Musikal
197
Murid-murid kelas tiga
sudah memasuki waktu ujian nasional. Itu artinya masa karantina LM pun juga
mulai dilaksanakan. Tak terkecuali Tifa. meski di tengah hari ia harus
bolak-balik ke rumah sakit, tapi ia tetap keukeuh
tak mau meninggalkan anak didiknya.
Gedung teater pun disulap layaknya tempat pengungsian. Alas tidur
digelar, baju dan handuk bertebaran di sandaran kursi, serta berbagai macam
snack yang dibawa oleh mereka. Untuk makanan pokok dan baju kotor, Tifa sudah
menyiapkan catering dan laundry antarjemput
agar siswa-siswa manja itu tidak kerepotan.
“Cut!” teriakan lantang Tifa
menghentikan semua aktivitas di atas panggung. “Baiklah, waktunya istirahat.
Kita lanjutkan saat malam nanti. Saya harus pergi kontrol ke rumah sakit. Jadi,
waktu bebas untuk kalian”.
Semua anggota LM langsung bernapas lega. Itu artinya sampai malam tiba,
mereka akan dibebastugaskan. Sedari pagi mereka memang belum mendapat jatah
istirahat.
“Ada yang harus saya bicarakan denganmu, Fi,” Tifa meminta Dave untuk
menghentikan kursi rodanya. “Kamu tahu kalau saya berharap banyak darimu. Saya
harap kamu kembali seperti semua. Memang berat, tapi cobalah untuk bersikap
profesional”.
Gadis itu hanya mengangguk seraya membiarkan Tifa berlalu. Ia sedikit
temangu hingga tepukan Priyanka di bahunya membuat ia sadar.
“Ada masalah, teman?”
Fi mengangguk sambil mendesah pelan. Priyanka pun mengajak duduk santai
di teras gedung.
“Aku tidak bisa jika harus bertatapan langsung dengan Adrian. Bukannya
kamu sendiri bagaimana canggunggnya kami saat adegan dansa tadi?”
“Terus kamu maunya bagaimana?”
“Sejujurnya aku mau keluar saja. Aku sudah tidak sanggup lagi di sini
sejak skandal itu merebak, tapi semua sudah terlambat”.
Helaan napas berat Fi terdengar kembali. Keduanya sama-sama membisu.
“Eh, bagaimana kalau kita minya tolong Ririn?” ujar Priyanka. “Bukannya
dulu Ririn belajar memeranka tokoh Nayu? Mungkin kalian bisa tukar posisi”.
“Memangnya dia mau?” wajah Fi terlihat ragu.
“Dicoba saja. Toh selama ini
kita tahu kalau Ririn anak yang paling baik. Dia pasti mau menolong temannya
yang sedang kesusahan”.
Tawaran Priyanka terdengar menggiurkan. Ia pun tak sabar untuk segera
mencoba.
ooOoo
Ekspresi Dokter Edo
sulit ditebak ketika hamparan data-data hasil pemeriksaan Tifa sedang
dianalisisnya. Selain itu, data-data tersebut membuat Tifa lebih penarasan. Ia
hanya berharap kondisinya tidak semakin memburuk.
“Coba lebih banyak beristirahat. Saya sarankan untuk bedrest dulu sampai besok. Tidak usah
memimpin latihan seperti biasa”.
“Anak didikmu sudah cukup dewasa untuk dapat dipercaya”, potong Dokter
Edo sebelum Tifa sempat menyela.
Bahu Tifa melorot saat mendengar syarat itu. Benar saja, wanita itu
langsung kalah telak, “Lalu bagaimana hasilnya?”
“Hmm, ya. Progres ada, tapi tidak cukup signifikan. Pokoknya laksanakan
saja perintahku. Ini mutlak!”
“Oh, buang-buang waktu saja,” Tifa memutar paksa kursi rodanya. “Ayo
Dave, kita pulang saja!”
Dave buru-buru bangkit menyusul Tifa. untungnya ia masih sempat
mengucapkan terima kasih pada Dokter Edo. Pintu berdebam pelan. Kemudian Dokter
Edo kembali menekuri laporan pemeriksaan Tifa. Kali ini dahinya terlihat
berkerut.
“Hmmm, ini aneh”.
ooOoo
“Nggak mau!”
Fi dan Priyanka sangat terkejut mendengar penolakan Ririn. Tak hanya
suaranya yang lantang bahkan tangannya ikut terlipat di dada.
“Aku mengerti bagaimana susahnya berada di posisimu saat ini, tapi
mustahil memerankan tokoh Nayu dalam waktu dekat. Kita tidak mungkin mengulang
semua yang sudah diatur. Waktu sudah hampir habis dan pementasan tak akan
menunggu. Bagaimana pun kamu harus profesional. Jangan mengorbankan semua orang
hanya demi dirimu sendiri”.
Kedengarannya sangat pedas, tapi Ririn salah. Dialah yang lemah karena
tak bisa profesional saat ini. Untuk pertama kalinya ia benci menjadi pemeran
utama.
“Tapi, Rin…”
“Sudahlah, Ka. Ririn benar, aku saja yang lemah,” Fi tersenyum kecut.
“Baiklah, aku akan lebih profesional lagi”.
Fi mengajak Priyanka beranjak. Mata Ririn tak sengaja melirik Alexi.
Tiba-tiba saja ia mendapat ide.
“Hei, Fi. Kita mungkin tak perlu bertukar posisi, tapi aku punya jalan
keluar yang lebih baik.”
Kedua gadis ini tak mengerti saat Ririn mengajaknya menemui Alexi. Ririn
menceritakan masalah Fi dan rencana yang ia pikirkan. Rencana yang mengejutkan
karena terdengar hebat, tapi juga gila. Hebat jika berhasil dan gila jika
gagal. Miss Tifa bisa menelan mereka
semua.
“Risikonya besar, Rin. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Ini
akan melibatkan banyak orang dan aku tidak mau mengorbankan banyak orang,” ujar
Fi.
“Tapi aku setuju. Aku akan ikut”.
Jawaban tenang Alexi justru semakin mengundang kepanikan Fi.
“Hei, Al. Ini—”
“Tapi media yang kamu mau tidak ada di sini. Jadi, bagaimana?” ujar
Alexi tanpa mengindahkan Fi.
“Itulah yang aku pikirkan. Hmm, siapa ya yang bisa dimintai tolong?”
sahut Ririn.
Ririn dan Alexi terus saja membicarakan rencana tersebut. Sampai Fi
sendiri ikut gusar.
“Heeeii, kalian mendengarkan aku atau tidak sih?”
Ririn menatap Fi dengan angkuh, “Dengar, bukannya kamu sendiri yang
datang kepadaku minta tolong? Jadi, diam dan laksanakan saja”.
Tak hanya Fi, tapi Priyanka bahkan Alexi juga ikut terkejut mendengar
pernyataan gadi itu barusan. Sepertinya kepribadian Anna Croux benar-benar
merasuk dalam diri si kutu buku itu.
ooOoo
“Hei, apa kita tidak
mau melakukan sesuatu yang menakjubkan?”
Ben mengatakan hal itu di sela-sela mereka istirahat. Saat itu ia sedang
berkumpul dengan ketiga sahabatnya.
“Maksudmu?” tanya Anjani.
“Ya, kupikir kita sudah terlalu banyak merasakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari
momen yang bahagia, menyedihkan, bahkan sampai mengerikan. Menurutku, kita
harus menutup pementasan ini dengan sesuatu yang sangat manis.”
“Seperti?” tanya Kemal.
“Hmm, penutup terakhir seperti… last
dance?”
“Boleh juga?” sahut Wenda. “Tapi bagaimana kita harus melakukannya?”
“Apa kalian sedang membicarakan sesuatu?”
“Sepertinya menarik”.
Jiro dan Hiro tiba-tiba muncul dan bergabung dengan mereka.
“Ya, kami hanya berencana membuat sebuah penutup yang keren. Seperti
tarian epilog,” ujar Ben kemudian ia menerangkan rencana yang dimaksud.
“Kalau begitu, Wenda-chan pasti
lebih tahu bagaimana melakukannya, tapi masih ada seorang lagi yang bisa kita
minta tolong,” Jiro menggendikkan dagunya ke arah Alexi, “Dia pasti bisa
membantu kita”.
“Apa Senpai yakin dia bisa
membantu kita?” ujar Wenda. “Sepertinya ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan
oleh Alexi”.
“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum kamu benar-benar mengenalnya,”
tutup Hiro.
ooOoo
“Wah, wah, sedang apa
ini?” sapa Jiro.
“Menurut kalian sedang apa?” sahut Alexi yang masih berkumpul dengan
ketiga gadis tadi. “Kalian sendiri ada apa mendatangiku ramai-ramai?”
“Begini, Ben-kun dan
teman-temannya mempunyai rencana untuk memberikan sentuhan terakhir pada
pementasan kita”.
“Hmm, coba ceritakan padaku”.
Ben pun membeberkan rencananya pada Alexi. Pemuda berkacamata itu
mengangguk setuju.
“Sepertinya Ririn juga mengatakan hal yang sama”.
“Eh, Ririn?” ujar yang lain tersentak.
Ririn tergagap. Ia tidak mau rencananya diketahui orang lain, tapi
sepertinya sulit untuk menghindar di saat sepeerti ini.
“Oh, iya. Tarian, kan?” Fi langsung berimprovisasi. “Maksud kami juga
begitu”.
“Wow, ternyata Ririn sudah mendahuluiku,” Ben terkekeh. “Bagaimana
rencanamu?”
Ternyata Fi tidak membantunya lagi. Mungkin ia masih dendam karena telah
diremehkan sebelumnya atau ia ingin memberikan kesempatan pada Ririn untuk
berimprovisasi sendiri.
“Begitulah, tapi Alexi bilang
medianya tidak ada di sini,” Ririn menelan ludah. Padahal media yang mereka
maksud itu berbeda.
“Benar,” kata Alexi. “Aku punya alatnya, tapi kita tidak bisa keluar
dari tempat ini. sepertinya Miss Tifa
lebih rela menyewakan dokter pribadinya ketimbang kita ke klinik jika kita
sakit. Jadi, bagaimana kita bisa memulai?”
Semuanya diam dalam pikiran masing-masing. Kemudian mereka menyebutkan
nama yang sama di waktu yang bersamaan.
“Ah, Andani!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar