Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 203)




Musikal 203

Dave dan Tifa sedang menikmati suasana malam di halaman gedung. Tanpa bicara dan membiarkan angin mengusik dedaunan. Menimbulkan suara penghilang rasa sepi. Udara terasa dingin, tapi sepasang insan ini justru saling menghangatkan.
“Jujur, aku lebih siap kalau kamu tolak tadi,” Dave terkekeh pelan. “Mungkin karena sudah menjadi suatu kebiasaan”.
Tifa ikut tertawa. Wajahnya melembut saat menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
“Jadi, apa yang kamu bayangkan saat ini?”
“Hmm, apa ya?” Dave tersenyum tipis. “Sejak aku menginap di rumahmu, aku selalu membayangkan saat aku terbangun dan kamu dalam pelukanku. Aku terbangun lebih dulu, memasak sarapan, lalu kemudian kamu terbangun dengan wajah kusut. Secangkir kopi untukmu dan aku dan sweet talk. Lalu sebelum aku pergi bekerja, kamu memelukku dan memberi ciuman di bibir dan kening. Kalau aku pulang, kamu menyambutku dengan cerita-cerita seru dari tv kabel atau novel yang baru saja kamu baca. Di hari libur, kita jalan-jalan sampai larut malam dan menikmati pecel lele di pinggir jalan. Besok paginya, kisah yang sama akan terulang”.
“Kok kayak cerita dalam novel yah?” Tifa kembali tertawa. “Tapi kedengarannya menyenangkan”.
“Sekarang giliranku, apa yang mendasarimu untuk menerima lamaranku kali ini?”
Tifa tak lantas menjawab. Ia menyerahkan hasil check up yang diberikan Dokter Edo tadi siang. Ia juga membantu Dave untuk membaca isi kertas itu.
“Bisa dilihat di sana, ini tentang hasil check up kemarin. Dokter Edo bilang kankerku sudah hilang”.
Dave terbelalak menatap Tifa, “Mak—maksudmu?”
“Aku sembuh, Dave. Aku sembuh!” Tifa menggoncang-goncang bahu Dave. “Percayakah kamu? Aku juga gak percaya, tapi ini nyata!”
“Oh, Tuhan…” Dave tak sadar air matanya menetes. Ia langsung mendekap Tifa erat-erat. “Ini patut disyukuri. Anugrah ini patut disyukuri”.
“Ini mukzizat, Dave!” Tifa membalas dekapan lebih erat.
“Apa ibumu dan Adrian sudah tahu?”
“Belum,” ujar Tifa seraya melepaskan pelukan. “Kamu yang pertama. Aku berencana memberitahu mereka setelah pulang nanti.”
Dave menatap Tifa seraya mengusap pucuk kepalanya, “Aku senang kalau ini yang menjadi alasanmu”.
“Sebenarnya aku tidak berharap lebih, tapi ternyata Tuhan lebih mengerti,” Tifa memberikan kecupan kecil di pipi Dave. “Ayo kita ke dalam! Masih banyak yang harus kita selesaikan”.
Ciuman itu terlalu singkat. Dave yang masih terkejut belum sempat merespon, tapi Tifa sudah lebih dulu meninggalkannya.
ooOoo
Tifa mengumpulkan seluruh anggota dalam satu lingkaran. Kali ini wajah-wajah di dalam lingkaran terlihat lebih santai. Tidak ada tekanan atau wajah yang lelah seperti kemarin-kemarin. Mereka juga tak akan acuh bila nanti Tifa masih mengeluarkan kata-kata pedasnya. Pementasan sudah selesai, tidak ada lagi yang harus jadi beban pikiran.
“Seperti biasa saya akan langsung kepada intinya saja,” Tifa memulai ceramahnya. Wajah ketus dan nada judesnya masih melekat seperti kemarin. “Pementasan ini hampir sempurna. Ya, hampir sempurna andai tidak ada dua hal janggal dari pementasan ini. Saya ingin kalian semua jujur. Siapa dalang di balik pesta penutupan tadi?”
Mereka semua serempak mengangkat tangan. Tifa dan para guru kaget karena mereka semua kompak mengakui kesalahan tersebut. Kalau sudah seperti ini tak ada yang bisa disalahkan.
“Hmm, baiklah. Karena semua orang mengakui kesalahannya dan jujur saja acara penutupan terakhir tadi sangat spektakuler, saya memaafkan kalian semua”.
Wajah para anggota tampak lega. Namun, tatapan Tifa sedikit menusuk pada Alexi.
“Saya tidak menyangka ternyata kalau Alexi cowok kekinian juga. Belajar dimana kamu?”
“Alexi Walker, maaan!” seru Kemal yang disahut sorakan dari semua anggota. Sementara Alexi sendiri yang sudah kembali ke mode culun hanya tersenyum simpul.
“Oke, ke permasalahan selanjutnya,” mata Tifa langsung mengarah pada Fi dan Ririn. Dua gadis yang kebetulan duduk bersebelahan itu langsung paham ke mana arah pembicaraan.
“Siapa yang menyuruh Fi dan Ririn bertukar posisi waktu adegan dansa tadi?”
Kali ini semua membisu. Mereka juga kaget pada waktu adegan tersebut. Alexi dan Priyanka sudah diminta untuk tutup mulut. Ririn dan Fi saling bertukar pandang, sudah saatnya mereka mengaku.
“Adrian?”
Kedua gadis ini terkejut saat Tifa menyebut nama keponakannya sendiri. Mereka terbelalak ketika melihat tangan Adrian melayang ke atas.
“Atas dasar apa kamu melakukan ini?”
Pertanyaan yang sama juga berputar dalam kepala Fi dan Ririn. Hanya saja dengan makna yang berbeda.
‘Atas dasar apa kamu mengakui ini?’
“Hanya ingin membuat kejutan saja,” ekspresi dan nada bicaranya terdengar enteng. “Lagi pula dari awal aku dan Tante sudah sepakat untuk memilih Ririn sebagai pemeran utama. Jadi, kupikir kita harus memberikan ruang yang seharusnya ditempati untuk Ririn.”
Jawaban Adrian membuat bahu Fi dan Ririn melorot lemas. Baru kali ini ada yang berani melawan Tifa terang-terangan. Padahal mereka berdua sudah menyiapkan jawaban sendiri. Kalau mereka sampai kena imbas dari jawaban nyeleneh itu, mereka berjanji tidak akan segan-segan menghajar Adrian.
“Kita bisa saja ada hubungan darah, Adrian. Saya tekankan sekali lagi, saya sutradara di sini. Semua yang ada di naskah adalah peraturan mutlak. Kamu pikir kamu bisa mengubah semua keabsahan itu?”
Adrian terkekeh, “Tapi hasilnya lebih bagus, kan?”
“Tetap saja tidak bisa dimaafkan,” Tifa menarik napas panjang. “Ya sudah, karena sudah berlalu saya juga tidak bisa mengubahnya lagi, tapi hukuman tetap berlaku. Saya tidak akan membeda-bedakan siapa pun yang berbuat salah di sini”.
Suasana menjadi hening. Namun, saat Ririn menatap Adrian, lelaki itu memberikan kedipan nakal. Seolah-olah masalah sudah selesai.
“Saya tutup lingkaran ini dengan permintaan maaf sebesar-besarnya. Semua kata-kata dan perlakuan kasar yang pernah saya lakukan, mohon untuk tidak diambil hati. Sekali lagi saya juga berterima kasih pada kalian semua. Jujur, kalian adalah tim teater paling keren dan pementasan ini adalah pementasan paling spektakuler yang pernah saya pimpin. Saya bersyukur bisa bertemu dengan kalian semua.
“Tentunya saya tidak ingin klub ini berakhir sampai di sini saja, tapi sekali lagi keputusan ada di tangan kalian. Saya tidak akan memaksa kalian untuk tetap berada di dalam klub ini. Silakan kembali jika memang kalian sudah penat di sini. Saya akan menghormati keputusan masing-masing”.
Tifa kembali menarik napas panjang, “Baiklah, ini adalah lingkaran terakhir kita. Saya harap kalian semua bisa melangkah bangga ketika keluar dari gedung ini. selamat atas keberhasilan kalian. Selamat malam dan sampai jumpa lagi!”
Tepuk tangan membahana menutup perjumpaan terakhir mereka. Sekali lagi sebelum berpisah, mereka mengakhiri dengan saling bertukar pelukan hangat.
ooOoo
Tanyakan pada Andani dan…ayahmu
Ririn masih tak mengerti kenapa Alexi menyuruhnya bertanya pada sang ayah. Apa hubungan Alexi dan ayahnya? Semakin dipikir juga semakin berhubungan. Ia baru sadar kalau Alexi selalu menolak mengantarnya sampai rumah jika ayahnya sedang pulang. Apakah ayahnya dulu pernah berbuat sesuatu pada Alexi?
Kalau Andani, Ririn masih bisa paham. Mereka berdua cukup dekat apalagi ketika Andani masih aktif di tim musik. Ririn sering melihat mereka berdua ngobrol. Entah membahas musik atau hal lain, tapi kelihatannya memang cukup akrab. Masalahnya apa yang sedang disembunyikan Andani. Dari tadi Ririn gatal ingin langsung mengintrogasi sahabatnya itu. Sayangnya, Andani selalu dimonopoli Jiro. Ia tidak menganggu pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Ririn mendesah berat dan panjang.
“Masih pusing karena popularitas?”
Suara itu cukup membuat Ririn terlompat. Padahal ia sengaja menyendiri di halaman belakang gedung supaya tak ada orang yang memerhatikannya. Ia butuh angin segar untuk meredakan lelah sekaligus kemelut pikirannya. Kata-kata Alexi membuatnya pusing tujuh keliling.
“Selamat ya, atas keberhasilanmu”.
“I—iya, Miss. Ini semua juga berkat Miss kok”.
Tifa tersenyum sinis, “Katakan, kamu juga turut memberi ide pada perubahan adegan tadi, kan?”
Ririn menelan ludah dengan sulit, “Y—ya, a—apa sekarang Miss mau menghukum saya juga?”
“Cih, sudah kuduga,” ujar Tifa sambil bersedekap. “Tidak mungkin Adrian punya pikiran gila seperti itu. Saya yakin ini adalah kerja sama kamu dan seseorang. Mungkin Fi atau orang lain, tapi yang jelas ada kamu di dalamnya”.
Ririn tersenyum malu-malu.
“Tapi kata-kata Adrian ada benarnya. Kamu memang yang seharusnya ada di adegan itu. Berhubung saya puas, jadi saya hanya memberikan hukuman itu pada Adrian”.
Tifa menatap Ririn tanpa senyuman sinisnya, “Sekarang kamu sudah mengerti kenapa kamu saya pindahkan di tim akting?”
“Eh, itu… saya masih belum paham”.
“Karena kamu mempunyai kharisma. Kharisma yang bisa membuat semua orang tak bisa mengedipkan mata bila sudah melihat penampilanmu. Dari pertama kali kamu bernyanyi dengan gitar itu, saya sudah perkirakan kalau kamu bisa memeran adegan dansa itu, tapi keputusan teman-teman saya juga tak bisa diabaikan. Kamu masih perlu dilatih, sementara Fi adalah barang jadi. Terlalu berisiko menempatkanmu sebagai pemeran utama. Makanya saya hanya memindahkanmu di tim akting dan berharap kamu bisa belajar banyak ketika berperan sebagai Anna Croux.
“Apapun alasanya, keputusanmu bertukar tempat itu adalah keputusan yang sangat tepat. Pementasan ini tak akan se-perfect tadi jika Fi masih ada di posisi itu”.
Ririn mengangguk paham. Selama ini ia sudah berpikiran buruk tentang perubahan posisinya. Andai ia tahu lebih awal, mungkin ia akan lebih menjiwai perannya.
“Terima kasih, Miss. Terima kasih untuk semua pelajaran yang sudah Anda beri dan telah membawa saya ke dunia yang baru”.
Tifa tersenyum lembut, “Jangan bersembunyi lagi. Tempatmu bukan di balik layar, tapi di atas panggung yang megah”.
Setelah itu Tifa berlalu tanpa pamit, tapi kata-katanya tak akan lekang dari benak Ririn. Ia seperti mendapat sugesti yang sangat kuat.
Tempatmu bukan di balik layar, tapi di atas panggung yang megah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar