Musikal
199
Hari yang dinanti pun
tiba. Sejak pagi gedung teater itu sudah sibuk. Panggung sudah dicek ulang,
begitu pula dengan sound system. Di
sisi lain para pemain sibuk dengan kostum dan make up masing-masing. Ada pula yang masih berkutat pada naskah.
Ada pula yang sibuk pada bagian loket tiket pada persiapan di depan. Persiapan
yang sudah dilakukan berbulan-bulan lalu akan dilaksanakan hari ini. Semua
konsekuensi tergantung pada dua jam ke depan.
“Astaga, semua orang sedang sibuk kayak gini, si Tifa ngapain coba?”
Wajar saja Gloria mengomel sebab Tifa sedang duduk diam tanpa merespon
apa pun yang ada. Dia sudah dalam posisi seperti itu lebih kurang satu jam.
“Lagi meditasi,” sahut Dave yang muncul dari belakang Gloria. “Terapi
kesehatan. Sebentar lagi dia juga selesai”.
Benar saja, begitu Tifa selesai melakukan terapinya ia langsung
memerintahkan semua anggota untuk berkumpul. Membentuk lingkaran dan tampaknya
ia akan memberikan wejangan terakhir sebelum pentas.
“Saya tidak akan memberikan perintah apa pun lagi. Lakukan sesuai dengan
apa yang sudah kita lakukan selama ini. Sukses atau tidak itu tergantung
bagaimana nanti, tugas saya dan seluruh guru di sini sudah selesai. Waktunya
kalian yang mengeksekusi”.
Tabuhan genderang perang semakin terasa ketika Tifa mengatakan pesan
terakhirnya. Irama jantung mulai tak menentu. Semakin cepat seiring dengan
detik yang berlalu. Keringat dingin mulai mengepul di balik riasan dan kostum.
Ruangan pun terasa lebih dingin daripada sebelumnya.
“Tapi saya percaya pada kalian semua. Selamat berjuang!”
Mereka saling menyatukan tangan, meneriakkan nama Love Musical keras-keras, dan memberikan semangat satu sama lain.
Setelah itu panggung distrerilkan. Semua mulai bersiap menuju detik-detik
pementasan. Waktunya eksekusi dimulai.
ooOoo
Tamu-tamu mulai
berdatangan. Sebagian besar diisi oleh para siswa dan guru dari kedua sekolah
tersebut, kemudian para orang tua, dan sisanya adalah penonton yang sudah tak
sabar ingin menonton pertunjukkan mereka.
“Astagaaa, kenapa yang datang banyak sekali,” ujar Wenda dari balik
tirai hitam. “Miss Tifa menjual tiket
berapa banyak sih?”
“Setahuku gedung ini memuat 300 orang tamu, tapi sepertinya yang datang
lebih dari itu,” sahut Priyanka. “Gawat, padahal aku biasa tampil, tapi kali
ini aku lebih gugup daripada biasanya”.
“Kita bukan orang-orang yang pertama kali pentas di hadapan banyak
orang,” sahut Alexi. “Anggap saja kita sedang melakukan hal yang sering kita
lakukan. Seperti resital atau pertandingan”.
‘Huh, ya. Kecuali aku,’
gerutu Ririn dalam
hati. Ia mengumpat perkataan Alexi barusan. Ia adalah satu-satunya orang yang
merasakan pertama kalinya tampil di hadapan banyak orang. Ririn yang dulu
adalah sosok di balik layar. Paling hebat ia tampil untuk presentasi kelas,
sisanya ia lebih suka berbicara lewat tulisan.
“Pacarmu itu lupa kalau masih ada orang yang belum berpengalaman di sini,”
ujar Adrian. Saat Ririn menoleh, lelaki itu tampak mengedipkan mata untuknya.
“Tapi tenang saja, kamu pasti bisa mengatasinya”.
Ririn mendesah panjang, “Ya, aku harus. Aku ingin makan es krim dengan
bangga setelah ini”.
Adrian terkekeh, “Akan kubelikan es krim matcha kalau kamu berhasil memukau para penonton nanti”.
“Kupegang janjimu, ya. Nanti aku kasih kejutan dan kamulah orang pertama
yang terpukau”.
Adrian menatap Ririn. Gadis itu sedang tersenyum sinis padanya. Keduanya
lalu tertawa. Namun, tawa mereka mereda kala sang MC sudah menyapa para tamu.
Acara dimulai dengan tarian Gending
Sriwijaya yang dipimpin oleh Wenda setelah itu kata sambutan oleh Hana,
selaku kepala sekolah. Sesudah Hana menyampaikan pidatonya, sang MC menyebutkan
aturan-aturan yang harus ditaati ketika pertunjukkan berlangsung. Seperti tidak
boleh berisik, tidak bermain ponsel dan mematikan nada dering, dan juga tidak
boleh menggunakan blitz jika ingin
mengambil gambar.
Sang MC turun dari panggung. Lampu dipadamkan. Eksekusi pun dimulai.
“Inilah saatnya. Kamu siap, Rin?” bisik Fi.
Ririn mendesah mantap, “Tak pernah sesiap ini”.
Tirai terangkat. Adegan pertama dibuka lalu lalang orang di atas
panggung. Menggambarkan suasana di pelabuhan. Adrian, Ririn, Kemal, dan Ben
muncul pertama dengan peran masing-masing. Mereka sudah dihias layaknya bangsa
Belanda zaman dulu. Mereka berbincang seolah-olah baru saja tiba dari
Netherland ke Hindia. Diceritakan pula bahwa tokoh Antony dan Anna akan menikah
di tanah Hindia.
Tirai kembali ditutup. Pertanda pergantian adegan. Begitu tirai dibuka
kembali muncul Fi, Priyanka, dan beberapa orang penari lain. Mereka menari
untuk menyambut para kompeni. Di adegan itu Ririn tidak muncul dan saat itu
juga, Antony dan Nayu berkenalan. Nayu pun jatuh cinta pada Antony di pandangan
pertamanya.
Adegan selanjutnya adalah persiapan pesta topeng. Pada adegan itu
diperlihatkan Nayu yang semakin intes mendekati Antony. Namun, Antony masih
setia pada tunangannya. Selain itu, Nayu juga masih takut-takut mendekati sang pujaan
hati karena Anna adalah tokoh antagonis yang tak segan-segan mencela Nayu
tatkala gadis itu berusaha mendekati tunangannya.
Hingga tibalah adegan klimaks dari pementasan ini. Dekorasi panggun pun
berubah meriah. Semua orang menutupi wajahnya dengan beragam topeng. Musik
dansa mengalun ke seluruh penjuru ruangang. Mereka saling berbicara manja dan
menggoda satu sama lain.
Dari kursi penonton, Tifa ikut merasakan ketegangan. Adegan klimaks ini
jika gagal maka akan berpengaruh sampai ending.
Ia tahu bahwa sampai gladi resik pun, chemistry
antara Adrian dan Fi tidak seperti dulu lagi. Masalah memang sudah selesai,
tapi efeknya masih berpengaruh sampai sekarang. Perut Tifa mendadak mulas saat
menanti adegan itu berlangsung.
‘Kumohon, semoga ada
keajaiban,’ batin Tifa.
Tiba-tiba lampu kembali padam. Suasana mendadak heboh sejenak. Bukan
dari penonton, tapi dari orang-orang yang terlibat langsung pada pementasan
ini. Tifa memutar kepalanya ke kanan dan kiri. Mencoba mencari tahu apa yang
sebenarnya terjadi.
Suasana tegang juga terjadi di atas panggung. Para pemain terlihat
bingung dalam kegelapan. Hingga mereka semua mendengar alunan lagu. Semua orang
terkejut. Lagu yang dimainkan bukanlah lagu yang harusnya menjadi inti dari
adegan ini. Meski begitu, sebagian besar dari mereka sudah tak asing dengan instrument
bernada melayu tersebut.
Fatwa Pujangga….
Lampu kembali menyala. Muncullah sosok berkostum dengan nuansa
kupu-kupu. Penuh warna dan tak lupa sayap sebagai identitas kupu-kupunya.
Wajahnya ditutupi topeng sama seperti yang lain. Wanita itu maju dengan langkah
ringannya. Alih-alih mengajak Antony berdansa, ia justru memukau semua orang
dengan tariannnya.
“Si—siapa itu?” tanya Riani gelagapan.
Tinggi badan yang hampir sama, hanya saja si penari ini sedikit lebih
berisi. Namun, tariannya yang gemulai membuat semua orang bertanya-tanya siapa
di balik topeng itu. Mata Tifa terus mengawasi si pendatang baru ini. Napasnya
tertahan saat ia menyadari tokoh tersebut.
“Ririn…”
Sontak semua orang menoleh pada Tifa.
“Kamu yakin itu keponakanku?” ujar Dave.
“Tidak salah lagi. Aku tahu siapa yang bisa melakukan tarian seperti
itu,” desis Tifa, “sejak audisi aku tidak pernah lupa”.
“Ya, kupikir juga begitu,” sahut Gloria. “Tapi untuk apa dia di sana?”
Tri satu-satunya orang yang tidak panik ketika adegan itu berlangsung.
Itu karena dia juga menjadi dalang adegan tersebut. Ia ingat ketiga gadis-gadis
itu meneleponnya di sore hari. Mereka memohon agar dipinjami kostum yang Ririn
pernah gunakan tempo hari. Mereka juga bertanya apakah ada kostum yang sama
dengan yang Ririn gunakan. Ketika ditanya, mereka hanya menjawab ingin
memberikan kejutan untuk pementasan.
“Apa ini akan membuat
Tifa tegang?” tanyanya ketika ditelepon.
“Tentu saja. Miss Tifa selalu menuntut kesempurnaan saat
tampil. Ia tidak mau rencananya dirusak oleh orang lain. Pasti dia akan
memarahi kami habis-habisan”.
“Waah, berani sekali
kalian,” Tri tertawa sinis. “Tapi yah, aku juga ingin melihat wajah Tifa kalang
kabut. Baiklah, aku akan mendukung kalian, tapi bukan berarti aku ikut
bertanggung jawab jika ini gagal”.
“Tidak masalah, kami
sudah tahu risikonya”.
Tri tersenyum puas. Keinginannya untuk balas dendam tercapai sudah. Tifa
terlihat sangat panik. Ia tinggal duduk manis menikmati pertunjukkan di atas
panggung dan kepanikan Tifa.
ooOoo
“Al, apa-apaan kamu?”
Alexi pura-pura tak mendengar omelan Anjani. Ia sedang sibuk memainkan
orgen dengan irama melayu tersebut. Pantas saja ia juga minta dibawakan orgen
tersebut, padahal ia sudah ada piano. Hiro dan Jiro juga merasa kaget dengan
perubahan adegan yang tiba-tiba. Namun, mereka pandai membaca situasi. Bukannya
ikut menegur Alexi, mereka justru mempelajari irama tersebut. Selanjutnya biola
dan bass ikut mengiringi.
“Ya Tuhan, apa-apaan kalian?”
Alexi mengerling, senyuman jahil duo Hasegawa ini mengembang. Instrument
melayu ini terasa bagai melodi kenakalan.
ooOoo
“Di—dia siapa?” gumam
Kemal.
Ternyata Ben juga mempunyai pikiran yang sama. Keduanya saling bertukar
pandang lalu menoleh pada Wenda yang menggamit lengan Kemal. Ketiganya tak ada
yang mempunyai jawaban yang pasti. Hingga Priyanka, yang juga sedang menggamit
lengan Kemal, memberik kode.
“Biarkan saja,” bisiknya pendek.
Ketiga orang ini hanya bisa membisu. Menanti apa yang akan terjadi
selanjutnya. Di sisi lain, Adrian juga ikut terpana. Ia bergeming di tempat
dengan mata yang tetap mengawasi kupu-kupu yang sedang menari. Tak hanya
sekadar menari, tapi tarian kupu-kupu ini sengaja menggodanya. Menggodanya,
menggoda pemain lain, dan menggoda para penonton. Entah bagaimana Fatwa Pujangga yang biasanya terdengar
syahdu justru sangat seksi kali ini.
Langkah penari terhenti saat membelakangi Adrian. Ia melambatkan
gerakannya. Seperti sedang memberi jeda agar sosok pangeran itu menebaknya.
“…. Rin?”
Ririn tersenyum. Ia memutar tubuhnya dan Adrian pun sigap membawa Ririn
pada langkah dansanya. Keduanya berdansa penuh hasrat. Berputar dan melangkah
seakan melupakan irama yang mengalun.
Cemburu. Itulah kata pertama yang akan terlontar jika melihat keduanya
berdansa. Begitu intim dan menggairahkan. Siapa pun yang melihatnya akan
terhanyut dan menginginkan bertukar posisi dengan mereka. Tak ada yang sadar
jika adegan justru lebih panjang dari yang direncanakan. Seolah tak ada yang
mampu untuk menghentikan keduanya. Sampai pada putara terakhir dan lagu
mencapai batasnya. Semua terhenti dan lampu padam.
Semua terkesima, bahkan mereka lupa harus bertepuk tangan untuk
memberikan sambutan meriah. klimaks dari pertunjukkan ini lebih dari sekadar
sukses, tapi membahana.
ooOoo
Ririn terengah-engah
saat kembali ke backstage. Di sana
telah menunggu Fi dengan wajah cemas. Namun, saat melihat senyum Ririn wajahnya berubah cerah.
“Sial, kamu justru di luar ekspetasi”.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diriku”.
Fi menggeleng, “Yah, tapi memang seharusnya bagian itu untukmu”.
“Terima kasih sudah mengembalikannya untukku”.
Ririn tersenyum dan Fi balas tertawa.
“Baiklah, sekarang giliranmu. Itu bukan bagianku”.
“Serahkan saja padaku”.
Keduanya saling bertukar tos sebelum beraksi.
ooOoo
Adrian langsung
berimprovisasi ketika lampu dipadamkan. Priyanka juga langsung menarik
teman-temannya agar melanjutkan ke adegan berikutnya. Saat lampu kembali
menyala, Adrian tengah berada pada posisi mengejar Nayu yang menghilang. Fi
muncul sebagai Nayu dengan kostum yang sama. Adegan pun berjalan normal. Tak
ada perubahan lagi sampai pada adegan akhir.
Antony jatuh cinta pada Nayu lalu keduanya melarikan diri. Pernikahan
dibatalkan dan Anna murka. Pencarian keduanya dilakukan besar-besaran. Keduanya
ditemukan dan siap dihukum gantung.
Tali tambang sudah diikatkan. Papan pijakan siap ditarik. Hanya
pura-pura. Pada bagian bawah, sudah disiapkan alas dan tidak membahayakan.
Seharusnya mereka mati dengan tangan saling bertaut. Namun, seperti sudah
saling terkontak, keduanya memutuskan untuk mati sebelum tangan mereka sempat
saling menyentuh. Sedikit perubahan kecil sebelum tirai terakhir ditutup.
Tepuk tangan menutup semua akhir pementasan itu. Semua memberikan standing applause. Tak ada yang sia-sia
dari latihan mematikan dan hasil yang ditampilkan lebih dari seimbang. Semua
penonton puas, bahkan jika tombol rewind
itu ada maka semua orang pasti akan menekannya. Satu kali rasanya tak puas.
Teman-teman Tifa sudah saling rangkul. Mereka mengira pertunjukkan sudah
berakhir dengan baik. Namun, semua terkejut saat lampu kembali padam dan tirai
kembali terbuka. Untuk kedua kalinya Tifa panik dalam satu hari.
‘Apa lagi ini?’
Seseorang muncul dengan turntable.
Musik EDM mengalun. Entah siapa yang ada di balik CDJ itu, yang jelas dia
tampak mahir memainkannya. Seperti pro dan jangan tanya bagaimana
penampilannya. Dari jauh terlihat, ia mirip dengan personel boyband Korea yang sering wara-wiri di youtube. Semua orang mengira kalau
pementasan ini menyewa seorang DJ sebagai musik penutup. Namun, napas Tifa
kembali tertahan saat ia tahu siapa laki-laki berkacamata hitam itu.
“Oh Tuhan, itu Alexi!”
Tepuk tangan dan suara riuh penonton menyambut pertunjukkan rahasia itu.
Siapa sangka Alexi si culun yang wajahnya selalu dihiasi kacamata setebal gelas
kaca kini berpenampilan layaknya artis dari negeri ginseng. Jemarinya yang
biasa menari indah di atas piano tiba-tiba begitu lincah memainkan turntable. Ia menjelma seperti seseorang
yang tak pernah dikenal oleh siapa pun.
Dentuman musik sedikit mereda, bersamaan dengan itu lampu sorot ikut
meredup. Lampu dari sisi lain panggung bergantian menyala dan menampakkan
seorang gadis dengan midi dress
hitam. Ia berdiri anggun di balik stand
mic.
Feeling
my way through the darkness
Guided
by a beating heart
I
can't tell where the journey will end
But
I know where to start
They
tell me I'm too young to understand
They
say I'm caught up in a dream
Well
life will pass me by if I don't open up my eyes
Well
that's fine by me
Lagi-lagi semua
penonton dibuat terpana melihat pertunjukan dari atas panggung. Sosok cantik
itu adalah Andani. Melihat gadis itu kembali bernyanyi adalah suatu kejutan
besar ditambah lagi ia menyanyikan lagu Avicii yang berjudul Wake Me Up. Sebuah lagu yang terdengar
cukup maskulin jika Andani yang membawakannya. Warna suaranya pun berubah
menjadi lebih berat. Mungkin efek dari operasinya kemarin, tapi hal itu justru
membuatnya sangat cocok saat membawakan lagu itu.
So
wake me up when it's all over
When
I'm wiser and I'm older
All
this time I was finding myself
And
I didn't know I was lost
Tepat di saat reff, satu per
satu personel muncul. Alexi kembali membuat dentuman besar dan semua anggota
serempak menari. Gerakan mereka sangat lincah dan cepat. Tak peduli meski
mereka masih menggunakan gaun dan baju daerah, gerakan mereka hanya terpacu
pada musik. Hebatnya tak ada satu pun yang saling injak atau bersentuhan.
“Sumpah, aku tidak tahu-menahu soal ini,” gumam Hana.
“Ya, aku juga,” sahut Gloria dan Riani serempak.
Tifa mengalihkan pandangannya pada Dave. Pria itu langsun
“Demi Tuhan, aku juga baru tahu hari ini!”
Seketika Tifa merasa pusing. Ia memijat pangkal hidungnya seraya
berpikir. Entah
siapa yang mempunyai
ide pertama kali, bagaimana mereka memiliki alat tersebut, dan kapan mereka
berlatih hingga bisa sekompak itu. Tifa mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Penonton tampak puas. Mereka mengelu-elukan anak didiknya seperti sedang
menonton konser band favorit. Tifa hanya bisa menyandarkan tubuhnya seraya
mendesah panjang.
“Ya sudah, mau bagaimana lagi. Biarkan saja lagi pula mereka bagus kok”.
Teman-temannya tersenyum senang saat Tifa pasrah dengan kelakuan anak
didiknya. Baru kali ini ada yang berani mempermainkan si nona perfeksionis.
Kembali ke atas panggung. Kini Andani memilih untuk berdiri di samping
Alexi. Ia lebih suka mendampingi sang DJ ketimbang menari dengan
teman-temannya. Panggung kini dikuasai oleh tim tari. Mereka mendapatkan
kesempatan unjuk gigi. Sampai pada akhir musik, Alexi menyalakan mic-nya.
“With honorable, ladies dan
gentleman, please welcome the best director, Latifa Kusuma Ningsih!”
Lampu sorot tepat mengenai tempat duduk Tifa. Teman-temannya serempak
berdiri dan bertepuk untuknya. Tifa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat
Adrian dan Ririn menjemputnya dari atas panggung. Ia mendapatkan sebuah buket
mawar besar perwakilan dari Ben ketika di atas panggung. Tepuk tangan meriah
pun menyambut Tifa.
“Terima kasih. Terima kasih untuk kehadiran dan partisipasinya,” suara
Tifa berhasil memadamkan riuh-redan penonton. “Saya juga berterima kasih untuk
semua sponsor juga pada yayasan yang membuat acara ini berhasil”.
“Terima kasih lagi untuk semua teman-teman yang sudah bersedia
meluangkan waktunya untuk melatih dan mewujudkan impian saya untuk membangun
kembali Love Musical”.
Suasana mendadak hening. Ada sentuhan keharuan saat Tifa mengatakan impiannya.
“Bukan mudah untuk membangun kembali sebuah klub yang sudah lama
ditinggalkan. Tak terhitung perjuangan yang sudah dilakukan. Tak ada yang tahu
seberapa besar perjuangan semua orang yang ikut andil dalam pementasan ini.
Betapa banyak cucuran keringat dan air mata di belakang panggung yang semua
orang tak tahu.
“Selalu ada kata menyerah yang mengancam dari masing-masing anggota,
bahkan saya sendiri. Persaingan dan perselisihan pun tak dapat kami hindari.
Caci maki terpedas pun sudah kami terima. Jika harus memilih, mungkin
mengundurkan diri adalah jalan terbaik.
“Tapi, bukan itu jawaban yang kami inginkan. Bukan itu ending yang kami
harapkan. Semua yang kami harapkan adalah seperti hari ini. Saat ini. Di
panggung ini. Keberhasilan di atas puncak yang kami peroleh adalah hasil dari
pengorbanan yang telah kami lakukan. Untuk itu, izinkan saya mengucapkan dari
hati yang paling dalam”.
Tifa menatap satu per satu anggota Love
Musical. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun, ia berusaha untuk tetap
tertawa.
“Terima kasih untuk semua kegilaan kalian semua. Sungguh, ini adalah
pertunjukkan terhebat sepanjang hidupku”.
Sekali lagi standing applause diberikan
penonton untuk momen haru itu. Tifa langsung memeluk semua anggotanya sebanyak
yang ia bisa. Tiba-tiba saja mereka kompak untuk mengangkat Tifa dan
melemparkannya ke udara. Musik kembali bergema. Pesta kembali berlanjut.
Alexi kembali berteriak dari balik mic,
“Are you readyyy?”
Sorak gempita menjawab teriakan pemuda itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar