Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 198)




Musikal 198

Anjani dan Kemal menanti sebuah mobil bak yang baru saja masuk halaman gedung teater. Tak berapa lama muncul sosok Andani keluar dari mobil itu, disusul kemudian seorang pria yang bertugas jadi supir. Mereka langsung menyapa kedua orang yang menunggu mereka dari tadi.
“Semoga kakakmu gak godain Andani,” ujar Anjani.
Kemal terkekeh. Mereka memang meminta Andani untuk melakukan misi rahasia ini, tapi Andani juga butuh transportasi supaya pelaksanaan menjadi lancar. Entah kenapa saat itu nama Rafi muncul sebagai kandidat tunggal.
“Mungkin kakaknya Kemal bisa membantu?”
Kemal masih ingat ketika semua orang kaget mendengar nama itu muncul. Lebih mengagetkan lagi adalah nama itu muncul dari bibir seorang gadis yang entah bagaimana bisa tahu kontak kakaknya. Orang itu adalah Fi.
“Kayaknya sih nggak, Jane. Aku gak bisa pastiin, tapi kayaknya Bang Rafi lagi ngincar orang lain di klub kita”.
“Siapa?”
Belum sempat Kemal menjawab, Andani dan Rafi sudah lebih dulu muncul di hadapan mereka. Ia terpaksa menunda jawaban itu. Ia sendiri belum yakin dengan spekulasinya sendiri.
“Aku kaget loh kalian minta barang-barang ini,” ujar Andani. “Duuh, aku jadi penasaran deh jadinya seperti apa”.
“Tapi beres kan?” tanya Anjani.
Andani mengacungkan jempol, “Beres. Eh, masa gak ada terima kasih buat kita sih? Aku sama Bang Rafi capek loh keliling-keliling”.
“Buat Bang Rafi sih makasih banget, tapi buat kamu, An, kami masih ada satu tugas lagi,” ujar Anjani.
“Lagi?” dahi Andani terlipat.
“Nanti aja bahas itu,” sahut Rafi. “Barang-barang ini mau ditaruh dimana?”
Tiba-tiba Alexi muncul, disusul Fi, Priyanka, dan Ririn, “Oh, kalian sudah sampai? Sini biar aku bantu bawa barangnya”.
Fi bertukar pandang dengan Rafi. Mau tak mau Fi harus mengucapkan sesuatu pada pemuda itu.
“Terima kasih sudah mau membantu”.
“Tidak masalah. Aku suka kok direpotkan”.
Kemal berdeham keras. Sengaja, agar kakaknya tak terlalu kentara saat menggoda gadis ini.
“Apa ini aman disimpan di backstage?” tanya Kemal.
“Gak apa-apa. Tutup saja dengan kain hitam atau apalah. Kalau ditanya, bilang saja itu bagian properti audio,” sahut Rafi.
“Ngomong-ngomong kardus ini isinya apa sih?” ujar Anjani. “Bagian dari alat itu juga?”
“Kalau gak salah itu kostum, Jane,” sahut Andani.
“Kostum? Buat apa?”
“Buat—” Andani tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan cubitan kecil di bagian perutnya. Ia menoleh dan mendapati Ririn tersenyum penuh makna.
“Kostum penari,” Priyanka langsung merebut kardus itu. “Ini aku yang minta. Soalnya ada satu kostum yang rusak”.
Tanpa banyak bicara, Priyanka langsung membawa kardus itu ke dalam. Andani pun berbisik.
“Memangnya kenapa harus dirahasiakan?”
“Biar kejutan,” jawab Ririn sambil mengedip nakal.
ooOoo
Hari-hari selanjutnya tugas mereka semakin berat. Latihan mereka menjadi dobel. Dari siang hingga malam mereka harus berlatih untuk pementasan lalu di pagi hari mereka harus mempersiapkan rencana rahasia mereka. Latihannya memang tidak sesulit untuk pementasan, tapi bagaimana mereka harus merahasiakan dari para guru itulah hal tersulit. Mereka harus kucing-kucingan untuk berlatih.
“Tapi mereka kelihatannya lebih bersemangat latihan ini daripada untuk pementasan”.
Adrian tersenyum mendengar komentar Ben saat mengawasi teman-temannya berlatih. Kali ini mereka bertugas sebagai bagian keamanan. Mereka harus memberi kode pada teman-temannya jika ada salah satu guru mereka datang.
“Tapi aku tidak menyangka persiapannya begitu cepat. Kolaborasi tarian Wenda dan musik Alexi cocok banget,” sahut Adrian, lalu buru-buru ia menambahkan. “Eeiits, jangan cemburu dulu. Aku cuma bilang soal karya mereka aja”.
“Memangnya aku terlihat secemburu itu?” Ben terkekeh.
Adrian ikut tertawa, “Oh ya, Ririn dan Priyanka mana ya? Rasanya hampir setiap latihan pagi mereka gak ada?”
“Iya juga ya,” mata Ben melihat ke sana ke mari. “Biasanya mereka datang pas mendekati akhir latihan. Eh, Fi juga gak ada kali ini”.
“Hmm, bikin penasaran deh,” tutup Adrian.
ooOoo
“Oke, good! Latihan kita cukup sampai di sini”.
Mereka bertiga berlatih di kelas kosong tempat rahasia Priyanka. Meski ide didasari oleh pemikiran Ririn, tapi untuk semua gerakannya ia tetap meminta Priyanka sebagai pelatih. Latihan mereka selesai, Fi pun berinisiatif untuk mematikan musik. Kemudian memberikan sebotol air mineral untuk Ririn.
Thank’s,” ujar Ririn seraya meneguk habis air itu,
“Mungkin terdengar basa-basi, tapi memang seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu,” sahut Fi. “Boleh aku tanya sama kamu?”
Ririn hanya memasang tampang bertanya.
“Kenapa kamu mau melakukan sejauh ini? Bukannya kamu menolak waktu pertama?”
Ririn menarik napas panjang, “Gak tahu, tapi kalau mau sedikit puitis sih, jawabannya karena aku ingin membuat sesuatu yang berbeda juga”.
“Kita bisa dicincang Miss Tifa kalau sampai gagal,” sahut Priyanka.
“Bukannya kita sama aja dengan teman-temannya yang lain. Mereka juga merencakan sesuatu di luar skenario. Kalau sampai gagal juga, kita semua akan bakalan kena hukum,” Ririn tersenyum. “Tapi di situlah kesenangannya. Menciptakan suatu sensasi akan membuat kita lebih bersemangat. Dan hei, ayolah, ini mungkin akan menjadi pertunjukkan terakhir kita. Jadi, kenapa kita tidak sedikit bersenang-senang?”
“Hmm, jadi intinya, peraturan dibuat untuk dilanggar,” Fi tertawa sinis. “Aku pikir kamu anak yang baik, Rin”.
Ririn mengangkat bahu, “Yuk, kita kembali. Nanti malah ketahuan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar