Musikal
186
Hubungan
pun terjalin. Hari demi hari pasangan ini mulai diakui oleh teman-teman sekolah
mereka. Hubungan mereka bahkan awet sampai kelulusan mereka.
Tidak
seperti yang diperkirakan, Dave justru bersikap manis saat menjadi kekasih.
Awalnya Riani merasa bahagia karena Dave tak pernah menolak apa pun yang ia
minta. Namun, sikap ‘manis’ yang
ditujukan Dave justru menimbulkan tanda tanya. Benarkah Dave menganggapnya
sebagai kekasih?
Dave
tak pernah mengajaknya kencan, kecuali jika Riani yang meminta. Dave juga tak
pernah absen menelepon Riani, tapi itu pun karena Riani yang memintanya.
Meskipun begitu, Dave tak pernah menolak permintaan Riani. Ia hanya menuruti
tidak pernah bernisiatif.
Setahun
berlalu. Hubungan mereka masih dalam stagnasi tanpa perkembangan. Hebatnya tak
ada kata putus yang terlontar dari keduanya.
Riani
mulai menikmati masa-masa kuliahnya. Ia diterima di salah satu perguruan tinggi
swasta dan mengambil jurusan keguruan. Ia harus rela berpisah dengan
teman-temannya yang memilih berkuliah di luar kota. Gloria di Medan, sedangkan
Hana di Jakarta.
Di
saat semua teman-temannya sibuk menempuh pendidikan atau bekerja, Dave justru
menghabiskan waktunya dengan percuma. Tak ada hal berarti yang ia lakukan
selain melewati malam di sebuah klub malam dan pulang dalam keadaan mabuk.
Kemudian ia akan menjadi patung hidup jika bersama Riani.
Lama
kelamaan kegelisahan akhirnya dirasakan oleh Riani. Ia mulai mempertanyakan
mengenai hubungannya. Namun, ia takut. Ia takut jika ia menanyakan nantinya
Dave justru menjauh. Sayangnya, apa yang ia khawatirkan perlahan terjadi.
“Aku
ingin berubah, Ri.”
Sebuah
pernyataan yang mengejutkan sekaligus mengundang tanda tanya. Berubah seperti
apa? Pertanda baik atau burukkah ini?
“Maksudnya,
Dave?”
“Yaah,
kupikir aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku merasa hidupku seperti
sampah. Aku mau berubah.”
“Oh,
bagus!” seru Riani. Ia senang akhirnya Dave mau mengubah hedonismenya.
“Dan
aku juga mau berhenti menyakitimu.”
Riani
tersentak. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Kita
berpisah saja.”
Tanpa
sadar bibir Riani ternganga lebar. Momen terburuk dalam hidupnya ternyata
datang juga.
“Aku
tahu ini keputusan sepihakku, tapi kupikir sudah cukup menyakitimu dengan
membuatmu terus-terusan berada di sisiku. Kamu gadis yang baik, jadi carilah
pria terbaik untukmu. Aku bukan pria itu.”
“Ta—tapi,
salahku apa?”
“Tidak
ada. Akulah yang salah karena sudah memberimu kesempatan. Harusnya aku cukup
sekali saja dengan menolakmu waktu itu.”
Air
mata Riani mulai menggenang, “Jangan bilang kamu masih teringat akan ‘dia’”.
“Maaf...”
“Dave!”
Riani terisak.
“Ternyata
aku memang tak bisa tanpanya. Maaf, Ri.”
“Setelah
semua yang kulakukan, kamu masih ingin kembali padanya? Dave, sadarlah. Dia
sudah melupakanmu dan hanya ada aku saat ini!”
“Ya,
tapi aku tidak. Sampai kapan pun tak ada yang bisa menggantikannya meskipun itu
kamu.”
Air
mata Riani benar-benar mengalir, “Kamu kejam, Dave. Aku sudah berusaha keras
dan hanya ini balasanmu? Kamu benar-benar jahat!”
Dave
tak menyahut dan membiarkan Riani meluapkan semua kekesalannya.
“Sekarang
sebutkan apa kelebihannya sampai aku gak bisa jadi tandingannya?”
Terdengar
Dave menghembuskan napas panjang.
“Dia
orang pertama yang mengulurkan tangannya padaku, tanpa ragu. Aku tidak bisa
melupakannya dari pertemuan pertama kami.”
Pupus
sudah. Tidak ada harapan bagi Riani untuk bisa menempati sedikit saja di hati
Dave. Entah sihir apa yang Tifa taburkan hingga laki-laki itu tak sedetik pun
bisa berpaling, bahkan setelah bertahun-tahun.
“Bilang
pada mereka kalau kamu selingkuh dan aku yang memutuskanmu. Aku sudah terlanjur
malu saat ini.”
Masih
dalam isaknya, Riani berusaha terlihat kuat. Jangan sampai pemuda ini bisa
melihat kehancuran hatinya.
“Baiklah,
dan setelah itu aku juga akan pergi. Jadi, mungkin ini pertemuan terakhir
kita.”
Riani
kembali tertegun. Baru saja pemuda ini menyakiti hatinya dan sekarang sudah mau
pergi.
“Kamu
akan mendapatkan pria terbaik yang pernah ada. Kamu gadis terbaik yang pernah
aku temui. Terima kasih atas kebaikanmu dan maaf karena aku tidak bisa
membalasnya.”
“Kalau
aku memang sebaik itu, kenapa kamu masih memilihnya?”
Dave
tersenyum lembut, “Karena aku juga menyukai sisi buruknya.”
Pedih.
Semakin jauh Dave menapakkan kakinya, semakin pedih pula yang dirasakan Riani.
Kenapa dengan mudahnya Dave meninggalkan dirinya? Jika semudah itu, lantas kenapa
Riani kesulitan untuk membenci pemuda itu? Ia memang marah, tapi ia masih
menginginkan Dave berbalik dan kembali memeluknya. Meski pelukan itu hanya
sebuah kepura-puraan.
Sayangnya,
Riani hanya ditemani oleh suara tangisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar