Musikal 36
Hampir dua minggu berlalu. Latihan yang diberikan
semakin berat saja. Untuk tim akting misalnya, mereka harus hapal semua dialog
mereka paling tidak untuk dua adegan. Sedangkan tim musik, mereka dituntut untuk
membuat instrument pada setiap adegan. Tim tari tak kalah sibuknya, karena
mereka tak hanya menjadi penari latar, tetapi juga sebagai figuran yang
nantinya juga harus berdialog dengan para aktor. Oleh karena itu, mereka juga
diharuskan untu menghapal tarian dan berimprovisasi dengan para pemain.
Hari ini pun mereka sudah bersiap untuk melakukan
latihan berat seperti biasa. Namun, kelihatannya latihan mereka sedikit
terlambat, karena setelah pemanasan mandiri yang mereka lakukan, ketiga tutor
mereka belum juga datang. Adrian yang bertugas sebagai asisten pun memutuskan
untuk mengistirahatkan semua anggota sembari menunggu tiga tutor mereka datang.
Akhirnya mereka datang. Para anggota pun segera duduk
membentuk lingkaran dan menyisakan sebuah tempat untuk Tifa tepat di ujung
lingkaran. Wajahnya terlihat lebih cerah. Biasanya kalau sudah selesai
pemanasan, Tifa mulai menyemprot mereka dengan PR-PR yang harus mereka lakukan
selama latihan nanti. Jangan tanya setelah latihan, omelannya pasti akan lebih
panjang, dan jangan harap melihat senyuman di wajah Tifa selama latihan.
“ Holaaa, semuanya! Kita akan ikut parade minggu
depan. Jadi, persiapkan!”
Semua anggota saling bertukar pandang. Parade? Kapan
dan untuk apa?
“ Saya tahu pasti kalian pasti bertanya-tanya mengenai
parade ini. Biar saya perjelas, parade
ini kita ikuti agar kita mendapat sponsor untuk kostum yang akan kita kenakan
saat pementasan kita nanti. Sederhananya begini, kita akan datang sebagai model
gratis untuk parade, sebagai gantinya kita akan dibuatkan kostum pementasan.”
Ben mengangkat tangannya, “ Miss, kenapa kita harus mengikuti sebuah parade kalau hanya untuk
kostum. Kita bisa menyewa kostum di berbagai tempat, dan kalau hanya masalah
biaya, menurutku kita bisa ajukan proposal ke sponsor yang lain.”
“ Ya, kamu benar,” Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya,
lalu ia tersenyum. “Tapi saya sudah membuat kesepakatan dengan Tri Kurniati.
Jadi, kita tidak bisa menolak.”
“ Tu—tu—tunggu dulu! Maksud Anda, Tri Kurniati si
perancang terkenal itu?” sambar Priyanka. “ Rancangan Tri Kurniati itu’kan
selalu dipakai oleh artis-artis dalam negeri, bahkan sampai Hollywood!”
Semua orang
tercengang mendengarnya. Nama perancang yang disebutkan tadi memang tak asing
di telinga mereka, tapi bagaimana mungkin mereka akan bekerja sama untuk
pementasan yang tak seberapa.
“ Bagaimana Miss
bisa membuat koneksi dengannya?” sahut Kemal.
“ Hmm, bagaimana yaa,” Tifa terkekeh. “ Sudahlah, itu
bukan urusan kalian. Pokoknya kalian yang namanya saya sebutkan tidak boleh
menolak ikut parade.”
“ Loh dipilih ya, Miss?
Aku pikir kita semua ikut,” ujar Ben.
“ Begitulah, kali ini orang yang dipilih berdasarkan
pilihanku sendiri. Aku menggunakan hak veto sebagai pemegang kekuasaan
tertinggi di sini,” tawa Tifa pecah. “Ah ya, ngomong-ngomong apa kalian tahu
Melisa Chantika?”
“ Oh, penyanyi RnB itu’kan?” sahut Anjani.
“ Benar. Melisa Chantika akan menjadi salah satu
pengisi acara di parade itu. Sayangnya, salah satu back dancernya tidak bisa datang. Maka dari itu salah satu dari
kalian akan kuutus untuk menjadi back
dancer pengganti. Ehem, untuk urusan yang ini saya tidak akan menggunakan
wewenangku, tapi memang berdasarkan bakatnya. Melisa itu orang yang
perfeksionis. Makanya saya tidak mungkin menunjuk sembarang orang.”
Tifa menatap Priyanka, kemudian tersenyum. Gadis itu
pun merasa percaya diri karena ia yang akan terpilih.
“ Wenda, kamu dipilih sebagai back dancer Melisa.”
Priyanka merasa seperti dilempar jauh menembus
angkasa, kemudian dihempaskan begitu saja hingga menabrak lumpur. Kenapa Miss Tifa harus memilih Wenda, sedangkan
leader tim tari adalah dirinya?
Sementara Wenda merasa di atas awan. Suara tepuk
tangan dan ucapan selamat terus melambungkan dirinya. Kali ini ia bisa
menegakkan kepalanya dan berbangga diri. Ia bisa menyamakan skor dengan
Priyanka sekarang.
Alexi tiba-tiba mengangkat tangannya, “
Ngomong-ngomong, Miss. Parade ini
diselenggarakan dalam rangka apa ya?”
“ Ah, maaf. Suatu kebodohan karena lupa menjelaskan
pada kalian,” ujar Tifa. “Acara ini diselengggarakan dalam rangka ‘Festival
Batik Palembang’. Beberapa perancang terkenal akan menampilkan karya terbaiknya
dalam festival tersebut. Salah satunya ya, si Tri Kurniati itu.”
Alexi mengangguk-anggukan kepalanya.
“ Baiklah, kurasa kita sudah memotong waktu latihan
cukup lama. Kembali pada tim masing-masing! Pengumuman nama yang ikut parade
setelah latihan. Sekarang, ayo latihan!”
Satu persatu dari mereka segera menggabungkan diri
pada masing-masing kelompok. Begitu pula dengan Alexi. Laki-laki itu bergabung
dengan tim musik, dan duduk manis di balik keyboardnya.
“ Ah, Alexi. Setelah latihan nanti ada yang mau saya bicarakan
denganmu,” ujar Tifa.
Entah kenapa justru Adrian yang kaget. Ia menatap
Alexi yang hanya mengangguk polos, lalu bergantian menatap Tantenya. Wanita itu
mencoba menyembunyikan seringai serigalanya. Adrian mencoba tenang, tapi satu
hal yang ia yakini. Tantenya itu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi.
ooOoo
“ Belum pulang?”
“ Nanti, aku masih menunggu Alexi.”
Fi merasa heran kenapa Adrian harus menunggu si culun
berkacamata itu. Rasa-rasanya ia tak pernah melihat Adrian berakrab-akraban
dengan Alexi. Sekarang untuk apa Adrian harus menunggu laki-laki itu?
“ Yaah, aku yakin kamu pasti heran,” Adrian
menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “ Tapi saat ini Alexi sedang
berurusan dengan Tanteku. Kalau Tanteku sudah berbicara empat mata dengan
seseorang, pasti dia minta yang aneh-aneh.”
“ Maksud kamu Miss
Tifa itu sedang merencanakan sesuatu?”
Adrian mengangkat bahunya, “ Begitulah. Makanya aku
cemas dengan nasib anak itu nanti.”
Ririn tak sengaja mencuri dengar perbincangan antara
Fi dan Adrian. Diam-diam ia merasa ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia pun
memilih untuk ikut menunggu Alexi pulang. Supaya tidak ketahuan, gadis itu
menunggu di dekat sepeda Alexi yang terparkir.
Begitu Alexi keluar, Adrian langsung memburunya dengan
bermacam-macam pertanyaan. Sampai-sampai laki-laki berkacamata ini kebingungan
untuk menjawab.
“ Well, aku
gak tahu harus menjawab yang mana dulu.”
Adrian menghela napas panjang, “ Intinya, Tanteku gak
menyuruhmu melakukan hal-hal yang aneh’kan?”
Alexi hanya menggeleng pelan.
“ Baiklah, kalau begitu,” ujar Adrian. “ Tapi kalau
itu memberatkanmu, katakan saja padaku. Nanti aku akan membantumu bicara dengan
Tanteku.”
“ Kamu gak mau tahu apa yang diminta Miss Tifa padaku?”
Adrian tersenyum, “ Aku yakin Tanteku sudah meminta,
ah maksudku mengancam supaya kamu tidak buka mulut. Tidak apa-apa, nanti aku
akan tanyakan langsung padanya. Baiklah, sampai nanti.”
Adrian melenggang pulang dengan perasaan setengah
lega. Setidaknya laki-laki ini keluar dari ruangan Tifa dalam keadaan baik-baik
saja. Pernah dulu Adrian memergoki seseorang yang baru saja berbicara empat
mata dengan Tantenya. Ketika pulang wajah orang itu berubah jadi pucat seperti
bayi kuda laut. Entah apa yang dibicarakan, tapi yang jelas Tantenya itu pasti
merencanakan sesuatu yang mengerikan. Adrian bersyukur Tantenya hanya menjadi seorang
sutradara bukan tengkulak.
Di sisi lain, Alexi tak percaya begitu ia melihat ada
seorang gadis dengan setia menunggunya. Gadis berambut ikal itu sedang duduk di
jok sepedanya sambil membaca. Gadis itu tak sadar kalau orang yang ditunggu
sudah berdiri di sampingnya.
“ Permisi, nona?”
Gubraaak… Ririn terlalu terkejut sampai-sampai ia
terjungkal ke depan bersamaan dengan sepeda yang ia duduki. Ia beruntung karena
sepeda yang jatuh itu tak menimpanya.
“ Ya Tuhaaan, kamu gak apa-apa?” tanya Alexi seraya
membantu Ririn berdiri.
“ Gak apa-apa. Ini rumput kok,” malu-malu Ririn
memungut bukunya seraya ikut menegakkan kembali sepeda laki-laki itu. “ Sepedamu
gak rusak’kan?”
“ Kamu masih mikirin sepeda orang. Memangnya kamu gak
mikir diri sendiri apa?” sergah Alexi. Namun, detik berikutnya ia menyesal
telah berkata dengan nada yang keras. “ Ah, maaf. Seharunya aku gak berteriak
kayak tadi. Aku juga minta maaf sudah mengagetkanmu. Aku gak tahu kamu bakal
sampai jatuh kayak tadi.”
Ririn melambaikan kedua tangannya, “ Ah, uh, itu… ah
sudahlah. Kita sama-sama salah. Lagi pula aku baik-baik saja. Jadi, kita anggap
saja itu tidak pernah terjadi.”
Alexi mengangguk. Dalam sekejap mereka berdua
sama-sama membisu seribu bahasa.
“ Oh ya, apa yang kamu lakukan di sini sebenarnya?”
“ Well, hmm,
itu…” Ririn menggaruk-garuk kepalanya. “ Begini, aku tidak sengaja mendengar
kata-kata Adrian tadi. Dia bilang kalau orang yang baru saja bicara empat mata
dengan Miss Tifa biasanya dimintai
hal yang aneh-aneh. Hmm, aku—aku cemas aja. Kupikir kalau itu sulit, aku akan
membantumu.”
“ Jadi, hanya karena itu?” Alexi mendesah panjang. “
Yaa, Miss Tifa memang memintaku
melakukan sesuatu, tapi bukan hal yang aneh-aneh. Bukan hal yang sulit juga.
Jadi, aku bisa melakukannya sendiri.”
“ Oh, begitu,” Ririn mengangguk canggung. “ Baguslah.”
“ Aku dengar kamu terpilih jadi model dalam parade
nanti?”
Ririn mengangguk cepat, “ Ya, ternyata hanya lima
orang. Termasuk aku dan Wenda.”
“ Wah, hebat! Kali ini mata Miss Tifa tidak salah seperti waktu itu,” ujar Alexi yang disusul
dengan tawa Ririn.
Saat tawa mereka berhenti, mereka seolah-olah
kehabisan bahan bicara. Ririn bermaksud untuk segera pamit. Namun, Alexi
tiba-tiba menarik buku yang dipegang Ririn. Ia bersihkan buku itu dari kotoran
yang menempel akibat jatuh tadi.
“ Terima kasih,” ujar Ririn saat buku itu
dikembalikan. “ Mungkin ada baiknya kalau kamu melepas masker itu saat menegur
orang. Wajahmu menyeramkan saat menggunakan itu.”
“ Akan kuusahakan,” jawab Alexi. “ Sudah gelap, mau
kuantar pulang?”
Tak ada pilihan yang lebih baik. Ririn terpaksa
menolak ajakan pulang bersama teman-temannya karena ia penasaran dengan apa
yang terjadi pada Alexi. Ia juga heran, kenapa ia sangat ingin tahu dengan apa
yang terjadi dengan laki-laki ini.
Untuk kesekian kalinya Ririn duduk di sadel belakang
sepeda ini. Entah kenapa ia lebih suka dibonceng sepeda ketimbang dengan motor.
Meski motor akan mengantarnya lebih cepat, tetapi angin yang menerpa bisa
membuat rambutnya berantakan. Berbeda saat ia naik sepeda. Hembusan angin
seolah menyapa lembut wajahnya. Membuat pipi tembamnya terasa dingin, dan dia
suka itu.
“ Aku selalu merasa olahraga saat mengantarmu,” ujar
Alexi saat menurunkan Ririn tepat di depan rumahnya.
“ What? Maksud
kamu aku berat, gitu?”
“ Bercanda,” ujar Alexi sambil terkekeh.
Ririn ikut tertawa, “ Sialan, kamu. Ya udah, aku masuk
dulu ya.”
“ Rin, sebentar!”
Langkah Ririn terhenti saat laki-laki itu memegang
lengannya. Ia merasa bingung dan menanti apa yang akan dikatakan oleh Alexi.
Namun, laki-laki itu tak berkata apa-apa. Ia hanya mengeluarkan sapu tangannya,
lalu membasahinya dengan air minum yang ia bawa.
Ririn terkejut saat laki-laki itu berjongkok dan
membersihkan lututnya yang kotor. Ia bahkan tak sadar dan lupa kalau ia baru
saja jatuh. Meskipun ia jatuh ke rumput, tetap saja ada luka yang melintang di
sana. Meskipun ia terluka akibat Alexi, tetap saja laki-laki tak usah
memperlakukannya sedemikian rupa.
Refleks Ririn menjauhnya lututnya. Entah karena canggung
atau karena nyeri akibat sentuhan air pada luka kecil di kulitnya. Alexi
mematung sejenak, kemudian ia kembali berdiri. Wajahnya masih tertunduk. Ia
menarik napas panjang seraya meraih tangan Ririn dan meletakkan saputangan itu
di sana.
“ Maaf, tapi aku berjanji ini terakhir kalinya aku
membuatmu terluka,” akhirnya Alexi mengangkat wajahnya. Ia tersenyum kecut. “
Aku pulang dulu. Selamat malam.”
Alexi langsung melenggang pergi. Ririn bahkan belum
sempat bertanya apa maksud kata-kata Alexi tadi. Ia hanya bisa menatap punggung
laki-laki itu yang semakin menjau, kemudian beralih pada sapu tangan yang
diberikan olehnya.
Ia bahkan belum mengucapkan terima kasih.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar