Musikal
192
Kabar mengenai
kepulihan Tifa menyebar dengan cepat. Campur aduk perasaan dimiliki oleh semua
anggota LM. Sebagian besar merasa lega, tapi sebagian lainnya justru merasa
cemas. Mereka yang merasa cemas adalah mereka yang berniat keluar dari LM.
Entah bagaimana kelanjutan kisah mereka, yang jelas mereka berharap agar baik-baiks
saja.
Kabar ini pula yang
membuat Hana dan Gloria bergegas menyambangi Tifa. Meskipun masih lemah, tapi
pancaran semangat muncul ketika ketiga sahabat ini bertemu. Gloria yang
biasanya tampak emosional justru bersikap dewasa. Ia senang melihat Tifa sadar,
hanya saja tidak heboh seperti biasa.
“Terima kasih karena kalian bersedia menggantikanku selama aku sakit.
Aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”
“Melihatmu sadar sudah lebih dari cukup,” ujar Gloria, “Sudah mengurangi
sedikit beban kami. Iya kan, Han?”
Hana tersenyum sinis saat Gloria menyenggol bahunya.
“Wah, kupikir selama aku koma kamu bakal tambah dewasa, Glo. Ternyata
malah tambah sinis.”
Ketiganya tertawa.
“Tapi serius, loh. Kami senang kamu kembali.”
Tifa mengangguk lemah, “Terima kasih,” lalu ia melirik Hana, “terutama
kamu, Han. Kamu selalu melakukan tugasmu dengan baik. Kamu memang selalu bisa
diandalkan.”
“Ya, aku memang yang terbaik,” sahut Hana dengan nada sinis, “tapi aku
minta sama kamu, jangan lakukan ini sekali lagi. Aku gak sanggup!”
“Aku akan pulih dengan cepat. Aku janji.”
Ketiganya kembali tertawa.
“Eh ya, mana Riani?”
“Oh, dia mau datang sendiri nanti,” ujar Gloria, “katanya dia mau bicara
berdua saja.”
“Lho, kenapa?”
“Mungkin mau membicarakan masalah yang hanya kalian berdua yang tahu,”
sahut Hana, “sebenarnya kami juga ingin tahu, tapi yaah lebih baik ini tetap
menjadi urusan kalian saja.”
Tifa mengangguk pelan. Ia hanya ragu apakah masalah mereka akan selesai
dengan cepat.
ooOoo
Terdengar suara ramai
di dalam bangsal itu. Riani awalnya tak berniat masuk, tetapi ia bertemu dengan
ibunya Tifa. Tanpa ragu July mengajak Riani masuk. Ia mengatakan bahwa kamar inapnya
tak pernah sepi sejak Tifa sadar. Kali ini teman-teman Tifa dari Amerika yang
jauh-jauh datang hanya untuk menjenguknya. Tak hanya ramai, tetapi banyak
bingkisan dan rangakaian bunga. Selain itu, bahasa yang digunakan terdengar
asing. Riani hanya mengerti jika mereka sudah menggunakan bahasa Inggris,
sisanya Riani bahkan tak tahu bahasa apa itu.
Akhirnya, orang-orang dari berbagai jenis etnis itu berpamitan. Riani
bahkan ikut mendapat pelukan selamat tinggal. Mereka seperti lupa kalau adat
memeluk orang bukan sesuatu yang lumrah di sini. Namun, mereka hanya mencoba
ramah dengan caranya sendiri. Setelah itu, July mengantar mereka ke luar dan
menyisakan Tifa bersama Riani saja.
“Sebenarnya ada berapa bahasa yang kamu kuasai?”
“Empat atau lima. Itu tidak termasuk bahasa Indonesia dan bahasa
daerah,” Tifa terkekeh.
“Kenapa gak jadi ahli bahasa saja? Kenapa malah jadi sutradara?”
“Karena aku punya mimpi ke Broadway. Sayang, aktingku bahkan jauh lebih
buruk daripada Ririn. Padahal aku suka marah-marah sama orang yang berakting
buruk.”
Keduanya tertawa.
“Aku senang melihatmu sehat kembali, Tif.”
“Ya, aku juga. Padahal waktu aku koma, aku merasa hidupku tenang. Aku
seperti melarikan diri lagi, tapi ternyata tidak. Kali ini aku harus
menyelesaikan semua urusanku.”
“Termasuk urusan kita?” ujar Riani.
“Ya, aku sudah mendengar semuanya.”
Riani tersentak, “Eh, Dave cerita padamu?”
Tifa menggeleng sambil tersenyum, “Aku dengar langsung dari kamu
sendiri.”
Riani semakin terlihat bingung.
“Koma bukan berarti aku tidak tahu. Aku seperti sedang melakukan
perjalanan astral. Aku melihat dan mendengar semua yang terjadi, tapi aku tidak
bisa merespon. Tidak semua bisa aku ingat, tapi ada beberapa yang tidak bisa
aku lupakan.”
“Apa yang pernah aku ucapkan termasuk?”
Tifa mengangguk. Seketika Riani mulai gelisah.
“A—aku hanya ingin menyelesaikan saja. Sungguh, aku terngganggu dengan
perjanjian yang aku buat sendiri. Umm, kupikir kita selesaikan saja.”
Riani menunggu respon Tifa. Namun, tatapan datar Tifa membuatnya semakin
serba salah.
“Apa aku salah? Baiklah, aku minta maaf. Maaf sudah membuatmu harus
menepati janji konyol itu. Harusnya kamu sudah punya keluarga bahagia dengan
Dave,” Riani menarik napas panjang.
“….aku benar-benar minta maaf padamu.”
Ada jeda beberapa saat sampai suara napas Tifa terdengar seperti helaan
berat, “Boleh aku memelukmu?” ujarnya tiba-tiba.
Riani menatapnya sejenak lalu mendekat serta memeluk sahabatnya. Ia
merasakan air mata Tifa merembes di balik kemejanya.
“Terima kasih, terima kasih, terima kasih….”
Tifa terus-terusan melantunkan kata itu disela isakan. Riani tak
menyangka kalau keputusannya itu bia membuat sahabatnya sangat bahagia. Tak
sadar ia ikut meneteskan air mata.
Ternyata kehilangan cinta pertama tak seberapa daripada hampir kehilangan
seorang sahabat. Hampir separuh hidupnya Riani baru menyadari itu.
Air mata telah mengering. Matahari senja memancarkan sinar hangatnya.
Kedua sahabat itu pun saling menertawakan kebohodohan masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar