Musikal
206
Hampir semalaman Ririn
tak bisa tidur. Kepalanya terus memikirkan cerita ayahnya. Ia masih tak percaya
saat sang ayah menyudahi ceritanya. Hingga sang ayah membawakan sebuah kotak
kecil berisi foto-foto, tiket pesawat, dan beberapa potongan berita di Koran
yang ada sangkut paut dengan kejadian itu. Armandi menjelaskan bahwa mereka
memang sengaja menutupinya, sampai Alexi sendiri yang mau membongkarnya.
Pagi menjelang dan Ririn berhasil mendapatkan dua jam waktu untuk tidur.
Matanya dihiasi lingkaran hitam dan kepalanya tak berhenti berdenyut, terutama
di bagian bekas luka. Dengan keadaan seperti itu, ia masih harus bersekolah
jika tak ingin presensinya bolong.
“Kamu baik-baik saja, Rin?” Andani yang baru datang langsung mendapatkan
Ririn yang tengah menelungkupkan wajah di meja.
“Kayaknya ngantuk, An,” sahut Anjani yang datang bersamaan. “Masih tepar
kali”.
“Thank’s, Jane,” jawab Ririn
yang disahut tawa Anjani.
Ririn ingin tidur sejenak sebelum bel masuk berbunyi. Namun, suara
berisik dari bangku di depannya, memaksa agar tetap terjaga. Seperti Harry
Potter ketika bertemu Voldemort, maka Ririn juga merasakan denyutan pada bekas
lukanya. Tatkala ia bertatapan dengan Alexi, maka guratan di bagian keningnya
berdenyut. Seperti memberi sinyal untuk membuka kenangan masa lalu.
“Kamu sakit?” tanya Alexi.
“Nggak, aku cuma ngantuk,” dengan cepat Ririn mengindar. “An, temenin
aku cuci muka yuk”.
ooOoo
“Kamu baik-baik aja,
Rin? Muka kamu pucat. Kita gak usah masuk dulu aja ya”.
Ririn mendesah pendek, “Kelamaan dekat Jiro-Senpai buat kamu jadi nakal, ya?”
“Yee, gak ada hubungannya kali,” Andani terkekeh. “Tapi aku serius soal
kondisimu”.
“Gak apa-apa. Aku cuma kurang tidur dan terlalu banyak berpikir,” ujar
Ririn sambil memijat pangkal hidungnya. “Katakan padaku, An. Apa yang kamu
ketahui soal masa lalu aku dan Alexi?”
Andani termenung sejenak, “Memangnya aku boleh cerita?”
“Ya, semalam papaku juga sudah cerita. Mungkin kamu juga tahu sesuatu?”
“Hmm, kamu memang pernah pergi ke konser orkestra Alexi dan ayahnya. Aku
iri banget, tapi kamu janji bakalan bawain foto Alexi dan tanda tangannya.
Karena kamu kecelakaan waktu itu, aku sendiri gak enak mau nagihnya.”
“Hanya itu?”
“Waktu itu kamu amnesia. Jadi, papamu minta aku supaya jangan
ungkit-ungkit masalah itu. Sampai aku tahu identitas Alexi dan aku juga sempat
tanya tentang kehadiran dia di sini. Ternyata dugaanku benar, alasannya karena
kamu, Rin”.
Ririn tersentak, “Eh, aku? Kenapa?”
“Dia cuma mau minta maaf soal insiden itu dan berterima kasih karena
sudah ditolong”.
‘Benarkah begitu?’ Pertanyaan
yang sama terus bergema di kepala Ririn.
“Rin, kamu baik-baik saja?” Andani merasa cemas karena sahabatnya
terlalu banyak melamun.
Ririn mengangguk, “Tapi kok, aku jadi ragu mau ketemu sama dia, ya?”
“Kau cuma kaget. Mendadak punya masa lalu yang sama sekali yang sama
sekali kamu gak ingat dan ternyata berhubungan dengan saat ini,” Andani
tersenyum. “Nanti aku juga bantu bicara sama Alexi”.
Ririn kembali mengangguk, “Thank’s,
An”.
“Ya udah, sekarang kita mau masuk apa bolos?” senyum Andani berubah jadi
seringai usil.
“Masuk kali! Pagi ini Bu Gloria. Bisa abis telingaku kena oceh kalo di
tahu kita bolos”.
Tawa Andani pecah, “Iya deh, ayo, ayo”.
ooOoo
Bukan Gloria, tetapi
Hana yang mengisi kelas mereka. Suasana terasa serius ketika Hana yang memimpin
kelas tersebut. Untung saja Ririn dan Andani tidak kena sembur.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat atas keberhasilan pementasan kalian.
Juga berterima kasih karena berkat kerja sama kalian kita bisa merayakan
kesuksesan bersama-sama”.
“Berakhirnya pementasan ini, maka harus ada yang hal-hal yang
dibereskan. Salah satunya kelas ini.”
Suasana terasa lebih tegang lagi. Sepertinya ada hal yang tidak
menyenangkan.
“Kelas ini akan dibubarkan. Setelah kami, para guru, berdiskusi, maka
keputusan akan mulai berjalan minggu depan. Kalian akan dikembalikan ke sekolah
dan kelas masing-masing. Begitu juga dengan Hasegawa Hiro dan Hasegawa Jiro.
Mereka berdua juga akan kembali ke Negara asalnya”.
Suara-suara kecewa bergema. Andani hanya menarik napas panjang. Jiro
sudah mengatakan dari jauh-jauh hari dan ia sudah bersiap dengan sisa waktu
yang tinggal sedikit.
“Kamu sudah tahu?” bisik Ririn.
“Sudah siap mental,” Andani menjawab seraya mengelus dada.
“Selain mereka berdua, ada satu orang lagi yang juga akan berpisah dari
kita”.
Kecemasan kembali melanda semua siswa. Siapa dan kenapa?
“Sebenarnya saya sedih harus berpisah dengan murid-murid yang berbakat.
Bagaimanapun juga saya tetap harus ucapkan selamat karena dia baru saja
mendapat beasiswa di Anyang Art High School, Korea Selatan”.
‘Korea Selatan?’ Ririn menoleh cepat
pada sosok di hadapannya. ‘Jangan-jangan…’
“Alexi. Mungkin ini akan jadi minggu terakhir kalian bersama dia”.
Seketika denyut di kepala Ririn musnah. Kejutan di pagi ini berhasil meluruskan
semua kekusutan di kepalanya. Di sisi lain, tatapan Andani berpindah-pindah
dari Alexi dan Ririn. Namun, kedua orang ini sama-sama tak memberi respon.
“Silakan maju, Alexi. Mungkin kamu ada yang mau disampaikan kepada
teman-temanmu”.
Alexi berdiri di muka kelas. Satu per satu ia tatap wajah teman-temannya
kemudian ia tersenyum.
“Rasanya belum satu tahun saya bertemu dengan teman-teman semua, tapi
semua kenangan yang kita rasakan sudah seperti sepanjang hidup. Pengalaman
bertemu dengan kalian tidak akan pernah bisa saya lupakan. Saya berterima kasih
karena kalian semua telah menghabiskan waktu bersama saya dengan cara yang
menyenangkan. Saya juga meminta maaf karena begitu banyak kekurangan pada diri
saya sehingga menyakiti kalian semua”.
Kejutan kedua langsung dirasakan manakala Alexi melepas kacamatanya.
Mereka semua langsung heboh melihat wajah asli Alexi. Ririn pun demikian.
Denyutan di kepalanya yang telah hilang seketika kembali lagi. Sementara itu,
di muka kelas Alexi masih berdiri dengan senyumannya.
“Nama saya Alexi Kim. Senang rasanya kalian mengenal saya sebagai Alexi
Agriawan”.
ooOoo
Sejak itu Alexi tak
pernah memakai kacamatanya lagi.
Pencarian teratas dipegang oleh nama ‘Alexi Kim’. Semua murid, baik SMA
Chandra Kirana atau pun SMA Panji Semirang, membicarakan di pianis tampan itu.
Siapa sangka murid yang selalu berpenampilan culun ternyata adalah cowok
blasteran Korea dengan wajah mirip dengan personel boyband-nya.
Ia mulai menjadi idola di antara para gadis. Hampir setiap saat ada saja
gadis cantik menghampirinya, meminta foto bareng, atau meminta id media sosialnya. Untungnya, ia tengah
mengalami masa-masa akhirnya di sekolah. Kalau tidak, mungkin ia harus memutar
waktu seperti dulu. Keputusan menampakkan wajah aslinya ternyata salah.
“Hebat kamu, bro. Jadi
selebriti dadakan”.
Alexi menghela napas berat. Guyonan Kemal membuatnya semakin lelah. Ia
masih bisa merasakan udara segar ketika bersembunyi di gedung teater.
“Tapi kenapa kamu gak pernah bilang sama kita?” keluh Ben.
“Mungkin dia sengaja ngasih kejutan di akhir kali, Ben,” sahut Kemal.
“Bukan begitu. Sebenarnya aku—”
“Yo, yo, yo, kami dengar ada artis dadakan di sini”.
Ketiga pemuda ini menoleh. Sepasang kembar Hasegawa dan Bramanstya
muncul. Disusul Wenda, Priyanka, dan Fi.
“Sepertinya Aru-kun mau buat
sensasi, ya?” ujar Hiro.
“Berhentilah mengiraku seperti itu,” Alexi kembali mendesah berat.
“Itu benar,” sahut Fi. “Aku tahu rasanya menjadi bahan pembicaraan.
Bukan mudah berbaur dengan kalian yang notabenenya adalah orang biasa. menjadi
orang terkenal itu melelahkan”.
“Thank’s, Fi,” Alexi tersenyum.
Ternyata masih ada yang mengerti dirinya.
“Memangnya seperti itu, Al?” tanya Anjani.
“Yah, awalnya aku berniat tak mau membongkarnya sampai akhir, tapi
rasanya menyedihkan jika suatu saat kalian melihatku dan kalian tak
mengenaliku,” Alexi tersenyum kecil. “Jujur saja, aku lebih suka kalian
memperlakukanku sebagai anak culun ketimbang menjadi Alexi Kim”.
Hening. Perasaan bersalah menyelimuti. Mereka merasa berdosa karena tak
bisa memahami masalah sahabat mereka sendiri.
“Kalau begitu jangan lupakan kami,” ujar Wenda memecah keheningan.
“Siapa pun kamu, bagi kami kamu tetaplah Alexi. Sahabat kami yang paling baik
dan jenius”.
Alexi tak menyangka kalau kata-kata tulus itu keluar dari bibir Wenda.
Padahal keduanya dulu pernah saling bermasalah bahkan sampai akhir pementasan
mereka hampir tak pernah saling bicara.
“Terima kasih, Wen,” senyum tulus Alexi kembali merekah. “Aku pasti gak
bakal lupa dengan kalian”.
“Kalau kamu mau konser, undang-undang kami ya,” Andani tertawa centil.
“Ya, akan kuusahakan,” ujar Alexi. Sejurus kemudian matanya seperti
menghitung-hitung jumlah teman-temannya yang hadir. “Kalian tak bersama Ririn?”
“Oh, dia lagi kumpul dengan klub korannya,” sahut Priyanka. “Tadi sudah
kami aja, tapi katanya dia sudah ada janji”.
Alexi hanya mengangguk kecil. Tidak. Bukan. Bukan tidak sengaja. Gadis
itu memang sedang menghindarinya. Alexi ingin sekali berbicara dengan gadis itu
sekali lagi. Sayang, itu akan jadi momen yang menyakitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar