Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 193)




Musikal 193

Bunyi klakson mengejutkan Ririn. Baru saja ia menutup pagar, sosok Adrian dari balik kaca mobil muncul. Tidak seperti hati-hati sebelumnya, wajah Adrian terlihat cerah saat menyapanya.
“Pagi!”
“Pagi, juga,” balas Ririn. “Apa aku diizinkan menumpang?”
“Tentu, tapi maaf karena aku tidak bisa membukakan pintu.”
Ririn tersenyum. Ia bukan seorang putri, jadi ia masuk dengan dengan mandiri. Aroma mint menguar saat membuka pintu.
“Kamu tampak senang. Apa ini karena tantemu?”
“Benarkah? Ya, tapi semua kecemasanku memang hilang setelah ia sadar.”
“Syukurlah, itu memang kabar gembira untuk semua orang.”
Adrian mengangguk. Ia menyetir dengan wajah berseri-seri.
“Satu masalah sudah selesai. Apa kamu gak mau menyelesaikan masalah yang lain?” Ririn mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan. “Fi, maksudku.”
“Harus sekarang, ya?”
“Terserah sih, tapi lebih cepat lebih baik”.
“Aku gak tahu, Rin,” Adrian memutar stirnya ke kiri. “Apa gak bisa, ya kalau aku biarkan saja? Aku sudah gak mau lagi berurusan dengan dia.”
“Itu gak gentle dan artinya kamu belum move on. Bukannya kamu mau move on dari dia? Inilah saatnya”.
“Susah, Rin. Kamu gak tahu rasanya sih”.
“Tahu kok. Aku kan pernah nembak seseorang walau aku tahu aku pasti ditolak. Patah hati itu sakit, tapi dari luka kita akan belajar menyembuhkan. Selalu ada ketakutan untuk memulai, tapi pasti akan lega kalau sudah selesai.”
“Wah, kok aku ngerasa jahat sama kamu, ya?”
Ririn terkekeh, “Cerita lama dan aku juga sudah move on. Aku cuma mau kasih inspirasi ke kamu.”
Thank you,” Adrian menarik rem tangan. Mereka sudah sampai di pelataran parkir SMA Chandra Kirana.
“Akan kupikirkan,” tutupnya.
Ririn mengangguk sambil tersenyum. Saat hendak melepas sabuk pengaman, tiba-tiba tangan Adrian menahannya.
“Nanti setelah aku ketemu Fi, pastikan kamu ada di sana. Aku yakin kalau aku tidak bisa menghadapinya setelah itu.”
“Tentu, kamu bisa mengandalkanku.”
Adrian membanting kepalanya pada sandaran jok seraya mendesah pendek, “Ah, rasanya menyesal menolakmu waktu itu.”
Tawa Ririn pecah, “Nah, baru tahu kan rasanya karma. Ya sudah, aku turun duluan. Terima kasih atas tumpangannya”.
Kali ini Adrian tak menahannya lagi. Namun, kata-katanya barusan bukanlah semacam lelucon. Jujur saja, Adrian sangat menyukai momen bersama Ririn. Terlebih ketika ia berada dalam masalah besar kemarin. Sayang, waktu tak bisa diputar. Andai Ririn baru menyatakan cintanya sekarang, mungkin Adrian tidak dua kali untuk memikirkan jawabannya.
Angan itu benar-benar sirna ketika melihat gadis itu bertegur sapa dengan seorang pemuda berkacamata. Mereka tampak akrab dan Ririn selalu tersenyum bila bersama pemuda itu. Adrian hanya menggeleng pelan seraya tersenyum kecut.
“Ya, sudah terlambat”.
ooOoo
Ririn berpapasan dengan Alexi yang baru saja memarkir sepedanya. Saling bertukar senyum dan tanpa komando mereka berjalan beriringan.
“Aku lihat kamu turun dari mobil Adrian”.
“Ah, iya. Kebetulan kami bertemu dan dia mengajakku”.
Alexi hanya mengangguk. Entah kenapa Ririn merasa sedikit bersalah.
“Senang mendengar Miss Tifa sudah sadar. Setidaknya kita tahu bagaimana kelanjutan pementasan ini,” Ririn mencoba mengalihkan topik.
“Ya, kita pasti akan menyelesaikan pementasan ini,” ujar Alexi sambil menarik napas dalam-dalam. “Dan setelah itu aku harus menepati janjiku padamu”.
“Janji apa?” Ririn terlihat bingung.
“Ada yang harus aku bicarakan denganmu, tapi nanti saja setelah pementasan”.
“Kenapa tidak sekarang saja?” protes Ririn, “Kenapa harus begitu lama?”
“Karena bisa menganggu kosentrasi berlatihmu. Pokoknya nanti saja. Sudah, ya.”
Alexi menepuk lembut pucuk kepala Ririn kemudian mendahuluinya. Ririn mendadak terpaku. Ia seperti terhipnotis dengan perlakuan manis Alexi.
‘Apa-apaan tadi….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar