Musikal
183
Ketukan sepatu itu menggema 100 meter dari sana.
Semua anggota sudah dikumpulkan. Wajah acuh tak acuh mendominasi suasana
sore itu. Membuat keberanian Adrian langsung menguap hilang. Ia sedikit
bersyukur karena Ben-lah yang membuka acara pada sore itu.
“Baiklah, teman-teman. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk berkumpul
sore hari ini. Aku akan langsung pada intinya saja,” Ben melirik Adrian dan
beberapa teman di sampingnya. “Aku ingin mendengar pendapat kalian mengenaik
kelanjutan pementasan ini.”
“Bukannya sudah jelas, pementasan ini akan dibatalkan.”
Sahutan anak kelas XI langsung disambut dengan komentar-komentar yang
serupa. Keributan mulai terjadi. Meskipun Ben berusaha menenangkan, tetapi
kata-kata yang tidak mengenakkan masih terdengar.
“Baiklah, semuanya,” tiba-tiba Adrian membuka suara dan keributan
berangsur mereda. “Selaku asisten sutradara di sini, aku menyatakan kalau aku
yang akan mengambilalih pementasan ini. Segala bentuk pertanggungjawaban akan
berurusan langsung denganku.”
“Memangnya ada apa dengan tantemu itu?”
“Apa benar dia sakit?”
“Ya, benar. Kanker perut stadium dua,” ujar Adrian ringan. “Dan sekarang
ia terbaring koma.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Apa menurutmu kamu bisa menggantikan posisi Miss Tifa?”
“Kalian meragukanku?”
“Lho, bukannya kamu sendiri juga pernah buat skandal. Bahkan kami semua
terkejut mengenai hubunganmu dengan Fi yang entah benar entah tidak itu.”
Ketukan sepatu itu
menggema 50 meter dari sana.
Adrian tak ingat siapa nama anggota yang bermulut besar itu. Namun,
Adrian tahu ia pasti serangan itu akan keluar dari siapa saja. Hanya saja ia
tak tahu kalau hantamannya sesakit ini.
“Hei, bisakah kita kesampingkan hal itu?” sahut Ben. “Ini di luar
konteks pembicaraan.”
“Bagaimana mungkin kami mengabaikan peristiwa itu?” sahut yang lainnya.
“Rasanya kejadian itu adalah awal mula dari semua petaka di pementasan ini.”
Priyanka melirik Fi. Gadis itu terlihat kesal sekaligus malu. Namun, Fi
sama sekali tak menundukkan kepalanya.
“Itu bagian dari strategi marketing,” sahut Fi. “Apa kau mengerti hal
itu?”
Sontak Adrian beserta Ririn menoleh pada Fi. Cepat sekali gadis itu
membalikkan kata-kata.
“Tapi kenapa kami tidak diberitahu?”
“Untuk apa? Jika salah satu dari kalian mengklarifikasi kejadian itu,
maka gosip-gosip akan mereda dan apa yang sudah kami rencanakan pasti gagal.”
Padahal Adrian berencana untuk memberikan jawaban yang lebih mendekati
pada kebenaran. Ia tidak mau membohongi teman-temannya lagi. Namun, Fi sudah
terlanjur menutupi dengan kebohongan lagi. Ia hanya bisa menunggu reaksi
teman-temannya.
“Lalu kenapa kabar sakitnya Miss
Tifa baru kami ketahui lewat media bukan dari
guru atau kamu, Adrian?”
“Itu karena kami tidak mengira kalau penyakitnya bertambah parah. Dia
memang sengaja menutupinya karena dia tak
mau fokus latihan kalian terganggu.”
Beberapa meter lagi.
“Teman-teman, bukannya ini hanya kesalahpahaman saja. Makanya kita tidak
perlu ada yang membubarkan diri,” bujuk Ben.
“Benar,” Kemal berusaha menguatkan pendapat Ben. “Kita sudah berusaha
sejauh ini. Bukankah semuanya akan menjadi sia-sia kalau kita berhenti
sekarang.”
Sepuluh langkah lagi.
“Tetap tidak bisa! Kami ingin keluar!”
“Benar, pementasan ini sudah cacat. Kami tidak mau ada di sini lagi!”
Dan ketukan sepatu itu
terhenti.
“Tidak ada yang berhenti kataku! Ini perintah langsung dari kepala
sekolah!”
Suasana senyap. Hana melangkah masuk. Ketukan sepatunya semakin nyaring
terdengar.
“Pementasan ini memang seolah-olah Tifa yang memegang kendali, tapi
semua ini tidak akan terjadi jika tidak ada persetujuan dari yayasan.
Pementasan ini dibuat sebagai ajang promosi siswa baru. Oleh karena itu, jika
terjadi sesuatu yang menimpa sutradara kalian, maka posisinya akan digantikan
oleh pimpinan yang berwenang.”
Hana memperhatikan wajah-wajah anak didiknya. Semua terlihat bingung,
termasuk Adrian.
“Saya sudah mendengar keluhan kalian tadi. Kalian menginginkan seorang
pemimpin yang terlatih, tanpa skandal, juga pernah menjadi bagian dari
pementasan ini. Jika digabungkan dengan permintaan dari yayasan maka saya
adalah orang yang paling tepat untuk menggantikan posisi Tifa saat ini.”
Suasana membeku. Senyum Hana mengembang.
“Ada yang keberatan?”
Sepuluh detik berlalu dan tidak seorang pun yang mengacungkan tangannya.
Hana menepuk tangannya dan hampir separuh siswanya terkesiap.
“Baiklah, tidak ada menyela berarti kalian semua setuju,” Hana melipat
tangannya di depan dada. “Sebagai langkah awal, saya akan membuat dua peraturan
baru. Pertama, tidak ada satu pun anggota di sini yang boleh keluar.”
Anak-anak kelas XI yang tadinya berkoar-koar ingin keluar mendadak bisu.
Tentu saja, mana ada yang berani melawan kepala sekolah.
“Dan peraturan kedua, kalian harus mematuhi peraturan yang dibuat
sebelumnya. Itu artinya, latihan seperti biasa dimulai besok. Di bawah
pengawasan saya, tentunya”
Hana melirik Adrian. Pemuda itu memandangnya tak percaya. Hana langsung
memalingkan wajah agar senyum kepuasannya tak terbaca.
“Oke, sekarang kalian pulanglah. Istirahat yang cukup karena besok
latihan berat mulai menanti. Ingat, saya bukan orang yang sabar. Sampai jumpa
besok!”
Langkah anggun Hana perlahan meninggalkan ruangan. Bisik-bisik
kekecewaan mulai terdengar, tetapi hal itu tidak akan mengubah keputusan. Hana
sudah memegang tampuk sebagai sutradara. Ini akan lebih menyeramkan daripada
menghabiskan malam di panggung bersama Tifa. Salah-salah, bisa dilaporkan pada
orang tua. Di sisi lain, pihak yang merasa pro hanya bisa menahan kegembiraan.
Mereka hanya bertukar senyum kelegaan.
Dan Adrian langsung menyusul Hana sebelum wanita itu pergi terlalu jauh.
ooOoo
“Bu Hana, tunggu!”
Hana sengaja melambatkan jalannya karena ia tahu Adrian pasti akan
menyusul. Ia segera berbalik begitu si pemuda memanggil namanya.
“Biasanya kamu memanggilku tante.”
“Ah ya, maaf. Aku suka bingung kalau memanggil teman-teman tante di
sini,” Adrian menarik napas panjang. “Aku… aku tidak menyangka Anda akan
berbuat sejauh ini. Aku dan Tante benar-benar berhutang budi pada Anda.”
“Ya, sudah seharusnya,” Hana terkekeh sinis. “Tapi yah, rasanya ini
seperti déjà vu.”
“Déjà vu?”
“Tidak apa, hanya rahasia antara tantemu dan aku,” Hana tertawa kecil.
“Ngomong-ngomong bagaimana kabar tantemu?”
“Yah, aku juga tidak bisa memastikan.”
Hana mengangguk pelan, “Aku mengerti. Oh ya, aku berencana menjenguk
tantemu sore ini, tapi aku tidak bawa mobil—“
“Aku akan mengantar Tante,” potong Adrian.
Senyum sinis Hana kembali mengembang, “Ya, memang sudah seharusnya.”
ooOoo
Hana pernah bermimpi
tentang masa-masa sekolahnya dulu. Seperti sedang menonton film lama dan entah
kenapa mimpi itu justru menjadi paranoid untuknya. Mimpi itu ia dapatkan ketika
Tifa baru-baru masuk rumah sakit. Saat itu ia langsung melesat ke rumah sakit,
tapi ternyata gadis itu malah sedang diperlakukan manja oleh keponakan dan
(mantan) kekasihnya.
Ia memang merasa kesal karena ia merasa telah menyia-nyiakan rasa
khawatirnya. Namun, ia juga merasa lega setelah tahu ketakutannya itu tidak
terbukti. Sayangnya, tidak lama setelah itu Tifa benar-benar tidak sadarkan
diri. Bagai mimpi buruk di siang bolong. Hana benar-benar ketakutan.
Akan tetapi, takut kehilangan hanya membuang waktu saja. Tak ada yang
bisa menolong Tifa, tapi ada hal yang harus ia lakukan. Dalam kebingungannya,
Hana menemukan hal yang bisa ia lakukan, yaitu menyelamatkan pementasan ini.
Sama seperti dulu.
Adrian mengantarkan Hana sampai ke kamar. Hana bertemu dengan ibu Tifa.
Wanita memeluk Hana dengan erat. Sepertinya ia sudah kehilangan harapan atas
anaknya sendiri. Ia juga mengucapkan terima kasih. Seperti ia tahu semua apa
yang telah Hana lakukan.
Hana menghampiri sahabatnya yang kini terbaring dengan selang-selang
yang membalut tubuhnya. Ia menggenggam lembut tangan Tifa lalu berbisik.
“Kita mengulang sejarah, bukan? Kamu tenang saja, semua akan berjalan
lancar sama seperti dulu. Tapi bangunlah, karena kamu di sini bukan untuk
mengulang sejarah. Kamu harus mencetak ulang sejarah.”
Hanya bunyi elektrokardiograf yang seolah merespon kata-kata Hana.
Namun, ia tak berputus asa. Ia tetap memberikan senyuman perpisahan.
Ia berpapasan dengan Dave setelah berpamitan. Pria itu terlihat canggung
di depan Hana. Mungkin pria itu sudah mendengar kabar tentang pemindahan posisi
sutradara. Entah dari Adrian atau yang lainnya.
“Tak ada gunanya kamu terus-terusan berada di sisi wanita itu. Lakukan
sesuatu supaya wanita itu tahu kalau kamu pria yang bisa diandalkan.”
“A—aku syok. A—aku… ah, sudahlah,” Dave mendesah pendek. “Aku tidak tahu
bagaimana berterima kasih padamu, Hana.”
“Latihan besok pukul tiga dan jangan terlambat!” Hana tersenyum sinis.
“Kamu tahu’kan bagaimana kalau aku yang menjadi sutradara.”
Dave terkekeh, “Akan kupastikan kali ini Tifa membayar lunas semua
hutangnya.”
“Ya, memang itu sudah seharusnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar