Total Tayangan Halaman

Sabtu, 11 Juni 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 38)



Musikal 38



Festival sudah dua hari berlalu. Seperti yang dijanjikan oleh Tri, ia mengirim beberapa stafnya untuk mengukur baju para anggota LM. Semua anggota tampak antusias dengan kegiatan hari ini.

Sayangnya tidak bagi Priyanka. Meski festival sudah berlalu, tetapi ia masih dongkol karena ia tidak terpilih sebagai seorang back dancer. Mungkin masalahnya terletak kepada siapa yang terpilih kemarin. Siapa lagi kalau bukan rival lamanya, Wenda. Andai bukan gadis itu, mungkin kekesalannya tidak sebesar ini.

Ia juga teringat pembicaraannya dengan Tifa beberapa minggu sebelum festival diadakan. Pembicaraan dimana ia mempertanyakan kenapa Wenda yang terpilih dan bukan dirinya. Namun, ia sepertinya menyesal telah bertanya seperti itu, karena jawaban yang ia dapat justru membuatnya semakin panas.

ooOoo


“ Kenapa bukan kamu?”

Kening Tifa berkerut saat Priyanka menemuinya selepas latihan. Gadis itu menanyakan kenapa bukan dirinya yang ada di posisi Wenda.

“ ‘Kan sudah kubilang kalau dia kupilih karena kualitasnya. Lagi pula kamu sudah memegang posisi kapten di tim tari. Nanti kamu malah gak konsentrasi.”

“ Tapi, Miss.  Saya bisa melakukan keduanya, dan saya jamin saya tidak akan mengabaikan salah satunya.”

Tifa menyeruput kopinya, kemudian menghela napas, “ Sudahlah, Wenda juga sudah terpilih, mana mungkin aku membatalkannya. Lebih baik kamu konsentrasi saja pada tim tari.”

Priyanka belum menyerah. Ia masih berusaha membujuk Tifa dengan retorikanya.

Miss, saya mohon, biarkan saya yang menggantikan posisi Wenda. Saya sangat menginginkan posisi itu.”

Tifa kembali menghela napas, “ Priyanka, hentikan. Kamu harus bisa menerima kalau kamu memang tidak terpilih. Ingat, di dunia ini bukan milikmu seorang. Adakalanya kamu harus berbagi.”

“ Kamu harus tahu, mengejar dua ekor kelinci sama akan membuat hidupmu lelah dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Itu namanya serakah, dan keserakahan tidak akan memberikanmu apa-apa, yang ada kamu akan kehilangan segalanya.”

“ Tapi kalau aku mengerahkan kekuatanku lebih banyak, aku yakin aku bisa menangkap dua kelinci itu,” Priyanka menjawab dengan percaya diri. “ Bagaimana menurut Anda, Miss?”

“ Priyanka, Priyanka,” Tifa menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Aku rasa selain meningkatkan kemampuan menarimu, kamu juga harus belajar untuk menerima kelebihan orang lain.”

Priyanka masih ingin melobi Tifa, tetapi wanita itu lebih dulu meninggalkannya. Priyanka hanya bisa menelan rasa pahit dari penolakan. Baru kali sekarang ia merasa diacuhkan seperti ini.

ooOoo

Guys, fotonya udah jadi nih!”

Teriakan Ben memancing anggota LM lainnya untuk segera mendekat, terutama Wenda dan Ririn. Hiruk pikuk terdengar di sana-sini saat mereka melihat foto-foto yang dibawa oleh Ben.

Priyanka tak tertarik untuk bergabung, dan hanya melihat dari jauh saja. Ia tahu foto-foto itu berisikan gambar-gambar festival waktu itu. Tentu saja emosinya bergejolak kalau membicarakan hal-hal yang berbau festival tersebut. Itu akan semakin membuatnya seperti pecundang di mata Wenda.

Hal yang paling membuat orang kesal adalah di saat hidup terasa menyebalkan, tetapi orang terdekat tidak ada di sisinya. Itu sekarang terjadi pada Priyanka. Ketika ia sedang butuh teman curhat, Fi, adalah orang yang paling dekat dengannya justru sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis itu lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sang pujaan hati, Adrian.

Makin lama Priyanka makin gerah. Lupakan saja Fi dan tinggalkan dunia yang tak bersahabat ini! Priyanka pun memutuskan untuk meredakan emosinya di luar ruangan.

Dukk! Baru saja Priyanka memutar tubuhnya, wajahnya langsung bertabrakan dengan benda yang cukup keras. Ia meringis sambil memegangi hidungnya. Ia tidak tahu kalau hidungnya baru saja membentur sebidang dada yang ternyata lumayan kokoh. Tulang beradu tulang, pantas nyerinya menjalar kemana-mana.

“ Whooops, hati-hati dong, baby. Kalau tulang rusuk aku patah sama aja kamu sudah membunuh jodohku di masa depan.”

Priyanka berdecak kesal. Dari suaranya ia bisa tahu siapa pemilik dada yang baru saja ia tabrak itu. Sial, kalau sudah tahu kenapa ia harus refleks melihat wajah si onta arab itu?

“ Apa hubungannya jodoh sama tulang rusuk coba? Yang ada hidung aku tambah pesek gara-gara nabrak tulang kamu yang kayak batu itu!”

Laki-laki berhidung mancung itu tertawa keras, “ Iyalah, wanita itu’kan tulang rusuknya pria. Kalau tulang rusuknya patah, berarti jodohnya mati tahu!”

“ Iiih, apaan sih? Minggir, kamu ngalangin orang mau lewat aja!”

Tangan Priyanka menepis lengan Kemal, lalu dengan langkah gusar ia tinggalkan laki-laki itu. Sementara Kemal hanya menatapnya dengan tawa kecilnya.

“ Kamu kenapa dengan si Priyanka itu?” tanya Ririn yang tiba-tiba menghampiri.

“ Gak apa-apa,” Kemal menatap Ririn dengan tatapan rayuannya. “ Kenapa? Kamu cemburu?”

Gadis berambut ikal itu bergidik. Ia menggeleng dan langsung meninggalkan Kemal. Sekali lagi laki-laki keturunan Arab itu tertawa puas.


please comment and share







Tidak ada komentar:

Posting Komentar