, nomor tersebut bukan sederet
nomor yang biasa dipakai oleh orang Indonesia pada umumnya. Ririn curiga,
jangan-jangan―
“ Alexi?” tanya Ririn dengan alis terangkat.
Terdengar suara tawa renyah dari ujung sana, “ Waaah, lama juga ya kamu mikirnya.”
Ririn terkekeh,
“ Hei, apa kabar? Kamu ngapain aja di sana?”
“ Aku baik.
Sekarang aku kerja sebagai petugas kebersihan di kandang kangguru.”
“ Heeei, aku serius,” omel Ririn, tapi ia masih ikut
tertawa.
“ Aku akan
konser,” jawab Alexi ketika tawanya mereda.
Ririn tersentak, “ Hah, konser? Kamu mau konser di
sana?”
“ Whoops, bukan
konser tunggal. Aku hanya sebagai pengisi acara konser sebuah orkestra di sini.
Yaah, hanya beberapa lagu.”
“ Ya, tapi tetap aja kamu hebat bisa tampil di sana.
Bisa tampil di sebagai pengisi acara orkestra aja udah hebat banget, apalagi
orkestra di sana. Waaah, Miss Tifa
gak salah ngajak kamu di sana.”
“ Hei,
berhentilah memujiku. Ngomong-ngomong apa kamu gak rindu sama aku? Kamu lagi
apa sekarang?”
“ Aku mau mandi kalau kamu gak telepon. Kamu sendiri
lagi apa?”
“ Latihan,
seperti biasa. Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Do you miss me?”
Ririn kembali tertawa, “ Begitulah, sepi rasanya kalau
tidak mendengar suara pianomu. Ah, tapi sekarang sedang tidak lagi. Sepertinya
akan lama tidak mendengar kamu bermain piano.”
“ Piano saja? Orangnya tidak?”
“ Ya ampuuun, sama ajalah.”
“ Senang
mendengarnya. Aku jadi bersemangat lagi,” jawab Alexi sambil tertawa.
“Baiklah, kalau begitu kamu lanjutin aja mandi yang tertunda. Salam buat yang lain.
Sampai jumpa lagi.”
“ Eh, hei, hei!”
Terlambat, alexi sudah menutup teleponnya. Ririn
sempat mengutuki si penelepon tersebut. Dia memang seperti angin, datang tiba-tiba
dan pergi sangat cepat. Sampai sekarang Ririn tak bisa menebak jalan pikiran
laki-laki itu.
Ia pun memutuskan untuk meneruskan kegiatannya yang
tertunda. Namun, baru saja ia mengalungkan handuknya, pintu kamar terbuka. Adik
laki-lakinya muncul dari balik pintu tersebut.
“ Kak, disuruh Mama ke minimarket. Ini daftar
belanjanya.”
Ririn berdecak kesal, “ Kenapa gak kamu aja sih?
Aku’kan baru sampai.”
“ Ada temanku di bawah. Masa iya aku ninggalin
mereka.”
“ Tapi bayarannya ice
cream ya,” ujar Ririn sambil mendesah lelah.
“ Sepakat!” sang adik memberikan uang beserta daftar
belanjanya, lalu berlari seraya berteriak, “ I love you, sisteeeer!”
Padahal Ririn sangat ingin mandi saat itu. Badannya
sudah lengket dan gerah, tapi mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa berganti baju
dan segera menuju minimarket.
ooOoo
Semua belanjaan sudah di tangan, dan sekarang waktunya
mengambil upah. Ririn menuju konter ice
cream dan membuka penutup pendinginnya. Baru saja ia akan meraih es krim
cokelat favoritnya, ada sebuah tangan yang menangkap pergerakan tangannya. Ririn
terkejut, dan lebih terkejut lagi saat mendapati pemilik tangan tersebut adalah
Adrian.
“ Ingat pesan Miss Tifa untuk tidak makan yang dingin,
berminyak, dan yang terlalu pedas?”
Ririn menarik tangannya seraya
mendesah panjang. Padahal ia pikir bisa melepas gerahnya dengan sebatang es
krim.
“ Heei, jangan cemberut gitu
dong. Ini’kan demi kebaikan kamu juga. Kamu itu aktris. Kamu harus menjaga
kesehatan, terutama suara. Kalau suara kamu tiba-tiba hilang gara-gara sebuah
es krim, kamu juga yang susah nantinya.”
“ Iya, iya aku tahu,” Ririn
menghela napas. “ Kurasa lebih baik aku makan Pocky saja.”
Meski memberengut tapi Ririn
langsung beranjak dari konter ice cream.
Namun, saat ia mengambil cemilannya tangan Adrian langsung menyerobot duluan.
“ Eh, traktir aku dong. Aku suka
yang green tea,” ujarnya sambil
mengedipkan matanya.
Ririn merebut Pocky yang ada di tangan Adrian sambil
berdecak. Bukannya mengembalikan ke rak, ia justru memasukkanya ke keranjang
belanja, lalu tanpa banyak bicara ia menuju meja kasir. Adrian hanya bisa
terkekeh melihat korbannya berhasil dikerjai.
“ Buru-buru? Gimana kalo kita
ngobrol dulu di luar?” Adrian lalu tersenyum usil. “Sambil ngabisin
makanannya.”
Dan Ririn tak sempat menolak saat
Adrian membawa bungkusan belanjaannya.
ooOoo
“ Kamu kayaknya gak semangat gitu. Semacam badannya
doang, tapi nyawanya ketinggalan.”
Ririn mendesah berat, “ Aku baru
aja pulang terus langsung disuruh belanja dan pas belanja harus traktir kamu
pula. Menurutmu apa aku masih harus bersemangat?”
Tawa Adrian pecah, “ Wow, wow, easy girl. Maksud aku bukan sekarang,
tapi tadi pas latihan. Kamu kayak gak konsentrasi gitu.”
“ Eh, emang gitu ya?” tanya Ririn
yang tanpa sadar sambil menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Entahlah, mungkin
karena musiknya kurang.”
Adrian tersenyum geli, “ Owww,
kamu kangen si kacamata ya?”
Ririn langsung menimpuk Adrian
dengan kotak biskuit yang sudah kosong. Laki-laki itu tak sempat mengelak.
Kotak itu mendarat tepat di dahinya. Bukannya marah, tawa laki-laki itu malah
semakin panjang.
“ Ampuuun, ampuuun, iya deh gak
bakal godain kamu lagi. Lagi PMS ya, bu?”
“ Kamu itu ya, kalo di depan
orang aja kelakukannya kayak pangeran, tapi ternyata kamu itu usil setengah
mati,” omel Ririn.
“ Hei, siapa bilang aku ini
pangeran? Aku cuma anak laki-laki biasa yang punya tampang kayak pangeran,”
Adrian nyengir saat melihat bibir Ririn kembali mengerucut. “Tapi serius, aku
juga gak ngerti kenapa mereka memperlakukan aku kayak pangeran. Padahal aku
biasa-biasa aja loh.”
“ Mana aku tau. Aura kamu beda
kali,” jawab Ririn tak peduli.
“ Gitu ya, hmm,” Adrian melirik
Ririn, lalu ia tersenyum. “ Tapi aku senang bisa bercanda begini. Apalagi
ngusilin kamu.”
“ Oh, God Lord. Kenapa harus aku?”
“ Entahlah, kamu lucu sih, dan
misterius,” Adrian kembali terkekeh. “ Pertama kali aku ngeliat kamu, aku pikir
kamu orang yang penakut dan membosankan. Tapi begitu audisi kedua, aku melihat
sisi lain dari kamu. Kamu begitu liar dan hmm… cukup seksi menurutku. Dalam
sekejap aku terpesona sekaligus kaget. Kok bisa ya, cewek pendiam kayak kamu
tiba-tiba punya menari kayak gitu.”
Ririn tertawa kecil, “ Yaaa, tapi
perjuangannya gak mudah.”
“ Aku bisa lihat itu, tapi
disitulah letak dimana aku menyukaimu. Kamu ternyata orang yang tekun dan
pantang menyerah. Aku suka orang yang seperti itu.”
Ririn memberanikan diri melirik
Adrian. Benarkah apa yang dikatakan laki-laki itu tadi. Adrian menyukainya?
“ Kalau aku melihatmu aku jadi
ingat waktu aku masih seumuran kamu. Waktu itu juga aku bukan orang yang pintar
bicara kayak sekarang, tapi berkat didikan Tanteku aku bisa jadi kayak
sekarang. Satu hal yang mungkin menyamakan kita adalah sikap pantang menyerah
itu. Dulu aku sering banget kena marah Tanteku, dan meski aku sering banget drop, aku berusaha mati-matian untuk
bisa seperti apa yang Tanteku katakan. Makanya begitu lihat perubahan kamu
kemarin, aku jadi ingat masa-masa perjuangan aku dulu.”
“ Gitu ya, ooh”, Ririn mencoba
menutupi wajah tersipunya, “ Hmm, dari cerita kamu, kayaknya kamu lebih dekat
dengan Miss Tifa ya. Dia udah kayak
Ibu kamu sendiri.”
“ Yaa, dia memang sudah
menggantikan posisi Mamaku sejak aku masih kecil. Lagi pula Mamaku dan dia
memang mirip.”
“ Dari kecil? Loh kamu gak
tinggal sama Mama kamu?”
Adrian berdeham pelan, “ Mamaku
udah meninggal dari aku masih kecil.”
Ririn merasa pipinya ditampar
keras. Ia menyesal telah bertanya sesuatu yang sudah mencapai ranah pribadi
laki-laki itu.
“ Ma—maaf, ya. Aku gak tahu.”
“ Gak apa kok. Kamu gak usah
minta maaf gitu,” Adrian tersenyum. “ Yaaah, begitulah. Makanya aku sering
merasa kesepian dan akhirnya malah menutup diri, tapi Tanteku sering
marah-marah. Dia bilang aku harus bisa membuka diri dan gak boleh
berlarut-larut dalam kesedihan. Meski begitu aku tetap merasa kesepian.”
“ Loh kesepian kenapa? Bukannya
Tante kamu selalu ada di samping kamu. Lagi pula sekarang teman-teman kamu udah
banyak. Memangnya masih ada yang kurang?”
Adrian terkekeh, “ Dari kecil aku
pengen banget punya adik. Terserah mau laki-laki atau perempuan, yang penting
dia bisa aku ajak bermain dan berbagi. Tapi yaah, karena Mamaku keburu
berpulang, impian itu jadi cuma impian aja.”
Ririn merasa simpati dengan
Adrian. Selama ini ia merasa tak pernah sangat menginginkan adik seperti
laki-laki itu. Ia bahkan sering berkelahi dengan adiknya, apalagi ketika ia
masih kecil dulu. Baru kali ini merasa bersyukur mempunyai seorang adik.
“ Oh ya, gimana kalau kamu aja
yang jadi adik aku? Kamu gak punya kakak’kan?”
Ririn tersentak, “ Eh, kenapa
tiba-tiba aku? Tapi yaa, aku anak sulung sih.”
“ Abisnya kamu lucu sih. Aku suka
punya adik yang lucu kayak kamu.”
‘ Dia bilang aku lucu? Dan ini sudah ketiga kalinya. Aku gak salah
dengar’kan? Sayang sih dia cuma anggap aku adik, tapi dari brother zone
bukan gak mungkin jadi love zone’kan?’
“ Hei, Rin. Gimana? Mau gak?”
Giliran Ririn yang berdeham, “
Umm, mungkin gak masalah. Tapi jangan jahilin aku terus ya.”
“ Gak janji,” tawa Adrian
berderai, ia lalu mengacak-acak rambut Ririn. “ Mulai besok panggil aku Kakak
ya.”
Ririn kembali tersipu. Saking
tersipunya ia tak tahu harus berkata apa.
“ Oke, Adikku. Yuk, Kakak kantar
pulang.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar