Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 207)




Musikal 207

Padahal ini sudah hari Sabtu dan tinggal dua hari lagi sebelum Alexi pergi. Semakin mendekati hari kepergiannya, Ririn justru semakin menjauhinya. Bicara hanya seperlunya dan jika ada waktu senggang, Ririn memilih untuk mendekam di ruang klub Koran. Andani sempat bertanya, tapi gadis itu juga menghindar.
Lain halnya dengan pasangan yang lain. Walau sedikit sibuk dengan urusan Ririn, tapi Andani selalu mempunyai waktu untuk pacarnya, Jiro. Beruntungnya saat ini sahabatnya itu sedang sibuk dengan klub lamanya, sehingga waktu istirahat bisa ia gunakan untuk berduaan. Tiap pulang sekolah mereka juga selalu berkencan. Sepertinya hari-hari akhir ini dinikmati dengan sangat baik.
Begitu pula dengan Kemal. Entah sejak kapan ia mulai dekat dengan Priyanka. Padahal di awal jelas sekali ia tertarik dengan si ikal pemeran Anna Croux. Sebelumnya juga Priyanka sudah punya pacar. Mungkin karena insiden perkelahian itu, keduanya menjadi dekat. Namun, apa yang membuat Kemal bermanuver pada gadis itu juga masih misteri.  Yang jelas kentara sekali kalau saat ini ia sedang gencar-gencarnya untuk mendapatkan gadis itu.
Inilah yang membuat Anjani sedikit kesepian. Padahal ia juga mau menghabiskan hari-hari terakhir bersama teman-temannya sebelum ia pindah ke sekolah lamanya. Ben dan Wenda tak usah diharapkan karena mereka berdua juga sedang sibuk memadu kasih. Tersisa hanya Fi. Meski tidak pernah ada konflik sebelumnya, tapi Anjani juga hampir tidak pernah berbicara dengan gadis itu. Pasti akan terasa canggung sekali bila tiba-tiba ia mengajak ngobrol.
Mungkin ada baiknya ia berjalan-jalan keliling sekolah. Waktu istirahat digunakannya untuk mengenang setiap detail penting sejak kehadirannya di sini. Waktu terasa singkat setelah pementasan berakhir. Ia tak menyangka kalau akan merindukan saat-saat mereka bertengkar, menangis, dan tertawa. Ia juga rindu dengan rasa lelah dan bosan ketika berlatih. Andai sensasi itu dapat diulang, pasti Anjani akan menekan tombolnya.
“Kesasar, Ojou-chan?”
Anjani tak sadar kalau ia sedang di lantai dua. Lantai dua adalah kawasan anak kelas tiga. Jarang sekali ada siswa kelas satu berkeliaran di sana, kecuali anggota klub karena ruangan klub ada di lantai dua. Sebenarnya ia juga merasa aneh karena bisa berpapasan dengan Hiro di sana.
“Apa sedang jalan-jalan untuk mengenang sebelum berpisah?”
Hiro sepertinya bisa membaca pikiran. Pipi Anjani bersemu merah saat membenarkan kata-katanya.
“Gak usah malu, aku juga sama,” Hiro tersenyum. “Mau bareng? Lebih baik berdua daripada terlihat seperti orang bodoh”.
Anjani membalasnya dengan senyum. Sekali lagi Hiro menemukan jalan rahasia menuju rooftop yang mungkin siswa SMA Chandara Kirana juga tak tahu. Menikmati panas kota Palembang yang semakin menyengat di atap. Berdua saja. Tanpa kata. Hanya kenangan yang saling bicara.
Bel masuk berbunyi. Keduanya tersentak.
“Kita bolos saja yuk,” ajak Hiro tenang.
Anjani mendengus pendek, “Rasanya tiap kali bersama Senpai aku selalu menjadi anak nakal. Aku juga heran, kenapa Senpai selalu menemukan jalan tersembunyi di sekolah ini?”
Tawa Hiro pecah, “Wah, jadi kamu menuduh aku? Jahat sekali”.
  Anjani hanya mengangkat bahu.
“Aku sering mengobrol dengan Miss Tifa. Dia yang bercerita tentang tempat ini dan itu. Aku penasaran dan mencarinya. Menurutku, tidak ada salahnya karena memang kita Cuma sesaat. Rasanya rugi kalau tidak sempat menjelajah di tempat yang baru dan melakukan sesuatu yang baru”.
Anjani mengiyakan dalam hati. Barulah ia terpikir kenapa dulu ia juga tidak melakukan hal yang demikian.
“Tidak terasa ya, tinggal Senin nanti. Rasanya aku masih ingin di sini sampai lulus. Sedih sih, tapi kita semua harus tetap maju”.
“Banyak hal yang berubah sejak kita saling bertemu,” sahut Anjani seraya menatap Hiro. “Terima kasih ya, Senpai. Banyak sekali kontribusimu dalam perubahanku. Aku tidak akan bisa menjadi orang sebaik ini kalau bukan karena bantuan Senpai. Ah, Jiro-Senpai juga”.
Hiro balas tersenyum, “Apa rencanamu setelah ini?”
“Tentu saja melanjutkan karierku sebagai penyanyi. Aku akan ikut audisi lagi dan kali ini aku pasti akan memenangkannya. Senpai sendiri?”
“Sama. Aku juga akan berlatih lebih keras lagi. Ambisiku adalah menjadi seorang komposer dan membuat album yang banyak”.
“Hampir sama,” Anjani melayangkan kepalan tangannya. “So, see you on the top!”
Hiro membalas tinju gadis itu, “In the rooftop?” ujarnya dengan nada jahil.
Keduanya tertawa.
“Aah, aku jadi ingin bernyanyi,” Anjani merenggangkan tangannya ke atas. “Rasanya pengen lagi nyanyi sekuat kemarin. Sayang, di sini tidak ada instrumen”.
“Sayangnya aku gak bisa beatbox,” Hiro bangkit seraya menepuk-nepuk bagian belakang celananya. “Yuk, ke ruang musik!”
Hiro langsung menarik Anjani sebelum gadis itu membuat keputusan. Langkah cepat, mengendap-endap, dan diiringi tawa cekikikan. Begitu berhasil masuk ke ruang musik, mereka bersumpah tak akan melupakan kejadian ini.
“Aku yakin kamu lebih suka pakai gitar,” Hiro lebih dulu menyambar gitar. “Nah, sekarang aku ingin dengan suara hatimu”.
ooOoo
Riani mengutuki dirinya yang lupa membawa kertas kosong. Padahal saat itu ia akan menyuruh siswa untuk mengarang. Sayangnya, di kantor persediaan kertas sedang habis. Ia sendiri sedang bingung untuk mencarinya dimana.
“Apa kami tidak bisa pakai sobekan dari buku saja, Bu?” usul Ben.
“Sebenarnya Ibu berniat hasil tugas kalian dibuat kliping. Kalau pakai kertas buku akan terlihat kurang bagus”.
Ririn tiba-tiba menunjuk tangan, “Kalau hanya kertas folio atau kertas tanpa garis, di klub Koran ada banyak, Bu. Kita pinjam dulu saja, nanti saya yang bilang dengan ketuanya”.
Seperti ada kembang api yang meletus di dadanya Riani, “Ah, syukurlah. Oh ya, apakah di sana juga ada speaker karena tugas mengarang kalian berdasarkan video. Ya ampun, Ibu benar-benar kelupaan hari ini”.
“Iya, ada.”
“Tolong kamu ambilkan ya, Rin. Ah, kamu perginya sama satu orang lagi. Laki-laki saja. Siapa ya? Ah, kamu saja, Alexi”.
Ririn sebenarnya lebih suka kalau Kemal saja sekalian. Dari semua anak lelaki kenapa harus dia yang disebut. Alexi sudah berdiri di ambang pintu. Ia pun harus menyeret langkahnya untuk pergi bersama.
Ring, ring it's you again heart pops
I loved to hear you
It's been all day I've been waiting for you
Kebisuan mereka menguap tatkala mendengar suara indah dari ruang musik. Mereka memilih untuk menyaksikan pertunjukkan gratis itu.
Hello, you call my name
So much stories you shared with me
You said a lot to me about girls
Oh, it's so nice
“Anjani dan Hiro-Senpai?” gumam Ririn.
“Lho, mereka juga pacaran? Kukira Cuma kembaran mereka aja,” sahut Alexi.
“Rasanya nggak deh,” Ririn mengangkat bahu. Suara Anjani seperti menghipnotisnya supaya tetap mematung di sana hingga lagu usai. Untung Ririn masih teringat kalau ia punya tugas lain.
“Kayaknya kita harus menyelesaikan tugas kita,” ujar Alexi yang seolah bisa membaca pikiran Ririn.
Ririn mengangguk. Keduanya lalu menuju ruang klub Koran. Meski sudah cukup lama di sekolah ini, tapi ini pertama kalinya ia masuk ruangan klub lain. Tempat yang sangat nyaman membuatnya mengerti kenapa Ririn betah sekali berada di sini.
“Bisa pegang ini?” ujar Ririn sambil menyerahkan sepasang speaker kecil.
Alexi menerima kotak kecil itu. Tak hanya speaker-nya, tapi Alexi juga sengaja menahan tangan Ririn agar tak langsung pergi. Gadis itu tersentak. Meski tidak sampai mencengkram, tapi ia tahu kalau genggaman pemuda ini tak akan mudah dilepas.
And every beauty thing they did to you
Don't stop and tell me more'
Loving you it hurt sometimes
I'm standing here you just don't buy
I'm always there you just don't feel
Or you just don't wanna feel
Don't wanna be hurt that way
It doesn't mean I'm givin' up
I wanna give you more
And more and more
“Kenapa kamu terus menghindariku?”
Ririn menggigit bibir bawahanya hingga kemeraha seraya mengalihkan pandangannya. Ia tak bisa menatap Alexi secara langsung.
“A—aku… entahlah. Terlalu banyak rahasia yang kamu simpan dan aku lupakan. Aku tidak yakin apakah aku benar-benar mengenalmu”.
Genggaman Alexi sedikit mengendur, “Aku yakin kamu sudah dengar ceritanya, tapi apa pun itu kedatanganku ke sini hanyalah untuk mengucapkan terima kasih dan… maaf”.
“Kalau memang seperti itu, kenapa kamu muncul sekarang?”
“Sewaktu pementasan kemarin, aku bertemu dengan ayahmu. Dia sedikit mengendurkan perjanjian setelah melihat penampilanku, tapi sebenarnya ayahmu tidak mengikat janji itu dengan serius. Memang aku sendiri yang memaksa. Makanya selama ini aku agak takut bertemu dengan ayahmu”.
“Bukan, bukan itu,” Ririn mendesah berat. “Dengar, apapun yang terjadi waktu itu, aku sama sekali tak ada dendam apa pun. Aku juga tidak memusingkan dengan ucapan terima kasih atau balas budi.”
“Dan membiarkanku hidup dalam rasa penyesalan?”
“Kalau begitu kenapa tidak dari awal kamu bilang?”
“Sudah kubilang aku terikat janji pada ayahmu, tapi… tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku….”
Ririn masih menunggu kelanjutan kata-kata Alexi. Namun, pemuda itu sepertinya telah kehabisan semua yang ingin ia katakan. Genggaman Alexi semakin mengendur dan ia mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.
“Sudahlah, kamu sudah mengatakan apa yang ingin kamu katakan. Aku katakan terima kasih kembali dan aku benar-benar tidak marah atas kejadian itu. Terima kasih juga atas bantuanmu selama ini. Semoga perjalananmu menyenangkan”.
“Apa itu artinya pertemuan kita berakhir di sini?”
Ririn menarik napas panjang, “Ya.”
Alexi masih terpaku saat Ririn mendahuluinya. Ia berbalik dan berharap gadis itu juga menoleh ke belakang. Tidak. Dengan langkah cepatnya, gadis itu tanpa ragu meninggalkannya.
‘Kalau memang seperti itu, berarti kita tidak akan bertemu lagi, Rin….’
ooOoo
Hari yang suntuk. Ingin rasanya Ririn cepat-cepat pulang. Berdiam diri di kamar yang dingin, ditemani sebuah novel yang menarik dan segelas cokelat hangat. Hmm, atau es krim? Terserah, batin Ririn. Ia hanya ingin melepaskan penatnya saja.
Sejak peristiwa di ruag klub tadi, ia dan Alexi benar-benar tak saling lirik. Mereka berdua bahkan tak ikut ajakan perpisahan duo Hasegawa dan anak-anak SMA Panji Semirang. Alexi beralasan sibuk packing, sementara Ririn mengaku kepalanya pusing. Padahal keduanya hanya mencari cara agar mengurangi intensitas bertemu.
Mentari bersinar cukup terik. Cahayanya sangat silau ketika Ririn melintasi pelataran parkir. Ubun-ubunya terasa terbakar.
“Hei, kamu yang cantik!”
Ririn menoleh malas. Seorang lelaki tinggi berambut pirang menurunkan kacamata hitamnya. Ia tersenyum seraya mendekati Ririn.
“Oh, hai, Adrian,” sapa Ririn malas.
“Waah, lesu sekali,” Adrian menggantungkan kacamatanya pada kerah kaus. “Mungkin karena panas”.
“Ya, mungkin juga. Tumben kamu ke sini?”
“Ada beberapa barang tanteku yang ketinggalan dan aku disuruh mengambilnya,” sahut Adrian. “Makan es krim, yuk.”
“Ah, aku—”.
“Gak terima penolakan!”
Sebelum beradu argumen, Adrian lebih dulu menarik Ririn agar masuk ke mobilnya. Misi penculikan berhasil. Sayang, ada saksi mata yang melihat kejadian itu. Dia tidak akan melaporkan pada polisi. Hanya saja tatapannya terlihat membara penuh api cemburu. Adrian sempat beradu tatapan dengannya selama beberapa detik. Tak ada yang bisa dilakukan karena saat ini posisinya tak akan bisa menghalangi. Sosok berwajah Korea itu hanya bisa melepaskan rasa cemburunya. Adrian di atas awan. Ia tersenyum penuh kemenangan seraya mengenakan kembali kacamatanya.
ooOoo
“Aku dengar hari ini anak-anak mengadakan pesta perpisahan. Tadinya aku mau ikut, tapi waktu melihatmu mau pulang, aku jadi penasaran”.
Ririn hanya mengaduk-aduk es krimnya tanpa sedikit pun mencicipinya. Ia tadi memang berencana untuk makan es krim, tapi tidak dengan orang lain atau di sebuah restoran. Apalagi dengan sosok pangeran pirang ini. Ia mendesah panjang seraya menatap kosong ke luar jendela.
“Ada masalah? Dengan si kaca—eh, udah gak pake kacamata lagi ya,” Adrian tertawa garing. “Tapi bener kan dengan dia?”
“Gak tahu, ah”.
Adrian kembali tertawa, “Kamu tuh kentara banget kalau lagi ada masalah dengan dia. Apa-apa jadi gak mood. Apa dia sespesial itu?”
Ririn melirik Adrian lalu kembali menatap jendela, “Rumit. Aku dan dia ternyata sudah punya cerita di masa lalu dan aku sama sekali gak ingat”.
“Wah, memangnya kamu amnesia?” Adrian bermaksud bercanda, tapi saat Ririn mengangguk dengan wajah serius, ia ikut terkejut. “Se—serius?”
Ririn yang sedari tadi mengunci mulutnya akhirnya bercerita panjang lebar. Ia bahkan tak sadar kalau es krimnya hampir tandas. Adrian sendiri tak menyangka Ririn punya masa lalu yang rumit.
“Terus kenapa kamu jadi gak mau ketemu dia lagi?”
“Sudah aku bilang rumit, Adrian. Rasanya jadi berbeda saat aku punya masa lalu, tapi aku gak ingat. Tiba-tiba aja dia berubah jadi sosok yang berbeda dan aku benci itu”.
Keduanya sama-sama menarik napas panjang. Ririn menangkup kedua telapak tangan dan menyadarkan wajahnya di sana. Sementara Adrian melipat keduanya tangannya di depan dada sambil bersandar. Pikiran mereka mengisi keheningan.
“Aku naïf, ya?” gumam Ririn.
“Bukan begitu. Kamu itu suka dia dan itulah masalahnya. Tiba-tiba dia ternyata adalah orang lain padahal kamu suka dia yang biasa saja. Kamu pesimis dengan dia yang ternyata seorang superstar”.
“Hampir benar sih, tapi masih ada yang kurang”.
“Oke, aku ubah premisku. Berarti kamu suka dia, tapi ternyata kamu kecewa ternyata selama ini dia mendekati kamu hanya untuk balas budi bukan karena dia naksir kamu, benar kan?”
‘Tepat sekali!’ Rasanya Ririn ingin memberikan 10 juta untuk jawaban tepat Adrian. Sayangnya, kenyataan yang harus ia terima begitu pahit. Ririn hanya bisa menelungkupkan wajahnya di meja. Adrian tertawa geli seraya menepuk pelan pucuk kepala gadis itu.
“Oh, ayolah. Jangan bersedih seperti itu. Aku jadi merasa berdosa telah membaca isi hatimu”.
“Sebel!” Ririn menumpukan dagunya pada tumpukan tangan yang terkepal. “Kenapa cintaku selalu bertepuk sebelah tangan?”
“Ah, masih muda. Wajar saja sering patah hati. Setidaknya kamu gak pernah memiliki”.
Ririn melirik Adrian, “Kok kamu yang jadi curhat? Aku kira kamu udah move on”.
“Mana bisa secepat itu. Hancurnya hati seorang pria itu seperti kanker. Perlahan menggerogoti dan di akhir kamilah yang tumbang. Apalagi kami masih sering bertemu”.
“Huh, cinta itu pelik. Tahu begitu aku tidak akan pernah memulai”.
“Kita ini serupa tapi tak sama. Di satu sisi kehilangan ingatan, yang lainnya malah ingin melupakan”.
Mata mereka saling bertemu lalu keduanya sama-sama tertawa sarkastis.
“Kita memang seharusnya jadi kakak adik saja,” ujar Ririn.
“Yap, benar,” Adrian merentangkan tangannya ke atas. “Ahh, aku senang kalau kita dari awal tak pernah lebih dari ini. Aku juga tak mau kehilanganmu”.
Kali ini Ririn hanya balas tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar