Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 42)



Musikal 42



Ririn memilih mundur. Tatapan Fi begitu mengintimidasinya saat Adrian mengajaknya pulang bersama. Padahal itu adalah kesempatan emasnya untuk lebih dekat dengan Adrian, tapi kalau ia harus menahan hati pada Fi, lebih baik ia pulang naik angkot saja.

Ririn meletakkan tasnya di atas kasur, lalu mengambil handuknya dan berniat mandi. Namun, baru saja ia mau melangkah masuk ke kamar mandi, ponselnya berbunyi. Ia pun mendahulukan menjawab telepon tersebut.

‘ Nomor yang gak dikenal,’ gumam Ririn dalam hati. “ Ya, halo?”

Do you miss me?’

Kening Ririn berkerut. Ia kembali menatap layar ponselnya untuk memastikan nomor yang masuk. Benar, nomor tersebut bukan sederet nomor yang biasa dipakai oleh orang Indonesia pada umumnya. Ririn curiga, jangan-jangan―

“ Alexi?” tanya Ririn dengan alis terangkat.

Terdengar suara tawa renyah dari ujung sana, “ Waaah, lama juga ya kamu mikirnya.”

 Ririn terkekeh, “ Hei, apa kabar? Kamu ngapain aja di sana?”

“ Aku baik. Sekarang aku kerja sebagai petugas kebersihan di kandang kangguru.”

“ Heeei, aku serius,” omel Ririn, tapi ia masih ikut tertawa.

“ Aku akan konser,” jawab Alexi ketika tawanya mereda.

Ririn tersentak, “ Hah, konser? Kamu mau konser di sana?”

“ Whoops, bukan konser tunggal. Aku hanya sebagai pengisi acara konser sebuah orkestra di sini. Yaah, hanya beberapa lagu.”

“ Ya, tapi tetap aja kamu hebat bisa tampil di sana. Bisa tampil di sebagai pengisi acara orkestra aja udah hebat banget, apalagi orkestra di sana. Waaah, Miss Tifa gak salah ngajak kamu di sana.”

“ Hei, berhentilah memujiku. Ngomong-ngomong apa kamu gak rindu sama aku? Kamu lagi apa sekarang?”

“ Aku mau mandi kalau kamu gak telepon. Kamu sendiri lagi apa?”

“ Latihan, seperti biasa. Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Do you miss me?”

Ririn kembali tertawa, “ Begitulah, sepi rasanya kalau tidak mendengar suara pianomu. Ah, tapi sekarang sedang tidak lagi. Sepertinya akan lama tidak mendengar kamu bermain piano.”

“ Piano saja?  Orangnya tidak?”

“ Ya ampuuun, sama ajalah.”

“ Senang mendengarnya. Aku jadi bersemangat lagi,” jawab Alexi sambil tertawa. “Baiklah, kalau begitu kamu lanjutin aja mandi yang tertunda. Salam buat yang lain. Sampai jumpa lagi.”

“ Eh, hei, hei!”

Terlambat, alexi sudah menutup teleponnya. Ririn sempat mengutuki si penelepon tersebut. Dia memang seperti angin, datang tiba-tiba dan pergi sangat cepat. Sampai sekarang Ririn tak bisa menebak jalan pikiran laki-laki itu.

Ia pun memutuskan untuk meneruskan kegiatannya yang tertunda. Namun, baru saja ia mengalungkan handuknya, pintu kamar terbuka. Adik laki-lakinya muncul dari balik pintu tersebut.

“ Kak, disuruh Mama ke minimarket. Ini daftar belanjanya.”

Ririn berdecak kesal, “ Kenapa gak kamu aja sih? Aku’kan baru sampai.”

“ Ada temanku di bawah. Masa iya aku ninggalin mereka.”

“ Tapi bayarannya ice cream ya,” ujar Ririn sambil mendesah lelah.

“ Sepakat!” sang adik memberikan uang beserta daftar belanjanya, lalu berlari seraya berteriak, “ I love you, sisteeeer!”

Padahal Ririn sangat ingin mandi saat itu. Badannya sudah lengket dan gerah, tapi mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa berganti baju dan segera menuju minimarket.

ooOoo

Semua belanjaan sudah di tangan, dan sekarang waktunya mengambil upah. Ririn menuju konter ice cream dan membuka penutup pendinginnya. Baru saja ia akan meraih es krim cokelat favoritnya, ada sebuah tangan yang menangkap pergerakan tangannya. Ririn terkejut, dan lebih terkejut lagi saat mendapati pemilik tangan tersebut adalah Adrian.

“ Ingat pesan Miss Tifa untuk tidak makan yang dingin, berminyak, dan yang terlalu pedas?”

Ririn menarik tangannya seraya mendesah panjang. Padahal ia pikir bisa melepas gerahnya dengan sebatang es krim.

“ Heei, jangan cemberut gitu dong. Ini’kan demi kebaikan kamu juga. Kamu itu aktris. Kamu harus menjaga kesehatan, terutama suara. Kalau suara kamu tiba-tiba hilang gara-gara sebuah es krim, kamu juga yang susah nantinya.”

“ Iya, iya aku tahu,” Ririn menghela napas. “ Kurasa lebih baik aku makan Pocky  saja.”

Meski memberengut tapi Ririn langsung beranjak dari konter ice cream. Namun, saat ia mengambil cemilannya tangan Adrian langsung menyerobot duluan.

“ Eh, traktir aku dong. Aku suka yang green tea,” ujarnya sambil mengedipkan matanya.

Ririn merebut Pocky yang ada di tangan Adrian sambil berdecak. Bukannya mengembalikan ke rak, ia justru memasukkanya ke keranjang belanja, lalu tanpa banyak bicara ia menuju meja kasir. Adrian hanya bisa terkekeh melihat korbannya berhasil dikerjai.

“ Buru-buru? Gimana kalo kita ngobrol dulu di luar?” Adrian lalu tersenyum usil. “Sambil ngabisin makanannya.”

Dan Ririn tak sempat menolak saat Adrian membawa bungkusan belanjaannya.

ooOoo

“ Kamu kayaknya gak semangat gitu. Semacam badannya doang, tapi nyawanya ketinggalan.”

Ririn mendesah berat, “ Aku baru aja pulang terus langsung disuruh belanja dan pas belanja harus traktir kamu pula. Menurutmu apa aku masih harus bersemangat?”

Tawa Adrian pecah, “ Wow, wow, easy girl. Maksud aku bukan sekarang, tapi tadi pas latihan. Kamu kayak gak konsentrasi gitu.”

“ Eh, emang gitu ya?” tanya Ririn yang tanpa sadar sambil menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Entahlah, mungkin karena musiknya kurang.”

Adrian tersenyum geli, “ Owww, kamu kangen si kacamata ya?”

Ririn langsung menimpuk Adrian dengan kotak biskuit yang sudah kosong. Laki-laki itu tak sempat mengelak. Kotak itu mendarat tepat di dahinya. Bukannya marah, tawa laki-laki itu malah semakin panjang.

“ Ampuuun, ampuuun, iya deh gak bakal godain kamu lagi. Lagi PMS ya, bu?”

“ Kamu itu ya, kalo di depan orang aja kelakukannya kayak pangeran, tapi ternyata kamu itu usil setengah mati,” omel Ririn.

“ Hei, siapa bilang aku ini pangeran? Aku cuma anak laki-laki biasa yang punya tampang kayak pangeran,” Adrian nyengir saat melihat bibir Ririn kembali mengerucut. “Tapi serius, aku juga gak ngerti kenapa mereka memperlakukan aku kayak pangeran. Padahal aku biasa-biasa aja loh.”

“ Mana aku tau. Aura kamu beda kali,” jawab Ririn tak peduli.

“ Gitu ya, hmm,” Adrian melirik Ririn, lalu ia tersenyum. “ Tapi aku senang bisa bercanda begini. Apalagi ngusilin kamu.”

“ Oh, God Lord. Kenapa harus aku?”

“ Entahlah, kamu lucu sih, dan misterius,” Adrian kembali terkekeh. “ Pertama kali aku ngeliat kamu, aku pikir kamu orang yang penakut dan membosankan. Tapi begitu audisi kedua, aku melihat sisi lain dari kamu. Kamu begitu liar dan hmm… cukup seksi menurutku. Dalam sekejap aku terpesona sekaligus kaget. Kok bisa ya, cewek pendiam kayak kamu tiba-tiba punya menari kayak gitu.”

Ririn tertawa kecil, “ Yaaa, tapi perjuangannya gak mudah.”

“ Aku bisa lihat itu, tapi disitulah letak dimana aku menyukaimu. Kamu ternyata orang yang tekun dan pantang menyerah. Aku suka orang yang seperti itu.”

Ririn memberanikan diri melirik Adrian. Benarkah apa yang dikatakan laki-laki itu tadi. Adrian menyukainya?

“ Kalau aku melihatmu aku jadi ingat waktu aku masih seumuran kamu. Waktu itu juga aku bukan orang yang pintar bicara kayak sekarang, tapi berkat didikan Tanteku aku bisa jadi kayak sekarang. Satu hal yang mungkin menyamakan kita adalah sikap pantang menyerah itu. Dulu aku sering banget kena marah Tanteku, dan meski aku sering banget drop, aku berusaha mati-matian untuk bisa seperti apa yang Tanteku katakan. Makanya begitu lihat perubahan kamu kemarin, aku jadi ingat masa-masa perjuangan aku dulu.”

“ Gitu ya, ooh”, Ririn mencoba menutupi wajah tersipunya, “ Hmm, dari cerita kamu, kayaknya kamu lebih dekat dengan Miss Tifa ya. Dia udah kayak Ibu kamu sendiri.”

“ Yaa, dia memang sudah menggantikan posisi Mamaku sejak aku masih kecil. Lagi pula Mamaku dan dia memang mirip.”

“ Dari kecil? Loh kamu gak tinggal sama Mama kamu?”

Adrian berdeham pelan, “ Mamaku udah meninggal dari aku masih kecil.”

Ririn merasa pipinya ditampar keras. Ia menyesal telah bertanya sesuatu yang sudah mencapai ranah pribadi laki-laki itu.

“ Ma—maaf, ya. Aku gak tahu.”

“ Gak apa kok. Kamu gak usah minta maaf gitu,” Adrian tersenyum. “ Yaaah, begitulah. Makanya aku sering merasa kesepian dan akhirnya malah menutup diri, tapi Tanteku sering marah-marah. Dia bilang aku harus bisa membuka diri dan gak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Meski begitu aku tetap merasa kesepian.”

“ Loh kesepian kenapa? Bukannya Tante kamu selalu ada di samping kamu. Lagi pula sekarang teman-teman kamu udah banyak. Memangnya masih ada yang kurang?”

Adrian terkekeh, “ Dari kecil aku pengen banget punya adik. Terserah mau laki-laki atau perempuan, yang penting dia bisa aku ajak bermain dan berbagi. Tapi yaah, karena Mamaku keburu berpulang, impian itu jadi cuma impian aja.”

Ririn merasa simpati dengan Adrian. Selama ini ia merasa tak pernah sangat menginginkan adik seperti laki-laki itu. Ia bahkan sering berkelahi dengan adiknya, apalagi ketika ia masih kecil dulu. Baru kali ini merasa bersyukur mempunyai seorang adik.

“ Oh ya, gimana kalau kamu aja yang jadi adik aku? Kamu gak punya kakak’kan?”

Ririn tersentak, “ Eh, kenapa tiba-tiba aku? Tapi yaa, aku anak sulung sih.”

“ Abisnya kamu lucu sih. Aku suka punya adik yang lucu kayak kamu.”

‘ Dia bilang aku lucu? Dan ini sudah ketiga kalinya. Aku gak salah dengar’kan? Sayang sih dia cuma anggap aku adik, tapi dari brother zone bukan gak mungkin jadi love zone’kan?’

“ Hei, Rin. Gimana? Mau gak?”

Giliran Ririn yang berdeham, “ Umm, mungkin gak masalah. Tapi jangan jahilin aku terus ya.”

“ Gak janji,” tawa Adrian berderai, ia lalu mengacak-acak rambut Ririn. “ Mulai besok panggil aku Kakak ya.”

Ririn kembali tersipu. Saking tersipunya ia tak tahu harus berkata apa.

“ Oke, Adikku. Yuk, Kakak kantar pulang.”


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar