Total Tayangan Halaman

Sabtu, 11 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 36)



Musikal 36


Hampir dua minggu berlalu. Latihan yang diberikan semakin berat saja. Untuk tim akting misalnya, mereka harus hapal semua dialog mereka paling tidak untuk dua adegan. Sedangkan tim musik, mereka dituntut untuk membuat instrument pada setiap adegan. Tim tari tak kalah sibuknya, karena mereka tak hanya menjadi penari latar, tetapi juga sebagai figuran yang nantinya juga harus berdialog dengan para aktor. Oleh karena itu, mereka juga diharuskan untu menghapal tarian dan berimprovisasi dengan para pemain.

Hari ini pun mereka sudah bersiap untuk melakukan latihan berat seperti biasa. Namun, kelihatannya latihan mereka sedikit terlambat, karena setelah pemanasan mandiri yang mereka lakukan, ketiga tutor mereka belum juga datang. Adrian yang bertugas sebagai asisten pun memutuskan untuk mengistirahatkan semua anggota sembari menunggu tiga tutor mereka datang.

Akhirnya mereka datang. Para anggota pun segera duduk membentuk lingkaran dan menyisakan sebuah tempat untuk Tifa tepat di ujung lingkaran. Wajahnya terlihat lebih cerah. Biasanya kalau sudah selesai pemanasan, Tifa mulai menyemprot mereka dengan PR-PR yang harus mereka lakukan selama latihan nanti. Jangan tanya setelah latihan, omelannya pasti akan lebih panjang, dan jangan harap melihat senyuman di wajah Tifa selama latihan.

“ Holaaa, semuanya! Kita akan ikut parade minggu depan. Jadi, persiapkan!”

Semua anggota saling bertukar pandang. Parade? Kapan dan untuk apa?

“ Saya tahu pasti kalian pasti bertanya-tanya mengenai parade ini. Biar  saya perjelas, parade ini kita ikuti agar kita mendapat sponsor untuk kostum yang akan kita kenakan saat pementasan kita nanti. Sederhananya begini, kita akan datang sebagai model gratis untuk parade, sebagai gantinya kita akan dibuatkan kostum pementasan.”

Ben mengangkat tangannya, “ Miss, kenapa kita harus mengikuti sebuah parade kalau hanya untuk kostum. Kita bisa menyewa kostum di berbagai tempat, dan kalau hanya masalah biaya, menurutku kita bisa ajukan proposal ke sponsor yang lain.”

“ Ya, kamu benar,” Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia tersenyum. “Tapi saya sudah membuat kesepakatan dengan Tri Kurniati. Jadi, kita tidak bisa menolak.”

“ Tu—tu—tunggu dulu! Maksud Anda, Tri Kurniati si perancang terkenal itu?” sambar Priyanka. “ Rancangan Tri Kurniati itu’kan selalu dipakai oleh artis-artis dalam negeri, bahkan sampai Hollywood!”

 Semua orang tercengang mendengarnya. Nama perancang yang disebutkan tadi memang tak asing di telinga mereka, tapi bagaimana mungkin mereka akan bekerja sama untuk pementasan yang tak seberapa.

“ Bagaimana Miss bisa membuat koneksi dengannya?” sahut Kemal.

“ Hmm, bagaimana yaa,” Tifa terkekeh. “ Sudahlah, itu bukan urusan kalian. Pokoknya kalian yang namanya saya sebutkan tidak boleh menolak ikut parade.”

“ Loh dipilih ya, Miss? Aku pikir kita semua ikut,” ujar Ben.

“ Begitulah, kali ini orang yang dipilih berdasarkan pilihanku sendiri. Aku menggunakan hak veto sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di sini,” tawa Tifa pecah. “Ah ya, ngomong-ngomong apa kalian tahu Melisa Chantika?”

“ Oh, penyanyi RnB itu’kan?” sahut Anjani.

“ Benar. Melisa Chantika akan menjadi salah satu pengisi acara di parade itu. Sayangnya, salah satu back dancernya tidak bisa datang. Maka dari itu salah satu dari kalian akan kuutus untuk menjadi back dancer pengganti. Ehem, untuk urusan yang ini saya tidak akan menggunakan wewenangku, tapi memang berdasarkan bakatnya. Melisa itu orang yang perfeksionis. Makanya saya tidak mungkin menunjuk sembarang orang.”

Tifa menatap Priyanka, kemudian tersenyum. Gadis itu pun merasa percaya diri karena ia yang akan terpilih.

“ Wenda, kamu dipilih sebagai back dancer Melisa.”

Priyanka merasa seperti dilempar jauh menembus angkasa, kemudian dihempaskan begitu saja hingga menabrak lumpur. Kenapa Miss Tifa harus memilih Wenda, sedangkan leader tim tari adalah dirinya?

Sementara Wenda merasa di atas awan. Suara tepuk tangan dan ucapan selamat terus melambungkan dirinya. Kali ini ia bisa menegakkan kepalanya dan berbangga diri. Ia bisa menyamakan skor dengan Priyanka sekarang.

Alexi tiba-tiba mengangkat tangannya, “ Ngomong-ngomong, Miss. Parade ini diselenggarakan dalam rangka apa ya?”

“ Ah, maaf. Suatu kebodohan karena lupa menjelaskan pada kalian,” ujar Tifa. “Acara ini diselengggarakan dalam rangka ‘Festival Batik Palembang’. Beberapa perancang terkenal akan menampilkan karya terbaiknya dalam festival tersebut. Salah satunya ya, si Tri Kurniati itu.”

Alexi mengangguk-anggukan kepalanya.

“ Baiklah, kurasa kita sudah memotong waktu latihan cukup lama. Kembali pada tim masing-masing! Pengumuman nama yang ikut parade setelah latihan. Sekarang, ayo latihan!”

Satu persatu dari mereka segera menggabungkan diri pada masing-masing kelompok. Begitu pula dengan Alexi. Laki-laki itu bergabung dengan tim musik, dan duduk manis di balik keyboardnya.

“ Ah, Alexi. Setelah latihan nanti ada yang mau saya bicarakan denganmu,” ujar Tifa.

Entah kenapa justru Adrian yang kaget. Ia menatap Alexi yang hanya mengangguk polos, lalu bergantian menatap Tantenya. Wanita itu mencoba menyembunyikan seringai serigalanya. Adrian mencoba tenang, tapi satu hal yang ia yakini. Tantenya itu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi.

ooOoo

“ Belum pulang?”

“ Nanti, aku masih menunggu Alexi.”

Fi merasa heran kenapa Adrian harus menunggu si culun berkacamata itu. Rasa-rasanya ia tak pernah melihat Adrian berakrab-akraban dengan Alexi. Sekarang untuk apa Adrian harus menunggu laki-laki itu?

“ Yaah, aku yakin kamu pasti heran,” Adrian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “ Tapi saat ini Alexi sedang berurusan dengan Tanteku. Kalau Tanteku sudah berbicara empat mata dengan seseorang, pasti dia minta yang aneh-aneh.”

“ Maksud kamu Miss Tifa itu sedang merencanakan sesuatu?”

Adrian mengangkat bahunya, “ Begitulah. Makanya aku cemas dengan nasib anak itu nanti.”

Ririn tak sengaja mencuri dengar perbincangan antara Fi dan Adrian. Diam-diam ia merasa ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia pun memilih untuk ikut menunggu Alexi pulang. Supaya tidak ketahuan, gadis itu menunggu di dekat sepeda Alexi yang terparkir.

Begitu Alexi keluar, Adrian langsung memburunya dengan bermacam-macam pertanyaan. Sampai-sampai laki-laki berkacamata ini kebingungan untuk menjawab.

Well, aku gak tahu harus menjawab yang mana dulu.”

Adrian menghela napas panjang, “ Intinya, Tanteku gak menyuruhmu melakukan hal-hal yang aneh’kan?”

Alexi hanya menggeleng pelan.

“ Baiklah, kalau begitu,” ujar Adrian. “ Tapi kalau itu memberatkanmu, katakan saja padaku. Nanti aku akan membantumu bicara dengan Tanteku.”

“ Kamu gak mau tahu apa yang diminta Miss Tifa padaku?”

Adrian tersenyum, “ Aku yakin Tanteku sudah meminta, ah maksudku mengancam supaya kamu tidak buka mulut. Tidak apa-apa, nanti aku akan tanyakan langsung padanya. Baiklah, sampai nanti.”

Adrian melenggang pulang dengan perasaan setengah lega. Setidaknya laki-laki ini keluar dari ruangan Tifa dalam keadaan baik-baik saja. Pernah dulu Adrian memergoki seseorang yang baru saja berbicara empat mata dengan Tantenya. Ketika pulang wajah orang itu berubah jadi pucat seperti bayi kuda laut. Entah apa yang dibicarakan, tapi yang jelas Tantenya itu pasti merencanakan sesuatu yang mengerikan. Adrian bersyukur Tantenya hanya menjadi seorang sutradara bukan tengkulak.

Di sisi lain, Alexi tak percaya begitu ia melihat ada seorang gadis dengan setia menunggunya. Gadis berambut ikal itu sedang duduk di jok sepedanya sambil membaca. Gadis itu tak sadar kalau orang yang ditunggu sudah berdiri di sampingnya.

“ Permisi, nona?”

Gubraaak… Ririn terlalu terkejut sampai-sampai ia terjungkal ke depan bersamaan dengan sepeda yang ia duduki. Ia beruntung karena sepeda yang jatuh itu tak menimpanya.

“ Ya Tuhaaan, kamu gak apa-apa?” tanya Alexi seraya membantu Ririn berdiri.

“ Gak apa-apa. Ini rumput kok,” malu-malu Ririn memungut bukunya seraya ikut menegakkan kembali sepeda laki-laki itu. “ Sepedamu gak rusak’kan?”

“ Kamu masih mikirin sepeda orang. Memangnya kamu gak mikir diri sendiri apa?” sergah Alexi. Namun, detik berikutnya ia menyesal telah berkata dengan nada yang keras. “ Ah, maaf. Seharunya aku gak berteriak kayak tadi. Aku juga minta maaf sudah mengagetkanmu. Aku gak tahu kamu bakal sampai jatuh kayak tadi.”

Ririn melambaikan kedua tangannya, “ Ah, uh, itu… ah sudahlah. Kita sama-sama salah. Lagi pula aku baik-baik saja. Jadi, kita anggap saja itu tidak pernah terjadi.”

Alexi mengangguk. Dalam sekejap mereka berdua sama-sama membisu seribu bahasa.

“ Oh ya, apa yang kamu lakukan di sini sebenarnya?”

Well, hmm, itu…” Ririn menggaruk-garuk kepalanya. “ Begini, aku tidak sengaja mendengar kata-kata Adrian tadi. Dia bilang kalau orang yang baru saja bicara empat mata dengan Miss Tifa biasanya dimintai hal yang aneh-aneh. Hmm, aku—aku cemas aja. Kupikir kalau itu sulit, aku akan membantumu.”

“ Jadi, hanya karena itu?” Alexi mendesah panjang. “ Yaa, Miss Tifa memang memintaku melakukan sesuatu, tapi bukan hal yang aneh-aneh. Bukan hal yang sulit juga. Jadi, aku bisa melakukannya sendiri.”

“ Oh, begitu,” Ririn mengangguk canggung. “ Baguslah.”

“ Aku dengar kamu terpilih jadi model dalam parade nanti?”

Ririn mengangguk cepat, “ Ya, ternyata hanya lima orang. Termasuk aku dan Wenda.”

“ Wah, hebat! Kali ini mata Miss Tifa tidak salah seperti waktu itu,” ujar Alexi yang disusul dengan tawa Ririn.

Saat tawa mereka berhenti, mereka seolah-olah kehabisan bahan bicara. Ririn bermaksud untuk segera pamit. Namun, Alexi tiba-tiba menarik buku yang dipegang Ririn. Ia bersihkan buku itu dari kotoran yang menempel akibat jatuh tadi.

“ Terima kasih,” ujar Ririn saat buku itu dikembalikan. “ Mungkin ada baiknya kalau kamu melepas masker itu saat menegur orang. Wajahmu menyeramkan saat menggunakan itu.”

“ Akan kuusahakan,” jawab Alexi. “ Sudah gelap, mau kuantar pulang?”

Tak ada pilihan yang lebih baik. Ririn terpaksa menolak ajakan pulang bersama teman-temannya karena ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Alexi. Ia juga heran, kenapa ia sangat ingin tahu dengan apa yang terjadi dengan laki-laki ini.

Untuk kesekian kalinya Ririn duduk di sadel belakang sepeda ini. Entah kenapa ia lebih suka dibonceng sepeda ketimbang dengan motor. Meski motor akan mengantarnya lebih cepat, tetapi angin yang menerpa bisa membuat rambutnya berantakan. Berbeda saat ia naik sepeda. Hembusan angin seolah menyapa lembut wajahnya. Membuat pipi tembamnya terasa dingin, dan dia suka itu.

“ Aku selalu merasa olahraga saat mengantarmu,” ujar Alexi saat menurunkan Ririn tepat di depan rumahnya.

What? Maksud kamu aku berat, gitu?”

“ Bercanda,” ujar Alexi sambil terkekeh.

Ririn ikut tertawa, “ Sialan, kamu. Ya udah, aku masuk dulu ya.”

“ Rin, sebentar!”

Langkah Ririn terhenti saat laki-laki itu memegang lengannya. Ia merasa bingung dan menanti apa yang akan dikatakan oleh Alexi. Namun, laki-laki itu tak berkata apa-apa. Ia hanya mengeluarkan sapu tangannya, lalu membasahinya dengan air minum yang ia bawa.

Ririn terkejut saat laki-laki itu berjongkok dan membersihkan lututnya yang kotor. Ia bahkan tak sadar dan lupa kalau ia baru saja jatuh. Meskipun ia jatuh ke rumput, tetap saja ada luka yang melintang di sana. Meskipun ia terluka akibat Alexi, tetap saja laki-laki tak usah memperlakukannya sedemikian rupa.

Refleks Ririn menjauhnya lututnya. Entah karena canggung atau karena nyeri akibat sentuhan air pada luka kecil di kulitnya. Alexi mematung sejenak, kemudian ia kembali berdiri. Wajahnya masih tertunduk. Ia menarik napas panjang seraya meraih tangan Ririn dan meletakkan saputangan itu di sana.

“ Maaf, tapi aku berjanji ini terakhir kalinya aku membuatmu terluka,” akhirnya Alexi mengangkat wajahnya. Ia tersenyum kecut. “ Aku pulang dulu. Selamat malam.”

Alexi langsung melenggang pergi. Ririn bahkan belum sempat bertanya apa maksud kata-kata Alexi tadi. Ia hanya bisa menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjau, kemudian beralih pada sapu tangan yang diberikan olehnya.

Ia bahkan belum mengucapkan terima kasih.


please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar