Musikal
190
Malam semakin larut.
Tak ada lagi kunjungan. Adrian sengaja menyuruh neneknya pulang. Entah kenapa
malam ini ia ingin sendiri saja menunggu tantenya.
Ia pegangi telapak tangan wanita itu. Masih hangat dan ia tak ingin
kehangatan itu hilang. Tiba-tiba ia merasa takut. Takut jika telapak tangan itu
sudah tidak hangat lagi. Fantasinya membuat sekujut tubuhnya menggigil dan
perlahan air matanya jatuh.
“Cuma Tante yang aku punya. Aku sudah kehilangan segalanya. Segala yang
kucintai. Segala yang ingin kulindungi. Kenapa Tante harus pergi juga? Kumohon,
tetaplah di sini.”
Tak ada respon.
“Beri aku kesempatan untuk berbahagia juga. Aku ingin Tante ada di sini
dan aku tidak akan peduli yang lain.
“Kembalilah, aku membutuhkanmu….”
ooOoo
Tifa berlari ke sana ke
mari. Membuka satu per satu pintu yang ada di kanan dan kiri. Tidak ada. Tidak
ada jalan keluar. Tiap kali ia membuka pintu yang ia temukan hanyalah kenangan
masa lalu, kemudian menghanyutkannya. Namun, Tifa sudah bosan. Ia ingin keluar
dari masa lalu itu. Sampai akhirnya ia membuka sebuah pintu yang berada tepat
di hadapannya. Cahaya yang berkilauan menerpanya tatkala daun pintu itu
berderak.
Sesosok wanita bergaun putih menantinya dari balik pintu. Ia tersenyum
saat Tifa berhasil membukanya. Tifa sempat tertegun melihat sosok wanita itu.
Seketika air matanya melucur bebas di kedua belah pipinya.
“Sudah lama ya, Tif,” sapanya.
Tifa berlari dan memeluk wanita itu sangat erat. Ia menangis
sejadi-jadinya. Ia bahkan tak peduli jika ia harus kembali ke salah satu pintu
masa lalu itu. Apa yang ia cari selama ini sudah ia temukan.
“Adikku…”
“….Kakak.”
Cukup lama Tifa mendekap wanita itu. Bahkan sampai air matanya
mongering, ia tak berniat untuk melepaskannya.
“Apa pertemuan kita ini hanya sebatas pelukan saja?”
“Habisnya kalau tidak aku peluk, Kak Laksmi akan pergi lagi.”
“Aku memang sudah tidak ada, Tif.”
Tifa beringsut bagai tersentak lebah, “Apa ini mimpi? Kakak memang
selalu ada dalam mimpiku, tapi… tapi ini begitu nyata.”
Laksmi tersenyum, “Kamu sekarat, Tif. Lihatlah!”
Laksmi menunjuk sesuatu di belakang Tifa. Serta-merta ia memutar
kepalanya dan mendapati sosoknya yang sedang terbaring. Sangat jauh, tapi ia
bisa merasakan semua yang terjadi di sana dan di sini.
“A—aku dimana?”
“Di sebuah tempat yang tidak bisa dijelaskan. Kamu tidak mati, tapi juga
tidak sadarkan diri. Makanya kita bisa bertemu.”
“Kak Laksmi aku….”
Laksmi mengulurkan tangannya, “Mau berjalan-jalan sebentar.”
Tifa masih menganalisis bagaimana ia bisa merasakan dua dunia yang
terpisah sekaligus. Ia bisa mendengar suara tangisan, kata-kata harapan, dan
panggilan dari orang-orang yang mengenalnya, tapi keberadaan Laksmi juga begitu
nyata. Namun, untuk saat ini sosok Laksmi yang sangat ia rindukan lebih penting
daripada apa pun.
“Kak, apa aku bisa bertemu ayah juga?”
Laksmi tertawa kecil, “Sayangnya, tidak. Aku ke sini hanya ingin
menyampaikan apa yang tidak sempat kusampaikan.”
Langkah Laksmi terhenti. Kedua tangannya menyentuh bahu sang adik.
“Tif, apa kamu menyanyangiku?”
“Kenapa harus aku jawab?” Tifa balik bertanya. “Itu sebuah retoris,
Kak.”
“Jawab saja.”
Tifa mendesah berat, “Gak ada yang lebih aku sayangi selain Kakak. Jadi,
gak usah dipertegas.”
Laksmi kembali tersenyum, “Kalau begitu kamu tidak bisa di sini.”
“Ta—tapi kenapa? Kita baru aja ketemu, kenapa Kakak malah ngusir aku?”
“Karena aku telah meninggalkan orang-orang yang menyanyangiku, termasuk
kamu, Tif. Makanya aku gak mau kamu menghilang dari orang-orang yang menyayangimu.”
Tifa menatap Laskmi nanar.
“Bukannya kamu sendiri melihat betapa banyak orang menangis dan berharap
kamu kembali, lalu kenapa kamu harus membuat mereka menderita? Dan bukannya
kamu lebih tahu bagaimana rasanya kehilangan?”
Tifa menggigit bibirnya. Laksmi kembali menunjuk ke arah belakang.
“Dia lebih membutuhkanmu daripada aku, Tif.”
Mau tak mau Tifa kembali berbalik. Kali ini sosok Adrian sedang
menangisi raganya yang kosong. Tangis pemuda itu amat perih. Tangisan yang sama
ketika ia berada di pemakaman Laksmi dan ayahnya.
Belum sempat Tifa mencerna semua itu, tubuhnya sudah dalam dekapan
Laksmi. Wanita itu berbisik dengan suara parau.
“Aku tidak mau kamu menyesal, Tif. Jangan melarikan diri! Jangan seperti
diriku! Jangan buat kesalahan yang sama dengaku, Tif! Sudah cukup kamu
mengalah, saatnya kamu yang maju. Kamu wanita yang pemberani, Tif. Kamu bukan aku,
si pecundang yang pada akhirnya hanya melarikan diri. Maafkan kakakmu yang
membuat hidupmu menderita seperti ini. Tidak seharusnya kamu merasakan semua
hal getir ini. Lepaskan dan tersenyumlah! Sudah saatnya kamu berbahagia.”
Air mata Tifa kembali mengalir. Kali ini kakaknya mengucapkan selamat
tinggal dengan sebaik-baiknya. Semua tali kekang yang selama ini membelitnya
akhirnya terlepas. Tubuhnya terasa ringan seperti bulu. Bahkan ia sampai tak
sadar kalau sang kakak mendorong tubuhnya.
Tifa merasakan kecepatan yang luar biasa. Ada energi yang mendorong dan
menariknya secara bersamaan. Terlalu cepat hingga ketika ia mendarat tubuhnya
menghentak hebat. Selanjutnya terdengar satu lantunan panjang. Sebuah dengungan
panjang yang membangunkan semua orang.
Hitam. Putih. Buram. Putih kembali. Perlahan ia menangkap jutaan cahaya
dalam temaram. Sosok Adrian perlahan semakin jelas. Ia ingin membuka bibirnya,
tapi terlalu lengket. Namun, suara Adrian berhasil menyadarkan semua orang,
termasuk dirinya.
“Tanteee….”
Lalu lalang adalah pemandangan yang selanjutnya ia rasakan. Terlalu
banyak rasa yang diterima oleh reseptornya. Namun, ia masih teringat ucapan
terakhir yang dibisikkan Laksmi sebelum tubuhnya terdorong jatuh.
‘Aku menyayangimu,
Tif…’
Mata Tifa kembali terpejam. Kali ini ia sudah mantap. Ia tak akan ke
mana-mana. Ia sudah kembali dan tak akan pergi lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar