Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 205)




Musikal 205

Meski Andani iri padanya, tetap saja ini bukan liburan yang Ririn inginkan. Seharusnya di penghujung Desember ini,  ia menikmati liburannya di Surabaya bersama keluarganya. Sayang, sang adik harus mengikuti perkemahan pramuka dan ayahnya mendapat dinas dadakan. Padahal ayahnya sudah berjanji jika ia berhasil mendapat juara satu maka liburan akan menanti.Ia sudah melakukan, tetapi janji tinggalah janji.
Namun, sebagi ayah yang bertanggung jawab, Armandi membawa putrinya untuk ikut bersama meliput berita. Bukan berita kriminal, hanya meliput sebuah konser musik. Di sinilah letak kecemburuan Andani. Armandi mengajak putrinya bukan konser musik pop, melainkan konser orkestra dari luar negeri. Bintang dari orkestra itu adalah bocah laki-laki berkebangsaan Korea Selatan. Bocah itu seumuran Ririn dan juga merupakan anak dari composer orkestra itu. Hal yang membuatnya istimewa adalah kepiawaiannya bermain piano. Selain itu, wajahnya juga mirip dengan boyband dari negeri ginseng. Tak heran, jika Andani dan banyak wanita di luar sana yang mau menjadi fansnya.
Ririn tak banyak bicara dari pesawatnya take off  hingga mendarat. Ia lebih suka terpaut pada novel yang baru ia beli di bandara Palembang. Bahkan ketika ayahnya meminta menunggu, perhatiannya tak terusik sedikit pun.
“Ayo, Rin. Mobil kantor sudah datang”.
Ririn menyimpan novel dalam ranselnya. Saat mereka akan menaiki mobil, serombongan orang melintas di dekat mereka. Di antara rombongan itu, ada anak laki-laki, yang diperkirakan seusianya, bertopi baret dan tampak dalam pengawasan penuh ayahnya. Entah  kenapa RIrin merasa kalau anak itu agak sedikit tertekan.
“Kamu lihat rombongan itu? Merekalah yang akan Ayah liput besok”.
Ririn mengangguk. ‘Jadi anak itu….’
“Alexi Kim dan ayahnya, Kim Woo Seok. Pasangan ayah dan anak yang hebat”.
“Hmm, iya sih,” Ririn tak terlalu acuh menanggapi.
“Tapi punya seorang anak yang selalu jadi juara di kelas juga membanggakan kok”.
Ririn tersenyum sinis, “Ya, aku juga tahu”.
ooOoo
Gaun merah salem menjadi pilihan Ririn untuk menonton konser. Dalam undangan tertulis pakaian formal dan setelah mengubek-ubek mall sehari sebelum berangkat, pilihannya jatuh pada gaun model A-line  selutut.
Konser berlangsung cukup megah. Rasanya tidak terlalu rugi juga menikati pengalaman baru seperti ini. paling tidak ia bisa memamerkan pada Andani. Riirn sepakat jika bocah pianis itu memang berbakat. Terbukti, meski di sekelilingnya pemusik profesional, auranya justru  yang paling memancar. Ririn bahkan lupa berkedip saat menatap permainannya.
Penampilan berikutnya diselingi jeda 15 menit. Hal ini diperuntukkan bagi para pemusik supaya dapat beristirahat. Di waktu istirahat, Ririn mengambil kesempatan untuk ke toilet. Setelah menyelesaikan antrean yang cukup panjang, Ririn kembali berpapasan dengan bocah pianis itu. Mereka hanya beberapa detik untuk saling pandang sebelum mereka akhirnya saling berlalu.
“Hei, emm…” entah kenapa Ririn hendak menyapa bocah itu. “it was a great.”
Bocah itu hanya menatap Ririn yang salah tingkah karena kelancangannya. Kebiasaan Ririn menggaruk hidung ketika gugup mendadak kumat. Tak ada respon dan ia pun berlalu. Ririn pun bernapas lega.
“Astaga, aku ini apa-apaan sih?”
ooOoo
Kembali lagi ke dalam ruangan. Kali ini pertunjukkan terasa lebih singkat sebab lagu yang dibawakan juga bertempo cepat. Jemari si bocah pianis itu tampak seperti ditiup angin karena begitu lincah menari di atas tuts. Hingga akhir permainan ia bermain dengan konsisten. Tak heran jika semua penonton memberikan standing applause yang berasal dari hati.
“Rin, Ayah harus menunggu di ruang pers conference. Kamu bisa tunggu di lobi? Agak membosankan sih, soalnya Ayah gak tahu kapan mereka selesai istirahat”.
“Gak apa-apa, Pa. aku bawa novel kok”.
Sepeninggal ayahnya, Ririn tak lantas menuju lobi. Ia memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi gedung tersebut. Lumayan juga mendapat pemandangan baru. Setidaknya ia bisa mendeskripsikan dalam tulisan jika ada tugas mengarang nanti. Ia bahkan menelusuri hingga ke belakang gedung yang sedang direnovasi.
Untuk kesekian kali, Ririn kembali dipertemukan dengan si bocah pianis. Kaliini anak itu justru sedang melakukan suatu kegiatan ang membuat heran. Ia sedang menghanguskan berlembar-lembar buku dengan sebuh korek api gas. Tatapannya terlihat kesal. Akan tetapi, begitu salah satu buku itu mulai menjadi abu, wajahnya berubah senang.
“Hei, what are you doing?”
“Bukan urusanmu, pergilah!”.
Ririn cukup kaget kala mengetahui anak itu bisa berbahasa Indonesia. Namun, ia lebih kaget lagi saat melihat kover buku itu bertuliskan nama-nama musisi yang terkenal seperti Mozart, Chopin, Beethoven, dan lain-lain. Lembaran kertas itu juga tak bertuliskan huruf melainkan deretan not balok.
“Eh, bukannya itu….”
“Partitur. Ini namanya partitur”.
“Oh, oke. Aku memang tidak mengerti apa itu partitur, tapi bukannya itu seharusnya kamu pakai di konser?”
“Aku punya banyak. Lagipula aku sudah hapal,” tawanya terdenger sarkastis. “Lebih tepatnya sudah bosan”.
Ririn menatap abu yang bertebaran seiring dengan kepulan asap. Entah mengapa ia merasa sedikit kesal.
“Aku gak ngerti seberapa berharganya partitur itu bagi kamu, tapi seberapa pun bosannya kamu dengan benda itu aku tetap aja gak setuju kamu bakar-bakar seperti ini. Harusnya kamu tahu bertapa susahnya orang-orang yang menjadikan buku itu ada. Butuh pemikiran berhari-hari bahkan seumur hidup. Kamu mestinya bisa sedikit menghargai hasil jerih payah orang lain!”.
“Menghargai, huh!” sahutnya sinis. “Gara-gara mereka semua jerih payahku tak dihargai. Kupikir dengan begini semuanya impas”.
Ririn menatap kecewa pada laki-laki itu.
 “Dia sudah berjanji akan bersamaku jika aku memenangkan perlombaan terakhir, tapi ternyata dia sangat egois. Aku hanya kalah satu peringkat dan dia langsung pergi ke Paris. Baru aku tahu kalau kekalahanku disengaja ayah supaya aku tidak bisa bersama dia. Sejak awal, Ayah memang sudah merencanakan ini semua”.
“Di—dia?” Ririn tak mengerti kenapa laki-laki ini justru curhat mendadak.
“Perempuan yang aku sukai,” lelaki itu mendesah pendek. “Sudahlah, kamu tidak tahu rasanya”.
“Ya, aku memang tidak tahu, tapi aku mengerti rasanya tidak dihargai,” sahut Ririn. “Bisa dibilang aku ada di sini karena aku sedang tidak dihargai. Aku sudah berusaha keras supaya dapat peringkat satu di kelas karena orang tuaku berjanji untuk liburan ke Surabaya. Nyatanya, ayahku harus meliput konsermu dan adikku ikut kemah. Maka berakhirlah aku di sini. Yaah, tapi tidak buruk juga karena aku bisa melihat konsermu dan itu pengalaman baru untukku”
Pemuda itu mulai tertarik dengan cerita Ririn. Lembaran-lembaran partitur yang belum terbakar pun terlupakan.
“Kupikir aku harus berterima kasih padamu karena sudah menyajikan pertunjukkan indah dan menakjubkan. Ya, di satu sisi kita sama, kan?” Ririn menunjuk tumpukan partitur yang masih utuh. “Kamu juga seharusnya berterima kasih pada mereka karena tanpa mereka kamu juga gak bakal ada di puncak seperti sekarang”.
“Oh, sekarang kamu mencoba menasihatiku?”
“Nggak, aku Cuma beropini. Opini dari seorang pecinta buku”.
“Hmm, menarik juga kamu,” komentar pemuda itu.
Keduanya kehabisan bahan debat. Hembusan angin mengisi kebisuan di antara mereka.
“Aku pernah baca sebuah buku dan menemukan kutipan yang menarik,” Ririn akhirnya memecah kesunyian. “Dalam satu kali kehidupann, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, juga tangis sedih atau bahagia. Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
“Kutipan yang bagus,” Alexi mengela rambutnya yang melayang mengikuti arah angin kemudian menatap Ririn. “Buku apa?”
Ririn tersentak karena sepasang pupil indah itu menatapnya lembut. Tanpa sadar ia menggaruk-garuk ujung hidungnya karena salah tingkah.
“Eh, itu buku—”
“Awas!”
Teriakan seseorang dari atas membangkitkan semua saraf refleks Ririn. Ada patahan rangka beton melayang di atas mereka. Dalam hitungan detik besi itu akan jatuh menimpa si bocah pianis. Tanpa menunggu detik berikutnya, Ririn berlari dan mendorong lelaki itu hingga terjatuh. Beruntung, si pianis terjatuh di tempat yang cukup jauh dari sasaran rangka beton itu. Naas bagi Ririn. Belum sempat ia menyelamatkan diri, potongan itu mengenai kepalanya. Tak ayal gadis itu ambruk dan tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari balik poni ikalnya.
Pemuda itu masih syok. Ia hanya bisa diam menyaksikan insiden itu. Hingga beberapa orang datang dan berteriak hingga tempat itu orang-orang berkerumun. Pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi ketika mobil ambulans tiba.
ooOoo
Kedua orang tua Ririn bisa bernapas lega ketika Ririn siuman setelah dua hari tak sadarkan diri. Meskipun begitu, putri sulung mereka menunjukkan gejala yang aneh. Dia memang masih ingat siapa dirinya, orang tua, saudara, teman-teman, serta cerita dan pelajaran di sekolah, tapi ia tidak ingat kejadian satu minggu terakhir. Jangankan mengenai insiden itu, ia bahkan lupa kalau ia peringkat satu di kelas.
Dokter mengatakan kalau Ririn mengalami amnesia parsial. Ia bisa ingat kembali jika dilakukan terapi memori. Melihat kondisi anaknya yang masih lemah, kedua orang tuanya  memilih untuk menunda terapi itu. Toh, tak ada hal penting selama satu minggu terakhir. Selagi ia ingat dengan keluarga, teman, dan sekolah, semua itu tak akan jadi masalah.
Masalah itu justru menimpa Alexi. Permua ini sudah tak beranjak dari rumah sakit sejak insiden itu terjadi, tetapi keberadaannya justru dilupakan banyak orang. Meski keluarga Ririn tak menuntutnya, menjadi orang tak dianggap justru lebih menyakitkan.
Akhirnya ia memberanikan diri menghadap orang tua Ririn. Ia ingin sekali menjenguk gadis itu. Dengan besar hati, kedua orang tua gadis itu mengizinkan.
“Permisi,” ujar Alexi seraya membuka pintu. Ia pun mendapati Ririn yang sedang terbaring sambil menyaksikan acara televisi. Dahi gadis itu terbalut perban. Namun, Alexi masih bisa merasakan senyum manis gadis itu.
“Ya, hai. Kamu siapa?”
“Pa—pasien juga,” Alexi menunjukkan perban yang membalut tangannya. Ia mendapati luka itu ketika tergores pecahan kaca akibat didorong Ririn tempo hari. “Aku bosan dan ingin mencari teman mengobrol. Apa aku menganggu?”
“Ah, tidak. Kebetulan aku juga bosan,” gadis itu menunjuk dahinya. “Mamaku bilang, aku jatuh dari tangga dan cukup parah. Bagaimana denganmu?”
‘Jadi mereka menutupinya?’ pikir Alexi.
“Terjatuh juga dan kena pecahan kaca, tapi tidak separah itu. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Agak pusing. Aku jadi tidak bisa membaca dan itu membosankan”.
“Ohh, jadi kamu suka baca. Ngomong-ngomong apa ada kutipan yang bagus untukku?”
“Eh, memangnya kamu kenapa?”
“Aku baru saja mengikuti kompetisi musik. Kalau  aku menang, maka gadis pujaanku akan menerimaku. Sayangnya, aku hanya juara dua dan gadis itu langsung pergi”.
“Wah, kasihan sekali kamu. Hmm, coba kupikir sebentar”.
Alexi berharap dengan cara ini Ririn bisa teringat akan kenangan singkat mereka. Namun, ia harus menelan pil pahit saat melihat gelengan kepala Ririn.
“Aku ingin sekali menghiburmu, tapi maaf. Aku tidak punya apa yang kamu minta”.
“Oh, begitu. Tidak apa-apa,” Alexi menggigit bibirnya. “Ka—kalau begitu aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktumu”>
Alexi berbalik, tetapi mendadak Ririn mengatak sesuatu yang membuatnya tertahan di sana.
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua. Jadi, bersemangatlah!”
Mata Alexi terpejam. Berusaha agar tak ada air mata mengalir sebelum ia memutar kembali tubuhnya untuk menyapa gadis itu.
“Boleh aku tahu siapa namamu?”
“Marinda Prasetya, tapi panggil saja Ririn”.
“Ya, Ririn, terima kasih,” Alexi mengangguk. “Akan selalu kuingat”.
‘Kata-katamu… namamu…dan kamu…’
“Baiklah, sampai jumpa.”
Alexi melambaikan tangan dan menghilang setelah pintu tertutup. Ririn menyesal karena belum sempat bertanya baiik siapa nama pemuda itu.
Begitu Alexi menutup pintu, ia langsung berpapasan dnegan ayah Ririn. Seketika bulu romanya meremang. Tubuh Alexi langsung membungkuk dalam-dalam.
“Sa—saya minta maaf. Benar-benar minta maaf”.
Armandi menarik napas panjang, “Tidak ada yang menginginkan ini. Semua itu hanya kecelakaan, Nak. Kamu serta pihakmu sudah bertanggung jawab. Masalah dia melupakanmu, itu juga bukan keinginan kami. Jadi, angkatlah kepalamu.”
“Saya akan menerima itu sebagai hukuman untuk saya”.
Armandi tersenyum kecil.
“Anda tidak membenci saya?”
“Saya memang marah, tapi tidak membencimu. Jika orang tua memarahi anaknya, maka si anak harus mengubah sikapnya. Begitu juga kamu. Maka, kamu harus berubah menjadi sosok yang lebih baik lagi baru setelah itu kembalilah dengan bangga”.
“Apa ini sebuah hukuman untukku?”
“Ya, bukankah orang tua juga berhak menghukum anaknya?”
Alexi mengangguk lalu menatap Armandi mantap, “Saya akan akan menjalani masa hukuman itu. Saya berjanji akan kembali menjadi orang yang lebih hebat lagi supaya putri Anda tidak tersakiti lagi. Saya hanya minta supaya hal ini tetap menjadi rahasia kita saja.”
Armandi menepuk lembut bahu pemuda itu. Perjanjian telah dibuat. HIngga sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar