Musikal
196
Perdebatan antara Tifa
dan ibunya menghabiskan satu malam yang sengit. Mereka berselisih mengenai
keputusan Tifa untuk segera kembali melatih anggota LM. Adrian tak dapat
melerai. Ia hanya jadi pelanduk saja. Sebab, keputusan keduanya sama-sama
tepat. Kondisi Tifa memang masih mengharuskannya untuk beristirahat. Di sisi
lain, semua anggota LM sudah sangat mengharapkan kehadirannya. Selain itu, pria
memang tidak akan pernah bisa menjadi penengah di antara dua wanita yang sedang
bersengketa.
Tak ada yang membuka pembicaraan saat sarapan. Sampai akhirnya Dave
mampir dan membawa angin segar. Ia menawarkan opsi yang menguntungkan dua belah
pihak. Tifa bisa pergi dengan syarat kalau dia harus dalam pengawasan Dokter
Edo. Syarat itu membuat Tifa terpaksa mengiyakan.
“Anak-anak pasti heboh,” ujar Dave ketika menyetir. “Sang raja telah
tiba”.
Tifa mendengus pendek, “Aku tidak terlalu yakin. Mungkin mereka justru
tidak suka karena sang diktator telah kembali”.
“Hussh, jangan ngomong yang
nggak-nggak,” kilah Dave.
“Berpikir negatif bisa memperparah keadaan,” sahut Dokter Edo. “Fokus
saja pada hal yang sudah kamu rencanakan”.
Tifa kemudian membisu hingga mobil mereka sampai. Ternyata Adrian dan
bebrapa siswa telah menunggu di luar. Sebenarnya kaki Tifa baik-baik saja,
tetapi ia belum boleh terlalu lelah. Mau tak mau ia harus menggunakan kursi
roda.
Bunyi gesekan roda pada lantai menggema hingga ke seluruh penjuru
ruangan. Di dalam sudah menunggu Riani, Gloria, dan Hana, serta semua anggota
LM yang duduk melingkar. Tifa pun ditempatkan di salah satu sisi lingkaran itu.
“Halo, selamat siang semua. Lama tak berjumpa”.
Senyap. Sepertinya tak ada yang berniat untuk menjawab.
“Karena tampaknya kalian sudah tidak sabar, maka saya pun juga tidak
akan basa-basi lagi lagi. Kedatangannya saya ke mari adalah untuk membahas
kelanjutan pementasan ini, tapi sebelum itu….”
Tifa sengaja menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Kemudian ia membungkukkan
tubuhnya dalam-dalam.
“Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf”.
Semua orang yang ada terpaku. Perbuatan Tifa terkesan sangat heroik.
Suasana yang tadinya memanas berubah senyap.
“Saya meminta maaf untuk semua kecerobohan dan ketidaktransparanan
infrastruktur klub ini. Saya memang menutupi semua skandal ini dengan sengaja,
tapi semua itu semata-mata agar kalian tidak cemas. Saya hanya takut jika
kalian akan hilang fokus kalau ikut campur dalam masalah ini. ternyata,
menutupi sebuah kebohongan justru membuat kalian tidak mempercayai satu sama
lain. Saya tidak menyalahkan kalian. Hanya saja saya berharap kalau kalian
masih memiliki kepercayaan pada klu ini. Sedikit saja dan kita akan mulai dari
awal”.
Suasana masih sening. Belum ada yang berani membuka mulut.
“Atau kalian ingin mengatakan sesuatu supaya ke depannya kalian bisa
lebih nyaman. Terserah apapun itu. Kata-kata umpatan juga tidak apa. Silakan
katakan dengan jujur”.
Dua detik setelah Tifa menyelesaikan kalimatnya, Fi langsung mengangkat
tangan. Semua sorot mata pun langsung tertuju padanya.
“Aku hanya ingin mengatakan kalau aku benci kalian semua, terutama Anda,
Miss”.
Pernyataan Fi membuat semua orang tersentak. Namun, ekspresi Tifa tetap
tenang.
“Sedari awal semua orang memperlakukanku seperti alien dari planet lain.
Aku memang tidak ada masalah dengan itu, tapi skandal kemarin yang menimpaku
semakin memperparah keadaan. Anda juga ikut-ikutan seperti itu. Aku hanya ingin
mempertanyakan pada kalian semua, apakah kalian harus seperti ini dengan semua
usaha yang sudah kulakukan?”
“Bukannya kamu sendiri yang sedari awal membuat kesan seperti itu? Gak
heran semua orang jadi alergi sama kamu”.
Suara tersebut terdengar nyaring dan lantang. Mengejutkan karena Ririn
berani menanti Fi dalam situasi seperti ini.
“Aku memang benci kamu sejak kita bertemu di klub ini, tapi aku setuju
denganmu. Kalau orang yang harusnya paling kita benci adalah Miss Tifa. Kita terus-terusan berselisih
seperti ini memang karena ulahnya. Selain itu, aku juga masih mempertanyakan
kenapa aku ada di klub akting, padahal jelas-jelas aku audisi untuk tim musik.
Ini membuatku stres, tapi tak ada yang peduli”.
Baru kali ini Ririn menatap langsung Tifa dan FI dengan tegas. Gadis
yang matanya selalu terpaut pada buku ternyata menyimpan sejuta amarah.
“Aku juga tidak suka berada di sini. Kami, siswa SMA Panji Semirang,
selalu diperlakukan tidak adil. Semua peran utama diambil oleh SMA Chandra
Kirana,” sahut Wenda. “Juga tidak adil untukku. Kenapa harus Priyanka yang menjadi
ketua tim tari? Jelas-jelas aku lebih banyak menguasai tarian ketimbang dia
yang hanya kuat di balet”.
‘Masih saja’, keluh Ben dan
Kemal. Keduanya serempak melirik pada Priyanka. Akan tetapi, hanya tatapan
datar yang ditampilkannya. Seperti bukan dirinya saja yang sedang dibicarakan.
Satu per satu mereka pun mulai buka suara. Saling tuduh, saling
menyalahkan, tapi tak satu pun dari mereka yang terlihat mendendam. Air mata
mulai berjatuhan seiring dengan makian yang semakin peda terdengar. Hingga
semua keluh kesah itu terkuras, mereka pun kehabisan kata-kata.
“Apa sudah semua? Katakan saja kalau memang masih ada hal yang ingin
dikatakan”.
Diam. Mereka justru diam seribu bahasa. Tifa pun menarik napas panjang.
“Baiklah, kalau tidak ada yang mau kalian katakan lagi, maka sekarang
waktunya kalian mencari orang yang kalian sayangi. Dekati dan peluk dia.
Katakan kalau kalian sangat mempercayai dan berterimakasilah karena berkat dia
kalian masih bisa bertahan sampai saat ini”.
Tanpa diduga, Fi maju lebih dulu. Ia menyebrangi lingkaran dan langsung
memeluk Tifa. Air matanya tumpah begitu Tifa membalas pelukannya.
“Maafkan saya…” bisik Tifa.
Setelah itu, berbondong-bondong para anggota memeluknya. Suasana
dikuasai kaharuan. Adrian juga tak kuasa menahan tangisnya. Ia tersadar ketika
Dave menepuk bahunya. Ia menyalami pria yang tampak tegar itu.
“Terima kasih untuk semuanya,” ujar Adrian.
Dave mengangguk. Di sisi lain, Riani, Gloria, dan Hana yang tidak
kebagian memeluk Tifa, akhirnya saling berpelukan. Saling mengusap air mata
masing-masing dengan tawa.
“Menjadi ketua bukan hal yang gampang,” ujar Priyanka pada Wenda setelah
adegan haru itu berlalu. “Kamu bersyukur tidak selalu kena marah Miss Tifa”.
“Yah, mungkin aku juga terlalu egois. Makanya selalu kena sial,” ujar
Wenda.
“Hei, emm… aku memang harus minta maaf padamu tentang kejadian itu. Aku
buta dan bodoh, tapi aku bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk
memintanya maaf padamu”.
Wenda menarik napas panjang, “Kupikir sudah saatnya juga aku
memaafkanmu. Capek juga bermusuhan dengan sahabat sendiri”.
Bukan main senangnya Priyanka saat medengar itu. Saking senangnyanya, ia
sampai melompat memeluk Wenda, “Aku tahu kamu sahabat terbaikku”.
Wenda hanya tersenyum seraya menepuk pundak gadis itu. jauh dari mereka,
Ben dan Kemal akhirnya bisa merasa lega. Perselisihan di antara keduanya bisa
diselesaikan.
Tepat disaksikan Adrian, Fi dan Ririn tiba-tiba saling berpelukan. Mereka
yang selalu bertentangan, baik di panggung maupun tidak, ternyata bisa
berdamai. Pelukan mereka cukup lama hingga orang-orang berpikir mereka akan ada
persaingan lagi.
“Harusnya kita bisa jadi partner yang baik,” ujar Fi kemudian.
“Ya, lalu kita hancurkan dunia,” balas Ririn.
Perasaan orang-orang menjadi lega sekaligus bertanya-tanya. Apakah
gerangan yang mereka katakan hingga mereka berdua bisa tertawa bersama. Setelah
itu mereka berpisah. Alih-alih menghampiri Adrian, Ririn jutsru mengalihkan
padangannya pada seseorang yang selalu bersamanya ketika ia berada di titik
nadir. Orang itu bahkan tak menyangka kalau Ririn akan tersenyum kepadanya.
Dan orang itu adalah Alexi….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar