Musikal
200
Ketika mereka turun
dari panggung, mereka berubah menjadi artis satu hari. Banyak yang meminta foto
hingga nomor telepon atau id media sosial. Namun, si kembar Bramanstya lebih
dulu menyapa Tifa.
“Pertunjukkan yang bagus. Saya benar-benar terkejut dengan penampilanmu,
Andani”.
Andani mengangguk semangat, “Ya, ini pertama kalinya saya keluar dari
zona nyaman. Ternyata berubah haluan itu bukan hal yang buruk. Terima kasih
karena tetap menjadikan saya anggota Love
Musical”.
“Saya juga, Miss. Terima kasih
karena telah diberikan kesempatan kedua di klub ini. Dengan ini kami bisa
membuktikan pada orang tua kami kalau masing-masing dari kami mempunyai jati
diri dalam bermusik”.
Tifa tersenyum, “Tak ada anggota yang boleh keluar. Makanya, tidak usah
sungkan karena selamanya kalian adalah bagian dari Love Musical”.
Pasangan kembar ini tersenyum. Mereka kompak memeluk Tifa kemudian pamit
untuk menyapa kedua orang tua mereka. Ketika Tifa berbalik, ia mendapati ibunya
sudah berada di dekatnya.
“I—ibu datang?”
July mendengus pendek, “Ibu memang selalu datang. Kecuali di Broadway.
Jauh, mahal pula ongkosnya”.
“Terima kasih, Bu,” Tifa memeluk erat ibunya. Baru kali ini ia merasa
ingin menangis. Untuk pertama kalinya pertunjukkanya hanya dihadiri sang ibu.
Ia rindu akan kehadiran kakak dan ayahnya.
“Aku sayang Ibu…”
“Aku juga sayang kaliaaan!”
Tifa dan ibunya hampir roboh saat Adrian menyergap dalam pelukannya.
Namun, pemuda itu hanya tertawa cengengesan.
“Pergi sana! Dasar kamu bau keringat!”
“Bodo amat,” balas Adrian tanpa berniat melepaskan pelukannya.
“Nanti-nanti aku sudah di luar negeri. Kapan lagi aku bisa memeluk kalian
seperti ini.
“Hei, keluarga bahagia!”
Ketiga orang ini menoleh. Ternyata Dave sudah siap dengan kameranya.
Sontak mereka langsung berpose agar mendapat angle terbaik.
“Terima kasih, Dave,” ujar July. “Ibu merasa déjà vu”.
Dave tersenyum lalu ia merasa tubuhnya didorong. Ia hampir terjungkal
kalau saja Tifa tidak menahannya.
“Nah, sekarang giliran kalian, pasangan bahagia”.
Dave tidak jadi marah saat Adrian merebut kameranya. Ia hanya bersiap
mendengar omelan dari Tifa.
“Ibu benar,” bisik Tifa. “Aku seperti déjà vu”.
ooOoo
“Pertunjukkan yang
bagus. Selamat ya!”
Fi tersenyum kecil saat menerima karangan bunga dari Rafi, “Ya, terima
kasih. Kamu dan timmu juga banyak membantu”.
“Kami kan dibayar. Wajar dong profesional. Beda cerita sama artisnya”.
“Ehem, sejak kapan kalian akrab?”
Kemal mengawasi kakaknya yang sedang melancarkan aksi. Fi tampak tak
acuh, sementara Rafi berusaha bersikap cool.
“Namanya juga orang lagi usaha. Kamu ganggu aja,” mata Rafi menangkap
sosok Priyanka yang ada di samping Kemal. “Bukannya kamu juga sama aja”.
“Buah jatuh memang gak jauh dari pohonnya,” jawab Kemal yang disambut
tawa Rafi.
“Kita pergi aja yuk, Fi. Males banget ngumpul sama orang-orang gaje
kayak mereka,” Priyanka langsung menarik Fi menjauh, tapi dengan cepat Rafi
menahannya.
“Sebentar! Ini pesanan kamu”.
Rafi memberikan sebuah benda kecil hitam berbentuk segiempat. Melihat
benda itu Fi tampak sangat senang.
“Apaan tuh?” tanya Kemal.
“Rekaman pementasan tadi. Ini pake handycam
punyaku”.
Fi menatap Rafi dengan riang, “Makasih banyak ya. Mamaku udah nunggu
banget ini”.
“Lho, mama kamu gak datang, Fi?” tanya Priyanka.
“Aku gak mau kedatangan mamaku merusak momen kebahagiaan ini,” Fi
menatap sendu pada keluarga Tifa yang sedang bersenda gurau dengan para tamu.
Mendengar hal itu Priyanka hanya mendesah berat. Namun, Fi langsung
tersenyum untuk menetralkan suasana.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Eh, ini lagu kesukaanku. Ada yang mau
berdansa?”
ooOoo
Ririn sangat senang
karena keluarganya bisa menonton pertunjukkannya. Terutama ayahnya karena ia
tahu kalau jam terbang ayahnya sangat tinggi. Untung kali ini sang ayah bisa
menepati janji.
“Maaf ya, Rin. Sudah meragukanmu di awal,” ujar ayahnya.
“Iya, Mama juga baru tahu kalau kamu jago akting,” sahut ibunya. “Kirain
kamu keturunan papamu yang kerjanya baca buku teruuus”.
“Aku juga suka baca buku, Ma,” Ririn tertawa kecil. “Makasih ya, sudah
kasih dukungan sama aku”.
“Eh, ada keluarga Bramanstya. Kami ke sana dulu ya,” ujar sang ibu.
“Kamu mau ikut, Rin?”
Ririn hanya melambaikan tangannya. Ia malas kalau harus berkumpul dengan
orang-orang tua. Tak sengaja ia memandang keriuhan di sekitar dan ia terserap
dalam kenangan masa lalu. Bagaimana ia pertama kali mengikuti audisi, belajar
akting, dipilih menjadi kandidat pemeran utama, menginjak kaki Ben ketika
latihan dansa, kekalahan pertamanya, pertemuan dengan Alexi dan pernyataan
perasaaan pada Adrian. Kemudian ia terlempar pada ingatan di mana ia harus
bersaing dengan Fi, Wenda, dan si cantik Nadia. Patah hati pertamanya,
keberhasilan pertama memerankan Anna, hingga dansa terakhir bersama Adrian.
Rasanya hanya sekejap ia merasakan semua itu. Hingga ia sampai di titik ini.
Keberhasilannya benar-benar terasa manis.
“Kyaaa, Kakak DJ!”
Teriakan itu menyadarkan Ririn dari lamunananya. Dari tadi memang ia
merasa sedikit terganggu dengan kelakuan gadis-gadis yang berebut Alexi supaya
bisa foto bareng. Tanpa sadar mata mereka saling bertemu. Ririn buru-buru
mengalihkan pandangannya, tapi Alexi lebih dulu menghampiri.
“Wah, ada gadis cantik sendirian nih”.
Ririn tersenyum sinis, “Hai, Kakak DJ”.
“Seriously, I hate that name,”
Alexi mendengus kesal, tapi Ririn justru tertawa geli. “Well, you’re amazing today. Jadi, aku maafin deh”.
Tawa Ririn padam dan berganti menjadi semu kemerahan di pipinya.
“Mau foto gak sama aku?”
Alis Ririn terangkat, “Idih, pede banget kamu”.
“Ayolah, kapan lagi coba foto bareng aku?”
Sebenarnya mereka semua sudah berfoto ramai-ramai di atas panggung tadi.
Setelah itu mereka langsung turun menyapa para penonton. Sesekali ia berfoto
bersama teman-temannya dan memang ia belum mengambil gambar bersama Alexi.
Ririn mendesah pendek sambil mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya. Baru saja
menyalakan kamera, tiba-tiba Alexi ditarik paksa oleh para penggemar barunya.
“Kakak DJ, Kakak DJ foto bareng kami yuk!”
“Tu—tunggu dulu, ini ada yang—”
“Ayo cepet, Kak!”
Alexi langsung hilang dari balik kerumunan. Tinggallah Ririn yang
terpaku menatap bengong kerumunan itu. Bahkan ia tak sadar kalau mode kamera
masih terpasang di ponselnya.
“Rin, kok bengong?”
Ririn tersentak. Suara Adrian berhasil menyadarkannya dari shock teraphy.
‘Apa-apaan sih itu
tadi?’
“Kamu mau berfoto, Rin?” Adrian menunjuk kamera ponsel Ririn yang
menyala. “Sini aku fotoin”.
“Ah, nggak kok. Gak apa-apa,” Ririn buru-buru mematikan kamera dan
menyembunyikan ponsel di saku gaun.
Adrian tersenyum kecil lalu mengalihkan topik, “Eh, tadi itu sengaja
atau bagaimana sih? Kok bisa-bisanya kamu tukar posisi dengan Fi?”
“Ya, anggap aja aku mengambil peranku kembali,” sahut Ririn. “Fi awalnya
minta aku untuk mengganti posisi dia, tapi aku menyarankan hanya di adegan itu
saja kami bertukar tempat. Aku dan dia gak mungkin tukar posisi waktu mepet
kemarin. Kalau Cuma adegan itu saja, tidak ada orang yang tahu kecuali orang
dalam itu sendiri”.
“Dan konsepnya?”
“Itu sih persyaratanku. Aku mau melakukannya kalau dilakukan dengan
gayaku,” Ririn terkekeh. “Aku bukan manusia klasik macam Fi, Priyanka, atau
Andani. Aku lebih suka gayaku sendiri”.
“Kupikir itu ide yang luar biasa,” Adrian mengacungkan jempol. “Siapa
lagi yang bisa berpikir sekeren itu di waktu mepet kalau bukan kamu. Yah, aku
juga harus berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan adegan itu. Kupikir
adegan itu akan menjadi canggung luar biasa jika tidak diganti pemainnya.
Terima kasih, ya”.
Ririn berdeham, “Ya, sama-sama. Kupikir juga es krimnya harus dobel”.
Keduanya tertawa.
“Hei, pasangan romantis. Boleh minta fotonya?”
“Ya ampun, Kak Mirna. Nanti orang bisa salah paham loh”.
Mirna tertawa, “Ya gak apa-apa toh.
Kalian memang pasangan romantis di atas panggung. Eh, aku beneran mau minta
foto kalian berdua untuk headline
korang kita minggu depan”.
“Wah, dengan senang hati,” sahut Adrian.
“Habis itu aku juga mau berfoto dengan kalian,” Mirna terkekeh.
“Gak sekalian minta tanda tangan juga, Kak?”
Mereka tertawa bersama. Setelah itu, Adrian pun memasang pose mesra
dengan gadis itu. Kalau dulu, jantung Ririn akan dag-dig-dug hebat walau hanya
bersentuhan kecil dengan sang pangeran. Entah kenapa sekarang hanya menjadi
perasaan hangat di hatinya. Hangat seperti persahabatan atau lebih mengarah
pada persaudaraan.
Di lain sisi justru ada yang merasa kebarakaran. Matanya membara saat
melihat Adrian memeluk bahu Ririn dengan mesra. Namun, ia harus keluar dari
gerombolan serigala betina yang tak habis-habis ingin mengabadikan gambar
bersamanya. Untungnya tak lama. Gadis itu kemudian berpisah dengan sang
pangeran dan kembali pada keluarganya.
Ah, itu menjadi sesalnya…
ooOoo
Senyum Tifa agak
tertahan saat matanya menangkap sosok Dokter Edo berada dalam kumpulan para
penonton. Sang dokter tampak kasual. Ia bahkan membawakan buket bunga untuk
Tifa.
“Suatu kebanggan Dokter mau datang ke mari,” ujar Tifa seraya meraih
buket tersebut. “Anda suka teater juga, Dok?”
“Saya pernah nonton Les Miserables
dan itu mengesankan,” Dokter Edo menarik napas berat. “Bisa kita menyingkir
sebentar. Ada yang mau saya bicarakan”.
“Ya, tentu,” jawab Tifa agak ragu. Ia merasa ada hal aneh yang akan
disampaikan oleh sang dokter, tapi ia tak menolak untuk diajak pergi. Ia hanya
berpesan pada Dave kemudian mengajak Dokter Edo ke halamana belakang gedung.
“Harusnya saya sampaikan ini di rumah sakit saja, tapi besok saya sudah
harus terbang ke Surabaya. Ada pertemuan yang penting”.
“Apa… ada masalah?”
Dokter Edo mengeluarkan sebuah amplop, “Ini hasil check up terakhir. Ada keanehan yang tidak bisa saya mengerti
sampai sekarang. Saya rasa kamu akan mengerti dengan hasil data ini”.
Perasaan ragu itu semakin membuncah. Jantung Tifa berdebar lebih cepat
saat helaian kertas itu menyentuh
kulitnya. Perlahan terbuka dan isi amplop itu keluar. Beberapa lembar kertas
yang berisi data-data rumit mengenai sel kankernya. Namun, ada satu tabel yang
isinya membuat mata Tifa terbelalak.
“Dok—dokter, a—apa ini mung—mungkin?”
“Ya, hasil pengecekkanmu menunjukkan bahwa….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar