Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 181)




Musikal 181

Hana tergesa-gesa menuju gedung teater. Ia hampir saja lupa kalau Tifa mengadakan pertemuan klub di sana setelah pulang sekolah. Begitu ia sampai di sana ternyata hanya ada Tifa seorang diri. Gadis itu berdiri di atas panggung dan tersenyum karena kedatangannya. Padahal sebelumnya Tifa bilang kalau ini adalah pertemuan klub.
“Apa yang lain belum datang?”
“Tidak. Semua yang harus hadir sudah ada di sini.”
Hana kembali terkejut, “Hanya kamu dan aku?”
“Ya, dan bisakah kamu tutup pintunya?”
Hana menurut saja. Ia menutup pintu dengan mata yang terus mengawasi Tifa. Hana tak lantas naik ke panggung. Ia tetap di bawah dan berdiri tepat di hadapan Tifa.
“Apa maumu?”
Tifa balas mengawasi Hana lalu ia tersenyum.
“Aku akan pindah.”
Hana terkesiap, tapi tak satu pun kata terucap.
“Dalam waktu dekat ini.”
Kening Hana berkerut, “Jangan bercanda! Apa kamu berpikir mau menyerahkan sisa latihan ini padaku?”
“Kamu satu-satunya orang kupercaya bisa melakukannya.”
Hana menghentakkan kakinya kesal, “Ada denganmu? Kamu jangan berlagak gila, Tif! Pementasa sudah semakin dekat dan sekarang kamu mau melarikan diri. Kamu pengecut!”
“Sebutlah aku begitu,” Tifa tertawa sarkastis. “Tapi bertahan juga ada batasnya, Han.”
Seketika Hana melunak. Kalimat terakhir Tifa mengisyaratkan mengenai permasalahan hidup gadis itu. Hana paham bagaimana bergolaknya hati gadis itu setelah mendapati cobaan seperti ini.
“Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, Tif. Aku akan bantu cari jalan keluar dan bukannya melarikan diri seperti ini.”
“Ini bukan permasalahan yang harus diceritakan. Ini permasalahan yang harus dilupakan. Satu-satunya cara adalah pergi dari tempat yang pernah mengingatmu.”
Hana mendesah panjang. Meski Tifa belum mengatakannya, tapi Hana merasa kalau kali ini temannya itu sedang dalam rasa tertekan yang mendalam.
“Satu syarat. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!”
Bukan syarat yang mudah. Tifa sebisa mungkin tidak mengatakan hal ini pada siapa pun, tapi sepertinya kali ini adalah pengecualian.
“Kakakku dihamili oleh sepupu kami sendiri yang dari dulu memang naksir dia. Belakangan ini, ternyata dia juga telah kawin lagi bahkan sampai punya anak. Kakakku yang depresi hanya bisa bunuh diri. Sebulan setelah itu, suaminya yang brengsek itu meminta maaf dan mengatakan pada kami semua. Ayahku kaget dan jantungnya kumat.”
Tifa mendesah berat, “Dan kamu sendiri tahu akhir kisahnya.”
Hana termenung cukup lama. Ia tak menyangka kalau sahabatnya itu menyimpan sebuah kisah kelam. Sangat wajar jika perempuan itu ingin melarikan diri saat ini. Meski begitu, tanggung jawab yang dilemparkan terlalu berat. Bukan kebiasaan Hana untuk berperan sebagai pemimpin.
“Apa aku sudah memenuhi syaratmu?”
Hana mengangguk pelan.
“Jadi, sekarang aku mengajukan syaratku. Jadilah penggantiku dan rahasiakan hal ini dari siapa pun.”
Hana memicingkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Tifa dengan sorot mata setenang sebelumnya.
“Ya, aku setuju.”
Senyuman lebar langsung menghiasi wajah Tifa. Ia bergerak maju lalu terjun dari atas panggung seringan bulu.
“Terima kasih. Aku janji ini akan jadi yang terakhir untukmu.”
“Iya, bodoh! Setelah ini kita lulus, jadi mana mungkin aku memimpin klub ini lagi.”
Tifa tertawa. Untuk pertama kalinya ia tertawa di hadapan Hana setelah masa-masa berat yang ia lalui.
“Kamu sudah kasih tahu, Dave?”
Tifa menggeleng pelan, “Itu bagian yang paling sulit. Mungkin ia akan kecewa jika ia tahu kabar ini bersamaan dengan yang lain.”
“Dia akan marah padamu.”
“Aku berharap dia malah membenciku,” mata Tifa kembali menyiratkan kesedihan. “Rasa simpatinya padaku membuat aku selalu ingin membatalkan keputusanku. Lebih baik jika dia membenciku dan semua masalah ini akan beres seiring berjalannya waktu.”
Hana kembali terhenyak. Ia tak berani berkomentar apa pun lagi. Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja Tifa memeluknya. Hana hanya terkejut dan tidak meronta minta dilepaskan.
“Terima kasih. Aku tahu kamu memang sahabat terbaikku.”
Perlahan Hana membalas pelukan sahabatnya seraya menepuk pelan punggung gadis itu, “Kamu bisa mengandalkanku.”
Pelukan Tifa semakin erat. Kemudian terdengar isakan pelan. Tifa tak mengatakan apa pun. Semua emosinya tertumpah pada air matanya dan Hana membiarkan air mata gadis itu menembus kain kemejanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar