Musikal
181
Hana tergesa-gesa
menuju gedung teater. Ia hampir saja lupa kalau Tifa mengadakan pertemuan klub
di sana setelah pulang sekolah. Begitu ia sampai di sana ternyata hanya ada
Tifa seorang diri. Gadis itu berdiri di atas panggung dan tersenyum karena
kedatangannya. Padahal sebelumnya Tifa bilang kalau ini adalah pertemuan klub.
“Apa yang lain belum datang?”
“Tidak. Semua yang harus hadir sudah ada di sini.”
Hana kembali terkejut, “Hanya kamu dan aku?”
“Ya, dan bisakah kamu tutup pintunya?”
Hana menurut saja. Ia menutup pintu dengan mata yang terus mengawasi
Tifa. Hana tak lantas naik ke panggung. Ia tetap di bawah dan berdiri tepat di
hadapan Tifa.
“Apa maumu?”
Tifa balas mengawasi Hana lalu ia tersenyum.
“Aku akan pindah.”
Hana terkesiap, tapi tak satu pun kata terucap.
“Dalam waktu dekat ini.”
Kening Hana berkerut, “Jangan bercanda! Apa kamu berpikir mau menyerahkan
sisa latihan ini padaku?”
“Kamu satu-satunya orang kupercaya bisa melakukannya.”
Hana menghentakkan kakinya kesal, “Ada denganmu? Kamu jangan berlagak
gila, Tif! Pementasa sudah semakin dekat dan sekarang kamu mau melarikan diri.
Kamu pengecut!”
“Sebutlah aku begitu,” Tifa tertawa sarkastis. “Tapi bertahan juga ada
batasnya, Han.”
Seketika Hana melunak. Kalimat terakhir Tifa mengisyaratkan mengenai
permasalahan hidup gadis itu. Hana paham bagaimana bergolaknya hati gadis itu
setelah mendapati cobaan seperti ini.
“Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, Tif. Aku akan bantu
cari jalan keluar dan bukannya melarikan diri seperti ini.”
“Ini bukan permasalahan yang harus diceritakan. Ini permasalahan yang
harus dilupakan. Satu-satunya cara adalah pergi dari tempat yang pernah
mengingatmu.”
Hana mendesah panjang. Meski Tifa belum mengatakannya, tapi Hana merasa
kalau kali ini temannya itu sedang dalam rasa tertekan yang mendalam.
“Satu syarat. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!”
Bukan syarat yang mudah. Tifa sebisa mungkin tidak mengatakan hal ini
pada siapa pun, tapi sepertinya kali ini adalah pengecualian.
“Kakakku dihamili oleh sepupu kami sendiri yang dari dulu memang naksir
dia. Belakangan ini, ternyata dia juga telah kawin lagi bahkan sampai punya
anak. Kakakku yang depresi hanya bisa bunuh diri. Sebulan setelah itu, suaminya
yang brengsek itu meminta maaf dan mengatakan pada kami semua. Ayahku kaget dan
jantungnya kumat.”
Tifa mendesah berat, “Dan kamu sendiri tahu akhir kisahnya.”
Hana termenung cukup lama. Ia tak menyangka kalau sahabatnya itu
menyimpan sebuah kisah kelam. Sangat wajar jika perempuan itu ingin melarikan
diri saat ini. Meski begitu, tanggung jawab yang dilemparkan terlalu berat.
Bukan kebiasaan Hana untuk berperan sebagai pemimpin.
“Apa aku sudah memenuhi syaratmu?”
Hana mengangguk pelan.
“Jadi, sekarang aku mengajukan syaratku. Jadilah penggantiku dan
rahasiakan hal ini dari siapa pun.”
Hana memicingkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu
menghembuskannya perlahan. Ia menatap Tifa dengan sorot mata setenang
sebelumnya.
“Ya, aku setuju.”
Senyuman lebar langsung menghiasi wajah Tifa. Ia bergerak maju lalu
terjun dari atas panggung seringan bulu.
“Terima kasih. Aku janji ini akan jadi yang terakhir untukmu.”
“Iya, bodoh! Setelah ini kita lulus, jadi mana mungkin aku memimpin klub
ini lagi.”
Tifa tertawa. Untuk pertama kalinya ia tertawa di hadapan Hana setelah
masa-masa berat yang ia lalui.
“Kamu sudah kasih tahu, Dave?”
Tifa menggeleng pelan, “Itu bagian yang paling sulit. Mungkin ia akan
kecewa jika ia tahu kabar ini bersamaan dengan yang lain.”
“Dia akan marah padamu.”
“Aku berharap dia malah membenciku,” mata Tifa kembali menyiratkan
kesedihan. “Rasa simpatinya padaku membuat aku selalu ingin membatalkan
keputusanku. Lebih baik jika dia membenciku dan semua masalah ini akan beres
seiring berjalannya waktu.”
Hana kembali terhenyak. Ia tak berani berkomentar apa pun lagi. Di
tengah lamunannya, tiba-tiba saja Tifa memeluknya. Hana hanya terkejut dan
tidak meronta minta dilepaskan.
“Terima kasih. Aku tahu kamu memang sahabat terbaikku.”
Perlahan Hana membalas pelukan sahabatnya seraya menepuk pelan punggung
gadis itu, “Kamu bisa mengandalkanku.”
Pelukan Tifa semakin erat. Kemudian terdengar isakan pelan. Tifa tak mengatakan
apa pun. Semua emosinya tertumpah pada air matanya dan Hana membiarkan air mata
gadis itu menembus kain kemejanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar