Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 189)




Musikal 189

Akhirnya, Riani pun menumpahkan segala keluh kesahnya pada sang suami. Ia membeberkan mengenai perjanjiannya dengan Tifa. Suaminya memang tahu bagaimana perasaan sang istri padanya. Ia tahu kalau istrinya memang masih menyimpan rasa dengan masa lalunya, tapi ia tak menyangka kalau sang istri sampai membuat perjanjian yang terdengar tak masuk akal. Meskipun begitu ia tak langsung menyalahkan istrinya karena di satu sisi istrinya juga ikut menderita.
“Jadi, kamu sekarang mau bagaimana?”
“Aku menyesal, Mas, tapi aku harus bagaimana?”
Evan menghela panjang, “Kamu sudah jenguk Tifa lagi?”
Riani menggeleng.
“Kalau begitu kamu harus bicara dengannya. Sekarang. Dia mungkin tidak dengar, tapi Mas yakin dia bisa merasakan.”
Tak ada pilihan lain. Ia harus mengatakan agar gundahnya hilang.
ooOoo
Jantung Riani dagdigdug tak karuan. Untungnya suami dan anaknya ikut menemaninya. Setidaknya celotehan Alena memberikannya sedikit ketenangan di antara rasa gugup yang melanda. Rasa cemasnya semakin menjadi tatkala Dave yang menyambut mereka di depan pintu.
“Istriku ingin bertemu dengan Tifa berdua saja.”
Riani bersyukur karena suaminya mau mengerti dan Dave langsung menyilakan masuk tanpa banyak bertanya. Suasana hangat langsung berubah senyap. Irama kardiogram selaras dengan derap langkahnya. Ia mendekati ranjang Tifa lalu menggenggam tangan sahabatnya.
“Hai, Tif. Bagaimana kabarmu?”
Riani tahu sahabatnya tak akan merespon, tapi ia tetap meneguhkan hatinya.
“Aku tahu harusnya aku mengatakannya, bukan tapi harusnya aku tak membuatnya. Janji itu… janji konyol yang harusnya tak kamu iyakan.”
Air mata Riani mulai menggenang. Suaranya terdengar bergetar.
“Aku… aku tidak akan melupakan Dave, tapi aku akan mengikhlaskan dia padamu. Semuanya akan sama seperti dulu. Sama seperti ketika kamu mengikhlaskan Dave padaku. Aku… aku akan lebih tenang jika dia kembali padamu.”
Tangis Riani pecah. Air matanya mengalir di sepanjang lekuk wajahnya.
“Tif, aku membatalkan semua perjanjian kita. Jadi… kuharap kamu segera bangun. Bangunlah, Tif! Kamu boleh marah dan membenciku, tapi aku tidak rela jika kamu pergi sekarang.”
Irama kardiogram semakin mengalunkan nada-nada sedih. Tifa tetap bergeming tak peduli meski Riani sudah dibanjiri air mata. Namun, satu hal yang tak Riani sadari bahwa saat itu ia tak menangis sendirian. Ada setitik air mata ikut jatuh dari pelupuk mata Tifa, tapi langsung membenamkan diri dalam gravitasi.
ooOoo
Evan menolak halus saat Dave menawarkan rokok. Kedua pria ini memilih untuk menghabiskan waktu di taman rumah sakit. Alena akan merajuk jika tahu akan menunggu lama. Agar tantrumnya tak kumat, Evan mengajaknya jalan-jalan dan Dave memilih taman ini supaya Alena bebas bermain sementara mereka bisa bersantai.
“Jujur saja, sampai saat ini saya masih pesimis jika tahu saingan saya adalah kamu.”
Dave melirik Evan sambil tersenyum sinis, “Tapi saya tidak berniat merebut Riani.”
“Justru itu. Semakin dijauhi, semakin Riani tergila-gila padamu. Kamu memang sempurna, tapi saya juga tidak rela jika Riani harus kembali sama kamu.”
“Ya, ini juga salah saya,” Dave menjentikkan abu rokoknya. “Harusnya dulu dia tidak usah dikasih kesempatan. Mana tahu kejadian bakalan seperti ini.”
“Saya tidak menyalahkanmu. Semua itu bagian dari masa lalu. Jadikan saja sebagai pelajaran untuk kita semua. Yah, saya berharap Riani juga cepat sadar.”
Kali ini Dave tersenyum tulus, “Harusnya Riani beruntung karena punya pasangan bijak seperti suaminya sekarang.”
“Ah, tidak,” Evan tertawa. “Saya juga berharap supaya Tifa cepat sadar. Supaya masalah ini cepat selesai. Kami juga merindukannya.”
Dave mengangguk pelan. Jika sudah bicara soal Tifa entah kenapa ia justru kecil hati. Harapan memang bisa datang kapan saja, tapi kalau melihat kenyataan sekarang rasanya sangat kecil.
“Ah, dia kembali,” ujar Evan.
Serentak kedua pria itu berdiri. Riani lebih dulu menyapa gadis kecilnya dan sontak saja Alena menanyakan perihal mata ibunya yang memerah. Riani berkilah dan Alena pun tak menanyakannya lagi.
“Tifa kutitipkan pada perawat tadi. Terima kasih sudah memberikan kami waktu.”
“Kami yang harusnya berterima kasih,” ujar Dave. “Dia punya teman yang hebat sepertimu. Dia pasti senang.”
“Aku tidak sehebat itu, Dave,” Riani menggeleng seraya tersenyum. “Dia terlalu hebat jika dibandingkan denganku. Orang-orang hebat memang harusnya bersama.”
“Dan bukannya orang baik tidak bisa mendapatkan yang terbaik. Oh sudahlah, stop membanding-bandingkan siapa dengan siapa. Kita semua sama saja.”
Mereka sama-sama tertawa.
“Kalau begitu kami pamit dulu,” ujar Riani. “Salam jika tante atau Adrian kemari.”
“Tentu. Hati-hati di jalan ya.”
Evan dan Dave berjabat tangan lalu mengajak Riani dan anaknya. Sebelum pergi Riani menyempatkan diri untuk berpesan:
“Hei, Dave. Tifa itu gak suka cowok perokok loh.”
Riani berbalik meninggalkannya. Itu terakhir kalinya Riani menggoda pria itu. Ia sudah paham dimana posisinya sekarang. Tak peduli jika Dave adalah cinta pertamanya, tapi yang mencintainya saat ini dan nanti adalah suami dan anak gadisnya. Tiba-tiba saja ia mengeratkan rangkulannya seraya berbisik.
“Mas, mau kasih adik buat Alena, gak?”
Dan Evan tak bisa lebih senang daripada itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar