Musikal 189
Akhirnya, Riani pun menumpahkan segala keluh kesahnya
pada sang suami. Ia membeberkan mengenai perjanjiannya dengan Tifa. Suaminya
memang tahu bagaimana perasaan sang istri padanya. Ia tahu kalau istrinya
memang masih menyimpan rasa dengan masa lalunya, tapi ia tak menyangka kalau
sang istri sampai membuat perjanjian yang terdengar tak masuk akal. Meskipun
begitu ia tak langsung menyalahkan istrinya karena di satu sisi istrinya juga
ikut menderita.
“Jadi, kamu sekarang
mau bagaimana?”
“Aku menyesal, Mas,
tapi aku harus bagaimana?”
Evan menghela
panjang, “Kamu sudah jenguk Tifa lagi?”
Riani menggeleng.
“Kalau begitu kamu
harus bicara dengannya. Sekarang. Dia mungkin tidak dengar, tapi Mas yakin dia
bisa merasakan.”
Tak ada pilihan lain.
Ia harus mengatakan agar gundahnya hilang.
ooOoo
Jantung Riani dagdigdug tak karuan. Untungnya suami
dan anaknya ikut menemaninya. Setidaknya celotehan Alena memberikannya sedikit
ketenangan di antara rasa gugup yang melanda. Rasa cemasnya semakin menjadi
tatkala Dave yang menyambut mereka di depan pintu.
“Istriku ingin
bertemu dengan Tifa berdua saja.”
Riani bersyukur
karena suaminya mau mengerti dan Dave langsung menyilakan masuk tanpa banyak
bertanya. Suasana hangat langsung berubah senyap. Irama kardiogram selaras
dengan derap langkahnya. Ia mendekati ranjang Tifa lalu menggenggam tangan
sahabatnya.
“Hai, Tif. Bagaimana
kabarmu?”
Riani tahu sahabatnya
tak akan merespon, tapi ia tetap meneguhkan hatinya.
“Aku tahu harusnya
aku mengatakannya, bukan tapi harusnya aku tak membuatnya. Janji itu… janji
konyol yang harusnya tak kamu iyakan.”
Air mata Riani mulai
menggenang. Suaranya terdengar bergetar.
“Aku… aku tidak akan
melupakan Dave, tapi aku akan mengikhlaskan dia padamu. Semuanya akan sama
seperti dulu. Sama seperti ketika kamu mengikhlaskan Dave padaku. Aku… aku akan
lebih tenang jika dia kembali padamu.”
Tangis Riani pecah.
Air matanya mengalir di sepanjang lekuk wajahnya.
“Tif, aku membatalkan
semua perjanjian kita. Jadi… kuharap kamu segera bangun. Bangunlah, Tif! Kamu
boleh marah dan membenciku, tapi aku tidak rela jika kamu pergi sekarang.”
Irama kardiogram
semakin mengalunkan nada-nada sedih. Tifa tetap bergeming tak peduli meski
Riani sudah dibanjiri air mata. Namun, satu hal yang tak Riani sadari bahwa
saat itu ia tak menangis sendirian. Ada setitik air mata ikut jatuh dari
pelupuk mata Tifa, tapi langsung membenamkan diri dalam gravitasi.
ooOoo
Evan menolak halus saat Dave menawarkan rokok. Kedua
pria ini memilih untuk menghabiskan waktu di taman rumah sakit. Alena akan
merajuk jika tahu akan menunggu lama. Agar tantrumnya tak kumat, Evan
mengajaknya jalan-jalan dan Dave memilih taman ini supaya Alena bebas bermain
sementara mereka bisa bersantai.
“Jujur saja, sampai
saat ini saya masih pesimis jika tahu saingan saya adalah kamu.”
Dave melirik Evan
sambil tersenyum sinis, “Tapi saya tidak berniat merebut Riani.”
“Justru itu. Semakin dijauhi,
semakin Riani tergila-gila padamu. Kamu memang sempurna, tapi saya juga tidak
rela jika Riani harus kembali sama kamu.”
“Ya, ini juga salah
saya,” Dave menjentikkan abu rokoknya. “Harusnya dulu dia tidak usah dikasih
kesempatan. Mana tahu kejadian bakalan seperti ini.”
“Saya tidak
menyalahkanmu. Semua itu bagian dari masa lalu. Jadikan saja sebagai pelajaran
untuk kita semua. Yah, saya berharap Riani juga cepat sadar.”
Kali ini Dave
tersenyum tulus, “Harusnya Riani beruntung karena punya pasangan bijak seperti
suaminya sekarang.”
“Ah, tidak,” Evan
tertawa. “Saya juga berharap supaya Tifa cepat sadar. Supaya masalah ini cepat
selesai. Kami juga merindukannya.”
Dave mengangguk
pelan. Jika sudah bicara soal Tifa entah kenapa ia justru kecil hati. Harapan
memang bisa datang kapan saja, tapi kalau melihat kenyataan sekarang rasanya
sangat kecil.
“Ah, dia kembali,”
ujar Evan.
Serentak kedua pria
itu berdiri. Riani lebih dulu menyapa gadis kecilnya dan sontak saja Alena
menanyakan perihal mata ibunya yang memerah. Riani berkilah dan Alena pun tak
menanyakannya lagi.
“Tifa kutitipkan pada
perawat tadi. Terima kasih sudah memberikan kami waktu.”
“Kami yang harusnya
berterima kasih,” ujar Dave. “Dia punya teman yang hebat sepertimu. Dia pasti
senang.”
“Aku tidak sehebat itu,
Dave,” Riani menggeleng seraya tersenyum. “Dia terlalu hebat jika dibandingkan
denganku. Orang-orang hebat memang harusnya bersama.”
“Dan bukannya orang
baik tidak bisa mendapatkan yang terbaik. Oh sudahlah, stop
membanding-bandingkan siapa dengan siapa. Kita semua sama saja.”
Mereka sama-sama
tertawa.
“Kalau begitu kami
pamit dulu,” ujar Riani. “Salam jika tante atau Adrian kemari.”
“Tentu. Hati-hati di
jalan ya.”
Evan dan Dave
berjabat tangan lalu mengajak Riani dan anaknya. Sebelum pergi Riani menyempatkan
diri untuk berpesan:
“Hei, Dave. Tifa itu
gak suka cowok perokok loh.”
Riani berbalik
meninggalkannya. Itu terakhir kalinya Riani menggoda pria itu. Ia sudah paham
dimana posisinya sekarang. Tak peduli jika Dave adalah cinta pertamanya, tapi
yang mencintainya saat ini dan nanti adalah suami dan anak gadisnya. Tiba-tiba
saja ia mengeratkan rangkulannya seraya berbisik.
“Mas, mau kasih adik
buat Alena, gak?”
Dan Evan tak bisa
lebih senang daripada itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar