Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 196)




Musikal 196

Perdebatan antara Tifa dan ibunya menghabiskan satu malam yang sengit. Mereka berselisih mengenai keputusan Tifa untuk segera kembali melatih anggota LM. Adrian tak dapat melerai. Ia hanya jadi pelanduk saja. Sebab, keputusan keduanya sama-sama tepat. Kondisi Tifa memang masih mengharuskannya untuk beristirahat. Di sisi lain, semua anggota LM sudah sangat mengharapkan kehadirannya. Selain itu, pria memang tidak akan pernah bisa menjadi penengah di antara dua wanita yang sedang bersengketa.
Tak ada yang membuka pembicaraan saat sarapan. Sampai akhirnya Dave mampir dan membawa angin segar. Ia menawarkan opsi yang menguntungkan dua belah pihak. Tifa bisa pergi dengan syarat kalau dia harus dalam pengawasan Dokter Edo. Syarat itu membuat Tifa terpaksa mengiyakan.
“Anak-anak pasti heboh,” ujar Dave ketika menyetir. “Sang raja telah tiba”.
Tifa mendengus pendek, “Aku tidak terlalu yakin. Mungkin mereka justru tidak suka karena sang diktator telah kembali”.
 “Hussh, jangan ngomong yang nggak-nggak,” kilah Dave.
“Berpikir negatif bisa memperparah keadaan,” sahut Dokter Edo. “Fokus saja pada hal yang sudah kamu rencanakan”.
Tifa kemudian membisu hingga mobil mereka sampai. Ternyata Adrian dan bebrapa siswa telah menunggu di luar. Sebenarnya kaki Tifa baik-baik saja, tetapi ia belum boleh terlalu lelah. Mau tak mau ia harus menggunakan kursi roda.
Bunyi gesekan roda pada lantai menggema hingga ke seluruh penjuru ruangan. Di dalam sudah menunggu Riani, Gloria, dan Hana, serta semua anggota LM yang duduk melingkar. Tifa pun ditempatkan di salah satu sisi lingkaran itu.
“Halo, selamat siang semua. Lama tak berjumpa”.
Senyap. Sepertinya tak ada yang berniat untuk menjawab.
“Karena tampaknya kalian sudah tidak sabar, maka saya pun juga tidak akan basa-basi lagi lagi. Kedatangannya saya ke mari adalah untuk membahas kelanjutan pementasan ini, tapi sebelum itu….”
Tifa sengaja menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
“Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf”.
Semua orang yang ada terpaku. Perbuatan Tifa terkesan sangat heroik. Suasana yang tadinya memanas berubah senyap.
“Saya meminta maaf untuk semua kecerobohan dan ketidaktransparanan infrastruktur klub ini. Saya memang menutupi semua skandal ini dengan sengaja, tapi semua itu semata-mata agar kalian tidak cemas. Saya hanya takut jika kalian akan hilang fokus kalau ikut campur dalam masalah ini. ternyata, menutupi sebuah kebohongan justru membuat kalian tidak mempercayai satu sama lain. Saya tidak menyalahkan kalian. Hanya saja saya berharap kalau kalian masih memiliki kepercayaan pada klu ini. Sedikit saja dan kita akan mulai dari awal”.
Suasana masih sening. Belum ada yang berani membuka mulut.
“Atau kalian ingin mengatakan sesuatu supaya ke depannya kalian bisa lebih nyaman. Terserah apapun itu. Kata-kata umpatan juga tidak apa. Silakan katakan dengan jujur”.
Dua detik setelah Tifa menyelesaikan kalimatnya, Fi langsung mengangkat tangan. Semua sorot mata pun langsung tertuju padanya.
“Aku hanya ingin mengatakan kalau aku benci kalian semua, terutama Anda, Miss”.
Pernyataan Fi membuat semua orang tersentak. Namun, ekspresi Tifa tetap tenang.
“Sedari awal semua orang memperlakukanku seperti alien dari planet lain. Aku memang tidak ada masalah dengan itu, tapi skandal kemarin yang menimpaku semakin memperparah keadaan. Anda juga ikut-ikutan seperti itu. Aku hanya ingin mempertanyakan pada kalian semua, apakah kalian harus seperti ini dengan semua usaha yang sudah kulakukan?”
“Bukannya kamu sendiri yang sedari awal membuat kesan seperti itu? Gak heran semua orang jadi alergi sama kamu”.
Suara tersebut terdengar nyaring dan lantang. Mengejutkan karena Ririn berani menanti Fi dalam situasi seperti ini.
“Aku memang benci kamu sejak kita bertemu di klub ini, tapi aku setuju denganmu. Kalau orang yang harusnya paling kita benci adalah Miss Tifa. Kita terus-terusan berselisih seperti ini memang karena ulahnya. Selain itu, aku juga masih mempertanyakan kenapa aku ada di klub akting, padahal jelas-jelas aku audisi untuk tim musik. Ini membuatku stres, tapi tak ada yang peduli”.
Baru kali ini Ririn menatap langsung Tifa dan FI dengan tegas. Gadis yang matanya selalu terpaut pada buku ternyata menyimpan sejuta amarah.
“Aku juga tidak suka berada di sini. Kami, siswa SMA Panji Semirang, selalu diperlakukan tidak adil. Semua peran utama diambil oleh SMA Chandra Kirana,” sahut Wenda. “Juga tidak adil untukku. Kenapa harus Priyanka yang menjadi ketua tim tari? Jelas-jelas aku lebih banyak menguasai tarian ketimbang dia yang hanya kuat di balet”.
Masih saja’, keluh Ben dan Kemal. Keduanya serempak melirik pada Priyanka. Akan tetapi, hanya tatapan datar yang ditampilkannya. Seperti bukan dirinya saja yang sedang dibicarakan.
Satu per satu mereka pun mulai buka suara. Saling tuduh, saling menyalahkan, tapi tak satu pun dari mereka yang terlihat mendendam. Air mata mulai berjatuhan seiring dengan makian yang semakin peda terdengar. Hingga semua keluh kesah itu terkuras, mereka pun kehabisan kata-kata.
“Apa sudah semua? Katakan saja kalau memang masih ada hal yang ingin dikatakan”.
Diam. Mereka justru diam seribu bahasa. Tifa pun menarik napas panjang.
“Baiklah, kalau tidak ada yang mau kalian katakan lagi, maka sekarang waktunya kalian mencari orang yang kalian sayangi. Dekati dan peluk dia. Katakan kalau kalian sangat mempercayai dan berterimakasilah karena berkat dia kalian masih bisa bertahan sampai saat ini”.
Tanpa diduga, Fi maju lebih dulu. Ia menyebrangi lingkaran dan langsung memeluk Tifa. Air matanya tumpah begitu Tifa membalas pelukannya.
“Maafkan saya…” bisik Tifa.
Setelah itu, berbondong-bondong para anggota memeluknya. Suasana dikuasai kaharuan. Adrian juga tak kuasa menahan tangisnya. Ia tersadar ketika Dave menepuk bahunya. Ia menyalami pria yang tampak tegar itu.
“Terima kasih untuk semuanya,” ujar Adrian.
Dave mengangguk. Di sisi lain, Riani, Gloria, dan Hana yang tidak kebagian memeluk Tifa, akhirnya saling berpelukan. Saling mengusap air mata masing-masing dengan tawa.
“Menjadi ketua bukan hal yang gampang,” ujar Priyanka pada Wenda setelah adegan haru itu berlalu. “Kamu bersyukur tidak selalu kena marah Miss Tifa”.
“Yah, mungkin aku juga terlalu egois. Makanya selalu kena sial,” ujar Wenda.
“Hei, emm… aku memang harus minta maaf padamu tentang kejadian itu. Aku buta dan bodoh, tapi aku bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk memintanya maaf padamu”.
Wenda menarik napas panjang, “Kupikir sudah saatnya juga aku memaafkanmu. Capek juga bermusuhan dengan sahabat sendiri”.
Bukan main senangnya Priyanka saat medengar itu. Saking senangnyanya, ia sampai melompat memeluk Wenda, “Aku tahu kamu sahabat terbaikku”.
Wenda hanya tersenyum seraya menepuk pundak gadis itu. jauh dari mereka, Ben dan Kemal akhirnya bisa merasa lega. Perselisihan di antara keduanya bisa diselesaikan.
Tepat disaksikan Adrian, Fi dan Ririn tiba-tiba saling berpelukan. Mereka yang selalu bertentangan, baik di panggung maupun tidak, ternyata bisa berdamai. Pelukan mereka cukup lama hingga orang-orang berpikir mereka akan ada persaingan lagi.
“Harusnya kita bisa jadi partner yang baik,” ujar Fi kemudian.
“Ya, lalu kita hancurkan dunia,” balas Ririn.
Perasaan orang-orang menjadi lega sekaligus bertanya-tanya. Apakah gerangan yang mereka katakan hingga mereka berdua bisa tertawa bersama. Setelah itu mereka berpisah. Alih-alih menghampiri Adrian, Ririn jutsru mengalihkan padangannya pada seseorang yang selalu bersamanya ketika ia berada di titik nadir. Orang itu bahkan tak menyangka kalau Ririn akan tersenyum kepadanya.
Dan orang itu adalah Alexi….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar