Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 188)




Musikal 188

Tifa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Arlojinya bahkan belum menunjukkan pukul delapan, tapi Dave sudah stand by di dekat area pemakaman. Pemuda itu melepas kacamata seraya menjinjing dua buket yang indah.
“Kenapa? Toh, aku juga boleh menyapa mereka’kan?”
“Tentu saja, tapi aku cuma ngerasa kalau kamu punya maksud lain.”
“Ya, aku juga. Aku ngerasa makan siangku akan berbeda rasanya. Makanya aku mau cepat-cepat ketemu kamu.”
Tifa tak menyahut lagi. Ia mengajak Dave masuk. Pemuda itu meletakkan buket masing-masing pada makam ayah dan kakak Tifa. Saat di depan makam Laksmi, Dave memberikan Tifa privasi. Ia memilih menunggu di dekat mobil sambil menghisap sigaret.
“Hai, Kak. Sudah lama ya?” sapaan pertama Tifa diiringi desahan panjang. “Maaf, aku tak membawa Adrian dan Ibu. Harusnya kamu lihat bagaimana aku merawat Adrian. Aku berbakat juga loh. Anakmu sekarang sudah menjadi pemuda tampan. Syukurlah, dia lebih mirip denganmu. Sekarang dia sedang mendalami ilmu akting di Jakarta. Padahal kalau mau dia bisa berlatih di Amerika.”
Tifa kembali mendesah panjang. Matanya mengarah pada Dave yang sedang menikmati rokoknya.
“Aku masih hampa tanpamu, Kak. Bahkan aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri. Haruskah aku menghilang lagi?”
Jemari Tifa meremas nisan hitam Laksmi, “Kak, aku merindukanmu.”
Perlahan Tifa menyeret langkahnya meninggalkan pemakaman. Ia menyambut Dave dengan senyuman. Ia langsung berputar menuju pintu penumpang, tapi Dave menahan pintu dari belakang tubuhnya.
“Kamu harusnya sudah tahu apa yang akan aku bicarakan, bukan?”
Napas Dave begitu dekat. Bisikannya seakan menggelitik tekuk Tifa.
“Ya, tapi bukankah aku menjanjikan makan siang?”
“Aku bukan orang yang sabar, Tif. Tolong jangan mengulur-ulur waktu.”
Tifa berbalik dan ia tetap dalam posisi terdesak. Dave menguncinya di tengah-tengah tangan. Tifa harus memicingkan matanya beberapa saat agar mendapatkan kekuatan untuk bertahan dari serangan sepasang iris indah itu.
“Kupikir kita memang harus mengakhirinya. Tak ada jalan bagi kita untuk kembali.”
“Kamu sudah menikah?”
“Tidak, tapi—“
“Kamu sudah bertunangan?”
“Eh, aku—“
“Kalau begitu apanya yang tidak ada jalan? Meskipun ada pria lain di hatimu, aku tak peduli. Aku hanya ingin menyelesaikan apa dulu terhenti.”
“Justru itu, Dave. Aku ingin benar-benar menghentikannya. Antara kamu dan aku sudah berakhir. sudah Sangat lama. Aku bahkan tidak tahu sejauh mana kamu berubah.”
“Aku tidak pernah berubah, bahkan hatiku pun begitu.”
“Tapi aku berubah, Dave,” tandas Tifa. “Begitu banyak kejadian yang sudah aku lalui. Sekarang aku harus menyelesaikan urusanku yang sekarang. Urusan kita hanya masa lalu dan memang sudah berakhir dari dulu.”
“Apa ini memang keputusanmu atau ada pihak yang menekanmu?”
Kata-kata Dave terdengar pelan, tapi mengiris cukup dalam. Tifa terpaksa memalingkan muka karena mata Dave mencoba mencari-cari dusta pada ekspresi wanita itu.
“Ini keputusanku. Tak ada yang meminta atau memaksa.”
Tifa mengakhirinya dengan nada tegas. Terdengar sangat meyakinkan hingga Dave sendiri terpegaruh. Ia melepaskan Tifa dari himpitan tangannya.
“Kalau begitu makan siang dibatalkan. Kita berpisah di sini saja.”
Tifa mendesah panjang. Lega juga akhirnya Dave melepaskan cengkramannya.
“Tak apa, terima kasih sudah mau mengerti. Kalau begitu sampai jumpa. Jaga dirimu baik-baik.”
Tifa melangkah pergi. Namun, Dave meneriakkan sesuatu yang memubuat langkahnya terhenti seketika.
“Tapi aku hanya menginginkanmu. Aku akan berhenti jika kamu memang benar-benar sudah menikah.”
Tidak. Tidak. Tifa tidak boleh berbalik. Jika ia berbalik maka Dave akan tahu kalau air matanya sedang menyusuri lekuk wajahnya dan jika Dave tahu maka saat itu juga Dave akan menarik dalam pelukannya. Makanya Tifa menegakkan bahunya dan melangkah tegar. Ia tak boleh berbalik.
Karena ia sudah berjanji…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar