Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 180)




Musikal 180

Tifa sudah kembali ke sekolah seperti biasa. Tak ada yang memperlakukannya istimewa atau berbeda. Mereka memang kembali bersimpati atas kepergian ayahnya Tifa, tapi setelah itu semua teman-temannya kembali bersikap seperti biasa. Tak ada yang tahu kebenaran di balik kepergian ayah Tifa karena memang Tifa atau pun Dave—yang tahu kebenaran ini—tak ada yang membuka mulut sedikit pun.
Namun, yang berbeda justru sikap Tifa sendiri. Setelah pemakaman ayahnya ia lebih sering terlihat murung. Jika dulu dia anak yang tak bisa diam, maka sekarang ia justru sangat pendiam. Ia hanya bicara jika diperlukan dan itu pun hanya pada orang-orang terdekat. Hari-hari Tifa diisi kekelaman hingga tanpa terasa masa-masa SMA-nya akan segera berakhir. Ujian akhir semakin dekat, begitu pula dengan pementasan mereka.
Sayanganya, Tifa sudah kehilangn gairah untuk melanjutkan apa pun termasuk pementasan. Meski begitu ia bukan orang yang bisa melepas tanggung jawab begitu saja. Ia tetap memimpin latihan, hanya saja tidak seperti dulu. Ia seperti robot. Melakukan apa yang sudah direncanakan. Biasanya Tifa menambahkan inovasi di dalam latihan mereka.
Bagi Tifa pementasan kali ini akan terasa hampa. Tak ada yang ia inginkan datang untuk menyaksikan mahakaryanya. Orang-orang yang ia undang sudah pergi meninggalkannya. Jadi, ia hanya ingin menyelesaikan semua tanggung jawabnya tanpa mengecewakan siapa pun.
Semua perubahan sikap Tifa terbaca jelas oleh sang ibu. Ia juga masih terkurung dalam perasaan berduka, tapi ia juga tak mau jika anaknya menanggung semua kesedihan. Ia memutar otak dan akhrnya menarik sebuah keputusan besar yang nantinya mengubah separuh hidup keluarganya.
“Bagaimana latihanmu, Tif?” tanya July ketika mereka bertiga berkumpul saat makan malam.
“Baik, Bu,” jawab Tifa sambil menyendokkan nasi.
July meletakkan sendok dan garpunya dengan tenang lalu menatap anaknya. Pembicaraan serius akan dimulai sekarang.
“Ibu tahu kita semua berada dalam masa-masa sulit. Bertahan dalam situasi ini juga tidak akan menyelesaikan kegelisahan. Makanya Ibu menawarkan pilihan supaya kita bisa pergi dari sini.”
Tifa tersentak, “Kita mau pindah, Bu?”
“Ya, karena Ibu juga merasa sudah tidak nyaman lagi di sini. Banyak orang-orang membicarakan tentang kita. Mungkin Ibu dan kamu bisa tahan, tapi tidak baik untuk perkembangan Adrian. Tahun ini ia akan masuk sekolah dan jika ada orang-orang yang tahu mengenai dirinya, maka ia akan jadi bahan olok-olokan di sekolah. Ibu tidak mau kalau Adrian sampai di-bully di sekolah. Jadi, akan lebih baik jika kita pergi ke tempat di mana tak ada yang tahu tentang asal-usul kita.”
Tifa termenung cukup lama. Banyak pertimbangan di dalam benaknya.
“Tapi kita bisa menunggu sampai kamu lulus dulu. Kamu juga harus menyelesaikan pementasanmu’kan.”
“Tidak!” sahut Tifa cepat. “Kita pindah sekarang juga.”
July cukup terkejut mendengar jawaban anaknya yang begitu mantap, “Kamu yakin, Tif? Bagaimana pementasanmu?”
“Akan baik meski tanpa aku. Mereka sudah lama berlatih dan aku yakin akan tetap berjalan sesuai rencana.”
July menatap Tifa beberapa saat lalu ia menghela napas, “Baiklah, kalau begitu mulai besok kita sudah mulai beres-beres. Masalah sekolahmu akan Ibu yang urus. Kamu bantu bagian rumah saja.”
Tifa mengangguk pelan.
“Kita mau pindah, Nek?” sahut Adrian yang ternyata memperhatikan percakapan mereka. July mengangguk sambil tersenyum. “Kita mau pindah ke mana, Nek?”
July melirik Tifa sambil tersenyum, “Nenek tidak mau mengecewakan tantemu. Kita akan pindah ke Amerika.”
“Wah, Amerika, Nek?”
Tak hanya Adrian, tapi Tifa juga terkejut mendengar jawaban ibunya. Ia tak menyangka kalau ia akan pindah sejauh itu. Namun, sang ibu hanya tersenyum seraya kembali menyantap makan malamnya.
“Kenapa? Kamu pikir ayahmu tidak menyiapkan hal ini? Sebenarnya ayahmu sudah menyiapkan untukmu dan Laksmi. Sayang Laksmi tidak sempat dan hanya tinggal kamu seorang saja. Makanya ayahmu berpikir untuk sekalian saja menyekolahkanmu di sana.”
Untuk pertama kalinya Tifa tersenyum setelah semua permasalahan yang mereka lalui. Ia bangkit lalu memeluk ibunya. July terkejut, tapi ia tak berniat untuk melepaskan pelukan itu. Adrian yang tidak tahu apa-apa juga ikut-ikutan memeluk mereka. Makan malam itu pun berubah menjadi penuh tawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar