Musikal
191
Dave menyusuri koridor
dengan cepat. Hampir semua orang ia tabrak. Mulai dari pengunjung lain,
perawat, bahkan pasien lansia menjadi korbannya. Ia tak peduli jika caci maki
terlontar untuknya. Kabar mengejutkan dari Adrian telah membangunkan tidurnya
dan membuatnya melesat cepat ke mari.
Untung ia sempat mandi.
Saat ia membuka pintu bangsal, ia berpapasan dengan ibunya Tifa. July
tak mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu langsung memeluk Dave seraya
menangis. Dave berusaha menenangkan dirinya agar ia juga tak ikut terguncang.
Tangisannya mungkin akan lebih hebat daripada wanita ini. Ia memberikan tepukan
lembut pada pundak wanita itu agar sedikit tenang.
July mempersilakan Dave masuk. Di dalam, Adrian sedang memperhatikan
seorang perawat yang sedang mengecek tekanan darah tantenya. Pemuda itu
beringsut menyalami dan memeluk Dave. Ia terlihat lebih tegar, tapi tak sedetik
pun ia mau meninggalkan tantenya.
“Maaf baru mengabari pagi ini, Om,” ujar Adrian. “Aku terlalu panik
semalam, bahkan nenek pun baru aku kabari dua jam setelah itu.”
Dave mengangguk singkat, “Lalu bagaimana keadaannya?”
“Sudah lebih baik. Pagi ini ia sudah bisa merespon dan berbicara walau
cuma sepatah kata. Dia masih butuh banyak istirahat,” Adrian menarik napas
panjang, “Tapi setidaknya dia sadar. Itu yang lebih penting.”
Perawat itu memberitahu serangkaian hasil pemeriksaan singkatnya sebelum
meminta izin. Begitu perawat itu pergi, July menyadari bahwa sosok pria yang
baru saja datang ini sangat ingin berbicara empat mata dengan anaknya. Ia harus
memaksa agar cucunya mau pergi sejenak.
“Adrian, kita keluar sebentar yuk. Kita kan belum makan”
“Nenek saja, aku belum lapar.”
July tahu cucunya pasti akan berkilah. Usahanya pun semakin keras.
“Ayolah, ada pembicaraan orang dewasa di sini.”
“Tidak masalah, aku tidak akan menguping,” sahut Adrian. “Yang penting
aku masih mau lihat tante.”
“Jangan memaksa,” ujar July sedikit mengomel. “Ayo, Adrian. Mereka butuh
kebebasan sebentar saja.”
Dengan berat hati Adrian mengikuti perintah sang nenek. Mereka pergi
tanpa pamit dengan Tifa atau pun Dave. Kini kedua orang yang tersisa itu hanya
saling membisu.
Jika dalam kesempatan lain, Tifa pasti sudah mencerocosnya dengan ribuan
kata. Sayangnya, kali ini bibirnya masih terasa berat. Banyak hal yang ingin ia
katakan, tapi tubuhnya masih menolak untuk bergerak lebih. Dave pun
berinisiatif untuk menyapanya lebih dulu.
“Kupikir aku akan menjadi orang pertama yang melihatmu bangun, ternyata
bukan,” Dave terkekeh pelan.
Tifa hanya menatapnya sayu. Perlahan Dave mendekati Tifa lalu bersimpuh
di sisi wanita itu.
“Tidak. Itu tidak penting. Aku… aku sudah terlalu senang melihatmu bisa
seperti ini, Tif,” tangis Dave pecah. “Ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu
untuk selamanya.”
Ingin rasanya Tifa menghapus air mata pria itu. Namun, itu terlalu sulit
untuk dilakukan sekarang. Usaha terhebatnya hanya bisa memberi sentuhan kecil
pada jemari pria itu. Tahu Tifa sedang meresponnya, Dave segera menggenggam
erat tangan itu.
“Berjanjilah padaku, Tif. Berjanjilah! Berjanjilah, kamu tidak akan
meninggalkan aku lagi. Kumohon….”
Kepala Tifa terangguk pelan. Bersamaan dengan itu air matanya ikut
mengalir.
“Ma—maafkan aku…” bisiknya.
Dave mendaratkan ciuman di dahi gadis itu seraya menghapus air matanya.
Kemudian ia tersenyum.
“Sudahlah, tak ada yang perlu dimaafkan lagi. Melihatmu begini, aku
sudah kehilangan semua amarahku.”
Tifa tersenyum kecil. Ia memang masih tak bisa melakukan banyak hal,
tapi di sisi Dave, ia bisa merasakan semua kehangatan yang ia rindukan.
Tampaknya keputusan untuk kembali benar-benar tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar