Musikal
179
Seperti déjà vu. Tifa
dan ibunya kembali berduka di samping batu nisan. Untuk kali ini Tifa terlihat
lebih tegar meskipun matanya juga sudah membengkak. Di sisinya, Adrian juga
menampilkan wajah muramnya. Ia tidak menangis hanya memeluk pinggang Tifa erat-erat.
Namun, sosok yang paling terpukul adalah ibunya. Mungkin karena ia telah
kehilangan dua orang yang paling ia cintai sehingga kejadian kali ini membuat
air matanya tak kunjung surut.
Hari sudah semakin sore. Para pelayat satu per satu mulai meninggalkan
pemakaman. Tifa membujuk ibunya agar segera pulang. Untungnya sang ibu tidak
sekeras kepala anaknya. Ia bersedia pulang meski ketika berdiri harus dibantu
oleh Tifa dan Dave.
Suasana mulai terasa sedikit membaik sampai mereka berpapasan dengan
Ican dan istrinya beserta bayi dalam gendongan. Roman sedih di wajah ibunya
berubah menjadi garang bahkan Tifa pun langsung membuang muka.
“Sa—saya datang untuk melayat, Bu,” ujar Ican. “Ayah dan Laksmi.”
“Kenapa baru sekarang? Apa baru menyesal sekarang?” balas sang ibu
sarkastis.
“Saya dan Selvi benar-benar minta maaf.”
Tifa mencibir lalu sang ibu memerintahkan Dave untuk mengajak Adrian
menjauh. Akan ada pembicaraan serius yang tidak boleh Adrian atau Dave dengar
saat ini. Setelah berhasil membujuk Adrian ke mobil lebih dulu, tatapan July
jatuh pada bayi yang ada dalam gendongan istrinya Ican.
“Bayimu tidak pantas mendapat nama belakang keluarga kami. Sesuai
peraturan keluarga, jika anak yang mendapat nama belakang adalah anak yang
berasal dari pernikahan yang sah. Satu-satunya anak sahmu hanya Adrian.”
Selvi terlihat pucat, tapi Ican masih tetap tegar.
“Satu lagi, hak asuh Adrian akan jatuh ke tangan kami berdua. Meski
bukan wasiat Laksmi, tapi ini keputusan keluarga. Kami tidak mau sifat buruk
ayahnya memengaruhi kehidupannya di masa depan.”
Ican terkesiap, “Tapi, Bu—“
“Tidak ada tapi-tapian! Atau kamu mau masalah Laksmi kami perkarakan di
pengadilan? Kamu jangan main-main dengan saya!”
Bibir Ican terkatup rapat. Ia ingin kembali melawan, tapi ia juga tak
punya kuasa untuk melawan sang mertua. Apalagi ia tahu kalau mertuanya ini
bukan orang semabarangan. Meski tidak terlihat puas, tapi July terlihat sedikit
senang saat melihat ekspresi geram Ican. Begitu pula dengan Tifa. Baru kali ini
ia merasa bangga memiliki ibu seperti July.
“Dan jangan pernah coba menemui Adrian!” tandas sang ibu sebelum
mengajak Tifa meninggalkan pemakaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar