Musikal
185
Tifa mulai tidak masuk
sekolah sehari setelah pemberitahuannya saat latihan terakhirnya. Ada
kemungkinan para guru-guru sudah mengetahui kabar kepindahan Tifa. Oleh karena
itu, tidak ada satu pun guru yang menanyakan perihal absennya gadis itu. Namun,
beberapa siswa yang tidak tahu perihal pindahnya Tifa mulai mencari-cari tahu.
Salah satunya dengan bertanya pada teman-teman terdekat gadis itu.
Gloria, Hana, dan Riani sepakat untuk memberitahu kabar kepindahan Tifa,
tapi tidak memerincikan alasan gadis itu. Sayang, ada satu orang yang
sepertinya tidak menyepakati. Bukan membeberkan, tetapi Dave memilih untuk
menghindar jika orang-orang bertanya padanya. Dia terkesan tidak acuh dengan
kepergian Tifa. Hingga beberapa teman mereka justru berbalik menanyakan perubahan
sikap Dave.
Tak hanya orang luar, tapi Riani sendiri bertanya-tanya. Firasatnya
mengatakan kalau kedua orang itu telah memutuskan hubungan. Ia memang merasa
jahat saat melihat Dave terlihat galau kehilangan Tifa.
Riani tak lantas merayakan kegembiraannya. Ia harus memastikan mengenai
hubungan Dave dengan Tifa. Siang itu pun ia nekad kabur dari tempat lesnya
hanya untuk menanyakan hal ini langsung pada Tifa. Beruntung, Tifa sedang ada
di rumah. Gadis itu terlihat sedang beres-beres untuk kepindahannya. Riani
menangkap rasa terkejut Tifa saat mereka bertemu.
“Ada apa, Ri? Ada masalah di sekolah atau pementasan?”
“Oh, nggak,” Riani menyeruput sirup stroberi yang disajikan. “Aku cuma
pengen tahu kabarmu.”
“Aku baik-baik saja. Sedikit capek mungkin soalnya banyak barang yang
harus dipak.”
“Kapan kamu akan pindah?”
Tifa tersenyum agak lama, “Secepatnya.”
Riani mengartikan senyuman dan jawaban singkat itu sebagai cara Tifa
untuk menghindar dari pertanyaan ini.
“Ah ya, bagaimana kabar teman-teman? Pementasan juga, apakah lancar?”
“Ya, semuanya baik,” Riani berdeham untuk memulai mengutarakan isi
hatinya. “Dave juga baik.”
Senyuman yang sama. Tifa kembali menghindar.
“Boleh aku tanya sesuatu, Tif? Ehem, mungkin ini sedikit personal.”
Tifa melemparkan tatapan tanda tanya.
“Kamu… apa kamu sudah putus dari Dave?”
Riani sudah takut kalau Tifa akan menanggapinya dengan cara yang tidak
menyenangkan. Ternyata Ia memberikan jawaban setenang air.
“Ya, aku sudah putus darinya.”
Napas Riani sedikit tertahan. Ada buncahan di dadanya mendengar berita
itu.
“A—apa Dave meminta kembali padamu?”
“Tidak ada, tapi sekali pun iya, aku juga tidak mau kembali. Percuma
saja diteruskan. Aku akan pergi jauh dan hubungan kami tidak akan berhasil.”
Hening. Baik Riani atau Tifa belum ada niat untuk melanjutkan
percakapan.
“Ka—kalau Dave sekarang bersama yang lain, a—apa kamu keberatan?”
Tifa menatap Riani agak lama. Tatapannya terlihat sendu, tapi lagi-lagi
ia tersenyum.
“Jika itu membuatnya bahagia, aku tidak keberatan. Aku tahu saat ini dia
pasti sedang sendiri. Dia butuh seseorang untuk menemaninya.”
Riani menelan ludahnya dengan susah payah, “Ka—kalau orangnya itu aku?”
“Memangnya kamu bisa serius padanya?”
Riani mengangguk mantap. Tifa menghela napas panjang.
“Terima kasih. Kalau kamu, aku percaya.”
Cukup lama Riani tertegun. Ia tak menyangka kalau semudah ini untuk
mendapat restu dari Tifa. Ia benar-benar merasa buruk karena sudah terlalu
senang mendengar kabar ini. Tak banyak yang bisa Riani lakukan selain memeluk
gadis ini dan mengucapkan salam perpisahan manis.
ooOoo
Kenyataannya tidak
semudah itu.
Tifa mungkin memberikan restu selembut sutra, tapi mendekati Dave sama
saja seperti bertahan hidup di Antartika. Sikap ramah dan hangat yang sering
Dave tujukan padanya, ternyata hanya berlaku selama Tifa ada di sisi pemuda
itu. Selepas gadis itu menghilang, Dave tak ubahnya seperti gunung es yang
membuat beku keadaan sekeliling. Jangankan dimiliki, didekati pun bukan usaha
yang mudah.
Hingga suatu hari, Riani menemukan Dave menyendiri di belakang gedung
teater. Ia hampir tak percaya kalau sosok yang sedang menikmati sebatang kretek
adalah Dave. Setahunya Dave adalah anak yang manis meski terkadang ia suka
menjahili teman-temannya. Baru kali ini ia melihat Dave ditemani oleh kepulan asap.
“Oh, kamu, Ri.”
Dave buru-buru mematikan rokok meskipun rokoknya belum memendek. Bagi
Riani tindakan tersebut sangat manis. Tanpa malu-malu ia mengambil tempat di
sebelah Dave.
“Kamu sendirian aja?”
“Gak, ini berdua sama kamu.”
Ternyata Dave masih menyimpan guyonan kecilnya. Padahal sejak Tifa pergi
ia hampir tak pernah melihat Dave tersenyum kembali.
“Apa… apa Tifa sudah berangkat ya?” Riani mencoba membuka percakapan.
“Peduli amat,” jawab Dave acuh tak acuh.
“Ka—kamu udah putus dari dia?”
Dave tak menyahut, tetapi ekspresinya berubah geram.
“Ma—maaf, a—aku gak bermaksud—“
“Kalau kamu cuma mau membahas itu mendingan kamu pergi aja deh. Aku lagi
gak mau bahas-bahas itu.”
“Eh—eh, itu… aku bukan mau bilang itu. Aku…”
Riani gugup untuk mengatakan niatnya. Melihat Riani masih bergeming,
Dave pun jadi sebal. Ia pun memutuskan bangkit dan segera meninggalkan Riani.
“Dave, aku suka kamu!”
Kalimat singkat itu berhasil menghentikan langkah Dave. Ia berhenti dan
berbalik. Didapatinya Riani ikut berdiri seraya menatapnya gelisah.
“Kamu bilang apa barusan?”
“A—aku… a—aku… a—ku su—ka… kamu”
Sebenarnya Dave sudah mendengarnya pada lantunan pertama. Ia hanya ingin
memastikan kalau ia tak salah dengar.
“Kenapa?”
“Uh, apa?” Riani tampak bingung karena Dave justru berbalik menanyainya.
“Iya, kenapa kamu bisa suka sama aku?”
“I—itu….”
Dave mendesah panjang, “Terus, kamu mau apa? Kita pacaran begitu?”
Riani menatapnya tak percaya, “Ka—kamu gak keberatan?”
“Aku baru putus dari Tifa dan kamu langsung nembak aku? Kamu pikir itu
etis? Kamu itu perempuan.”
Riani tertunduk malu. Kata-kata Dave sangat benar.
“Yah, begitulah yang akan dikatakan orang-orang,” Dave tertawa sakartis.
“Kamu siap?”
“Aku sudah memikirkan hal itu dan kupikir akan berat nantinya, tapi aku
sudah membulatkan tekad. Aku tetap pada pendirianku.”
Dave menatap Riani cukup lama. Tiba-tiba ia mendekat pada gadis itu
seraya menepuk bahunya lembut.
“Terima kasih, tapi aku juga masih tetap pada pendirianku.”
Riani tertegun, “Kamu masih suka sama ‘dia’?”
“Maaf, tapi sampai kapan pun ‘dia’ tidak bisa kulupakan. Perpisahan kami
hanya sepihak dan sampai sekarang aku belum menganggapnya selesai.”
‘Dia, dia, dia, dan dia
lagi. Kenapa ‘dia’ masih terus diingat? Padahal ‘dia’ sudah tak ada di sini.
Memangnya apa bagusnya dia?’
Tentu saja Riani hanya bisa membatin. Di saat-saat seperti ia sangat
membenci Tifa karena sama sekali tak bisa disingkirkan dari pikiran pemuda ini.
“Jika kamu berpikir apa bagusnya dia? Yah, tentu saja tidak ada dan kamu
pasti tahu kalau kamu lebih baik darinya,” Dave tersenyum kecil. “Tapi jika
kamu berpikir untuk menggantikan posisinya, maaf saja. Aku tidak berniat
melukaimu.”
“Itu menurutmu sekarang. Maksudku, kamu belum mencobanya.”
“Sudahlah, Ri. Jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku bukan laki-laki
sebaik itu.”
“Dave….” Riani meraih tangan Dave yang tadi melekat pada pundaknya.
“Bahkan jika kamu menganggapku hanya sebagai pelarian, aku tidak akan protes.
Aku hanya ingin memilikimu.”
“Bahkan jika kamu terluka?”
Riani mengangguk mantap.
Dave mendesah panjang, “Kamu yang tanggung resikonya.”
Di luar dugaan, Dave menarik Riani dalam pelukannya. Ia pikir Dave akan
meninggalkannya begitu saja, tapi siapa sangka jika pemuda itu justru berbagi
kehangatan. Riani berjanji akan terus memeluk perasaan itu meski ia tahu itu sama
saja seperti menggenggam bara api.
ooOoo
Sudah dengar kabar?”
Hana mengerlingkan mata dari buku teksnya, “Kabar
apa?”
“Kabar kalau sekarang Riani dan Dave pacaran.”
“Terus kenapa?”
Gloria menghentakkan ujung penanya dengan kesal, “Ya, gak
bisa gitu dong! Belum sebulan Tifa pergi masa Riani udah pacaran aja sama Dave?
Dia kayak gak punya malu.”
“Yang gak punya malu’kan dia. Kenapa kamu yang sewot?”
“Hana, kamu ini gimana sih? Masa kamu gak kesal
lihatnya? Tifa itu teman kita, harusnya kamu belain dia dong!”
Hana mendesah panjang, “Kamu seharusnya lihat dari
sudut pandang Tifa dong. Mungkin aja Tifa dan Dave memang sudah putus. Lagi
pula gak ada harapan kalau Tifa bakal balik. Jadi, daripada Dave main-main
dengan cewek yang gak bener, mending Tifa merelakan Dave dengan Riani yang dari
awal dia sudah tahu.”
“Dan lagi ini bukan urusan kita, Glo. Kamu gak berhak
ikut campur, begitu juga aku.”
Melihat
Gloria memasang tampang cemberut, Hana hanya bisa mendesah berat.
“Iya,
iya, aku juga setuju denganmu. Riani memang gak seharusnya begitu, tapi tetap
saja kita gak boleh terlibat terlalu jauh. Ngerti?”
Gloria
mengangguk cepat. Senang pendapatnya mendapat dukungan.
“Tapiii...
aku tekankan sekali lagi sama kamu, ini bukan urusan kita. Kamu gak usah
nunjukin kalau kamu gak suka sama mereka, ngerti?”
“Okeee,”
sahut Gloria malas.
ooOoo
Untuk kesekian kalinya, Hana harus mencari Dave
ke sana ke mari. Untuk kesekian kalinya pula, ia menemukan Dave menyendiri
dengan kepulan asap menemani.
“Kamu tuh kalau latihan datang dong. Kamu mau
aku cincang apa?”
“Berisik deh,” sahut Dave tak acuh.
“Hei, aku ini pemimpin pementasan, tahu?”
“Memangnya kamu bisa gantikan Tifa?”
Hana mendesah berat, “Aku tahu aku gak bakal
bisa gantikan dia, tapi tanggung jawabnya ada padaku sekarang. Suka gak suka
kamu harua nurut sama aku sekarang karena posisimu masih menjadi anggota.”
“Memang benar-benar khas kamu,” Dave terkekeh.
“Iya, iya, aku latihan.”
Hana menatap Dave yang hampir beranjak dari
tempat duduknya.
“Sebenarnya ada yang masih mengganggu pikiranku.
Ini masalahmu dengan Riani.”
“Hoo, jadi kamu mau berkomentar juga?”
“Hmm, begini maksudku, aku gak tahu apa motifmu,
tapi kuharap kamu serius dengan hubungan kalian. Aku tahu kamu masih terluka
oleh Tifa, tapi jangan jadikan alasanmu untuk menyakiti orang lain. Tifa dan
Riani itu sahabatku.”
Dave hanya membisu.
“Aku hanya mau menyampaikan itu. Baiklah, sampai
jumpa saat latihan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar