Musikal
205
Meski Andani iri
padanya, tetap saja ini bukan liburan yang Ririn inginkan. Seharusnya di
penghujung Desember ini, ia menikmati
liburannya di Surabaya bersama keluarganya. Sayang, sang adik harus mengikuti
perkemahan pramuka dan ayahnya mendapat dinas dadakan. Padahal ayahnya sudah
berjanji jika ia berhasil mendapat juara satu maka liburan akan menanti.Ia
sudah melakukan, tetapi janji tinggalah janji.
Namun, sebagi ayah yang bertanggung jawab, Armandi membawa putrinya
untuk ikut bersama meliput berita. Bukan berita kriminal, hanya meliput sebuah
konser musik. Di sinilah letak kecemburuan Andani. Armandi mengajak putrinya
bukan konser musik pop, melainkan konser orkestra dari luar negeri. Bintang
dari orkestra itu adalah bocah laki-laki berkebangsaan Korea Selatan. Bocah itu
seumuran Ririn dan juga merupakan anak dari composer orkestra itu. Hal yang
membuatnya istimewa adalah kepiawaiannya bermain piano. Selain itu, wajahnya
juga mirip dengan boyband dari negeri ginseng. Tak heran, jika Andani dan
banyak wanita di luar sana yang mau menjadi fansnya.
Ririn tak banyak bicara dari pesawatnya take off hingga mendarat. Ia
lebih suka terpaut pada novel yang baru ia beli di bandara Palembang. Bahkan
ketika ayahnya meminta menunggu, perhatiannya tak terusik sedikit pun.
“Ayo, Rin. Mobil kantor sudah datang”.
Ririn menyimpan novel dalam ranselnya. Saat mereka akan menaiki mobil,
serombongan orang melintas di dekat mereka. Di antara rombongan itu, ada anak
laki-laki, yang diperkirakan seusianya, bertopi baret dan tampak dalam
pengawasan penuh ayahnya. Entah kenapa
RIrin merasa kalau anak itu agak sedikit tertekan.
“Kamu lihat rombongan itu? Merekalah yang akan Ayah liput besok”.
Ririn mengangguk. ‘Jadi anak
itu….’
“Alexi Kim dan ayahnya, Kim Woo Seok. Pasangan ayah dan anak yang
hebat”.
“Hmm, iya sih,” Ririn tak terlalu acuh menanggapi.
“Tapi punya seorang anak yang selalu jadi juara di kelas juga
membanggakan kok”.
Ririn tersenyum sinis, “Ya, aku juga tahu”.
ooOoo
Gaun merah salem
menjadi pilihan Ririn untuk menonton konser. Dalam undangan tertulis pakaian
formal dan setelah mengubek-ubek mall sehari sebelum berangkat, pilihannya
jatuh pada gaun model A-line selutut.
Konser berlangsung cukup megah. Rasanya tidak terlalu rugi juga menikati
pengalaman baru seperti ini. paling tidak ia bisa memamerkan pada Andani. Riirn
sepakat jika bocah pianis itu memang berbakat. Terbukti, meski di sekelilingnya
pemusik profesional, auranya justru yang
paling memancar. Ririn bahkan lupa berkedip saat menatap permainannya.
Penampilan berikutnya diselingi jeda 15 menit. Hal ini diperuntukkan
bagi para pemusik supaya dapat beristirahat. Di waktu istirahat, Ririn
mengambil kesempatan untuk ke toilet. Setelah menyelesaikan antrean yang cukup
panjang, Ririn kembali berpapasan dengan bocah pianis itu. Mereka hanya
beberapa detik untuk saling pandang sebelum mereka akhirnya saling berlalu.
“Hei, emm…” entah kenapa Ririn hendak menyapa bocah itu. “it was a great.”
Bocah itu hanya menatap Ririn yang salah tingkah karena kelancangannya.
Kebiasaan Ririn menggaruk hidung ketika gugup mendadak kumat. Tak ada respon
dan ia pun berlalu. Ririn pun bernapas lega.
“Astaga, aku ini apa-apaan sih?”
ooOoo
Kembali lagi ke dalam
ruangan. Kali ini pertunjukkan terasa lebih singkat sebab lagu yang dibawakan
juga bertempo cepat. Jemari si bocah pianis itu tampak seperti ditiup angin
karena begitu lincah menari di atas tuts. Hingga akhir permainan ia bermain
dengan konsisten. Tak heran jika semua penonton memberikan standing applause yang berasal dari hati.
“Rin, Ayah harus menunggu di ruang pers
conference. Kamu bisa tunggu di lobi? Agak membosankan sih, soalnya Ayah
gak tahu kapan mereka selesai istirahat”.
“Gak apa-apa, Pa. aku bawa novel kok”.
Sepeninggal ayahnya, Ririn tak lantas menuju lobi. Ia memilih untuk
berjalan-jalan mengelilingi gedung tersebut. Lumayan juga mendapat pemandangan
baru. Setidaknya ia bisa mendeskripsikan dalam tulisan jika ada tugas mengarang
nanti. Ia bahkan menelusuri hingga ke belakang gedung yang sedang direnovasi.
Untuk kesekian kali, Ririn kembali dipertemukan dengan si bocah pianis.
Kaliini anak itu justru sedang melakukan suatu kegiatan ang membuat heran. Ia
sedang menghanguskan berlembar-lembar buku dengan sebuh korek api gas.
Tatapannya terlihat kesal. Akan tetapi, begitu salah satu buku itu mulai
menjadi abu, wajahnya berubah senang.
“Hei, what are you doing?”
“Bukan urusanmu, pergilah!”.
Ririn cukup kaget kala mengetahui anak itu bisa berbahasa Indonesia.
Namun, ia lebih kaget lagi saat melihat kover buku itu bertuliskan nama-nama
musisi yang terkenal seperti Mozart, Chopin, Beethoven, dan lain-lain. Lembaran
kertas itu juga tak bertuliskan huruf melainkan deretan not balok.
“Eh, bukannya itu….”
“Partitur. Ini namanya partitur”.
“Oh, oke. Aku memang tidak mengerti apa itu partitur, tapi bukannya itu
seharusnya kamu pakai di konser?”
“Aku punya banyak. Lagipula aku sudah hapal,” tawanya terdenger
sarkastis. “Lebih tepatnya sudah bosan”.
Ririn menatap abu yang bertebaran seiring dengan kepulan asap. Entah
mengapa ia merasa sedikit kesal.
“Aku gak ngerti seberapa berharganya partitur itu bagi kamu, tapi
seberapa pun bosannya kamu dengan benda itu aku tetap aja gak setuju kamu
bakar-bakar seperti ini. Harusnya kamu tahu bertapa susahnya orang-orang yang
menjadikan buku itu ada. Butuh pemikiran berhari-hari bahkan seumur hidup. Kamu
mestinya bisa sedikit menghargai hasil jerih payah orang lain!”.
“Menghargai, huh!” sahutnya sinis. “Gara-gara mereka semua jerih payahku
tak dihargai. Kupikir dengan begini semuanya impas”.
Ririn menatap kecewa pada laki-laki itu.
“Dia sudah berjanji akan
bersamaku jika aku memenangkan perlombaan terakhir, tapi ternyata dia sangat
egois. Aku hanya kalah satu peringkat dan dia langsung pergi ke Paris. Baru aku
tahu kalau kekalahanku disengaja ayah supaya aku tidak bisa bersama dia. Sejak
awal, Ayah memang sudah merencanakan ini semua”.
“Di—dia?” Ririn tak mengerti kenapa laki-laki ini justru curhat
mendadak.
“Perempuan yang aku sukai,” lelaki itu mendesah pendek. “Sudahlah, kamu
tidak tahu rasanya”.
“Ya, aku memang tidak tahu, tapi aku mengerti rasanya tidak dihargai,”
sahut Ririn. “Bisa dibilang aku ada di sini karena aku sedang tidak dihargai.
Aku sudah berusaha keras supaya dapat peringkat satu di kelas karena orang
tuaku berjanji untuk liburan ke Surabaya. Nyatanya, ayahku harus meliput
konsermu dan adikku ikut kemah. Maka berakhirlah aku di sini. Yaah, tapi tidak
buruk juga karena aku bisa melihat konsermu dan itu pengalaman baru untukku”
Pemuda itu mulai tertarik dengan cerita Ririn. Lembaran-lembaran
partitur yang belum terbakar pun terlupakan.
“Kupikir aku harus berterima kasih padamu karena sudah menyajikan
pertunjukkan indah dan menakjubkan. Ya, di satu sisi kita sama, kan?” Ririn
menunjuk tumpukan partitur yang masih utuh. “Kamu juga seharusnya berterima
kasih pada mereka karena tanpa mereka kamu juga gak bakal ada di puncak seperti
sekarang”.
“Oh, sekarang kamu mencoba menasihatiku?”
“Nggak, aku Cuma beropini. Opini dari seorang pecinta buku”.
“Hmm, menarik juga kamu,” komentar pemuda itu.
Keduanya kehabisan bahan debat. Hembusan angin mengisi kebisuan di
antara mereka.
“Aku pernah baca sebuah buku dan menemukan kutipan yang menarik,” Ririn
akhirnya memecah kesunyian. “Dalam satu kali kehidupann, kita akan merasakan
jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, juga
tangis sedih atau bahagia. Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
“Kutipan yang bagus,” Alexi mengela rambutnya yang melayang mengikuti
arah angin kemudian menatap Ririn. “Buku apa?”
Ririn tersentak karena sepasang pupil indah itu menatapnya lembut. Tanpa
sadar ia menggaruk-garuk ujung hidungnya karena salah tingkah.
“Eh, itu buku—”
“Awas!”
Teriakan seseorang dari atas membangkitkan semua saraf refleks Ririn.
Ada patahan rangka beton melayang di atas mereka. Dalam hitungan detik besi itu
akan jatuh menimpa si bocah pianis. Tanpa menunggu detik berikutnya, Ririn
berlari dan mendorong lelaki itu hingga terjatuh. Beruntung, si pianis terjatuh
di tempat yang cukup jauh dari sasaran rangka beton itu. Naas bagi Ririn. Belum
sempat ia menyelamatkan diri, potongan itu mengenai kepalanya. Tak ayal gadis
itu ambruk dan tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari balik poni ikalnya.
Pemuda itu masih syok. Ia hanya bisa diam menyaksikan insiden itu.
Hingga beberapa orang datang dan berteriak hingga tempat itu orang-orang
berkerumun. Pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi ketika mobil ambulans
tiba.
ooOoo
Kedua orang tua Ririn
bisa bernapas lega ketika Ririn siuman setelah dua hari tak sadarkan diri.
Meskipun begitu, putri sulung mereka menunjukkan gejala yang aneh. Dia memang
masih ingat siapa dirinya, orang tua, saudara, teman-teman, serta cerita dan
pelajaran di sekolah, tapi ia tidak ingat kejadian satu minggu terakhir.
Jangankan mengenai insiden itu, ia bahkan lupa kalau ia peringkat satu di
kelas.
Dokter mengatakan kalau Ririn mengalami amnesia parsial. Ia bisa ingat
kembali jika dilakukan terapi memori. Melihat kondisi anaknya yang masih lemah,
kedua orang tuanya memilih untuk menunda
terapi itu. Toh, tak ada hal penting
selama satu minggu terakhir. Selagi ia ingat dengan keluarga, teman, dan
sekolah, semua itu tak akan jadi masalah.
Masalah itu justru menimpa Alexi. Permua ini sudah tak beranjak dari
rumah sakit sejak insiden itu terjadi, tetapi keberadaannya justru dilupakan
banyak orang. Meski keluarga Ririn tak menuntutnya, menjadi orang tak dianggap
justru lebih menyakitkan.
Akhirnya ia memberanikan diri menghadap orang tua Ririn. Ia ingin sekali
menjenguk gadis itu. Dengan besar hati, kedua orang tua gadis itu mengizinkan.
“Permisi,” ujar Alexi seraya membuka pintu. Ia pun mendapati Ririn yang
sedang terbaring sambil menyaksikan acara televisi. Dahi gadis itu terbalut
perban. Namun, Alexi masih bisa merasakan senyum manis gadis itu.
“Ya, hai. Kamu siapa?”
“Pa—pasien juga,” Alexi menunjukkan perban yang membalut tangannya. Ia
mendapati luka itu ketika tergores pecahan kaca akibat didorong Ririn tempo
hari. “Aku bosan dan ingin mencari teman mengobrol. Apa aku menganggu?”
“Ah, tidak. Kebetulan aku juga bosan,” gadis itu menunjuk dahinya. “Mamaku
bilang, aku jatuh dari tangga dan cukup parah. Bagaimana denganmu?”
‘Jadi mereka
menutupinya?’ pikir Alexi.
“Terjatuh juga dan kena pecahan kaca, tapi tidak separah itu. Bagaimana
keadaanmu sekarang?”
“Agak pusing. Aku jadi tidak bisa membaca dan itu membosankan”.
“Ohh, jadi kamu suka baca. Ngomong-ngomong apa ada kutipan yang bagus
untukku?”
“Eh, memangnya kamu kenapa?”
“Aku baru saja mengikuti kompetisi musik. Kalau aku menang, maka gadis pujaanku akan
menerimaku. Sayangnya, aku hanya juara dua dan gadis itu langsung pergi”.
“Wah, kasihan sekali kamu. Hmm, coba kupikir sebentar”.
Alexi berharap dengan cara ini Ririn bisa teringat akan kenangan singkat
mereka. Namun, ia harus menelan pil pahit saat melihat gelengan kepala Ririn.
“Aku ingin sekali menghiburmu, tapi maaf. Aku tidak punya apa yang kamu
minta”.
“Oh, begitu. Tidak apa-apa,” Alexi menggigit bibirnya. “Ka—kalau begitu
aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktumu”>
Alexi berbalik, tetapi mendadak Ririn mengatak sesuatu yang membuatnya
tertahan di sana.
“Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi
pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua. Jadi, bersemangatlah!”
Mata Alexi
terpejam. Berusaha agar tak ada air mata mengalir sebelum ia memutar kembali
tubuhnya untuk menyapa gadis itu.
“Boleh aku tahu
siapa namamu?”
“Marinda Prasetya,
tapi panggil saja Ririn”.
“Ya, Ririn, terima
kasih,” Alexi mengangguk. “Akan selalu kuingat”.
‘Kata-katamu… namamu…dan kamu…’
“Baiklah, sampai
jumpa.”
Alexi melambaikan
tangan dan menghilang setelah pintu tertutup. Ririn menyesal karena belum
sempat bertanya baiik siapa nama pemuda itu.
Begitu Alexi
menutup pintu, ia langsung berpapasan dnegan ayah Ririn. Seketika bulu romanya
meremang. Tubuh Alexi langsung membungkuk dalam-dalam.
“Sa—saya minta
maaf. Benar-benar minta maaf”.
Armandi menarik
napas panjang, “Tidak ada yang menginginkan ini. Semua itu hanya kecelakaan,
Nak. Kamu serta pihakmu sudah bertanggung jawab. Masalah dia melupakanmu, itu
juga bukan keinginan kami. Jadi, angkatlah kepalamu.”
“Saya akan menerima
itu sebagai hukuman untuk saya”.
Armandi tersenyum
kecil.
“Anda tidak
membenci saya?”
“Saya memang marah,
tapi tidak membencimu. Jika orang tua memarahi anaknya, maka si anak harus
mengubah sikapnya. Begitu juga kamu. Maka, kamu harus berubah menjadi sosok
yang lebih baik lagi baru setelah itu kembalilah dengan bangga”.
“Apa ini sebuah
hukuman untukku?”
“Ya, bukankah orang
tua juga berhak menghukum anaknya?”
Alexi mengangguk
lalu menatap Armandi mantap, “Saya akan akan menjalani masa hukuman itu. Saya
berjanji akan kembali menjadi orang yang lebih hebat lagi supaya putri Anda
tidak tersakiti lagi. Saya hanya minta supaya hal ini tetap menjadi rahasia
kita saja.”
Armandi menepuk
lembut bahu pemuda itu. Perjanjian telah dibuat. HIngga sampai saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar