Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 199)




Musikal 199

Hari yang dinanti pun tiba. Sejak pagi gedung teater itu sudah sibuk. Panggung sudah dicek ulang, begitu pula dengan sound system. Di sisi lain para pemain sibuk dengan kostum dan make up masing-masing. Ada pula yang masih berkutat pada naskah. Ada pula yang sibuk pada bagian loket tiket pada persiapan di depan. Persiapan yang sudah dilakukan berbulan-bulan lalu akan dilaksanakan hari ini. Semua konsekuensi tergantung pada dua jam ke depan.
“Astaga, semua orang sedang sibuk kayak gini, si Tifa ngapain coba?”
Wajar saja Gloria mengomel sebab Tifa sedang duduk diam tanpa merespon apa pun yang ada. Dia sudah dalam posisi seperti itu lebih kurang satu jam.
“Lagi meditasi,” sahut Dave yang muncul dari belakang Gloria. “Terapi kesehatan. Sebentar lagi dia juga selesai”.
Benar saja, begitu Tifa selesai melakukan terapinya ia langsung memerintahkan semua anggota untuk berkumpul. Membentuk lingkaran dan tampaknya ia akan memberikan wejangan terakhir sebelum pentas.
“Saya tidak akan memberikan perintah apa pun lagi. Lakukan sesuai dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Sukses atau tidak itu tergantung bagaimana nanti, tugas saya dan seluruh guru di sini sudah selesai. Waktunya kalian yang mengeksekusi”.
Tabuhan genderang perang semakin terasa ketika Tifa mengatakan pesan terakhirnya. Irama jantung mulai tak menentu. Semakin cepat seiring dengan detik yang berlalu. Keringat dingin mulai mengepul di balik riasan dan kostum. Ruangan pun terasa lebih dingin daripada sebelumnya.
“Tapi saya percaya pada kalian semua. Selamat berjuang!”
Mereka saling menyatukan tangan, meneriakkan nama Love Musical keras-keras, dan memberikan semangat satu sama lain. Setelah itu panggung distrerilkan. Semua mulai bersiap menuju detik-detik pementasan. Waktunya eksekusi dimulai.
ooOoo
Tamu-tamu mulai berdatangan. Sebagian besar diisi oleh para siswa dan guru dari kedua sekolah tersebut, kemudian para orang tua, dan sisanya adalah penonton yang sudah tak sabar ingin menonton pertunjukkan mereka.
“Astagaaa, kenapa yang datang banyak sekali,” ujar Wenda dari balik tirai hitam. “Miss Tifa menjual tiket berapa banyak sih?”
“Setahuku gedung ini memuat 300 orang tamu, tapi sepertinya yang datang lebih dari itu,” sahut Priyanka. “Gawat, padahal aku biasa tampil, tapi kali ini aku lebih gugup daripada biasanya”.
“Kita bukan orang-orang yang pertama kali pentas di hadapan banyak orang,” sahut Alexi. “Anggap saja kita sedang melakukan hal yang sering kita lakukan. Seperti resital atau pertandingan”.
‘Huh, ya. Kecuali aku,’ gerutu Ririn dalam hati. Ia mengumpat perkataan Alexi barusan. Ia adalah satu-satunya orang yang merasakan pertama kalinya tampil di hadapan banyak orang. Ririn yang dulu adalah sosok di balik layar. Paling hebat ia tampil untuk presentasi kelas, sisanya ia lebih suka berbicara lewat tulisan.
“Pacarmu itu lupa kalau masih ada orang yang belum berpengalaman di sini,” ujar Adrian. Saat Ririn menoleh, lelaki itu tampak mengedipkan mata untuknya. “Tapi tenang saja, kamu pasti bisa mengatasinya”.
Ririn mendesah panjang, “Ya, aku harus. Aku ingin makan es krim dengan bangga setelah ini”.
Adrian terkekeh, “Akan kubelikan es krim matcha kalau kamu berhasil memukau para penonton nanti”.
“Kupegang janjimu, ya. Nanti aku kasih kejutan dan kamulah orang pertama yang terpukau”.
Adrian menatap Ririn. Gadis itu sedang tersenyum sinis padanya. Keduanya lalu tertawa. Namun, tawa mereka mereda kala sang MC sudah menyapa para tamu. Acara dimulai dengan tarian Gending Sriwijaya yang dipimpin oleh Wenda setelah itu kata sambutan oleh Hana, selaku kepala sekolah. Sesudah Hana menyampaikan pidatonya, sang MC menyebutkan aturan-aturan yang harus ditaati ketika pertunjukkan berlangsung. Seperti tidak boleh berisik, tidak bermain ponsel dan mematikan nada dering, dan juga tidak boleh menggunakan blitz jika ingin mengambil gambar.
Sang MC turun dari panggung. Lampu dipadamkan. Eksekusi pun dimulai.
“Inilah saatnya. Kamu siap, Rin?” bisik Fi.
Ririn mendesah mantap, “Tak pernah sesiap ini”.
Tirai terangkat. Adegan pertama dibuka lalu lalang orang di atas panggung. Menggambarkan suasana di pelabuhan. Adrian, Ririn, Kemal, dan Ben muncul pertama dengan peran masing-masing. Mereka sudah dihias layaknya bangsa Belanda zaman dulu. Mereka berbincang seolah-olah baru saja tiba dari Netherland ke Hindia. Diceritakan pula bahwa tokoh Antony dan Anna akan menikah di tanah Hindia.
Tirai kembali ditutup. Pertanda pergantian adegan. Begitu tirai dibuka kembali muncul Fi, Priyanka, dan beberapa orang penari lain. Mereka menari untuk menyambut para kompeni. Di adegan itu Ririn tidak muncul dan saat itu juga, Antony dan Nayu berkenalan. Nayu pun jatuh cinta pada Antony di pandangan pertamanya.
Adegan selanjutnya adalah persiapan pesta topeng. Pada adegan itu diperlihatkan Nayu yang semakin intes mendekati Antony. Namun, Antony masih setia pada tunangannya. Selain itu, Nayu juga masih takut-takut mendekati sang pujaan hati karena Anna adalah tokoh antagonis yang tak segan-segan mencela Nayu tatkala gadis itu berusaha mendekati tunangannya.
Hingga tibalah adegan klimaks dari pementasan ini. Dekorasi panggun pun berubah meriah. Semua orang menutupi wajahnya dengan beragam topeng. Musik dansa mengalun ke seluruh penjuru ruangang. Mereka saling berbicara manja dan menggoda satu sama lain.
Dari kursi penonton, Tifa ikut merasakan ketegangan. Adegan klimaks ini jika gagal maka akan berpengaruh sampai ending. Ia tahu bahwa sampai gladi resik pun, chemistry antara Adrian dan Fi tidak seperti dulu lagi. Masalah memang sudah selesai, tapi efeknya masih berpengaruh sampai sekarang. Perut Tifa mendadak mulas saat menanti adegan itu berlangsung.
‘Kumohon, semoga ada keajaiban,’ batin Tifa.
Tiba-tiba lampu kembali padam. Suasana mendadak heboh sejenak. Bukan dari penonton, tapi dari orang-orang yang terlibat langsung pada pementasan ini. Tifa memutar kepalanya ke kanan dan kiri. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Suasana tegang juga terjadi di atas panggung. Para pemain terlihat bingung dalam kegelapan. Hingga mereka semua mendengar alunan lagu. Semua orang terkejut. Lagu yang dimainkan bukanlah lagu yang harusnya menjadi inti dari adegan ini. Meski begitu, sebagian besar dari mereka sudah tak asing dengan instrument bernada melayu tersebut.
Fatwa Pujangga….
Lampu kembali menyala. Muncullah sosok berkostum dengan nuansa kupu-kupu. Penuh warna dan tak lupa sayap sebagai identitas kupu-kupunya. Wajahnya ditutupi topeng sama seperti yang lain. Wanita itu maju dengan langkah ringannya. Alih-alih mengajak Antony berdansa, ia justru memukau semua orang dengan tariannnya.
“Si—siapa itu?” tanya Riani gelagapan.
Tinggi badan yang hampir sama, hanya saja si penari ini sedikit lebih berisi. Namun, tariannya yang gemulai membuat semua orang bertanya-tanya siapa di balik topeng itu. Mata Tifa terus mengawasi si pendatang baru ini. Napasnya tertahan saat ia menyadari tokoh tersebut.
“Ririn…”
Sontak semua orang menoleh pada Tifa.
“Kamu yakin itu keponakanku?” ujar Dave.
“Tidak salah lagi. Aku tahu siapa yang bisa melakukan tarian seperti itu,” desis Tifa, “sejak audisi aku tidak pernah lupa”.
“Ya, kupikir juga begitu,” sahut Gloria. “Tapi untuk apa dia di sana?”
Tri satu-satunya orang yang tidak panik ketika adegan itu berlangsung. Itu karena dia juga menjadi dalang adegan tersebut. Ia ingat ketiga gadis-gadis itu meneleponnya di sore hari. Mereka memohon agar dipinjami kostum yang Ririn pernah gunakan tempo hari. Mereka juga bertanya apakah ada kostum yang sama dengan yang Ririn gunakan. Ketika ditanya, mereka hanya menjawab ingin memberikan kejutan untuk pementasan.
“Apa ini akan membuat Tifa tegang?” tanyanya ketika ditelepon.
“Tentu saja. Miss Tifa selalu menuntut kesempurnaan saat tampil. Ia tidak mau rencananya dirusak oleh orang lain. Pasti dia akan memarahi kami habis-habisan”.
“Waah, berani sekali kalian,” Tri tertawa sinis. “Tapi yah, aku juga ingin melihat wajah Tifa kalang kabut. Baiklah, aku akan mendukung kalian, tapi bukan berarti aku ikut bertanggung jawab jika ini gagal”.
“Tidak masalah, kami sudah tahu risikonya”.
Tri tersenyum puas. Keinginannya untuk balas dendam tercapai sudah. Tifa terlihat sangat panik. Ia tinggal duduk manis menikmati pertunjukkan di atas panggung dan kepanikan Tifa.
ooOoo
“Al, apa-apaan kamu?”
Alexi pura-pura tak mendengar omelan Anjani. Ia sedang sibuk memainkan orgen dengan irama melayu tersebut. Pantas saja ia juga minta dibawakan orgen tersebut, padahal ia sudah ada piano. Hiro dan Jiro juga merasa kaget dengan perubahan adegan yang tiba-tiba. Namun, mereka pandai membaca situasi. Bukannya ikut menegur Alexi, mereka justru mempelajari irama tersebut. Selanjutnya biola dan bass ikut mengiringi.
“Ya Tuhan, apa-apaan kalian?”
Alexi mengerling, senyuman jahil duo Hasegawa ini mengembang. Instrument melayu ini terasa bagai melodi kenakalan.
ooOoo
“Di—dia siapa?” gumam Kemal.
Ternyata Ben juga mempunyai pikiran yang sama. Keduanya saling bertukar pandang lalu menoleh pada Wenda yang menggamit lengan Kemal. Ketiganya tak ada yang mempunyai jawaban yang pasti. Hingga Priyanka, yang juga sedang menggamit lengan Kemal, memberik kode.
“Biarkan saja,” bisiknya pendek.
Ketiga orang ini hanya bisa membisu. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Di sisi lain, Adrian juga ikut terpana. Ia bergeming di tempat dengan mata yang tetap mengawasi kupu-kupu yang sedang menari. Tak hanya sekadar menari, tapi tarian kupu-kupu ini sengaja menggodanya. Menggodanya, menggoda pemain lain, dan menggoda para penonton. Entah bagaimana Fatwa Pujangga yang biasanya terdengar syahdu justru sangat seksi kali ini.
Langkah penari terhenti saat membelakangi Adrian. Ia melambatkan gerakannya. Seperti sedang memberi jeda agar sosok pangeran itu menebaknya.
 “…. Rin?”
Ririn tersenyum. Ia memutar tubuhnya dan Adrian pun sigap membawa Ririn pada langkah dansanya. Keduanya berdansa penuh hasrat. Berputar dan melangkah seakan melupakan irama yang mengalun.
Cemburu. Itulah kata pertama yang akan terlontar jika melihat keduanya berdansa. Begitu intim dan menggairahkan. Siapa pun yang melihatnya akan terhanyut dan menginginkan bertukar posisi dengan mereka. Tak ada yang sadar jika adegan justru lebih panjang dari yang direncanakan. Seolah tak ada yang mampu untuk menghentikan keduanya. Sampai pada putara terakhir dan lagu mencapai batasnya. Semua terhenti dan lampu padam.
Semua terkesima, bahkan mereka lupa harus bertepuk tangan untuk memberikan sambutan meriah. klimaks dari pertunjukkan ini lebih dari sekadar sukses, tapi membahana.
ooOoo
Ririn terengah-engah saat kembali ke backstage. Di sana telah menunggu Fi dengan wajah cemas. Namun, saat melihat senyum Ririn  wajahnya berubah cerah.
“Sial, kamu justru di luar ekspetasi”.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diriku”.
Fi menggeleng, “Yah, tapi memang seharusnya bagian itu untukmu”.
“Terima kasih sudah mengembalikannya untukku”.
Ririn tersenyum dan Fi balas tertawa.
“Baiklah, sekarang giliranmu. Itu bukan bagianku”.
“Serahkan saja padaku”.
Keduanya saling bertukar tos sebelum beraksi.
ooOoo
Adrian langsung berimprovisasi ketika lampu dipadamkan. Priyanka juga langsung menarik teman-temannya agar melanjutkan ke adegan berikutnya. Saat lampu kembali menyala, Adrian tengah berada pada posisi mengejar Nayu yang menghilang. Fi muncul sebagai Nayu dengan kostum yang sama. Adegan pun berjalan normal. Tak ada perubahan lagi sampai pada adegan akhir.
Antony jatuh cinta pada Nayu lalu keduanya melarikan diri. Pernikahan dibatalkan dan Anna murka. Pencarian keduanya dilakukan besar-besaran. Keduanya ditemukan dan siap dihukum gantung.
Tali tambang sudah diikatkan. Papan pijakan siap ditarik. Hanya pura-pura. Pada bagian bawah, sudah disiapkan alas dan tidak membahayakan. Seharusnya mereka mati dengan tangan saling bertaut. Namun, seperti sudah saling terkontak, keduanya memutuskan untuk mati sebelum tangan mereka sempat saling menyentuh. Sedikit perubahan kecil sebelum tirai terakhir ditutup.
Tepuk tangan menutup semua akhir pementasan itu. Semua memberikan standing applause. Tak ada yang sia-sia dari latihan mematikan dan hasil yang ditampilkan lebih dari seimbang. Semua penonton puas, bahkan jika tombol rewind itu ada maka semua orang pasti akan menekannya. Satu kali rasanya tak puas.
Teman-teman Tifa sudah saling rangkul. Mereka mengira pertunjukkan sudah berakhir dengan baik. Namun, semua terkejut saat lampu kembali padam dan tirai kembali terbuka. Untuk kedua kalinya Tifa panik dalam satu hari.
‘Apa lagi ini?’
Seseorang muncul dengan turntable. Musik EDM mengalun. Entah siapa yang ada di balik CDJ itu, yang jelas dia tampak mahir memainkannya. Seperti pro dan jangan tanya bagaimana penampilannya. Dari jauh terlihat, ia mirip dengan personel boyband Korea yang sering wara-wiri di youtube. Semua orang mengira kalau pementasan ini menyewa seorang DJ sebagai musik penutup. Namun, napas Tifa kembali tertahan saat ia tahu siapa laki-laki berkacamata hitam itu.
“Oh Tuhan, itu Alexi!”
Tepuk tangan dan suara riuh penonton menyambut pertunjukkan rahasia itu. Siapa sangka Alexi si culun yang wajahnya selalu dihiasi kacamata setebal gelas kaca kini berpenampilan layaknya artis dari negeri ginseng. Jemarinya yang biasa menari indah di atas piano tiba-tiba begitu lincah memainkan turntable. Ia menjelma seperti seseorang yang tak pernah dikenal oleh siapa pun.
Dentuman musik sedikit mereda, bersamaan dengan itu lampu sorot ikut meredup. Lampu dari sisi lain panggung bergantian menyala dan menampakkan seorang gadis dengan midi dress hitam. Ia berdiri anggun di balik stand mic.
Feeling my way through the darkness
Guided by a beating heart
I can't tell where the journey will end
But I know where to start
They tell me I'm too young to understand
They say I'm caught up in a dream
Well life will pass me by if I don't open up my eyes
Well that's fine by me
Lagi-lagi semua penonton dibuat terpana melihat pertunjukan dari atas panggung. Sosok cantik itu adalah Andani. Melihat gadis itu kembali bernyanyi adalah suatu kejutan besar ditambah lagi ia menyanyikan lagu Avicii yang berjudul Wake Me Up. Sebuah lagu yang terdengar cukup maskulin jika Andani yang membawakannya. Warna suaranya pun berubah menjadi lebih berat. Mungkin efek dari operasinya kemarin, tapi hal itu justru membuatnya sangat cocok saat membawakan lagu itu.
So wake me up when it's all over
When I'm wiser and I'm older
All this time I was finding myself
And I didn't know I was lost
Tepat di saat reff, satu per satu personel muncul. Alexi kembali membuat dentuman besar dan semua anggota serempak menari. Gerakan mereka sangat lincah dan cepat. Tak peduli meski mereka masih menggunakan gaun dan baju daerah, gerakan mereka hanya terpacu pada musik. Hebatnya tak ada satu pun yang saling injak atau bersentuhan.
“Sumpah, aku tidak tahu-menahu soal ini,” gumam Hana.
“Ya, aku juga,” sahut Gloria dan Riani serempak.
Tifa mengalihkan pandangannya pada Dave. Pria itu langsun 
“Demi Tuhan, aku juga baru tahu hari ini!”
Seketika Tifa merasa pusing. Ia memijat pangkal hidungnya seraya berpikir. Entah
siapa yang mempunyai ide pertama kali, bagaimana mereka memiliki alat tersebut, dan kapan mereka berlatih hingga bisa sekompak itu. Tifa mengedarkan pandangannya ke sekitar. Penonton tampak puas. Mereka mengelu-elukan anak didiknya seperti sedang menonton konser band favorit. Tifa hanya bisa menyandarkan tubuhnya seraya mendesah panjang.
“Ya sudah, mau bagaimana lagi. Biarkan saja lagi pula mereka bagus kok”.
Teman-temannya tersenyum senang saat Tifa pasrah dengan kelakuan anak didiknya. Baru kali ini ada yang berani mempermainkan si nona perfeksionis.
Kembali ke atas panggung. Kini Andani memilih untuk berdiri di samping Alexi. Ia lebih suka mendampingi sang DJ ketimbang menari dengan teman-temannya. Panggung kini dikuasai oleh tim tari. Mereka mendapatkan kesempatan unjuk gigi. Sampai pada akhir musik, Alexi menyalakan mic-nya.
With honorable, ladies dan gentleman, please welcome the best director, Latifa Kusuma Ningsih!”
Lampu sorot tepat mengenai tempat duduk Tifa. Teman-temannya serempak berdiri dan bertepuk untuknya. Tifa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat Adrian dan Ririn menjemputnya dari atas panggung. Ia mendapatkan sebuah buket mawar besar perwakilan dari Ben ketika di atas panggung. Tepuk tangan meriah pun menyambut Tifa.
“Terima kasih. Terima kasih untuk kehadiran dan partisipasinya,” suara Tifa berhasil memadamkan riuh-redan penonton. “Saya juga berterima kasih untuk semua sponsor juga pada yayasan yang membuat acara ini berhasil”.
“Terima kasih lagi untuk semua teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk melatih dan mewujudkan impian saya untuk membangun kembali Love Musical”.
Suasana mendadak hening. Ada sentuhan keharuan saat Tifa mengatakan impiannya.
“Bukan mudah untuk membangun kembali sebuah klub yang sudah lama ditinggalkan. Tak terhitung perjuangan yang sudah dilakukan. Tak ada yang tahu seberapa besar perjuangan semua orang yang ikut andil dalam pementasan ini. Betapa banyak cucuran keringat dan air mata di belakang panggung yang semua orang tak tahu.
“Selalu ada kata menyerah yang mengancam dari masing-masing anggota, bahkan saya sendiri. Persaingan dan perselisihan pun tak dapat kami hindari. Caci maki terpedas pun sudah kami terima. Jika harus memilih, mungkin mengundurkan diri adalah jalan terbaik.
“Tapi, bukan itu jawaban yang kami inginkan. Bukan itu ending yang kami harapkan. Semua yang kami harapkan adalah seperti hari ini. Saat ini. Di panggung ini. Keberhasilan di atas puncak yang kami peroleh adalah hasil dari pengorbanan yang telah kami lakukan. Untuk itu, izinkan saya mengucapkan dari hati yang paling dalam”.
Tifa menatap satu per satu anggota Love Musical. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun, ia berusaha untuk tetap tertawa.
“Terima kasih untuk semua kegilaan kalian semua. Sungguh, ini adalah pertunjukkan terhebat sepanjang hidupku”.
Sekali lagi standing applause diberikan penonton untuk momen haru itu. Tifa langsung memeluk semua anggotanya sebanyak yang ia bisa. Tiba-tiba saja mereka kompak untuk mengangkat Tifa dan melemparkannya ke udara. Musik kembali bergema. Pesta kembali berlanjut.
Alexi kembali berteriak dari balik mic, “Are you readyyy?
Sorak gempita menjawab teriakan pemuda itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar