Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Exraordinary (Musikal 186)




Musikal 186

Hubungan pun terjalin. Hari demi hari pasangan ini mulai diakui oleh teman-teman sekolah mereka. Hubungan mereka bahkan awet sampai kelulusan mereka.
Tidak seperti yang diperkirakan, Dave justru bersikap manis saat menjadi kekasih. Awalnya Riani merasa bahagia karena Dave tak pernah menolak apa pun yang ia minta.  Namun, sikap ‘manis’ yang ditujukan Dave justru menimbulkan tanda tanya. Benarkah Dave menganggapnya sebagai kekasih?
Dave tak pernah mengajaknya kencan, kecuali jika Riani yang meminta. Dave juga tak pernah absen menelepon Riani, tapi itu pun karena Riani yang memintanya. Meskipun begitu, Dave tak pernah menolak permintaan Riani. Ia hanya menuruti tidak pernah bernisiatif.
Setahun berlalu. Hubungan mereka masih dalam stagnasi tanpa perkembangan. Hebatnya tak ada kata putus yang terlontar dari keduanya.
Riani mulai menikmati masa-masa kuliahnya. Ia diterima di salah satu perguruan tinggi swasta dan mengambil jurusan keguruan. Ia harus rela berpisah dengan teman-temannya yang memilih berkuliah di luar kota. Gloria di Medan, sedangkan Hana di Jakarta.
Di saat semua teman-temannya sibuk menempuh pendidikan atau bekerja, Dave justru menghabiskan waktunya dengan percuma. Tak ada hal berarti yang ia lakukan selain melewati malam di sebuah klub malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Kemudian ia akan menjadi patung hidup jika bersama Riani.
Lama kelamaan kegelisahan akhirnya dirasakan oleh Riani. Ia mulai mempertanyakan mengenai hubungannya. Namun, ia takut. Ia takut jika ia menanyakan nantinya Dave justru menjauh. Sayangnya, apa yang ia khawatirkan perlahan terjadi.
“Aku ingin berubah, Ri.”
Sebuah pernyataan yang mengejutkan sekaligus mengundang tanda tanya. Berubah seperti apa? Pertanda baik atau burukkah ini?
“Maksudnya, Dave?”
“Yaah, kupikir aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku merasa hidupku seperti sampah. Aku mau berubah.”
“Oh, bagus!” seru Riani. Ia senang akhirnya Dave mau mengubah hedonismenya.
“Dan aku juga mau berhenti menyakitimu.”
Riani tersentak. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Kita berpisah saja.”
Tanpa sadar bibir Riani ternganga lebar. Momen terburuk dalam hidupnya ternyata datang juga.
“Aku tahu ini keputusan sepihakku, tapi kupikir sudah cukup menyakitimu dengan membuatmu terus-terusan berada di sisiku. Kamu gadis yang baik, jadi carilah pria terbaik untukmu. Aku bukan pria itu.”
“Ta—tapi, salahku apa?”
“Tidak ada. Akulah yang salah karena sudah memberimu kesempatan. Harusnya aku cukup sekali saja dengan menolakmu waktu itu.”
Air mata Riani mulai menggenang, “Jangan bilang kamu masih teringat akan ‘dia’”.
“Maaf...”
“Dave!” Riani terisak.
“Ternyata aku memang tak bisa tanpanya. Maaf, Ri.”
“Setelah semua yang kulakukan, kamu masih ingin kembali padanya? Dave, sadarlah. Dia sudah melupakanmu dan hanya ada aku saat ini!”
“Ya, tapi aku tidak. Sampai kapan pun tak ada yang bisa menggantikannya meskipun itu kamu.”
Air mata Riani benar-benar mengalir, “Kamu kejam, Dave. Aku sudah berusaha keras dan hanya ini balasanmu? Kamu benar-benar jahat!”
Dave tak menyahut dan membiarkan Riani meluapkan semua kekesalannya.
“Sekarang sebutkan apa kelebihannya sampai aku gak bisa jadi tandingannya?”
Terdengar Dave menghembuskan napas panjang.
“Dia orang pertama yang mengulurkan tangannya padaku, tanpa ragu. Aku tidak bisa melupakannya dari pertemuan pertama kami.”
Pupus sudah. Tidak ada harapan bagi Riani untuk bisa menempati sedikit saja di hati Dave. Entah sihir apa yang Tifa taburkan hingga laki-laki itu tak sedetik pun bisa berpaling, bahkan setelah bertahun-tahun.
“Bilang pada mereka kalau kamu selingkuh dan aku yang memutuskanmu. Aku sudah terlanjur malu saat ini.”
Masih dalam isaknya, Riani berusaha terlihat kuat. Jangan sampai pemuda ini bisa melihat kehancuran hatinya.
“Baiklah, dan setelah itu aku juga akan pergi. Jadi, mungkin ini pertemuan terakhir kita.”
Riani kembali tertegun. Baru saja pemuda ini menyakiti hatinya dan sekarang sudah mau pergi.
“Kamu akan mendapatkan pria terbaik yang pernah ada. Kamu gadis terbaik yang pernah aku temui. Terima kasih atas kebaikanmu dan maaf karena aku tidak bisa membalasnya.”
“Kalau aku memang sebaik itu, kenapa kamu masih memilihnya?”
Dave tersenyum lembut, “Karena aku juga menyukai sisi buruknya.”
Pedih. Semakin jauh Dave menapakkan kakinya, semakin pedih pula yang dirasakan Riani. Kenapa dengan mudahnya Dave meninggalkan dirinya? Jika semudah itu, lantas kenapa Riani kesulitan untuk membenci pemuda itu? Ia memang marah, tapi ia masih menginginkan Dave berbalik dan kembali memeluknya. Meski pelukan itu hanya sebuah kepura-puraan.
Sayangnya, Riani hanya ditemani oleh suara tangisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar