Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 190)




Musikal 190

Malam semakin larut. Tak ada lagi kunjungan. Adrian sengaja menyuruh neneknya pulang. Entah kenapa malam ini ia ingin sendiri saja menunggu tantenya.
Ia pegangi telapak tangan wanita itu. Masih hangat dan ia tak ingin kehangatan itu hilang. Tiba-tiba ia merasa takut. Takut jika telapak tangan itu sudah tidak hangat lagi. Fantasinya membuat sekujut tubuhnya menggigil dan perlahan air matanya jatuh.
“Cuma Tante yang aku punya. Aku sudah kehilangan segalanya. Segala yang kucintai. Segala yang ingin kulindungi. Kenapa Tante harus pergi juga? Kumohon, tetaplah di sini.”
Tak ada respon.
“Beri aku kesempatan untuk berbahagia juga. Aku ingin Tante ada di sini dan aku tidak akan peduli yang lain.
“Kembalilah, aku membutuhkanmu….”
ooOoo
Tifa berlari ke sana ke mari. Membuka satu per satu pintu yang ada di kanan dan kiri. Tidak ada. Tidak ada jalan keluar. Tiap kali ia membuka pintu yang ia temukan hanyalah kenangan masa lalu, kemudian menghanyutkannya. Namun, Tifa sudah bosan. Ia ingin keluar dari masa lalu itu. Sampai akhirnya ia membuka sebuah pintu yang berada tepat di hadapannya. Cahaya yang berkilauan menerpanya tatkala daun pintu itu berderak.
Sesosok wanita bergaun putih menantinya dari balik pintu. Ia tersenyum saat Tifa berhasil membukanya. Tifa sempat tertegun melihat sosok wanita itu. Seketika air matanya melucur bebas di kedua belah pipinya.
“Sudah lama ya, Tif,” sapanya.
Tifa berlari dan memeluk wanita itu sangat erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan tak peduli jika ia harus kembali ke salah satu pintu masa lalu itu. Apa yang ia cari selama ini sudah ia temukan.
“Adikku…”
“….Kakak.”
Cukup lama Tifa mendekap wanita itu. Bahkan sampai air matanya mongering, ia tak berniat untuk melepaskannya.
“Apa pertemuan kita ini hanya sebatas pelukan saja?”
“Habisnya kalau tidak aku peluk, Kak Laksmi akan pergi lagi.”
“Aku memang sudah tidak ada, Tif.”
Tifa beringsut bagai tersentak lebah, “Apa ini mimpi? Kakak memang selalu ada dalam mimpiku, tapi… tapi ini begitu nyata.”
Laksmi tersenyum, “Kamu sekarat, Tif. Lihatlah!”
Laksmi menunjuk sesuatu di belakang Tifa. Serta-merta ia memutar kepalanya dan mendapati sosoknya yang sedang terbaring. Sangat jauh, tapi ia bisa merasakan semua yang terjadi di sana dan di sini.
“A—aku dimana?”
“Di sebuah tempat yang tidak bisa dijelaskan. Kamu tidak mati, tapi juga tidak sadarkan diri. Makanya kita bisa bertemu.”
“Kak Laksmi aku….”
Laksmi mengulurkan tangannya, “Mau berjalan-jalan sebentar.”
Tifa masih menganalisis bagaimana ia bisa merasakan dua dunia yang terpisah sekaligus. Ia bisa mendengar suara tangisan, kata-kata harapan, dan panggilan dari orang-orang yang mengenalnya, tapi keberadaan Laksmi juga begitu nyata. Namun, untuk saat ini sosok Laksmi yang sangat ia rindukan lebih penting daripada apa pun.
“Kak, apa aku bisa bertemu ayah juga?”
Laksmi tertawa kecil, “Sayangnya, tidak. Aku ke sini hanya ingin menyampaikan apa yang tidak sempat kusampaikan.”
Langkah Laksmi terhenti. Kedua tangannya menyentuh bahu sang adik.
“Tif, apa kamu menyanyangiku?”
“Kenapa harus aku jawab?” Tifa balik bertanya. “Itu sebuah retoris, Kak.”
“Jawab saja.”
Tifa mendesah berat, “Gak ada yang lebih aku sayangi selain Kakak. Jadi, gak usah dipertegas.”
Laksmi kembali tersenyum, “Kalau begitu kamu tidak bisa di sini.”
“Ta—tapi kenapa? Kita baru aja ketemu, kenapa Kakak malah ngusir aku?”
“Karena aku telah meninggalkan orang-orang yang menyanyangiku, termasuk kamu, Tif. Makanya aku gak mau kamu menghilang dari orang-orang yang menyayangimu.”
Tifa menatap Laskmi nanar.
“Bukannya kamu sendiri melihat betapa banyak orang menangis dan berharap kamu kembali, lalu kenapa kamu harus membuat mereka menderita? Dan bukannya kamu lebih tahu bagaimana rasanya kehilangan?”
Tifa menggigit bibirnya. Laksmi kembali menunjuk ke arah belakang.
“Dia lebih membutuhkanmu daripada aku, Tif.”
Mau tak mau Tifa kembali berbalik. Kali ini sosok Adrian sedang menangisi raganya yang kosong. Tangis pemuda itu amat perih. Tangisan yang sama ketika ia berada di pemakaman Laksmi dan ayahnya.
Belum sempat Tifa mencerna semua itu, tubuhnya sudah dalam dekapan Laksmi. Wanita itu berbisik dengan suara parau.
“Aku tidak mau kamu menyesal, Tif. Jangan melarikan diri! Jangan seperti diriku! Jangan buat kesalahan yang sama dengaku, Tif! Sudah cukup kamu mengalah, saatnya kamu yang maju. Kamu wanita yang pemberani, Tif. Kamu bukan aku, si pecundang yang pada akhirnya hanya melarikan diri. Maafkan kakakmu yang membuat hidupmu menderita seperti ini. Tidak seharusnya kamu merasakan semua hal getir ini. Lepaskan dan tersenyumlah! Sudah saatnya kamu berbahagia.”
Air mata Tifa kembali mengalir. Kali ini kakaknya mengucapkan selamat tinggal dengan sebaik-baiknya. Semua tali kekang yang selama ini membelitnya akhirnya terlepas. Tubuhnya terasa ringan seperti bulu. Bahkan ia sampai tak sadar kalau sang kakak mendorong tubuhnya.
Tifa merasakan kecepatan yang luar biasa. Ada energi yang mendorong dan menariknya secara bersamaan. Terlalu cepat hingga ketika ia mendarat tubuhnya menghentak hebat. Selanjutnya terdengar satu lantunan panjang. Sebuah dengungan panjang yang membangunkan semua orang.
Hitam. Putih. Buram. Putih kembali. Perlahan ia menangkap jutaan cahaya dalam temaram. Sosok Adrian perlahan semakin jelas. Ia ingin membuka bibirnya, tapi terlalu lengket. Namun, suara Adrian berhasil menyadarkan semua orang, termasuk dirinya.
“Tanteee….”
Lalu lalang adalah pemandangan yang selanjutnya ia rasakan. Terlalu banyak rasa yang diterima oleh reseptornya. Namun, ia masih teringat ucapan terakhir yang dibisikkan Laksmi sebelum tubuhnya terdorong jatuh.
‘Aku menyayangimu, Tif…’
Mata Tifa kembali terpejam. Kali ini ia sudah mantap. Ia tak akan ke mana-mana. Ia sudah kembali dan tak akan pergi lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar