Musikal 188
Tifa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Arlojinya
bahkan belum menunjukkan pukul delapan, tapi Dave sudah stand by di dekat area pemakaman. Pemuda itu melepas kacamata
seraya menjinjing dua buket yang indah.
“Kenapa? Toh, aku juga boleh menyapa mereka’kan?”
“Tentu saja, tapi aku
cuma ngerasa kalau kamu punya maksud lain.”
“Ya, aku juga. Aku
ngerasa makan siangku akan berbeda rasanya. Makanya aku mau cepat-cepat ketemu
kamu.”
Tifa tak menyahut lagi.
Ia mengajak Dave masuk. Pemuda itu meletakkan buket masing-masing pada makam
ayah dan kakak Tifa. Saat di depan makam Laksmi, Dave memberikan Tifa privasi.
Ia memilih menunggu di dekat mobil sambil menghisap sigaret.
“Hai, Kak. Sudah lama
ya?” sapaan pertama Tifa diiringi desahan panjang. “Maaf, aku tak membawa
Adrian dan Ibu. Harusnya kamu lihat bagaimana aku merawat Adrian. Aku berbakat
juga loh. Anakmu sekarang sudah menjadi pemuda tampan. Syukurlah, dia lebih
mirip denganmu. Sekarang dia sedang mendalami ilmu akting di Jakarta. Padahal
kalau mau dia bisa berlatih di Amerika.”
Tifa kembali mendesah
panjang. Matanya mengarah pada Dave yang sedang menikmati rokoknya.
“Aku masih hampa
tanpamu, Kak. Bahkan aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri. Haruskah aku
menghilang lagi?”
Jemari Tifa meremas
nisan hitam Laksmi, “Kak, aku merindukanmu.”
Perlahan Tifa menyeret
langkahnya meninggalkan pemakaman. Ia menyambut Dave dengan senyuman. Ia
langsung berputar menuju pintu penumpang, tapi Dave menahan pintu dari belakang
tubuhnya.
“Kamu harusnya sudah
tahu apa yang akan aku bicarakan, bukan?”
Napas Dave begitu dekat.
Bisikannya seakan menggelitik tekuk Tifa.
“Ya, tapi bukankah aku
menjanjikan makan siang?”
“Aku bukan orang yang
sabar, Tif. Tolong jangan mengulur-ulur waktu.”
Tifa berbalik dan ia
tetap dalam posisi terdesak. Dave menguncinya di tengah-tengah tangan. Tifa
harus memicingkan matanya beberapa saat agar mendapatkan kekuatan untuk
bertahan dari serangan sepasang iris indah itu.
“Kupikir kita memang
harus mengakhirinya. Tak ada jalan bagi kita untuk kembali.”
“Kamu sudah menikah?”
“Tidak, tapi—“
“Kamu sudah
bertunangan?”
“Eh, aku—“
“Kalau begitu apanya
yang tidak ada jalan? Meskipun ada pria lain di hatimu, aku tak peduli. Aku
hanya ingin menyelesaikan apa dulu terhenti.”
“Justru itu, Dave. Aku
ingin benar-benar menghentikannya. Antara kamu dan aku sudah berakhir. sudah
Sangat lama. Aku bahkan tidak tahu sejauh mana kamu berubah.”
“Aku tidak pernah
berubah, bahkan hatiku pun begitu.”
“Tapi aku berubah,
Dave,” tandas Tifa. “Begitu banyak kejadian yang sudah aku lalui. Sekarang aku
harus menyelesaikan urusanku yang sekarang. Urusan kita hanya masa lalu dan
memang sudah berakhir dari dulu.”
“Apa ini memang
keputusanmu atau ada pihak yang menekanmu?”
Kata-kata Dave terdengar
pelan, tapi mengiris cukup dalam. Tifa terpaksa memalingkan muka karena mata
Dave mencoba mencari-cari dusta pada ekspresi wanita itu.
“Ini keputusanku. Tak
ada yang meminta atau memaksa.”
Tifa mengakhirinya
dengan nada tegas. Terdengar sangat meyakinkan hingga Dave sendiri terpegaruh.
Ia melepaskan Tifa dari himpitan tangannya.
“Kalau begitu makan
siang dibatalkan. Kita berpisah di sini saja.”
Tifa mendesah panjang.
Lega juga akhirnya Dave melepaskan cengkramannya.
“Tak apa, terima kasih
sudah mau mengerti. Kalau begitu sampai jumpa. Jaga dirimu baik-baik.”
Tifa melangkah pergi.
Namun, Dave meneriakkan sesuatu yang memubuat langkahnya terhenti seketika.
“Tapi aku hanya
menginginkanmu. Aku akan berhenti jika kamu memang benar-benar sudah menikah.”
Tidak. Tidak. Tifa tidak
boleh berbalik. Jika ia berbalik maka Dave akan tahu kalau air matanya sedang
menyusuri lekuk wajahnya dan jika Dave tahu maka saat itu juga Dave akan
menarik dalam pelukannya. Makanya Tifa menegakkan bahunya dan melangkah tegar.
Ia tak boleh berbalik.
Karena ia sudah
berjanji…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar