Musikal
207
Padahal ini sudah hari
Sabtu dan tinggal dua hari lagi sebelum Alexi pergi. Semakin mendekati hari
kepergiannya, Ririn justru semakin menjauhinya. Bicara hanya seperlunya dan
jika ada waktu senggang, Ririn memilih untuk mendekam di ruang klub Koran.
Andani sempat bertanya, tapi gadis itu juga menghindar.
Lain halnya dengan pasangan yang lain. Walau sedikit sibuk dengan urusan
Ririn, tapi Andani selalu mempunyai waktu untuk pacarnya, Jiro. Beruntungnya
saat ini sahabatnya itu sedang sibuk dengan klub lamanya, sehingga waktu
istirahat bisa ia gunakan untuk berduaan. Tiap pulang sekolah mereka juga
selalu berkencan. Sepertinya hari-hari akhir ini dinikmati dengan sangat baik.
Begitu pula dengan Kemal. Entah sejak kapan ia mulai dekat dengan
Priyanka. Padahal di awal jelas sekali ia tertarik dengan si ikal pemeran Anna
Croux. Sebelumnya juga Priyanka sudah punya pacar. Mungkin karena insiden
perkelahian itu, keduanya menjadi dekat. Namun, apa yang membuat Kemal
bermanuver pada gadis itu juga masih misteri.
Yang jelas kentara sekali kalau saat ini ia sedang gencar-gencarnya
untuk mendapatkan gadis itu.
Inilah yang membuat Anjani sedikit kesepian. Padahal ia juga mau
menghabiskan hari-hari terakhir bersama teman-temannya sebelum ia pindah ke
sekolah lamanya. Ben dan Wenda tak usah diharapkan karena mereka berdua juga
sedang sibuk memadu kasih. Tersisa hanya Fi. Meski tidak pernah ada konflik
sebelumnya, tapi Anjani juga hampir tidak pernah berbicara dengan gadis itu.
Pasti akan terasa canggung sekali bila tiba-tiba ia mengajak ngobrol.
Mungkin ada baiknya ia berjalan-jalan keliling sekolah. Waktu istirahat
digunakannya untuk mengenang setiap detail penting sejak kehadirannya di sini.
Waktu terasa singkat setelah pementasan berakhir. Ia tak menyangka kalau akan
merindukan saat-saat mereka bertengkar, menangis, dan tertawa. Ia juga rindu
dengan rasa lelah dan bosan ketika berlatih. Andai sensasi itu dapat diulang,
pasti Anjani akan menekan tombolnya.
“Kesasar, Ojou-chan?”
Anjani tak sadar kalau ia sedang di lantai dua. Lantai dua adalah
kawasan anak kelas tiga. Jarang sekali ada siswa kelas satu berkeliaran di
sana, kecuali anggota klub karena ruangan klub ada di lantai dua. Sebenarnya ia
juga merasa aneh karena bisa berpapasan dengan Hiro di sana.
“Apa sedang jalan-jalan untuk mengenang sebelum berpisah?”
Hiro sepertinya bisa membaca pikiran. Pipi Anjani bersemu merah saat
membenarkan kata-katanya.
“Gak usah malu, aku juga sama,” Hiro tersenyum. “Mau bareng? Lebih baik
berdua daripada terlihat seperti orang bodoh”.
Anjani membalasnya dengan senyum. Sekali lagi Hiro menemukan jalan
rahasia menuju rooftop yang mungkin
siswa SMA Chandara Kirana juga tak tahu. Menikmati panas kota Palembang yang
semakin menyengat di atap. Berdua saja. Tanpa kata. Hanya kenangan yang saling
bicara.
Bel masuk berbunyi. Keduanya tersentak.
“Kita bolos saja yuk,” ajak Hiro tenang.
Anjani mendengus pendek, “Rasanya tiap kali bersama Senpai aku selalu menjadi anak nakal. Aku juga heran, kenapa Senpai selalu menemukan jalan
tersembunyi di sekolah ini?”
Tawa Hiro pecah, “Wah, jadi kamu menuduh aku? Jahat sekali”.
Anjani hanya
mengangkat bahu.
“Aku sering mengobrol dengan Miss
Tifa. Dia yang bercerita tentang tempat ini dan itu. Aku penasaran dan
mencarinya. Menurutku, tidak ada salahnya karena memang kita Cuma sesaat.
Rasanya rugi kalau tidak sempat menjelajah di tempat yang baru dan melakukan
sesuatu yang baru”.
Anjani mengiyakan dalam hati. Barulah ia terpikir kenapa dulu ia juga
tidak melakukan hal yang demikian.
“Tidak terasa ya, tinggal Senin nanti. Rasanya aku masih ingin di sini
sampai lulus. Sedih sih, tapi kita semua harus tetap maju”.
“Banyak hal yang berubah sejak kita saling bertemu,” sahut Anjani seraya
menatap Hiro. “Terima kasih ya, Senpai.
Banyak sekali kontribusimu dalam perubahanku. Aku tidak akan bisa menjadi orang
sebaik ini kalau bukan karena bantuan Senpai.
Ah, Jiro-Senpai juga”.
Hiro balas tersenyum, “Apa rencanamu setelah ini?”
“Tentu saja melanjutkan karierku sebagai penyanyi. Aku akan ikut audisi
lagi dan kali ini aku pasti akan memenangkannya. Senpai sendiri?”
“Sama. Aku juga akan berlatih lebih keras lagi. Ambisiku adalah menjadi
seorang komposer dan membuat album yang banyak”.
“Hampir sama,” Anjani melayangkan kepalan tangannya. “So, see you on the top!”
Hiro membalas tinju gadis itu, “In
the rooftop?” ujarnya dengan nada jahil.
Keduanya tertawa.
“Aah, aku jadi ingin bernyanyi,” Anjani merenggangkan tangannya ke atas.
“Rasanya pengen lagi nyanyi sekuat kemarin. Sayang, di sini tidak ada
instrumen”.
“Sayangnya aku gak bisa beatbox,”
Hiro bangkit seraya menepuk-nepuk bagian belakang celananya. “Yuk, ke ruang
musik!”
Hiro langsung menarik Anjani sebelum gadis itu membuat keputusan.
Langkah cepat, mengendap-endap, dan diiringi tawa cekikikan. Begitu berhasil
masuk ke ruang musik, mereka bersumpah tak akan melupakan kejadian ini.
“Aku yakin kamu lebih suka pakai gitar,” Hiro lebih dulu menyambar
gitar. “Nah, sekarang aku ingin dengan suara hatimu”.
ooOoo
Riani mengutuki dirinya
yang lupa membawa kertas kosong. Padahal saat itu ia akan menyuruh siswa untuk
mengarang. Sayangnya, di kantor persediaan kertas sedang habis. Ia sendiri
sedang bingung untuk mencarinya dimana.
“Apa kami tidak bisa pakai sobekan dari buku saja, Bu?” usul Ben.
“Sebenarnya Ibu berniat hasil tugas kalian dibuat kliping. Kalau pakai
kertas buku akan terlihat kurang bagus”.
Ririn tiba-tiba menunjuk tangan, “Kalau hanya kertas folio atau kertas
tanpa garis, di klub Koran ada banyak, Bu. Kita pinjam dulu saja, nanti saya
yang bilang dengan ketuanya”.
Seperti ada kembang api yang meletus di dadanya Riani, “Ah, syukurlah. Oh
ya, apakah di sana juga ada speaker karena tugas mengarang kalian berdasarkan
video. Ya ampun, Ibu benar-benar kelupaan hari ini”.
“Iya, ada.”
“Tolong kamu ambilkan ya, Rin. Ah, kamu perginya sama satu orang lagi.
Laki-laki saja. Siapa ya? Ah, kamu saja, Alexi”.
Ririn sebenarnya lebih suka kalau Kemal saja sekalian. Dari semua anak
lelaki kenapa harus dia yang disebut. Alexi sudah berdiri di ambang pintu. Ia
pun harus menyeret langkahnya untuk pergi bersama.
Ring, ring it's you again heart pops
I loved to hear you
It's been all day I've been waiting for
you
Kebisuan mereka
menguap tatkala mendengar suara indah dari ruang musik. Mereka memilih untuk
menyaksikan pertunjukkan gratis itu.
Hello,
you call my name
So
much stories you shared with me
You
said a lot to me about girls
Oh,
it's so nice
“Anjani dan Hiro-Senpai?” gumam Ririn.
“Lho, mereka juga
pacaran? Kukira Cuma kembaran mereka aja,” sahut Alexi.
“Rasanya nggak deh,”
Ririn mengangkat bahu. Suara Anjani seperti menghipnotisnya supaya tetap
mematung di sana hingga lagu usai. Untung Ririn masih teringat kalau ia punya
tugas lain.
“Kayaknya kita harus
menyelesaikan tugas kita,” ujar Alexi yang seolah bisa membaca pikiran Ririn.
Ririn mengangguk.
Keduanya lalu menuju ruang klub Koran. Meski sudah cukup lama di sekolah ini,
tapi ini pertama kalinya ia masuk ruangan klub lain. Tempat yang sangat nyaman
membuatnya mengerti kenapa Ririn betah sekali berada di sini.
“Bisa pegang ini?”
ujar Ririn sambil menyerahkan sepasang speaker
kecil.
Alexi menerima kotak
kecil itu. Tak hanya speaker-nya,
tapi Alexi juga sengaja menahan tangan Ririn agar tak langsung pergi. Gadis itu
tersentak. Meski tidak sampai mencengkram, tapi ia tahu kalau genggaman pemuda
ini tak akan mudah dilepas.
And
every beauty thing they did to you
Don't
stop and tell me more'
Loving
you it hurt sometimes
I'm
standing here you just don't buy
I'm
always there you just don't feel
Or
you just don't wanna feel
Don't
wanna be hurt that way
It
doesn't mean I'm givin' up
I
wanna give you more
And
more and more
“Kenapa
kamu terus menghindariku?”
Ririn
menggigit bibir bawahanya hingga kemeraha seraya mengalihkan pandangannya. Ia
tak bisa menatap Alexi secara langsung.
“A—aku…
entahlah. Terlalu banyak rahasia yang kamu simpan dan aku lupakan. Aku tidak
yakin apakah aku benar-benar mengenalmu”.
Genggaman
Alexi sedikit mengendur, “Aku yakin kamu sudah dengar ceritanya, tapi apa pun
itu kedatanganku ke sini hanyalah untuk mengucapkan terima kasih dan… maaf”.
“Kalau
memang seperti itu, kenapa kamu muncul sekarang?”
“Sewaktu
pementasan kemarin, aku bertemu dengan ayahmu. Dia sedikit mengendurkan
perjanjian setelah melihat penampilanku, tapi sebenarnya ayahmu tidak mengikat
janji itu dengan serius. Memang aku sendiri yang memaksa. Makanya selama ini
aku agak takut bertemu dengan ayahmu”.
“Bukan,
bukan itu,” Ririn mendesah berat. “Dengar, apapun yang terjadi waktu itu, aku
sama sekali tak ada dendam apa pun. Aku juga tidak memusingkan dengan ucapan
terima kasih atau balas budi.”
“Dan
membiarkanku hidup dalam rasa penyesalan?”
“Kalau
begitu kenapa tidak dari awal kamu bilang?”
“Sudah
kubilang aku terikat janji pada ayahmu, tapi… tapi aku tidak bisa menunggu
lebih lama lagi. Aku….”
Ririn
masih menunggu kelanjutan kata-kata Alexi. Namun, pemuda itu sepertinya telah
kehabisan semua yang ingin ia katakan. Genggaman Alexi semakin mengendur dan ia
mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.
“Sudahlah,
kamu sudah mengatakan apa yang ingin kamu katakan. Aku katakan terima kasih
kembali dan aku benar-benar tidak marah atas kejadian itu. Terima kasih juga
atas bantuanmu selama ini. Semoga perjalananmu menyenangkan”.
“Apa
itu artinya pertemuan kita berakhir di sini?”
Ririn
menarik napas panjang, “Ya.”
Alexi
masih terpaku saat Ririn mendahuluinya. Ia berbalik dan berharap gadis itu juga
menoleh ke belakang. Tidak. Dengan langkah cepatnya, gadis itu tanpa ragu
meninggalkannya.
‘Kalau memang seperti itu,
berarti kita tidak akan bertemu lagi, Rin….’
ooOoo
Hari yang suntuk.
Ingin rasanya Ririn cepat-cepat pulang. Berdiam diri di kamar yang dingin,
ditemani sebuah novel yang menarik dan segelas cokelat hangat. Hmm, atau es
krim? Terserah, batin Ririn. Ia hanya ingin melepaskan penatnya saja.
Sejak
peristiwa di ruag klub tadi, ia dan Alexi benar-benar tak saling lirik. Mereka
berdua bahkan tak ikut ajakan perpisahan duo Hasegawa dan anak-anak SMA Panji
Semirang. Alexi beralasan sibuk packing,
sementara Ririn mengaku kepalanya pusing. Padahal keduanya hanya mencari cara
agar mengurangi intensitas bertemu.
Mentari
bersinar cukup terik. Cahayanya sangat silau ketika Ririn melintasi pelataran
parkir. Ubun-ubunya terasa terbakar.
“Hei,
kamu yang cantik!”
Ririn
menoleh malas. Seorang lelaki tinggi berambut pirang menurunkan kacamata
hitamnya. Ia tersenyum seraya mendekati Ririn.
“Oh,
hai, Adrian,” sapa Ririn malas.
“Waah,
lesu sekali,” Adrian menggantungkan kacamatanya pada kerah kaus. “Mungkin karena
panas”.
“Ya,
mungkin juga. Tumben kamu ke sini?”
“Ada
beberapa barang tanteku yang ketinggalan dan aku disuruh mengambilnya,” sahut
Adrian. “Makan es krim, yuk.”
“Ah,
aku—”.
“Gak
terima penolakan!”
Sebelum
beradu argumen, Adrian lebih dulu menarik Ririn agar masuk ke mobilnya. Misi
penculikan berhasil. Sayang, ada saksi mata yang melihat kejadian itu. Dia
tidak akan melaporkan pada polisi. Hanya saja tatapannya terlihat membara penuh
api cemburu. Adrian sempat beradu tatapan dengannya selama beberapa detik. Tak
ada yang bisa dilakukan karena saat ini posisinya tak akan bisa menghalangi.
Sosok berwajah Korea itu hanya bisa melepaskan rasa cemburunya. Adrian di atas
awan. Ia tersenyum penuh kemenangan seraya mengenakan kembali kacamatanya.
ooOoo
“Aku dengar hari ini
anak-anak mengadakan pesta perpisahan. Tadinya aku mau ikut, tapi waktu
melihatmu mau pulang, aku jadi penasaran”.
Ririn
hanya mengaduk-aduk es krimnya tanpa sedikit pun mencicipinya. Ia tadi memang
berencana untuk makan es krim, tapi tidak dengan orang lain atau di sebuah
restoran. Apalagi dengan sosok pangeran pirang ini. Ia mendesah panjang seraya
menatap kosong ke luar jendela.
“Ada
masalah? Dengan si kaca—eh, udah gak pake kacamata lagi ya,” Adrian tertawa
garing. “Tapi bener kan dengan dia?”
“Gak
tahu, ah”.
Adrian
kembali tertawa, “Kamu tuh kentara banget kalau lagi ada masalah dengan dia. Apa-apa
jadi gak mood. Apa dia sespesial
itu?”
Ririn
melirik Adrian lalu kembali menatap jendela, “Rumit. Aku dan dia ternyata sudah
punya cerita di masa lalu dan aku sama sekali gak ingat”.
“Wah,
memangnya kamu amnesia?” Adrian bermaksud bercanda, tapi saat Ririn mengangguk
dengan wajah serius, ia ikut terkejut. “Se—serius?”
Ririn
yang sedari tadi mengunci mulutnya akhirnya bercerita panjang lebar. Ia bahkan
tak sadar kalau es krimnya hampir tandas. Adrian sendiri tak menyangka Ririn
punya masa lalu yang rumit.
“Terus
kenapa kamu jadi gak mau ketemu dia lagi?”
“Sudah
aku bilang rumit, Adrian. Rasanya jadi berbeda saat aku punya masa lalu, tapi
aku gak ingat. Tiba-tiba aja dia berubah jadi sosok yang berbeda dan aku benci
itu”.
Keduanya
sama-sama menarik napas panjang. Ririn menangkup kedua telapak tangan dan
menyadarkan wajahnya di sana. Sementara Adrian melipat keduanya tangannya di
depan dada sambil bersandar. Pikiran mereka mengisi keheningan.
“Aku
naïf, ya?” gumam Ririn.
“Bukan
begitu. Kamu itu suka dia dan itulah masalahnya. Tiba-tiba dia ternyata adalah
orang lain padahal kamu suka dia yang biasa saja. Kamu pesimis dengan dia yang
ternyata seorang superstar”.
“Hampir
benar sih, tapi masih ada yang kurang”.
“Oke,
aku ubah premisku. Berarti kamu suka dia, tapi ternyata kamu kecewa ternyata
selama ini dia mendekati kamu hanya untuk balas budi bukan karena dia naksir
kamu, benar kan?”
‘Tepat sekali!’ Rasanya Ririn ingin memberikan 10
juta untuk jawaban tepat Adrian. Sayangnya, kenyataan yang harus ia terima
begitu pahit. Ririn hanya bisa menelungkupkan wajahnya di meja. Adrian tertawa
geli seraya menepuk pelan pucuk kepala gadis itu.
“Oh,
ayolah. Jangan bersedih seperti itu. Aku jadi merasa berdosa telah membaca isi
hatimu”.
“Sebel!”
Ririn menumpukan dagunya pada tumpukan tangan yang terkepal. “Kenapa cintaku
selalu bertepuk sebelah tangan?”
“Ah,
masih muda. Wajar saja sering patah hati. Setidaknya kamu gak pernah memiliki”.
Ririn
melirik Adrian, “Kok kamu yang jadi curhat? Aku kira kamu udah move on”.
“Mana
bisa secepat itu. Hancurnya hati seorang pria itu seperti kanker. Perlahan
menggerogoti dan di akhir kamilah yang tumbang. Apalagi kami masih sering bertemu”.
“Huh,
cinta itu pelik. Tahu begitu aku tidak akan pernah memulai”.
“Kita
ini serupa tapi tak sama. Di satu sisi kehilangan ingatan, yang lainnya malah
ingin melupakan”.
Mata
mereka saling bertemu lalu keduanya sama-sama tertawa sarkastis.
“Kita
memang seharusnya jadi kakak adik saja,” ujar Ririn.
“Yap,
benar,” Adrian merentangkan tangannya ke atas. “Ahh, aku senang kalau kita dari
awal tak pernah lebih dari ini. Aku juga tak mau kehilanganmu”.
Kali
ini Ririn hanya balas tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar