Musikal
180
Tifa sudah kembali ke
sekolah seperti biasa. Tak ada yang memperlakukannya istimewa atau berbeda.
Mereka memang kembali bersimpati atas kepergian ayahnya Tifa, tapi setelah itu
semua teman-temannya kembali bersikap seperti biasa. Tak ada yang tahu
kebenaran di balik kepergian ayah Tifa karena memang Tifa atau pun Dave—yang
tahu kebenaran ini—tak ada yang membuka mulut sedikit pun.
Namun, yang berbeda justru sikap Tifa sendiri. Setelah pemakaman ayahnya
ia lebih sering terlihat murung. Jika dulu dia anak yang tak bisa diam, maka
sekarang ia justru sangat pendiam. Ia hanya bicara jika diperlukan dan itu pun
hanya pada orang-orang terdekat. Hari-hari Tifa diisi kekelaman hingga tanpa
terasa masa-masa SMA-nya akan segera berakhir. Ujian akhir semakin dekat,
begitu pula dengan pementasan mereka.
Sayanganya, Tifa sudah kehilangn gairah untuk melanjutkan apa pun
termasuk pementasan. Meski begitu ia bukan orang yang bisa melepas tanggung
jawab begitu saja. Ia tetap memimpin latihan, hanya saja tidak seperti dulu. Ia
seperti robot. Melakukan apa yang sudah direncanakan. Biasanya Tifa menambahkan
inovasi di dalam latihan mereka.
Bagi Tifa pementasan kali ini akan terasa hampa. Tak ada yang ia
inginkan datang untuk menyaksikan mahakaryanya. Orang-orang yang ia undang
sudah pergi meninggalkannya. Jadi, ia hanya ingin menyelesaikan semua tanggung
jawabnya tanpa mengecewakan siapa pun.
Semua perubahan sikap Tifa terbaca jelas oleh sang ibu. Ia juga masih
terkurung dalam perasaan berduka, tapi ia juga tak mau jika anaknya menanggung
semua kesedihan. Ia memutar otak dan akhrnya menarik sebuah keputusan besar
yang nantinya mengubah separuh hidup keluarganya.
“Bagaimana latihanmu, Tif?” tanya July ketika mereka bertiga berkumpul
saat makan malam.
“Baik, Bu,” jawab Tifa sambil menyendokkan nasi.
July meletakkan sendok dan garpunya dengan tenang lalu menatap anaknya.
Pembicaraan serius akan dimulai sekarang.
“Ibu tahu kita semua berada dalam masa-masa sulit. Bertahan dalam
situasi ini juga tidak akan menyelesaikan kegelisahan. Makanya Ibu menawarkan
pilihan supaya kita bisa pergi dari sini.”
Tifa tersentak, “Kita mau pindah, Bu?”
“Ya, karena Ibu juga merasa sudah tidak nyaman lagi di sini. Banyak
orang-orang membicarakan tentang kita. Mungkin Ibu dan kamu bisa tahan, tapi
tidak baik untuk perkembangan Adrian. Tahun ini ia akan masuk sekolah dan jika
ada orang-orang yang tahu mengenai dirinya, maka ia akan jadi bahan olok-olokan
di sekolah. Ibu tidak mau kalau Adrian sampai di-bully di sekolah. Jadi, akan lebih baik jika kita pergi ke tempat
di mana tak ada yang tahu tentang asal-usul kita.”
Tifa termenung cukup lama. Banyak pertimbangan di dalam benaknya.
“Tapi kita bisa menunggu sampai kamu lulus dulu. Kamu juga harus
menyelesaikan pementasanmu’kan.”
“Tidak!” sahut Tifa cepat. “Kita pindah sekarang juga.”
July cukup terkejut mendengar jawaban anaknya yang begitu mantap, “Kamu
yakin, Tif? Bagaimana pementasanmu?”
“Akan baik meski tanpa aku. Mereka sudah lama berlatih dan aku yakin
akan tetap berjalan sesuai rencana.”
July menatap Tifa beberapa saat lalu ia menghela napas, “Baiklah, kalau
begitu mulai besok kita sudah mulai beres-beres. Masalah sekolahmu akan Ibu
yang urus. Kamu bantu bagian rumah saja.”
Tifa mengangguk pelan.
“Kita mau pindah, Nek?” sahut Adrian yang ternyata memperhatikan
percakapan mereka. July mengangguk sambil tersenyum. “Kita mau pindah ke mana,
Nek?”
July melirik Tifa sambil tersenyum, “Nenek tidak mau mengecewakan
tantemu. Kita akan pindah ke Amerika.”
“Wah, Amerika, Nek?”
Tak hanya Adrian, tapi Tifa juga terkejut mendengar jawaban ibunya. Ia
tak menyangka kalau ia akan pindah sejauh itu. Namun, sang ibu hanya tersenyum
seraya kembali menyantap makan malamnya.
“Kenapa? Kamu pikir ayahmu tidak menyiapkan hal ini? Sebenarnya ayahmu
sudah menyiapkan untukmu dan Laksmi. Sayang Laksmi tidak sempat dan hanya
tinggal kamu seorang saja. Makanya ayahmu berpikir untuk sekalian saja
menyekolahkanmu di sana.”
Untuk pertama kalinya Tifa tersenyum setelah semua permasalahan yang
mereka lalui. Ia bangkit lalu memeluk ibunya. July terkejut, tapi ia tak
berniat untuk melepaskan pelukan itu. Adrian yang tidak tahu apa-apa juga
ikut-ikutan memeluk mereka. Makan malam itu pun berubah menjadi penuh tawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar