Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 45)




Musikal 45


Untungnya kejadian di mobil Adrian tadi hanya kesialan kecil untuk Ririn hari ini, sebaliknnya ia justru kebanjiran oleh-oleh. Setelah mendapat sebuah boneka kangguru yang lucu, begitu ia sampai di rumah ternyata setumpuk oleh-oleh dari Afrika telah menantinya. Dari makanan, pakaian, dan tak lupa buku-buku yang dibawakan oleh Papanya.

“ Rin, Papa dengar di sekolahmu akan ada pementasan drama ya?” ujar Armandi saat ia dan keluarganya makan malam.

“ Oh, iya,” jawab Ririn sambil menyuap nasi. “ Aku juga ambil bagian dari pementasan itu.”

Jawaban Ririn sontak membuat Papanya terkejut, “ Apa? Sejak kapan kamu tertarik pada hal-hal yang begituan? Selain itu, kenapa kamu gak minta izin sama Papa?”

“ A—awalnya a—aku cuma ikut-ikutan aja kok, Pa, tapi siapa yang sangka aku lulus,” Ririn melirik Mamanya. “ Lagipula aku sudah minta izin ke Mama, dan Mama bilang boleh.”

Armandi menatap istrinya. Namun, sang istri tetap tenang dan meneruskan makannya.

“ Kok Papa marah gitu? Ya gak apa-apalah kalau anak kita ternyata bisa mengembangkan bakatnya yang tersembunyi. Toh, Papa dulu juga pernah ikut-ikutan yang beginian. Apalagi sutradaranya si Latifa itu. Kalau masalah Latifa, Mama yakin Papa lebih tahu soal dia.”

Istrinya kembali menyendokkan nasi dengan tenang. Sialan, kenapa istrinya harus mengungkit-ungkit kisah lama. Sepasang suami istri ini pun saling membisu.

Ririn tersenyum geli melihat tingkah laku kedua orang tuanya. Ia melirik adiknya yang terlihat bingung dengan situasi yang tiba-tiba hening. Kalau saja Tifa tidak memberi tahu cerita di balik ini semua, mungkin ia akan sama bingungnya dengan sang adik.

Armandi berdeham untuk mencairkan suasana, “ Tapi Papa gak tahu kalau kamu punya minat dan bakat untuk terjun di panggung pementasan, Rin. Masalahnya pementasan itu butuh skill dan keseriusan”

“ Anak kita berbakat kok, Pa. Memangnya Papa gak pernah dengar Ririn nyanyi? Suaranya bagus banget! Mama juga lihat keseriusan Ririn waktu mau audisi. Dia sampai belajar nyanyi sama si Andani.”

Armandi mengangguk-angguk mendegar jawaban istrinya, “ Hoo, jadi kamu di bagian musik ya.”

Ririn menghela napas. Ia menaruh rapi sendok dan garpunya di atas piring. Tatapannya terlihat serius.

“ Pa, Ma, sebenarnya Ririn diterima di tim akting.”

Seperti telah diatur sedemikian rupa. Tepat pada detik ketiga jarum jam, baik Papa, Mama, dan adiknya sama-sama tertawa lepas. Mereka seolah sedang menonton acara komedi dimana si pelawak utama sedang menjadi bulan-bulanan pelawak lainnya.

 “ Loh, kok pada ketawa sih?” tanya Ririn heran.

“ Ka—kakak masuk tim akting? Huahahaha, Kakak bohong aja gak bisa malah disuruh akting,” sembur sang adik.

“ Mama lebih percaya kalau kamu bisa nyanyi, sayang,” sahut Mamanya.

“ Papa malah gak percaya semuanya,” Armandi tertawa paling keras.

Ririn kesal bukan kepalang. Kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun. Tanpa mengindahkan tawa keluarganya, ia langsung meninggalkan meja makan. Tawa membahana itu berhenti saat terdengar bunyi pintu kamar Ririn berdebam keras.

Armandi menghela napas, “ Sepertinya kita sudah keterlaluan. Adek, cukup tertawanya.”

Sang adik langsung menutup mulutnya. Makan malam pun dilanjutkan dalam keheningan.

ooOoo

Baiklah, Ririn merasa dirinya sangat konyol sekarang.

Dia baru saja meninggalkan meja makan. Ia ngambek gara-gara keluarganya menyepelekan sekaligus mengejek kenyataan bahwa ia bergabung di tim akting. Namun, yang membuatnya merasa bodoh bukan karena ejekan keluarganya, tapi karena ia lupa minum setelah makan, dan sekarang tenggorokannya mulai terasa serat.

Sial, ia harus segera membasahi tenggorokannya atau ia akan cegukan sepanjang malam. Tapi masalahnya dia lagi ngambek, dan ngambek identik tidak keluar kamar dalam kurun waktu yang lama. Ahh, sekarang ia merasa dihadapkan pada buah simalakama.

Ririn menyerah, tenggorokannya semakin sakit. Akhirnya, ia diam-diam keluar dari kamar. Ia melongok ke sana kemari. Bagus, sepertinya adik serta kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Ia mengendap-ngendap masuk ke dapur, membuka kulkas dan mengambil air.

“ Rin.”

Jantung Ririn berdentum keras. Suara itu hampir saja membuatnya menjatuhkan gelas yang ia pegang.

“ Pa—Papa?” Ririn mendesah panjang. “ Jangan bikin kaget orang deh.”

“ Loh, siapa yang bikin kaget? Dari tadi Papa perhatikan kamu ngendap-ngendap kayak maling gitu. Sekarang siapa yang aneh?”

“ Aku—aku cuma haus,” Ririn membalikkan badannya seraya menegak habis air di dalam gelas.

Armandi tersenyum geli, “ Papa lihat kita punya simpanan cokelat ya. Buatin Papa dong. Papa tunggu di balkon yah.”

Tanpa mengindahkan persetujuan anaknya, Armandi langsung menuju tangga. Sementara Ririn tak punya pilihan selain membuatkan segelas cokelat untuk sang ayah. Ia tahu ini hanya kode dari ayahnya supaya mereka bisa bicara empat mata.

Aroma cokelat menyeruak ketika Ririn menyodorkan gelas bewarna merah tepat pada sang ayah. Tanpa disuruh, Ririn langsung duduk di kursi sebelah ayahnya.

“ Papa minta maaf yah. Bukan maksud Papa ngejek kamu kayak tadi, tapi yah… memang sulit dipercaya. Eh, bukan maksud Papa merendahkan kamu, tapi masuk ke dunia pementasan itu gak semudah yang dibayangkan. Belum lagi kalian itu dibimbing oleh Latifa, yang sudah melanglang buana sampai ke luar negeri. Selain itu juga, Papa gak tahu kalau kamu memang punya bakat di dunia pementasan”

“ Iya, aku tahu kok, Pa. Sebenarnya aku sendiri juga masih gak percaya. Awalnya aku cuma dipaksa Andani untuk ikut audisi. Aku sih ikut-ikut aja, dan saat audisi aku bernyanyi bukan berakting. Pas pengumuman aku beneran kaget kalau aku diterima, tapi yang lebih kaget lagi ketika latihan pertama kami. Tahu-tahu aku pindah di tim akting. Sampai sekarang aku gak ngerti pemikiran Miss Tifa memindahkanku ke tim akting.”

“ Tifa bukan orang yang sembarangan. Kalau dia sampai memilih kamu, berarti dia memang melihat sesuatu yang berbeda dari kamu, Nak,” Armandi menghirup cokelat panasnya. “ Itu berarti Tifa mempercayakan pertunjukkannya padamu.”

Ririn tersenyum kecil. Kata-kata sang ayah berhasil menghangatkan hatinya.

“ Papa jadi penasaran dengan pertunjukkan kamu nanti. Papa bakalan luangin waktu untuk nonton kamu. Papa janji.”

“ Wah, serius?” Ririn terlihat bersemangat. “ Tapi aku cuma dapet peran pembantu, Pa. Bukan peran utama.”

“ Jangan bilang begitu. Dalam dunia pertunjukkan, gak ada peran sepele. Meski kamu cuma dapat peran kecil, itu akan sangat berarti untuk keberhasilan pementasan, dan kamu harus serius dengan peranmu sendiri.”

Ririn mengangguk, “ Siap, Pa!”

Keduanya tertawa.

“ Oh ya, tadi Miss Tifa bilang dia ketemu Papa di bandara. Miss Tifa heboh banget, bahkan dia yang ngasih tau kalau nama aku itu akronim dari nama Papa. Miss Tifa juga bilang kalau Papa dulunya anggota LM.”

Tawa Armandi pecah, “ Ahh, si Tifa ini banyak mulut. Semua rahasia dia bongkarin. Tapi di LM Papa cuma jadi penulis skenario dan tim artistik, bukan pemain. Ngomong-ngomong dia bilang apalagi?”

Miss Tifa juga bilang kalau Papa itu mantan Kakaknya.”

“ Ssstt!” Armandi membekap menaruh telunjuk di bibirnya. Ririn pun tak dapat menahan tawanya.

“ Mama kamu bisa bully Papa kalau dia dengar cerita masa lalu Papa.”

Ririn masih terkikik, “ Wah, mungkin Mama bakalan tambah bully Papa. Soalnya kita tetanggaan sama Mamanya Miss Tifa.”

ooOoo

“ Hana!”

Wanita berambut panjang itu menoleh, “ Oh, hai, Glo. Kamu masih di mall aja malam-malam.”

Gloria tertawa, “ Heeei, jarang-jarang aku makan malam bareng keluarga. Mumpung akhir pekan. Kamu sendiri juga masih keluyuran aja di mall kayak anak ABG.”

“ Yah, tadi menjemput anakku pulang les, terus sekalian makan malam. Hampir sama sepertimu.”

“ Hahaha, begitulah kalau sudah bekeluarga. Alasannya pasti sama,” ujar Gloria. “Ngomong-ngomong soal keluarga, ada sebuah rahasia keluarga yang baru saja terbongkar. Kamu masih ingat dengan Kak Armandi’kan?”

Mana mungkin Hana lupa. Armandi adalah alumnus Love Musical favoritnya. Ia bahkan diam-diam menyimpan potret laki-laki itu. Ia memang sedikit cemburu dengan Kakak perempuan Tifa yang saat itu menjadi kekasih Armandi. Ah, itu benar-benar cerita lama.

“ Memangnya Kak Armandi kenapa? Ada apa dengan keluarganya?”

“ Ternyata salah satu anggota LM adalah anaknya, dan kamu tahu siapa anaknya?”

Hana menggeleng.

“ Marinda. Alias Ririn.”

Hana memastikan telinganya tak salah menangkap ucapan temannya ini. Armandi dan Marinda. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Hana menyadari anagram dari kedua nama itu.

“ Wow, sulit dipercaya. Ternyata darah seninya mengalir ya.”

Gloria mengangguk, “ Satu hal lagi. Kak Armandi baru aja pulang, dan Tifa sepertinya akan merencanakan reuni kecil-kecilan. Heh, orang itu terlihat antusias sekali.”

Gloria kembali tergelak. Meski ia tengah mengejek Tifa, tapi sebenarnya ia juga ingin segera reuni itu dilaksanakan. Yah, sudah belasan tahun mereka tidak bertemu. Wajar saja kalau ia juga ikut antusias. Namun, berbeda dengan Hana. Wanita berambut panjang itu justru gelisah saat kata ‘reuni’ itu diucapkan. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang buruk.

“ Hei, Glo. Kalau Kak Armandi adalah ayahnya Ririn, berarti‘orang itu’  adalah pamannya Ririn dong?”

Mata Gloria menyipit, “ ‘Orang itu’?” Seketika napas Gloria tercekat. Ia baru sadar kalau Armandi mempunyai seorang sepupu yang juga memiliki ikatan benang merah dengan mereka.

“ Astaga, Han. Aku baru ingat. Kalau Kak Armandi dan Ririn cerita tentang Love Musical, tanpa reuni pun ‘orang itu’ pasti datang.”

Hana mendesah berat, “ Sepertinya Tifa terlalu senang, sehingga ia lupa dengan resikonya.”

“ Sebaiknya kita harus memperingatkan dia,” Gloria menggigit ujung ibu jari, wajahnya terlihat cemas. “ Aku tidak mau cerita menyedihkan itu teringat kembali.”


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar