Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 197)




Musikal 197

Murid-murid kelas tiga sudah memasuki waktu ujian nasional. Itu artinya masa karantina LM pun juga mulai dilaksanakan. Tak terkecuali Tifa. meski di tengah hari ia harus bolak-balik ke rumah sakit, tapi ia tetap keukeuh tak mau meninggalkan anak didiknya.
Gedung teater pun disulap layaknya tempat pengungsian. Alas tidur digelar, baju dan handuk bertebaran di sandaran kursi, serta berbagai macam snack yang dibawa oleh mereka. Untuk makanan pokok dan baju kotor, Tifa sudah menyiapkan catering dan laundry antarjemput agar siswa-siswa manja itu tidak kerepotan.
Cut!” teriakan lantang Tifa menghentikan semua aktivitas di atas panggung. “Baiklah, waktunya istirahat. Kita lanjutkan saat malam nanti. Saya harus pergi kontrol ke rumah sakit. Jadi, waktu bebas untuk kalian”.
Semua anggota LM langsung bernapas lega. Itu artinya sampai malam tiba, mereka akan dibebastugaskan. Sedari pagi mereka memang belum mendapat jatah istirahat.
“Ada yang harus saya bicarakan denganmu, Fi,” Tifa meminta Dave untuk menghentikan kursi rodanya. “Kamu tahu kalau saya berharap banyak darimu. Saya harap kamu kembali seperti semua. Memang berat, tapi cobalah untuk bersikap profesional”.
Gadis itu hanya mengangguk seraya membiarkan Tifa berlalu. Ia sedikit temangu hingga tepukan Priyanka di bahunya membuat ia sadar.
“Ada masalah, teman?”
Fi mengangguk sambil mendesah pelan. Priyanka pun mengajak duduk santai di teras gedung.
“Aku tidak bisa jika harus bertatapan langsung dengan Adrian. Bukannya kamu sendiri bagaimana canggunggnya kami saat adegan dansa tadi?”
“Terus kamu maunya bagaimana?”
“Sejujurnya aku mau keluar saja. Aku sudah tidak sanggup lagi di sini sejak skandal itu merebak, tapi semua sudah terlambat”.
Helaan napas berat Fi terdengar kembali. Keduanya sama-sama membisu.
“Eh, bagaimana kalau kita minya tolong Ririn?” ujar Priyanka. “Bukannya dulu Ririn belajar memeranka tokoh Nayu? Mungkin kalian bisa tukar posisi”.
“Memangnya dia mau?” wajah Fi terlihat ragu.
“Dicoba saja. Toh selama ini kita tahu kalau Ririn anak yang paling baik. Dia pasti mau menolong temannya yang sedang kesusahan”.
Tawaran Priyanka terdengar menggiurkan. Ia pun tak sabar untuk segera mencoba.
ooOoo
Ekspresi Dokter Edo sulit ditebak ketika hamparan data-data hasil pemeriksaan Tifa sedang dianalisisnya. Selain itu, data-data tersebut membuat Tifa lebih penarasan. Ia hanya berharap kondisinya tidak semakin memburuk.
“Coba lebih banyak beristirahat. Saya sarankan untuk bedrest dulu sampai besok. Tidak usah memimpin latihan seperti biasa”.
“Anak didikmu sudah cukup dewasa untuk dapat dipercaya”, potong Dokter Edo sebelum Tifa sempat menyela.
Bahu Tifa melorot saat mendengar syarat itu. Benar saja, wanita itu langsung kalah telak, “Lalu bagaimana hasilnya?”
“Hmm, ya. Progres ada, tapi tidak cukup signifikan. Pokoknya laksanakan saja perintahku. Ini mutlak!”
“Oh, buang-buang waktu saja,” Tifa memutar paksa kursi rodanya. “Ayo Dave, kita pulang saja!”
Dave buru-buru bangkit menyusul Tifa. untungnya ia masih sempat mengucapkan terima kasih pada Dokter Edo. Pintu berdebam pelan. Kemudian Dokter Edo kembali menekuri laporan pemeriksaan Tifa. Kali ini dahinya terlihat berkerut.
“Hmmm, ini aneh”.
ooOoo
“Nggak mau!”
Fi dan Priyanka sangat terkejut mendengar penolakan Ririn. Tak hanya suaranya yang lantang bahkan tangannya ikut terlipat di dada.
“Aku mengerti bagaimana susahnya berada di posisimu saat ini, tapi mustahil memerankan tokoh Nayu dalam waktu dekat. Kita tidak mungkin mengulang semua yang sudah diatur. Waktu sudah hampir habis dan pementasan tak akan menunggu. Bagaimana pun kamu harus profesional. Jangan mengorbankan semua orang hanya demi dirimu sendiri”.
Kedengarannya sangat pedas, tapi Ririn salah. Dialah yang lemah karena tak bisa profesional saat ini. Untuk pertama kalinya ia benci menjadi pemeran utama.
“Tapi, Rin…”
“Sudahlah, Ka. Ririn benar, aku saja yang lemah,” Fi tersenyum kecut. “Baiklah, aku akan lebih profesional lagi”.
Fi mengajak Priyanka beranjak. Mata Ririn tak sengaja melirik Alexi. Tiba-tiba saja ia mendapat ide.
“Hei, Fi. Kita mungkin tak perlu bertukar posisi, tapi aku punya jalan keluar yang lebih baik.”
Kedua gadis ini tak mengerti saat Ririn mengajaknya menemui Alexi. Ririn menceritakan masalah Fi dan rencana yang ia pikirkan. Rencana yang mengejutkan karena terdengar hebat, tapi juga gila. Hebat jika berhasil dan gila jika gagal. Miss Tifa bisa menelan mereka semua.
“Risikonya besar, Rin. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Ini akan melibatkan banyak orang dan aku tidak mau mengorbankan banyak orang,” ujar Fi.
“Tapi aku setuju. Aku akan ikut”.
Jawaban tenang Alexi justru semakin mengundang kepanikan Fi.
“Hei, Al. Ini—”
“Tapi media yang kamu mau tidak ada di sini. Jadi, bagaimana?” ujar Alexi tanpa mengindahkan Fi.
“Itulah yang aku pikirkan. Hmm, siapa ya yang bisa dimintai tolong?” sahut Ririn.
Ririn dan Alexi terus saja membicarakan rencana tersebut. Sampai Fi sendiri ikut gusar.
“Heeeii, kalian mendengarkan aku atau tidak sih?”
Ririn menatap Fi dengan angkuh, “Dengar, bukannya kamu sendiri yang datang kepadaku minta tolong? Jadi, diam dan laksanakan saja”.
Tak hanya Fi, tapi Priyanka bahkan Alexi juga ikut terkejut mendengar pernyataan gadi itu barusan. Sepertinya kepribadian Anna Croux benar-benar merasuk dalam diri si kutu buku itu.
ooOoo
“Hei, apa kita tidak mau melakukan sesuatu yang menakjubkan?”
Ben mengatakan hal itu di sela-sela mereka istirahat. Saat itu ia sedang berkumpul dengan ketiga sahabatnya.
“Maksudmu?” tanya Anjani.
“Ya, kupikir kita sudah terlalu banyak merasakan hal  yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari momen yang bahagia, menyedihkan, bahkan sampai mengerikan. Menurutku, kita harus menutup pementasan ini dengan sesuatu yang sangat manis.”
“Seperti?” tanya Kemal.
“Hmm, penutup terakhir seperti… last dance?”
“Boleh juga?” sahut Wenda. “Tapi bagaimana kita harus melakukannya?”
“Apa kalian sedang membicarakan sesuatu?”
“Sepertinya menarik”.
Jiro dan Hiro tiba-tiba muncul dan bergabung dengan mereka.
“Ya, kami hanya berencana membuat sebuah penutup yang keren. Seperti tarian epilog,” ujar Ben kemudian ia menerangkan rencana yang dimaksud.
“Kalau begitu, Wenda-chan pasti lebih tahu bagaimana melakukannya, tapi masih ada seorang lagi yang bisa kita minta tolong,” Jiro menggendikkan dagunya ke arah Alexi, “Dia pasti bisa membantu kita”.
“Apa Senpai yakin dia bisa membantu kita?” ujar Wenda. “Sepertinya ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh Alexi”.
“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum kamu benar-benar mengenalnya,” tutup Hiro.
ooOoo
“Wah, wah, sedang apa ini?” sapa Jiro.
“Menurut kalian sedang apa?” sahut Alexi yang masih berkumpul dengan ketiga gadis tadi. “Kalian sendiri ada apa mendatangiku ramai-ramai?”
“Begini, Ben-kun dan teman-temannya mempunyai rencana untuk memberikan sentuhan terakhir pada pementasan kita”.
“Hmm, coba ceritakan padaku”.
Ben pun membeberkan rencananya pada Alexi. Pemuda berkacamata itu mengangguk setuju.
“Sepertinya Ririn juga mengatakan hal yang sama”.
“Eh, Ririn?” ujar yang lain tersentak.
Ririn tergagap. Ia tidak mau rencananya diketahui orang lain, tapi sepertinya sulit untuk menghindar di saat sepeerti ini.
“Oh, iya. Tarian, kan?” Fi langsung berimprovisasi. “Maksud kami juga begitu”.
“Wow, ternyata Ririn sudah mendahuluiku,” Ben terkekeh. “Bagaimana rencanamu?”
Ternyata Fi tidak membantunya lagi. Mungkin ia masih dendam karena telah diremehkan sebelumnya atau ia ingin memberikan kesempatan pada Ririn untuk berimprovisasi sendiri.
 “Begitulah, tapi Alexi bilang medianya tidak ada di sini,” Ririn menelan ludah. Padahal media yang mereka maksud itu berbeda.
“Benar,” kata Alexi. “Aku punya alatnya, tapi kita tidak bisa keluar dari tempat ini. sepertinya Miss Tifa lebih rela menyewakan dokter pribadinya ketimbang kita ke klinik jika kita sakit. Jadi, bagaimana kita bisa memulai?”
Semuanya diam dalam pikiran masing-masing. Kemudian mereka menyebutkan nama yang sama di waktu yang bersamaan.
“Ah, Andani!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar