Musikal 44
“ Wah, serius? Jadi hubungan kalian sudah sampai adik
kakak?”
Ririn menempelkan jarinya di bibir supaya Andani dapat
memelankan suaranya, “Begitulah, An. Kurasa aku cukup beruntung.”
“ Menurutku itu pertanda baik. Semoga dari adik kakak
terus berlanjut dari adik ketemu kakak.”
“ Kamu apaan sih, An?” ujar Ririn yang disahut tawa
Andani.
Tawa mereka terhenti saat Riani masuk ke kelas. Tak
hanya Ririn dan Andani, tapi seisi kelas juga heran kenapa Riani datang ke
kelas mereka, padahal jadwal bahasa Inggris adalah besok.
“ Pelajaran terakhir ditunda karena baru saja ada
pesan penting dari Adrian. Dia menyampaikan pesan dari sutradara supaya kita
semua berkumpul di gedung teater sekarang.”
“ Tapi, Bu. Kami tidak bawa baju latihan!” seru Kemal.
“ Tidak apa. Kita tidak latihan. Sepertinya hanya
pertemuan singkat saja. Nah, sekarang ayo bergegas!”
Mereka pun segera merapikan buku dan alat tulis,
kemudian bergegas menuju gedung teater. Terlihat anak-anak kelas 11 sudah lebih
dulu tiba di sana. Selain itu, sudah ada dua mobil terparkir, yang diduga
adalah mobil Adrian dan Tifa.
‘ Tunggu dulu!
Apa Miss Tifa sudah
pulang? Kalau beliau sudah pulang berarti…’
“ Do you miss
me?”
Ah, suara itu. Suara yang sudah lama tak pernah Ririn
dengar. Begitu lembut tapi terselip nada jenaka di sana. Ririn menoleh, dan
mendapati si pemilik suara itu sedang tersenyum padanya. Tak ada yang berubah
dari penampilan laki-laki itu. Masih tetap berkacamata tebal dan masker N95
yang digantung di lehernya. Hanya kulitnya saja yang agak kecokelatan. Mungkin
karena uap gurun dan juga karena di sana sedang pertengahan musim panas.
“ Woow, kamu bisa seperti Taecyon 2PM kalau punya abs
sedikit,” Andani mendadak muncul. “ Sayang kamu masih cungkring, padahal
kulitmu udah lumayan seksi.”
Alexi berdecak, “ Eh, aku baru pulang udah dihina-hina
aja. Sialan, kamu, An.”
Tawa Andani berderai, lalu tanpa permisi ia menarik
Ririn menjauh. Baru saja Ririn mau menyapa laki-laki itu, tapi ia hanya bisa
pasrah saat ia dipisahkan oleh Andani. Entah kenapa Andani menjadi setan di
saat yang tidak tepat.
Ternyata Tifa sudah menunggu di dalam. Sesekali ia
melihat ke arah pintu masuk. Sepertinya bukan anggota teater, karena meski
semua anggota sudah berkumpul sesekali kepalanya masih menengok ke arah pintu
masuk.
“ Ehem, lama tak jumpa semuanya. Saya harap semuanya
baik-baik saja,” ujar Tifa mengawali pembicaraannya. “ Hari ini kita tidak
latihan. Saya mengumpulkan kalian semua di sini karena ada beberapa hal yang
harus saya sampaikan sebelum saya lupa nanti.”
“ Pertama, latihan akan kembali dilaksanakan setelah
UAS selesai. Latihan akan berjalan seperti biasanya. Kemudian yang kedua,
setelah pembagian rapot, saya harap kalian tidak ada atau membatalkan rencana
liburan kalian kali ini, karena kita akan melakukan karantina selama liburan
berlangsung.”
Keriuhan mulai terdengar dimana-mana. Ada yang merasa
senang, ada pula yang kecewa. Mungkin liburan mereka batal dan diganti dengan
latihan berat.
Di tengah keributan itu, tiba-tiba muncul seorang pria
berjas lengkap. Ia tersenyum dan melambai pada Tifa. Tifa balas melambai dan
segera berlari menuju pria berwajah oriental tersebut. Ia berbicara sejenak, kemudian
kembali mengumumkan sesuatu.
“ Nah, semuanya. Ada pengumuman ketiga. Mulai hari ini
kita akan kedatangan dua orang anggota baru dan mereka akan bekerja sama di tim
musik.”
Perhatian kini tertuju pada pintu masuk. Kemudian
muncullah dua orang laki-laki yang kira-kira masih seusia mereka. Keduanya
memakai topi dan jaket, sehingga wajah keduanya tak terlihat dengan jelas. Tifa
mengucapkan terima kasih pada laki-laki berjas itu, lalu membimbing kedua
pemuda itu masuk ke dalam lingkaran.
“ Dua orang ini adalah pemusik berbakat. Kalian tentu
masih ingat kenapa saya membawa Alexi ke Australia minggu lalu. Yaah, bisa
dibilang sebagai pertukaran jasa untuk meminjam kedua orang ini.”
Mereka lalu melirik Alexi. Laki-laki itu hanya bisa
meringis.
“ Mereka ini memang asli orang Jepang, tapi kalian
tenang saja mereka sudah fasih berbicara bahasa Indonesia. Nah, saya
perkenalkan kepada kalian semua, Jiro Hasegawa dan Hiro Hasegawa.”
Keduanya serempak membuka topi dan jaket mereka. Semua
orang pun terpana melihat mereka. Bukan karena wajah yang imut seperti Chiba
Yudai, tetapi juga wajah mereka sulit dibedakan. Apalagi mereka mengenakan
seragam SMA Panji Semirang yang sama persis. Benar-benar mirip bagai pinang
dibelah dua.
“ Astagaaa, yang mana Hiro yang mana Jiro?” ujar Ben
spontan.
“ Miriiiip bangeeet,” komentar yang lain dan disahut
komentar-komentar yang serupa. Suasana kembali rebut hingga Tifa harus
meredakan dengan berdeham.
“ Baiklah, semuanya. Kejutan tidak hanya sampai di
sini. Pementasan masih ada beberapa bulan lagi, dan sangat tidak mungkin bagi
kedua orang ini untuk meninggalkan sekolah mereka. Maka dari itu mulai besok
dia resmi terdaftar sebagai siswa dari SMA Panji Semirang di kelas 11.”
Sebagaian besar anggota wanita bersorak. Itu artinya
populasi pria tampan di sekolah mereka bertambah. Namun, beberapa anak kelas 10
cukup merasa kecewa, karena kedua cowok ganteng itu harus ada di kelas senior
mereka.
“ Oke, oke, cukup sampai di sini dulu saja pertemuan
kita. Kalian bisa berkenalan dengan mereka setelah pertemuan ini usai. Untuk
itu saya akhiri pertemuan hari ini. Belajarlah dengan rajin dan jangan sampai
remedial. Sekian dan terima kasih. Selamat siang!”
Sontak begitu pertemuan dibubarkan, segenap anggota
wanita di sana berebutan untuk berkenalan dengan si kembar tampan itu.
Untungnya kedua laki-laki itu tidak merasa risih dengan kelakuan para anggota
wanita yang sudah seperti heyna melihat daging segar.
Namun, tidak berlaku pada Ririn. Ia bukan tipikal
wanita yang suka mendekati pria lebih dahulu. Ia mengabaikan ajakan Andani
untuk mengenalkan diri pada Chiba Yudai KW 2 dua kali itu.
“ Marinda, apa Ayahmu baru pulang hari ini?”
Ririn terkejut saat Tifa mendadak muncul di
hadapannya. Bersama Adrian dan Alexi pula.
“ Eh, iya, mungkin. Sa—saya juga tidak tahu, tapi Ayah
saya bilang dia akan pulang dua atau tiga hari ini.”
“ Apa dia dari Afrika?”
“ Loh, Miss tahu
dari mana kalau Ayah saya baru pulang dari Afrika?”
Tifa tertawa puas, bahkan sampai menepuk-nepuk bahu
Adrian, “ Hei, keponakan. Aku baru saja bertemu dengan mantan pacar Ibumu di
bandara tadi. Tak kusangka dia Ayahnya Ririn”
Baik Adrian, Ririn, bahkan Alexi, mereka bertiga
sama-sama terkejut. Bagaimana mungkin Tifa bisa tahu kalau Ayahnya Ririn punya
dulu punya hubungan dengan Ibunya Adrian?
“ Miss, maksud
Anda pria yang kita temui di bandara tadi?” tanya Alexi.
“ Ya, benar.”
“ Apa dia bilang kalau dia punya anak bernama Ririn, Miss?” tanya Alexi lagi.
Tifa menggeleng, “ Tidak, tapi tadi dia bilang punya
anak yang bersekolah di sini. Jadi, menurutku anaknya itu adalah Ririn.”
“ Heei, Tante. Banyak anak yang bersekolah di sini.
Kenapa cuma kamu langsung bilang itu ayahnya Ririn?” sahut Adrian.
“ Karena dia bilang anaknya sekolah di sini, berarti
anaknya jelas perempuan. SMA Chandra Kirana adalah SMA khusus anak
perempuan’kan? Nah, selain itu ada kata kunci yang lain” ujar Tifa dengan yang
berlagak ala Sherlock Holmes. “ Alexi, kamu ingat siapa nama laki-laki itu?”
“ Armandi, benar’kan?”
Tifa mengangguk, “ Tepat sekali. Nama panjangnya
Armandi Prasetya. Nah, Kak Arman itu adalah seorang jurnalis, penulis, dan
dulunya seorang lulusan terbaik fakultas bahasa Indonesia dari universitas
bergengsi di Palembang. Aku tahu dia pasti memakai anagram untuk nama anak
pertamanya. Pasti kalian tahu’kan nama siapa yang cocok?”
Alexi dan Adrian saling bertukar pandang. Armandi…
Ardiman… Miranda… Marinda.…
Tak hanya Adrian dan Alexi, tapi si pemilik nama juga
ikut kaget.
“ Wah, Tante hebat banget bisa langsung nebak dengan
benar!”
“ Oooh, jadi itu alasannya kenapa Miss nyebut-nyebut nama Pak Armandi selama di mobil tadi,” sahut
Alexi.
“ Hmm, aku bahkan baru tahu kalau namaku itu anagram
dari nama Ayahku,” ujar Ririn seraya menghela napas panjang.
Tifa tertawa keras lalu memanggil kedua temannya, “
Hei, Ri, Glo, kemari! Ada anaknya Kak Armandi di sini.”
“ Siapa?” tanya Riani seraya mendekat. Tifa hanya
memberi kode dengan bibirnya. Seketika ia terperanjat. “ Hah, Marinda?”
“ Kamu gak salah, Tif?” sahut Gloria.
Tifa mengangguk, “ Satu-satunya anak dengan anagram
nama Kak Armandi yah cuma dia. Lagi pula dia sudah mengiyakan kok.”
“ Wah, sulit dipercaya,” sahut Riani. “ Hampir satu
semester aku mengajarmu tapi baru sekarang kalau kamu anaknya Kak Armandi,”
tawa gelaknya kembali terdengar. “Kalau saja mereka tidak putus dulu mungkin
sekarang Adrian dan Ririn adalah saudara.”
“ Aku titip salam untukmu ayahmu ya, Rin,” ujar
Gloria. “ Hei, Tif. Kalau tidak terlalu sibuk kurasa kita dan Hana harus reuni
dengan Kak Armandi nih.”
“ Ide bagus! Nanti aku akan kabari Hana juga, tapi sekarang
aku harus mengantar pulang anak ini dulu. Sampai jumpa.”
ooOoo
‘Kalau saja
mereka tidak putus dulu mungkin sekarang Adrian dan Ririn adalah saudara…’
Entah kenapa dada Ririn bergemuruh hebat saat
kata-kata itu terngiang di kepalanya. Ia bingung harus bergembira mendapat
berita ini. Namun, baru kali ini ia sangat bersyukur kalau ia adalah anak dari
seorang Armandi Prasetya.
“ Hei, calon adik!”
Ririn baru saja melewati mobil Adrian yang terpakir di
depan gedung, dan ia harus menghentikan langkahnya karena suara itu. Adrian
melempar senyuman ramah padanya, Baru saja ia akan membalas tersenyum, Fi
muncul dari dalam mobil. Ririn menelan kembali senyumannya saat Fi menatapnya
dengan tatapan sinis. Namun, ia tak bisa mundur saat Adrian memberik kode untuk
mendekat.
“ Calon adik?”
Ririn merasa ada setetes amarah pada pertanyaan pendek
yang dilontar Fi.
“ Ya, tadi Tante memberi tahu sebuah fakta
mengejutkan. Ternyata ayahnya Ririn itu dulu mantan Ibuku. Hahaha, sebuah
kebetulan yang lucu bukan?”
“ Meski begitu bukan berarti kamu akan menjadi kakak
adik meski Ibumu tetap menikah dengan Ayahnya Ririn. Bisa saja kalian terlahir
berbeda.”
Fi tak pernah menganggap itu adalah hal yang lucu.
Dari kalimat yang dilontarkannya Ririn sudah merasakan hal itu. Gadis itu sedang
cemburu.
“ Naaah, sekarang kamu lagi yang lucu,” Adrian
mencubit pipi Fi gemas.
Fi cemburu dan Adrian baru saja mencubit gadis itu.
Ririn menggigit bibirnya. Kenapa mereka berdua terlihat intim sekali? Apakah
sekarang giliran dia yang cemburu?
“ Masuklah, Rin. Kita pulang bareng yuk.”
Ririn menghela napas. Pintu mobil Adrian sekarang
bagai kotak Pandora. Sekali ia buka maka akan terjadi bencana. Ia berniat
menolak, tapi sepertinya iblis tak mengizinkanya lepas dari perangkap itu.
“ Bareng saja. Bukannya rumah kalian berdekatan?”
Sialan. Fi benar-benar iblis. Gadis itu pasti akan
membuatnya makan hati sepanjang jalan nanti.
“ Wah, kamu juga tahu ya kalau rumah kami satu
komplek. Rasanya aku gak pernah cerita.”
“ Girls talk.
Kami’kan satu kelas wajar saja kalau kami saling bertukar cerita,” Fi melempar
seringai serigalanya. “ Ayo, Rin. Nanti kita kelamaan sampai rumah.”
‘Dasar serigala
berbulu domba. Memangnya kita seberapa dekat sampai harus melakukan girls talk?’
gerutu Ririn dalam hati. Meski hatinya menyebutkan sederet sumpah serapah yang
diperuntukkan untuk Fi, tapi ia tetap naik mobil Adrian. Tak hanya sampai
disitu, di dalam mobil pun Fi dan Ririn masih perang dingin. Tanpa
sepengetahuan Adrian, kedua gadis ini saling serang lewat tatapan di kaca spion.
“ Hm, Fi. Aku anter kamu dulu ya. Ririn sama aku’kan
satu komplek, jadi aku gak usah bolak-balik.”
“ Gitu yah, mau bagaimana lagi. Padahal aku masih mau
berduaan sama kamu,” nada suara Fi terdengar merajuk. Tak lupa ia menggelanyut
di lengan Adrian seraya melempar tatapan panas pada kaca spion.
Ririn membuang muka. Ia sadar penuh tatapan itu
diberikan kepadanya. Namun, ia tidak tahan saat pantulan yang sepanas sinar
laser itu mengoyak-ngoyakkan hatinya.
“ Ahh, iya. Maaf ya, Fi,” ujar Adrian seraya membetulkan
letak kaca spionnya. “Kok ini spion goyang-goyang yah.”
Ririn merasa bisa sedikit bernapas setelah kaca spion
itu sedikit berubah arah. Namun, ia juga tak tahan lagi berada di dalam mobil
itu. Ia harus segera turun sebelum Fi kembali menyerangnya.
“ Aku turun di toko buku yang di depan aja deh.”
Adrian tersentak, “ Loh, kok gitu? Aku’kan sudah janji
mau antar sampai rumah, tapi kita antar Fi dulu.”
“ Benar, Rin,” sahut Fi. “ Lagi pula komplek rumah
kamu sudah dekat kok.”
‘ Bodo amat! Gak
usah sok manis deh! Ririn mendesah berat,
tapi masih memaksakan tersenyum, “ Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus
kubeli di minimarket, please.”
“ Urgent
banget yah?” tanya Adrian sambil melirik Ririn yang sedang mengangguk padanya.
“ Oke deh, kalau gitu.”
“ Waah, sayang banget yah, Rin,” Fi terdengar
menyesal, tapi seulas senyum kemenangan terukir di wajahnya.
Ririn meringis, “ Iya, gak apa-apa kok. Thank’s ya, bye-bye”.
Setelah mobil itu berlalu barulah Ririn benar-benar
merasa lega. Menit-menit yang menegangkan tatkala ia masih duduk di kursi
penumpang sudah ia lalui. Sekarang ia bingung harus membeli apa di minimarket
ini. Ririn menghitung-hitung uang di sakunya. Sepertinya ia akan membeli bubuk
cokelat saja, mengingat ayahnya juga baru pulang mungkin bisa ia minum bersama,
dan sisanya untuk ongkos angkot.
Baru saja Ririn mendorong pintu minimarket, ponselnya
berdering. Kali ini nama Alexi tertera jelas di layar ponselnya.
“ Di mana?” sapa Alexi tepat setelah Ririn berkata ‘halo’.
“ Minimarket, tapi bukan yang di depan komplek.
Memangnya kenapa?” jawab Ririn sambil meraih sekotak bubuk cokelat kesukaannya.
“ Tunggu di
sana, ya. Nyalakan GPS!”
Alexi memutuskan sambungan telepon tepat setelah ia
menyebutkan kedua perintahnya. Kening Ririn terlipat saat menatap layar
ponselnya. Laki-laki ini sekarang suka seenaknya. Namun, harus bagaimana lagi,
meski ia tak mengiyakan permintaan si kacamata ini, mau tidak mau ia harus
menunggunya di sana.
Ririn melirik arlojinya, sudah 45 menit ia di sana. Hampir
saja Ririn memutuskan untuk pulang. Bersamaan dengan itu Alexi tiba dengan
napas yang terengah-engah. Ia membuka maskernya supaya tidak pengap.
“ Hai, maaf lama,” ujarnya dengan napas putus-putus.
“ Kok sampai ngos-ngosan gitu? Bukannya gampang ya
kalau sudah pakai GPS?”
“ Ban sepedaku kempes waktu terakhir kali aku pakai.
Sebelum pergi aku lupa mengisinya. Jadi, yaaah… begitulah.”
Ririn hanya bisa menghela napas. Baru saja ia mau
berkomentar lagi, tiba-tiba Alexi sudah menyodorkan sebuah paper bag kepadanya.
“ Apa ini?”
“ Oleh-oleh. Aku’kan sudah janji sama kamu.”
“ Kenapa gak pas di sekolah aja? Kamu juga jadi gak
ngos-ngosan kayak gini.”
“ Soalnya yang aku belikan untukmu beda dengan yang
lain.”
“ Yaaa, jangan gitu dong. Itu namanya diskriminasi.”
Alexi berdecak kesal. Ia menarik tangan Ririn dan
menggantungkan paper bag itu, “
Terima dan buka dulu! Kamu cerewet amat sih.”
Ririn hanya bisa nyengir. Lucu juga melihat ekspresi
kekesalan di wajah laki-laki itu. Ia pun melihat isi paper bag itu dan mengeluarkannya. Wajahnya terlihat bersinar saat
mendapati isinya adalah sebuah boneka kangguru. Alexi meraih boneka itu, lalu
menekan di bagian perutnya. seketika boneka itu mengeluarkan kata-kata “ I love you”, dan Ririn tak bisa menahan
tawanya.
“ Ya ampuuun, lucu bangeeet! Kamu beli di mana sih?”
“ Di Aussie-lah, kamu kira Pasar 16 apa?”
Keduanya pun tertawa.
“ Oh iya, ngomong-ngomong kamu ngapain di sini?
Bukannya di dekat rumah kamu ada minimarket ya?”
Ririn mendesah berat, “ Ceritanya panjang dan
menyebalkan. Aku malas kalo disuruh ceritain.”
“ Hmm, gitu. Ya udah, naik gih. Aku anter kamu, tapi
sampai depan gapura komplek aja ya.”
“ Kenapa? Kamu capek?”
“ Sebenarnya nggak, tapi aku belum siap aja ketemu
sama Papa kamu.”
Kening Ririn berkerut, “ Papa? Bukannya kalian tadi
sudah ketemu di bandara? Lagian Papaku makannya daging sapi bukan daging
manusia. Kamu gak sudah takut.”
Tawa alexi kembali pecah, “ Ah, alasannya panjang
kalau aku ceritain. Ya udah, naik gih.”
Yah, mau bagaimana lagi. Syukur-syukur ada yang mau
mengantarkan Ririn meski hanya sampai pintu gerbang kompleknya. Setidaknya ia
bisa menghemat ongkos.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar