Musikal
182
Keesokkan harinya Tifa
meminta semua anggotanya untuk berkumpul lebih lama sebelum pulang. Biasanya
setelah membicarakan masalah latihan, mereka langsung bubar jalan, tapi kali
ini Tifa menahan mereka sejenak dan Hana-lah yang memulai pembicaraan.
“Maaf karena telah menahan kalian di sini, tapi ada hal penting yang
harus aku sampaikan sekarang,” Hana melirik Tifa lalu kembali menatap
teman-temannya. “Aku yakin hal penting ini pasti akan mengejutkan sekaligus
mengecewakan kalian semua.
“Latifa Kusuma Ningsi, sutradara kita, akan mengundurkan diri dari
pementasan ini dan sebagai gantinya aku yang akan menjabat sebagai sutradara.”
Kegaduhan spontan timbul, bahkan Dave sampai melompat bangun. Tatapan
kaget bercampur marah tertuju pada Tifa. Namun, gadis itu seolah tak merasa
sedang dipelototi Dave.
“Ada apa?” seru Gloria. “Kenapa tiba-tiba seperti ini?”
“Jangan bilang karena masalah pribadimu, Tif!” sahut Tri—dari bagian
tata rias—dengan ketus.
“Hei!” Hana menyahut tak kalah keras. Keduanya sama-sama tak terima
karena mereka merasa berada di pihak yang benar. Namun, keduanya tak berniat
beradu mulut. Mereka hanya saling bertukar tatapan tajam.
Kegaduhan semakin menjadi. Semua orang menyalahkan Tifa. Dave masih
tetap dalam posisinya. Diam dengan tatapan yang membutuhkan jawaban. Di tengah
keributan itu, tiba-tiba Tifa berdiri.
Sorot matanya yang datar berhasil membungkam semua mulut yang
berkomentar. Terakhir ia jatuhkan pandangannya pada Dave.
“Duduklah, Dave. Akan aku jelaskan jika kalian semua mau
mendengarkannya.”
Dave menurut. Tifa menarik napas panjang lalu ia tatap satu persatu
anggotanya.
“Aku tahu ini keputusan egois. Tidak profesional, ya, silakan bilang,
aku akan mengakuinya. Hanya saja saat ini aku memang sudah tidak bisa lagi
menjadi pemimpin kalian. Ada atau tidak adanya aku keadaan akan sama saja.
Kalian toh sudah sampai di tahap ini.
Persiapan sudah rampung. Hari-hari ke depan kita hanya memoles saja dan aku
percaya kalian pasti bisa melakukannya dengan baik, apalagi penggantiku ini
juga orang yang profesional.”
Tifa diam sejenak. Wajah-wajah ketidakpuasan masih melekat di sana.
“Hanya dua bulan. Hanya dalam waktu dua bulan aku kehilangan dua orang
yang membuatku sampai seperti ini. Tanpa mereka aku tidak akan berada di titik
ini dan sekarang mereka pergi dengan cara yang tidak aku suka. Aku tidak
menyuruh kalian membayangkan bagaimana perasaanku, tapi aku benar-benar
kehilangan semua semangat. Aku sudah seperti zombie. Manusia tidak akan berguna
lagi bila sudah menjadi zombie. Menurut kalian apa aku masih berguna?”
“Tapi kenapa kamu harus pergi?” sahut Gloria.
“Aku butuh masa penenangan diri. Berada di tempat hanya membawa kenangan
buruk bagiku. Aku selalu dibayang-bayangi kakak dan ayahku. Aku juga….”
Kata-kata Tifa terputus. Bibirnya terlihat bergetar dan matanya seperti
berair. Bisik-bisik mulai terdengar karena mereka tak pernah melihat Tifa
begitu emosional seperti ini.
“Aku juga sempat berpikir untuk menyusul mereka, tapi… itu gagasan yang
gila dan kupikir sekarang sudah saatnya aku menenangkan diriku. Kuharap kalian
menerima alasanku.”
Teman-temannya tertegun. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang mulai
ikut menangis. Meski begitu Tifa tetap bergeming tanpa ada setetes air mata
yang menetes.
“Apa…apa kamu akan pindah sekolah juga?” tanya Riani hati-hati.
“Ya.”
Jawaban pendek Tifa mengundang desah berat bersamaan.
“Aku juga mau menyampaikan itu. Makanya aku juga sekalian mau pamit pada
kalian semua. Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan pindah sekolah sekaligus
pindah rumah. Untuk itu, aku ingin menyampaikan permintaan maafku atas semua
kesalahan yang pernah aku perbuat dan juga karena telah meninggalkan klub ini
tiba-tiba. Aku benar-benar minta maaf.”
Tifa menundukkan tubuhnya dalam-dalam. Sangat anggun, tanpa air mata.
Namun, saat Tifa kembali tegak, Gloria sudah ada di hadapannya. Tiba-tiba saja
ia melayangkan sebuah tamparan di wajah Tifa. Semua orang terkejut, termasuk
Tifa sendiri. Ia hanya diam tanpa berniat membalas. Namun, ia mendapati wajah
Gloria sudah memerah.
“Kamu… kamu bisa seenaknya meninggalkan kami semua ketika kami dalam
masa sulit, tapi kamu… kamu justru pergi di saat kamu dalam masalah. Kamu pikir
apa gunanya kami di sini? Apa kami hanya pembantu anggota klub yang bisa kamu
suruh-suruh? Kami ini temanmu, bodoh!”
Gloria melemparkan pelukannya pada Tifa. Seketika ia menangis. Teman-temannya
yang lain pun jadi mengikuti Gloria. Mereka memeluk Tifa seolah tak ingin
membiarkan gadis itu pergi.
“Ah, sial,” umpat Tifa pelan karena perjuangannya menahan air mata bisa
sia-sia karena pelukan membabi buta ini. Namun, saat matanya bertemu dengan
Dave, pemuda itu hanya memalingkan wajah. Ia seperti tak ingin dilihat lagi
oleh Tifa.
‘Yah, lebih baik
begitu….’
ooOoo
Ternyata hanya di dalam
saja Dave bersikap marah. Pemuda itu justru menunggu Tifa di gerbang sekolah
meski hari sudah gelap. Tifa tahu isyarat pemuda itu agar ia naik ke sadel
belakang motor. Pasti ia mau meminta kepastian.
Tahu-tahu Tifa sudah berada di salah satu pojok pelataran Benteng Kuto
Besak. Memadangi air sungai yang menghitam dan merasakan angin malam menusuk
tulang.
“Bisa kamu jelaskan padaku soal ini?” suara Dave terdengar lebih berat
dari biasanya. “Kenapa aku termasuk orang-orang terakhir yang tahu masalah
ini?”
“Karena aku tahu reaksimu itu akan sangat mengangguku.”
Jawaban Tifa setenang ombak sungai malam itu. Namun, jawaban itu justru
memancing amarah Dave. Ia memutar kasar tubuh gadis itu dan memaksanya agar
Tifa menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Aku lelah, Dave,” jawab Tifa datar. “Aku mau putus aja dari kamu.”
Tangan Dave menegang. Cengkramannya perlahan melemah.
“Ta—tapi kenapa?”
“Bukannya kamu dengar sendiri tadi. Aku sangat tertekan Dave dengan
semua permasalahan ini. Keberadaan kamu hanya menambah bebanku saja. Aku ingin
melepaskan semua ini dan kembali menjalani kehidupanku dari nol.”
“Apa kamu tidak bahagia denganku selama ini?”
“Aku bahagia, tapi saat ini kamu cuma penghalangku saja. Percuma jika
kita teruskan hubungan ini. Aku berubah sangat drastis dan aku gak mau kamu
ikut-ikutan berubah hanya karena aku.”
Tangan Dave benar-benar terlepas. Tifa mundur perlahan dan mengambil
jarak agar pemuda itu tak menariknya lagi.
“Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu selama ini dan juga terima kasih
karena telah memilihku. Kamu pria terbaik yang pernah aku temui.”
Angin berhembus lembut. Sekali lagi, menusuk tulang, menusuk hati.
“Tapi aku hanya menginginkan dirimu, Tif,” ujar Dave dengan kepala
tertunduk.
Tifa tersenyum, “Ada banyak gadis yang bisa membuatmu lebih bahagia
daripada aku. Kamu akan terluka, tapi ini hanya sementara. Setelah itu aku
yakin kamu akan menemukan cerita yang indah lagi.”
“Sepuluh, dua puluh, atau mungkin selamanya,” Dave mengangkat wajahnya
dan menatap Tifa sungguh-sungguh. “Aku pasti akan mencari dan menunggumu. Aku
bersumpah!”
“Jangan,” Tifa mengucapkan dengan lembut seraya menggelengkan kepala.
“Jangan cari atau menungguku. Kelak aku akan datang kembali, tapi dengan sosok
yang berbeda. Aku yakin saat itu kamu akan menyesal.”
“Aku tidak akan menarik kata-kataku, Tif!”
Dave berseru keras. Mendengar itu Tifa hanya kembali tersenyum.
“Selamat tinggal, Dave.”
Tifa membalikkan badannya. Langkahnya tegap dan tanpa menoleh ke
belakang. Dave buru-buru mengejar dan menariknya.
“Mau ke mana kamu? Kamu pikir bisa pulang sendiri?”
Tifa tak menolak. Ia menuruti Dave untuk pulang bersama. Sepanjang
perjalanan keduanya hanya membisu.
“Terima kasih, tapi maaf aku tidak menyilakan kamu mampir.”
Tifa hampir membuka pintu pagar kemudian ia berbalik.
“Oh ya, mungkin mulai besok mungkin aku mulai tidak bersekolah lagi.
Jadi, jangan repot-repot membuatkan surat untukku.”
Dave masih bergeming di motornya.
“Hati-hati saat pulang dan… selamat tinggal…”
Kali ini pintu rumah Tifa benar-benar tertutup untuknya. Tifa
benar-benar akan menghilang dari pandangannya. Bahkan di saat terakhir ia tak
sempat memeluk gadis itu.
Namun, Dave tidak akan pernah menarik kata-katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar