Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 182)




Musikal 182

Keesokkan harinya Tifa meminta semua anggotanya untuk berkumpul lebih lama sebelum pulang. Biasanya setelah membicarakan masalah latihan, mereka langsung bubar jalan, tapi kali ini Tifa menahan mereka sejenak dan Hana-lah yang memulai pembicaraan.
“Maaf karena telah menahan kalian di sini, tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan sekarang,” Hana melirik Tifa lalu kembali menatap teman-temannya. “Aku yakin hal penting ini pasti akan mengejutkan sekaligus mengecewakan kalian semua.
“Latifa Kusuma Ningsi, sutradara kita, akan mengundurkan diri dari pementasan ini dan sebagai gantinya aku yang akan menjabat sebagai sutradara.”
Kegaduhan spontan timbul, bahkan Dave sampai melompat bangun. Tatapan kaget bercampur marah tertuju pada Tifa. Namun, gadis itu seolah tak merasa sedang dipelototi Dave.
“Ada apa?” seru Gloria. “Kenapa tiba-tiba seperti ini?”
“Jangan bilang karena masalah pribadimu, Tif!” sahut Tri—dari bagian tata rias—dengan ketus.
“Hei!” Hana menyahut tak kalah keras. Keduanya sama-sama tak terima karena mereka merasa berada di pihak yang benar. Namun, keduanya tak berniat beradu mulut. Mereka hanya saling bertukar tatapan tajam.
Kegaduhan semakin menjadi. Semua orang menyalahkan Tifa. Dave masih tetap dalam posisinya. Diam dengan tatapan yang membutuhkan jawaban. Di tengah keributan itu, tiba-tiba Tifa berdiri.  Sorot matanya yang datar berhasil membungkam semua mulut yang berkomentar. Terakhir ia jatuhkan pandangannya pada Dave.
“Duduklah, Dave. Akan aku jelaskan jika kalian semua mau mendengarkannya.”
Dave menurut. Tifa menarik napas panjang lalu ia tatap satu persatu anggotanya.
“Aku tahu ini keputusan egois. Tidak profesional, ya, silakan bilang, aku akan mengakuinya. Hanya saja saat ini aku memang sudah tidak bisa lagi menjadi pemimpin kalian. Ada atau tidak adanya aku keadaan akan sama saja. Kalian toh sudah sampai di tahap ini. Persiapan sudah rampung. Hari-hari ke depan kita hanya memoles saja dan aku percaya kalian pasti bisa melakukannya dengan baik, apalagi penggantiku ini juga orang yang profesional.”
Tifa diam sejenak. Wajah-wajah ketidakpuasan masih melekat di sana.
“Hanya dua bulan. Hanya dalam waktu dua bulan aku kehilangan dua orang yang membuatku sampai seperti ini. Tanpa mereka aku tidak akan berada di titik ini dan sekarang mereka pergi dengan cara yang tidak aku suka. Aku tidak menyuruh kalian membayangkan bagaimana perasaanku, tapi aku benar-benar kehilangan semua semangat. Aku sudah seperti zombie. Manusia tidak akan berguna lagi bila sudah menjadi zombie. Menurut kalian apa aku masih berguna?”
“Tapi kenapa kamu harus pergi?” sahut Gloria.
“Aku butuh masa penenangan diri. Berada di tempat hanya membawa kenangan buruk bagiku. Aku selalu dibayang-bayangi kakak dan ayahku. Aku juga….”
Kata-kata Tifa terputus. Bibirnya terlihat bergetar dan matanya seperti berair. Bisik-bisik mulai terdengar karena mereka tak pernah melihat Tifa begitu emosional seperti ini.
“Aku juga sempat berpikir untuk menyusul mereka, tapi… itu gagasan yang gila dan kupikir sekarang sudah saatnya aku menenangkan diriku. Kuharap kalian menerima alasanku.”
Teman-temannya tertegun. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang mulai ikut menangis. Meski begitu Tifa tetap bergeming tanpa ada setetes air mata yang menetes.
“Apa…apa kamu akan pindah sekolah juga?” tanya Riani hati-hati.
“Ya.”
Jawaban pendek Tifa mengundang desah berat bersamaan.
“Aku juga mau menyampaikan itu. Makanya aku juga sekalian mau pamit pada kalian semua. Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan pindah sekolah sekaligus pindah rumah. Untuk itu, aku ingin menyampaikan permintaan maafku atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat dan juga karena telah meninggalkan klub ini tiba-tiba. Aku benar-benar minta maaf.”
Tifa menundukkan tubuhnya dalam-dalam. Sangat anggun, tanpa air mata. Namun, saat Tifa kembali tegak, Gloria sudah ada di hadapannya. Tiba-tiba saja ia melayangkan sebuah tamparan di wajah Tifa. Semua orang terkejut, termasuk Tifa sendiri. Ia hanya diam tanpa berniat membalas. Namun, ia mendapati wajah Gloria sudah memerah.
“Kamu… kamu bisa seenaknya meninggalkan kami semua ketika kami dalam masa sulit, tapi kamu… kamu justru pergi di saat kamu dalam masalah. Kamu pikir apa gunanya kami di sini? Apa kami hanya pembantu anggota klub yang bisa kamu suruh-suruh? Kami ini temanmu, bodoh!”
Gloria melemparkan pelukannya pada Tifa. Seketika ia menangis. Teman-temannya yang lain pun jadi mengikuti Gloria. Mereka memeluk Tifa seolah tak ingin membiarkan gadis itu pergi.
“Ah, sial,” umpat Tifa pelan karena perjuangannya menahan air mata bisa sia-sia karena pelukan membabi buta ini. Namun, saat matanya bertemu dengan Dave, pemuda itu hanya memalingkan wajah. Ia seperti tak ingin dilihat lagi oleh Tifa.
‘Yah, lebih baik begitu….’
ooOoo
Ternyata hanya di dalam saja Dave bersikap marah. Pemuda itu justru menunggu Tifa di gerbang sekolah meski hari sudah gelap. Tifa tahu isyarat pemuda itu agar ia naik ke sadel belakang motor. Pasti ia mau meminta kepastian.
Tahu-tahu Tifa sudah berada di salah satu pojok pelataran Benteng Kuto Besak. Memadangi air sungai yang menghitam dan merasakan angin malam menusuk tulang.
“Bisa kamu jelaskan padaku soal ini?” suara Dave terdengar lebih berat dari biasanya. “Kenapa aku termasuk orang-orang terakhir yang tahu masalah ini?”
“Karena aku tahu reaksimu itu akan sangat mengangguku.”
Jawaban Tifa setenang ombak sungai malam itu. Namun, jawaban itu justru memancing amarah Dave. Ia memutar kasar tubuh gadis itu dan memaksanya agar Tifa menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Aku lelah, Dave,” jawab Tifa datar. “Aku mau putus aja dari kamu.”
Tangan Dave menegang. Cengkramannya perlahan melemah.
“Ta—tapi kenapa?”
“Bukannya kamu dengar sendiri tadi. Aku sangat tertekan Dave dengan semua permasalahan ini. Keberadaan kamu hanya menambah bebanku saja. Aku ingin melepaskan semua ini dan kembali menjalani kehidupanku dari nol.”
“Apa kamu tidak bahagia denganku selama ini?”
“Aku bahagia, tapi saat ini kamu cuma penghalangku saja. Percuma jika kita teruskan hubungan ini. Aku berubah sangat drastis dan aku gak mau kamu ikut-ikutan berubah hanya karena aku.”
Tangan Dave benar-benar terlepas. Tifa mundur perlahan dan mengambil jarak agar pemuda itu tak menariknya lagi.
“Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu selama ini dan juga terima kasih karena telah memilihku. Kamu pria terbaik yang pernah aku temui.”
Angin berhembus lembut. Sekali lagi, menusuk tulang, menusuk hati.
“Tapi aku hanya menginginkan dirimu, Tif,” ujar Dave dengan kepala tertunduk.
Tifa tersenyum, “Ada banyak gadis yang bisa membuatmu lebih bahagia daripada aku. Kamu akan terluka, tapi ini hanya sementara. Setelah itu aku yakin kamu akan menemukan cerita yang indah lagi.”
“Sepuluh, dua puluh, atau mungkin selamanya,” Dave mengangkat wajahnya dan menatap Tifa sungguh-sungguh. “Aku pasti akan mencari dan menunggumu. Aku bersumpah!”
“Jangan,” Tifa mengucapkan dengan lembut seraya menggelengkan kepala. “Jangan cari atau menungguku. Kelak aku akan datang kembali, tapi dengan sosok yang berbeda. Aku yakin saat itu kamu akan menyesal.”
“Aku tidak akan menarik kata-kataku, Tif!”
Dave berseru keras. Mendengar itu Tifa hanya kembali tersenyum.
“Selamat tinggal, Dave.”
Tifa membalikkan badannya. Langkahnya tegap dan tanpa menoleh ke belakang. Dave buru-buru mengejar dan menariknya.
“Mau ke mana kamu? Kamu pikir bisa pulang sendiri?”
Tifa tak menolak. Ia menuruti Dave untuk pulang bersama. Sepanjang perjalanan keduanya hanya membisu.
“Terima kasih, tapi maaf aku tidak menyilakan kamu mampir.”
Tifa hampir membuka pintu pagar kemudian ia berbalik.
“Oh ya, mungkin mulai besok mungkin aku mulai tidak bersekolah lagi. Jadi, jangan repot-repot membuatkan surat untukku.”
Dave masih bergeming di motornya.
“Hati-hati saat pulang dan… selamat tinggal…”
Kali ini pintu rumah Tifa benar-benar tertutup untuknya. Tifa benar-benar akan menghilang dari pandangannya. Bahkan di saat terakhir ia tak sempat memeluk gadis itu.
Namun, Dave tidak akan pernah menarik kata-katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar