Musikal 38
Festival sudah dua hari berlalu. Seperti yang
dijanjikan oleh Tri, ia mengirim beberapa stafnya untuk mengukur baju para
anggota LM. Semua anggota tampak antusias dengan kegiatan hari ini.
Sayangnya tidak bagi Priyanka. Meski festival sudah
berlalu, tetapi ia masih dongkol karena ia tidak terpilih sebagai seorang back dancer. Mungkin masalahnya terletak
kepada siapa yang terpilih kemarin. Siapa lagi kalau bukan rival lamanya,
Wenda. Andai bukan gadis itu, mungkin kekesalannya tidak sebesar ini.
Ia juga teringat pembicaraannya dengan Tifa beberapa
minggu sebelum festival diadakan. Pembicaraan dimana ia mempertanyakan kenapa
Wenda yang terpilih dan bukan dirinya. Namun, ia sepertinya menyesal telah
bertanya seperti itu, karena jawaban yang ia dapat justru membuatnya semakin
panas.
ooOoo
“ Kenapa bukan
kamu?”
Kening Tifa
berkerut saat Priyanka menemuinya selepas latihan. Gadis itu menanyakan kenapa
bukan dirinya yang ada di posisi Wenda.
“ ‘Kan sudah
kubilang kalau dia kupilih karena kualitasnya. Lagi pula kamu sudah memegang
posisi kapten di tim tari. Nanti kamu malah gak konsentrasi.”
“ Tapi, Miss. Saya bisa melakukan keduanya, dan saya jamin
saya tidak akan mengabaikan salah satunya.”
Tifa menyeruput
kopinya, kemudian menghela napas, “ Sudahlah, Wenda juga sudah terpilih, mana
mungkin aku membatalkannya. Lebih baik kamu konsentrasi saja pada tim tari.”
Priyanka belum
menyerah. Ia masih berusaha membujuk Tifa dengan retorikanya.
“ Miss, saya
mohon, biarkan saya yang menggantikan posisi Wenda. Saya sangat menginginkan
posisi itu.”
Tifa kembali
menghela napas, “ Priyanka, hentikan. Kamu harus bisa menerima kalau kamu
memang tidak terpilih. Ingat, di dunia ini bukan milikmu seorang. Adakalanya
kamu harus berbagi.”
“ Kamu harus
tahu, mengejar dua ekor kelinci sama akan membuat hidupmu lelah dan tidak akan
menghasilkan apa-apa. Itu namanya serakah, dan keserakahan tidak akan
memberikanmu apa-apa, yang ada kamu akan kehilangan segalanya.”
“ Tapi kalau aku
mengerahkan kekuatanku lebih banyak, aku yakin aku bisa menangkap dua kelinci
itu,” Priyanka menjawab dengan percaya diri. “ Bagaimana menurut Anda, Miss?”
“ Priyanka,
Priyanka,” Tifa menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Aku rasa selain meningkatkan
kemampuan menarimu, kamu juga harus belajar untuk menerima kelebihan orang
lain.”
Priyanka masih
ingin melobi Tifa, tetapi wanita itu lebih dulu meninggalkannya. Priyanka hanya
bisa menelan rasa pahit dari penolakan. Baru kali sekarang ia merasa diacuhkan
seperti ini.
ooOoo
“ Guys,
fotonya udah jadi nih!”
Teriakan Ben memancing anggota LM lainnya untuk segera
mendekat, terutama Wenda dan Ririn. Hiruk pikuk terdengar di sana-sini saat
mereka melihat foto-foto yang dibawa oleh Ben.
Priyanka tak tertarik untuk bergabung, dan hanya
melihat dari jauh saja. Ia tahu foto-foto itu berisikan gambar-gambar festival
waktu itu. Tentu saja emosinya bergejolak kalau membicarakan hal-hal yang
berbau festival tersebut. Itu akan semakin membuatnya seperti pecundang di mata
Wenda.
Hal yang paling membuat orang kesal adalah di saat
hidup terasa menyebalkan, tetapi orang terdekat tidak ada di sisinya. Itu
sekarang terjadi pada Priyanka. Ketika ia sedang butuh teman curhat, Fi, adalah
orang yang paling dekat dengannya justru sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis
itu lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sang pujaan hati, Adrian.
Makin lama Priyanka makin gerah. Lupakan saja Fi dan
tinggalkan dunia yang tak bersahabat ini! Priyanka pun memutuskan untuk
meredakan emosinya di luar ruangan.
Dukk! Baru saja Priyanka memutar tubuhnya, wajahnya
langsung bertabrakan dengan benda yang cukup keras. Ia meringis sambil
memegangi hidungnya. Ia tidak tahu kalau hidungnya baru saja membentur sebidang
dada yang ternyata lumayan kokoh. Tulang beradu tulang, pantas nyerinya
menjalar kemana-mana.
“ Whooops, hati-hati dong, baby. Kalau tulang rusuk aku patah sama aja kamu sudah membunuh
jodohku di masa depan.”
Priyanka berdecak kesal. Dari suaranya ia bisa tahu
siapa pemilik dada yang baru saja ia tabrak itu. Sial, kalau sudah tahu kenapa
ia harus refleks melihat wajah si onta arab itu?
“ Apa hubungannya jodoh sama tulang rusuk coba? Yang
ada hidung aku tambah pesek gara-gara nabrak tulang kamu yang kayak batu itu!”
Laki-laki berhidung mancung itu tertawa keras, “
Iyalah, wanita itu’kan tulang rusuknya pria. Kalau tulang rusuknya patah,
berarti jodohnya mati tahu!”
“ Iiih, apaan sih? Minggir, kamu ngalangin orang mau
lewat aja!”
Tangan Priyanka menepis lengan Kemal, lalu dengan
langkah gusar ia tinggalkan laki-laki itu. Sementara Kemal hanya menatapnya
dengan tawa kecilnya.
“ Kamu kenapa dengan si Priyanka itu?” tanya Ririn
yang tiba-tiba menghampiri.
“ Gak apa-apa,” Kemal menatap Ririn dengan tatapan
rayuannya. “ Kenapa? Kamu cemburu?”
Gadis berambut ikal itu bergidik. Ia menggeleng dan
langsung meninggalkan Kemal. Sekali lagi laki-laki keturunan Arab itu tertawa
puas.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar