Musikal 45
Untungnya kejadian di mobil Adrian tadi hanya kesialan
kecil untuk Ririn hari ini, sebaliknnya ia justru kebanjiran oleh-oleh. Setelah
mendapat sebuah boneka kangguru yang lucu, begitu ia sampai di rumah ternyata
setumpuk oleh-oleh dari Afrika telah menantinya. Dari makanan, pakaian, dan tak
lupa buku-buku yang dibawakan oleh Papanya.
“ Rin, Papa dengar di sekolahmu akan ada pementasan
drama ya?” ujar Armandi saat ia dan keluarganya makan malam.
“ Oh, iya,” jawab Ririn sambil menyuap nasi. “ Aku
juga ambil bagian dari pementasan itu.”
Jawaban Ririn sontak membuat Papanya terkejut, “ Apa?
Sejak kapan kamu tertarik pada hal-hal yang begituan? Selain itu, kenapa kamu
gak minta izin sama Papa?”
“ A—awalnya a—aku cuma ikut-ikutan aja kok, Pa, tapi
siapa yang sangka aku lulus,” Ririn melirik Mamanya. “ Lagipula aku sudah minta
izin ke Mama, dan Mama bilang boleh.”
Armandi menatap istrinya. Namun, sang istri tetap
tenang dan meneruskan makannya.
“ Kok Papa marah gitu? Ya gak apa-apalah kalau anak
kita ternyata bisa mengembangkan bakatnya yang tersembunyi. Toh, Papa dulu juga pernah ikut-ikutan
yang beginian. Apalagi sutradaranya si Latifa itu. Kalau masalah Latifa, Mama
yakin Papa lebih tahu soal dia.”
Istrinya kembali menyendokkan nasi dengan tenang.
Sialan, kenapa istrinya harus mengungkit-ungkit kisah lama. Sepasang suami
istri ini pun saling membisu.
Ririn tersenyum geli melihat tingkah laku kedua orang
tuanya. Ia melirik adiknya yang terlihat bingung dengan situasi yang tiba-tiba
hening. Kalau saja Tifa tidak memberi tahu cerita di balik ini semua, mungkin
ia akan sama bingungnya dengan sang adik.
Armandi berdeham untuk mencairkan suasana, “ Tapi Papa
gak tahu kalau kamu punya minat dan bakat untuk terjun di panggung pementasan,
Rin. Masalahnya pementasan itu butuh skill
dan keseriusan”
“ Anak kita berbakat kok, Pa. Memangnya Papa gak
pernah dengar Ririn nyanyi? Suaranya bagus banget! Mama juga lihat keseriusan Ririn
waktu mau audisi. Dia sampai belajar nyanyi sama si Andani.”
Armandi mengangguk-angguk mendegar jawaban istrinya, “
Hoo, jadi kamu di bagian musik ya.”
Ririn menghela napas. Ia menaruh rapi sendok dan
garpunya di atas piring. Tatapannya terlihat serius.
“ Pa, Ma, sebenarnya Ririn diterima di tim akting.”
Seperti telah diatur sedemikian rupa. Tepat pada detik
ketiga jarum jam, baik Papa, Mama, dan adiknya sama-sama tertawa lepas. Mereka
seolah sedang menonton acara komedi dimana si pelawak utama sedang menjadi
bulan-bulanan pelawak lainnya.
“ Loh, kok pada
ketawa sih?” tanya Ririn heran.
“ Ka—kakak masuk tim akting? Huahahaha, Kakak bohong
aja gak bisa malah disuruh akting,” sembur sang adik.
“ Mama lebih percaya kalau kamu bisa nyanyi, sayang,”
sahut Mamanya.
“ Papa malah gak percaya semuanya,” Armandi tertawa
paling keras.
Ririn kesal bukan kepalang. Kekesalannya sudah sampai
ke ubun-ubun. Tanpa mengindahkan tawa keluarganya, ia langsung meninggalkan
meja makan. Tawa membahana itu berhenti saat terdengar bunyi pintu kamar Ririn
berdebam keras.
Armandi menghela napas, “ Sepertinya kita sudah
keterlaluan. Adek, cukup tertawanya.”
Sang adik langsung menutup mulutnya. Makan malam pun
dilanjutkan dalam keheningan.
ooOoo
Baiklah, Ririn merasa dirinya sangat konyol sekarang.
Dia baru saja meninggalkan meja makan. Ia ngambek
gara-gara keluarganya menyepelekan sekaligus mengejek kenyataan bahwa ia
bergabung di tim akting. Namun, yang membuatnya merasa bodoh bukan karena
ejekan keluarganya, tapi karena ia lupa minum setelah makan, dan sekarang
tenggorokannya mulai terasa serat.
Sial, ia harus segera membasahi tenggorokannya atau ia
akan cegukan sepanjang malam. Tapi masalahnya dia lagi ngambek, dan ngambek
identik tidak keluar kamar dalam kurun waktu yang lama. Ahh, sekarang ia merasa
dihadapkan pada buah simalakama.
Ririn menyerah, tenggorokannya semakin sakit.
Akhirnya, ia diam-diam keluar dari kamar. Ia melongok ke sana kemari. Bagus, sepertinya
adik serta kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Ia
mengendap-ngendap masuk ke dapur, membuka kulkas dan mengambil air.
“ Rin.”
Jantung Ririn berdentum keras. Suara itu hampir saja
membuatnya menjatuhkan gelas yang ia pegang.
“ Pa—Papa?” Ririn mendesah panjang. “ Jangan bikin
kaget orang deh.”
“ Loh, siapa yang bikin kaget? Dari tadi Papa
perhatikan kamu ngendap-ngendap kayak maling gitu. Sekarang siapa yang aneh?”
“ Aku—aku cuma haus,” Ririn membalikkan badannya
seraya menegak habis air di dalam gelas.
Armandi tersenyum geli, “ Papa lihat kita punya
simpanan cokelat ya. Buatin Papa dong. Papa tunggu di balkon yah.”
Tanpa mengindahkan persetujuan anaknya, Armandi
langsung menuju tangga. Sementara Ririn tak punya pilihan selain membuatkan
segelas cokelat untuk sang ayah. Ia tahu ini hanya kode dari ayahnya supaya
mereka bisa bicara empat mata.
Aroma cokelat menyeruak ketika Ririn menyodorkan gelas
bewarna merah tepat pada sang ayah. Tanpa disuruh, Ririn langsung duduk di
kursi sebelah ayahnya.
“ Papa minta maaf yah. Bukan maksud Papa ngejek kamu
kayak tadi, tapi yah… memang sulit dipercaya. Eh, bukan maksud Papa merendahkan
kamu, tapi masuk ke dunia pementasan itu gak semudah yang dibayangkan. Belum
lagi kalian itu dibimbing oleh Latifa, yang sudah melanglang buana sampai ke
luar negeri. Selain itu juga, Papa gak tahu kalau kamu memang punya bakat di
dunia pementasan”
“ Iya, aku tahu kok, Pa. Sebenarnya aku sendiri juga masih
gak percaya. Awalnya aku cuma dipaksa Andani untuk ikut audisi. Aku sih
ikut-ikut aja, dan saat audisi aku bernyanyi bukan berakting. Pas pengumuman
aku beneran kaget kalau aku diterima, tapi yang lebih kaget lagi ketika latihan
pertama kami. Tahu-tahu aku pindah di tim akting. Sampai sekarang aku gak
ngerti pemikiran Miss Tifa
memindahkanku ke tim akting.”
“ Tifa bukan orang yang sembarangan. Kalau dia sampai
memilih kamu, berarti dia memang melihat sesuatu yang berbeda dari kamu, Nak,”
Armandi menghirup cokelat panasnya. “ Itu berarti Tifa mempercayakan
pertunjukkannya padamu.”
Ririn tersenyum kecil. Kata-kata sang ayah berhasil
menghangatkan hatinya.
“ Papa jadi penasaran dengan pertunjukkan kamu nanti.
Papa bakalan luangin waktu untuk nonton kamu. Papa janji.”
“ Wah, serius?” Ririn terlihat bersemangat. “ Tapi aku
cuma dapet peran pembantu, Pa. Bukan peran utama.”
“ Jangan bilang begitu. Dalam dunia pertunjukkan, gak
ada peran sepele. Meski kamu cuma dapat peran kecil, itu akan sangat berarti
untuk keberhasilan pementasan, dan kamu harus serius dengan peranmu sendiri.”
Ririn mengangguk, “ Siap, Pa!”
Keduanya tertawa.
“ Oh ya, tadi Miss
Tifa bilang dia ketemu Papa di bandara. Miss
Tifa heboh banget, bahkan dia yang ngasih tau kalau nama aku itu akronim dari
nama Papa. Miss Tifa juga bilang kalau
Papa dulunya anggota LM.”
Tawa Armandi pecah, “ Ahh, si Tifa ini banyak mulut. Semua
rahasia dia bongkarin. Tapi di LM Papa cuma jadi penulis skenario dan tim
artistik, bukan pemain. Ngomong-ngomong dia bilang apalagi?”
“ Miss Tifa
juga bilang kalau Papa itu mantan Kakaknya.”
“ Ssstt!” Armandi membekap menaruh telunjuk di
bibirnya. Ririn pun tak dapat menahan tawanya.
“ Mama kamu bisa bully
Papa kalau dia dengar cerita masa lalu Papa.”
Ririn masih terkikik, “ Wah, mungkin Mama bakalan
tambah bully Papa. Soalnya kita
tetanggaan sama Mamanya Miss Tifa.”
ooOoo
“ Hana!”
Wanita berambut panjang itu menoleh, “ Oh, hai, Glo.
Kamu masih di mall aja malam-malam.”
Gloria tertawa, “ Heeei, jarang-jarang aku makan malam
bareng keluarga. Mumpung akhir pekan. Kamu sendiri juga masih keluyuran aja di
mall kayak anak ABG.”
“ Yah, tadi menjemput anakku pulang les, terus
sekalian makan malam. Hampir sama sepertimu.”
“ Hahaha, begitulah kalau sudah bekeluarga. Alasannya
pasti sama,” ujar Gloria. “Ngomong-ngomong soal keluarga, ada sebuah rahasia
keluarga yang baru saja terbongkar. Kamu masih ingat dengan Kak Armandi’kan?”
Mana mungkin Hana lupa. Armandi adalah alumnus Love Musical favoritnya. Ia bahkan
diam-diam menyimpan potret laki-laki itu. Ia memang sedikit cemburu dengan
Kakak perempuan Tifa yang saat itu menjadi kekasih Armandi. Ah, itu benar-benar
cerita lama.
“ Memangnya Kak Armandi kenapa? Ada apa dengan
keluarganya?”
“ Ternyata salah satu anggota LM adalah anaknya, dan
kamu tahu siapa anaknya?”
Hana menggeleng.
“ Marinda. Alias Ririn.”
Hana memastikan telinganya tak salah menangkap ucapan
temannya ini. Armandi dan Marinda. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Hana
menyadari anagram dari kedua nama itu.
“ Wow, sulit dipercaya. Ternyata darah seninya
mengalir ya.”
Gloria mengangguk, “ Satu hal lagi. Kak Armandi baru
aja pulang, dan Tifa sepertinya akan merencanakan reuni kecil-kecilan. Heh,
orang itu terlihat antusias sekali.”
Gloria kembali tergelak. Meski ia tengah mengejek
Tifa, tapi sebenarnya ia juga ingin segera reuni itu dilaksanakan. Yah, sudah
belasan tahun mereka tidak bertemu. Wajar saja kalau ia juga ikut antusias.
Namun, berbeda dengan Hana. Wanita berambut panjang itu justru gelisah saat
kata ‘reuni’ itu diucapkan. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang buruk.
“ Hei, Glo. Kalau Kak Armandi adalah ayahnya Ririn, berarti‘orang
itu’ adalah pamannya Ririn dong?”
Mata Gloria menyipit, “ ‘Orang itu’?” Seketika napas
Gloria tercekat. Ia baru sadar kalau Armandi mempunyai seorang sepupu yang juga
memiliki ikatan benang merah dengan mereka.
“ Astaga, Han. Aku baru ingat. Kalau Kak Armandi dan
Ririn cerita tentang Love Musical,
tanpa reuni pun ‘orang itu’ pasti datang.”
Hana mendesah berat, “ Sepertinya Tifa terlalu senang,
sehingga ia lupa dengan resikonya.”
“ Sebaiknya kita harus memperingatkan dia,” Gloria
menggigit ujung ibu jari, wajahnya terlihat cemas. “ Aku tidak mau cerita
menyedihkan itu teringat kembali.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar