Musikal
198
Anjani dan Kemal
menanti sebuah mobil bak yang baru saja masuk halaman gedung teater. Tak berapa
lama muncul sosok Andani keluar dari mobil itu, disusul kemudian seorang pria
yang bertugas jadi supir. Mereka langsung menyapa kedua orang yang menunggu
mereka dari tadi.
“Semoga kakakmu gak godain Andani,” ujar Anjani.
Kemal terkekeh. Mereka memang meminta Andani untuk melakukan misi rahasia
ini, tapi Andani juga butuh transportasi supaya pelaksanaan menjadi lancar.
Entah kenapa saat itu nama Rafi muncul sebagai kandidat tunggal.
“Mungkin kakaknya Kemal
bisa membantu?”
Kemal masih ingat ketika semua orang kaget mendengar nama itu muncul.
Lebih mengagetkan lagi adalah nama itu muncul dari bibir seorang gadis yang
entah bagaimana bisa tahu kontak kakaknya. Orang itu adalah Fi.
“Kayaknya sih nggak, Jane. Aku gak bisa pastiin, tapi kayaknya Bang Rafi
lagi ngincar orang lain di klub kita”.
“Siapa?”
Belum sempat Kemal menjawab, Andani dan Rafi sudah lebih dulu muncul di
hadapan mereka. Ia terpaksa menunda jawaban itu. Ia sendiri belum yakin dengan
spekulasinya sendiri.
“Aku kaget loh kalian minta barang-barang ini,” ujar Andani. “Duuh, aku
jadi penasaran deh jadinya seperti apa”.
“Tapi beres kan?” tanya Anjani.
Andani mengacungkan jempol, “Beres. Eh, masa gak ada terima kasih buat
kita sih? Aku sama Bang Rafi capek loh keliling-keliling”.
“Buat Bang Rafi sih makasih banget, tapi buat kamu, An, kami masih ada
satu tugas lagi,” ujar Anjani.
“Lagi?” dahi Andani terlipat.
“Nanti aja bahas itu,” sahut Rafi. “Barang-barang ini mau ditaruh
dimana?”
Tiba-tiba Alexi muncul, disusul Fi, Priyanka, dan Ririn, “Oh, kalian
sudah sampai? Sini biar aku bantu bawa barangnya”.
Fi bertukar pandang dengan Rafi. Mau tak mau Fi harus mengucapkan
sesuatu pada pemuda itu.
“Terima kasih sudah mau membantu”.
“Tidak masalah. Aku suka kok direpotkan”.
Kemal berdeham keras. Sengaja, agar kakaknya tak terlalu kentara saat
menggoda gadis ini.
“Apa ini aman disimpan di backstage?”
tanya Kemal.
“Gak apa-apa. Tutup saja dengan kain hitam atau apalah. Kalau ditanya,
bilang saja itu bagian properti audio,” sahut Rafi.
“Ngomong-ngomong kardus ini isinya apa sih?” ujar Anjani. “Bagian dari
alat itu juga?”
“Kalau gak salah itu kostum, Jane,” sahut Andani.
“Kostum? Buat apa?”
“Buat—” Andani tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia merasakan
cubitan kecil di bagian perutnya. Ia menoleh dan mendapati Ririn tersenyum penuh
makna.
“Kostum penari,” Priyanka langsung merebut kardus itu. “Ini aku yang
minta. Soalnya ada satu kostum yang rusak”.
Tanpa banyak bicara, Priyanka langsung membawa kardus itu ke dalam.
Andani pun berbisik.
“Memangnya kenapa harus dirahasiakan?”
“Biar kejutan,” jawab Ririn sambil mengedip nakal.
ooOoo
Hari-hari selanjutnya
tugas mereka semakin berat. Latihan mereka menjadi dobel. Dari siang hingga
malam mereka harus berlatih untuk pementasan lalu di pagi hari mereka harus
mempersiapkan rencana rahasia mereka. Latihannya memang tidak sesulit untuk
pementasan, tapi bagaimana mereka harus merahasiakan dari para guru itulah hal
tersulit. Mereka harus kucing-kucingan untuk berlatih.
“Tapi mereka kelihatannya lebih bersemangat latihan ini daripada untuk
pementasan”.
Adrian tersenyum mendengar komentar Ben saat mengawasi teman-temannya
berlatih. Kali ini mereka bertugas sebagai bagian keamanan. Mereka harus
memberi kode pada teman-temannya jika ada salah satu guru mereka datang.
“Tapi aku tidak menyangka persiapannya begitu cepat. Kolaborasi tarian
Wenda dan musik Alexi cocok banget,” sahut Adrian, lalu buru-buru ia
menambahkan. “Eeiits, jangan cemburu dulu. Aku cuma bilang soal karya mereka
aja”.
“Memangnya aku terlihat secemburu itu?” Ben terkekeh.
Adrian ikut tertawa, “Oh ya, Ririn dan Priyanka mana ya? Rasanya hampir
setiap latihan pagi mereka gak ada?”
“Iya juga ya,” mata Ben melihat ke sana ke mari. “Biasanya mereka datang
pas mendekati akhir latihan. Eh, Fi juga gak ada kali ini”.
“Hmm, bikin penasaran deh,” tutup Adrian.
ooOoo
“Oke, good! Latihan kita cukup sampai di
sini”.
Mereka bertiga berlatih di kelas kosong tempat rahasia Priyanka. Meski
ide didasari oleh pemikiran Ririn, tapi untuk semua gerakannya ia tetap meminta
Priyanka sebagai pelatih. Latihan mereka selesai, Fi pun berinisiatif untuk
mematikan musik. Kemudian memberikan sebotol air mineral untuk Ririn.
“Thank’s,” ujar Ririn seraya
meneguk habis air itu,
“Mungkin terdengar basa-basi, tapi memang seharusnya aku yang berterima
kasih sama kamu,” sahut Fi. “Boleh aku tanya sama kamu?”
Ririn hanya memasang tampang bertanya.
“Kenapa kamu mau melakukan sejauh ini? Bukannya kamu menolak waktu
pertama?”
Ririn menarik napas panjang, “Gak tahu, tapi kalau mau sedikit puitis
sih, jawabannya karena aku ingin membuat sesuatu yang berbeda juga”.
“Kita bisa dicincang Miss Tifa
kalau sampai gagal,” sahut Priyanka.
“Bukannya kita sama aja dengan teman-temannya yang lain. Mereka juga
merencakan sesuatu di luar skenario. Kalau sampai gagal juga, kita semua akan
bakalan kena hukum,” Ririn tersenyum. “Tapi di situlah kesenangannya.
Menciptakan suatu sensasi akan membuat kita lebih bersemangat. Dan hei, ayolah,
ini mungkin akan menjadi pertunjukkan terakhir kita. Jadi, kenapa kita tidak
sedikit bersenang-senang?”
“Hmm, jadi intinya, peraturan dibuat untuk dilanggar,” Fi tertawa sinis.
“Aku pikir kamu anak yang baik, Rin”.
Ririn mengangkat bahu, “Yuk, kita kembali. Nanti malah ketahuan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar