Musikal
203
Dave dan Tifa sedang
menikmati suasana malam di halaman gedung. Tanpa bicara dan membiarkan angin
mengusik dedaunan. Menimbulkan suara penghilang rasa sepi. Udara terasa dingin,
tapi sepasang insan ini justru saling menghangatkan.
“Jujur, aku lebih siap kalau kamu tolak tadi,” Dave terkekeh pelan.
“Mungkin karena sudah menjadi suatu kebiasaan”.
Tifa ikut tertawa. Wajahnya melembut saat menatap cincin berlian yang
melingkar di jari manisnya.
“Jadi, apa yang kamu bayangkan saat ini?”
“Hmm, apa ya?” Dave tersenyum tipis. “Sejak aku menginap di rumahmu, aku
selalu membayangkan saat aku terbangun dan kamu dalam pelukanku. Aku terbangun
lebih dulu, memasak sarapan, lalu kemudian kamu terbangun dengan wajah kusut.
Secangkir kopi untukmu dan aku dan sweet
talk. Lalu sebelum aku pergi bekerja, kamu memelukku dan memberi ciuman di
bibir dan kening. Kalau aku pulang, kamu menyambutku dengan cerita-cerita seru
dari tv kabel atau novel yang baru saja kamu baca. Di hari libur, kita
jalan-jalan sampai larut malam dan menikmati pecel lele di pinggir jalan. Besok
paginya, kisah yang sama akan terulang”.
“Kok kayak cerita dalam novel yah?” Tifa kembali tertawa. “Tapi
kedengarannya menyenangkan”.
“Sekarang giliranku, apa yang mendasarimu untuk menerima lamaranku kali
ini?”
Tifa tak lantas menjawab. Ia menyerahkan hasil check up yang diberikan Dokter Edo tadi siang. Ia juga membantu
Dave untuk membaca isi kertas itu.
“Bisa dilihat di sana, ini tentang hasil check up kemarin. Dokter Edo bilang kankerku sudah hilang”.
Dave terbelalak menatap Tifa, “Mak—maksudmu?”
“Aku sembuh, Dave. Aku sembuh!” Tifa menggoncang-goncang bahu Dave.
“Percayakah kamu? Aku juga gak percaya, tapi ini nyata!”
“Oh, Tuhan…” Dave tak sadar air matanya menetes. Ia langsung mendekap
Tifa erat-erat. “Ini patut disyukuri. Anugrah ini patut disyukuri”.
“Ini mukzizat, Dave!” Tifa membalas dekapan lebih erat.
“Apa ibumu dan Adrian sudah tahu?”
“Belum,” ujar Tifa seraya melepaskan pelukan. “Kamu yang pertama. Aku
berencana memberitahu mereka setelah pulang nanti.”
Dave menatap Tifa seraya mengusap pucuk kepalanya, “Aku senang kalau ini
yang menjadi alasanmu”.
“Sebenarnya aku tidak berharap lebih, tapi ternyata Tuhan lebih
mengerti,” Tifa memberikan kecupan kecil di pipi Dave. “Ayo kita ke dalam!
Masih banyak yang harus kita selesaikan”.
Ciuman itu terlalu singkat. Dave yang masih terkejut belum sempat
merespon, tapi Tifa sudah lebih dulu meninggalkannya.
ooOoo
Tifa mengumpulkan
seluruh anggota dalam satu lingkaran. Kali ini wajah-wajah di dalam lingkaran
terlihat lebih santai. Tidak ada tekanan atau wajah yang lelah seperti
kemarin-kemarin. Mereka juga tak akan acuh bila nanti Tifa masih mengeluarkan
kata-kata pedasnya. Pementasan sudah selesai, tidak ada lagi yang harus jadi
beban pikiran.
“Seperti biasa saya akan langsung kepada intinya saja,” Tifa memulai
ceramahnya. Wajah ketus dan nada judesnya masih melekat seperti kemarin.
“Pementasan ini hampir sempurna. Ya, hampir sempurna andai tidak ada dua hal
janggal dari pementasan ini. Saya ingin kalian semua jujur. Siapa dalang di
balik pesta penutupan tadi?”
Mereka semua serempak mengangkat tangan. Tifa dan para guru kaget karena
mereka semua kompak mengakui kesalahan tersebut. Kalau sudah seperti ini tak
ada yang bisa disalahkan.
“Hmm, baiklah. Karena semua orang mengakui kesalahannya dan jujur saja
acara penutupan terakhir tadi sangat spektakuler, saya memaafkan kalian semua”.
Wajah para anggota tampak lega. Namun, tatapan Tifa sedikit menusuk pada
Alexi.
“Saya tidak menyangka ternyata kalau Alexi cowok kekinian juga. Belajar
dimana kamu?”
“Alexi Walker, maaan!” seru Kemal
yang disahut sorakan dari semua anggota. Sementara Alexi sendiri yang sudah
kembali ke mode culun hanya tersenyum simpul.
“Oke, ke permasalahan selanjutnya,” mata Tifa langsung mengarah pada Fi
dan Ririn. Dua gadis yang kebetulan duduk bersebelahan itu langsung paham ke
mana arah pembicaraan.
“Siapa yang menyuruh Fi dan Ririn bertukar posisi waktu adegan dansa
tadi?”
Kali ini semua membisu. Mereka juga kaget pada waktu adegan tersebut.
Alexi dan Priyanka sudah diminta untuk tutup mulut. Ririn dan Fi saling
bertukar pandang, sudah saatnya mereka mengaku.
“Adrian?”
Kedua gadis ini terkejut saat Tifa menyebut nama keponakannya sendiri.
Mereka terbelalak ketika melihat tangan Adrian melayang ke atas.
“Atas dasar apa kamu melakukan ini?”
Pertanyaan yang sama juga berputar dalam kepala Fi dan Ririn. Hanya saja
dengan makna yang berbeda.
‘Atas dasar apa kamu
mengakui ini?’
“Hanya ingin membuat kejutan saja,” ekspresi dan nada bicaranya
terdengar enteng. “Lagi pula dari awal aku dan Tante sudah sepakat untuk memilih
Ririn sebagai pemeran utama. Jadi, kupikir kita harus memberikan ruang yang
seharusnya ditempati untuk Ririn.”
Jawaban Adrian membuat bahu Fi dan Ririn melorot lemas. Baru kali ini
ada yang berani melawan Tifa terang-terangan. Padahal mereka berdua sudah
menyiapkan jawaban sendiri. Kalau mereka sampai kena imbas dari jawaban
nyeleneh itu, mereka berjanji tidak akan segan-segan menghajar Adrian.
“Kita bisa saja ada hubungan darah, Adrian. Saya tekankan sekali lagi,
saya sutradara di sini. Semua yang ada di naskah adalah peraturan mutlak. Kamu
pikir kamu bisa mengubah semua keabsahan itu?”
Adrian terkekeh, “Tapi hasilnya lebih bagus, kan?”
“Tetap saja tidak bisa dimaafkan,” Tifa menarik napas panjang. “Ya
sudah, karena sudah berlalu saya juga tidak bisa mengubahnya lagi, tapi hukuman
tetap berlaku. Saya tidak akan membeda-bedakan siapa pun yang berbuat salah di
sini”.
Suasana menjadi hening. Namun, saat Ririn menatap Adrian, lelaki itu
memberikan kedipan nakal. Seolah-olah masalah sudah selesai.
“Saya tutup lingkaran ini dengan permintaan maaf sebesar-besarnya. Semua
kata-kata dan perlakuan kasar yang pernah saya lakukan, mohon untuk tidak
diambil hati. Sekali lagi saya juga berterima kasih pada kalian semua. Jujur,
kalian adalah tim teater paling keren dan pementasan ini adalah pementasan
paling spektakuler yang pernah saya pimpin. Saya bersyukur bisa bertemu dengan
kalian semua.
“Tentunya saya tidak ingin klub ini berakhir sampai di sini saja, tapi
sekali lagi keputusan ada di tangan kalian. Saya tidak akan memaksa kalian
untuk tetap berada di dalam klub ini. Silakan kembali jika memang kalian sudah
penat di sini. Saya akan menghormati keputusan masing-masing”.
Tifa kembali menarik napas panjang, “Baiklah, ini adalah lingkaran
terakhir kita. Saya harap kalian semua bisa melangkah bangga ketika keluar dari
gedung ini. selamat atas keberhasilan kalian. Selamat malam dan sampai jumpa
lagi!”
Tepuk tangan membahana menutup perjumpaan terakhir mereka. Sekali lagi
sebelum berpisah, mereka mengakhiri dengan saling bertukar pelukan hangat.
ooOoo
Tanyakan pada Andani dan…ayahmu
Ririn masih tak mengerti kenapa Alexi menyuruhnya bertanya pada sang
ayah. Apa hubungan Alexi dan ayahnya? Semakin dipikir juga semakin berhubungan.
Ia baru sadar kalau Alexi selalu menolak mengantarnya sampai rumah jika ayahnya
sedang pulang. Apakah ayahnya dulu pernah berbuat sesuatu pada Alexi?
Kalau Andani, Ririn masih bisa paham. Mereka berdua cukup dekat apalagi
ketika Andani masih aktif di tim musik. Ririn sering melihat mereka berdua
ngobrol. Entah membahas musik atau hal lain, tapi kelihatannya memang cukup
akrab. Masalahnya apa yang sedang disembunyikan Andani. Dari tadi Ririn gatal
ingin langsung mengintrogasi sahabatnya itu. Sayangnya, Andani selalu
dimonopoli Jiro. Ia tidak menganggu pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Ririn mendesah berat dan panjang.
“Masih pusing karena popularitas?”
Suara itu cukup membuat Ririn terlompat. Padahal ia sengaja menyendiri
di halaman belakang gedung supaya tak ada orang yang memerhatikannya. Ia butuh
angin segar untuk meredakan lelah sekaligus kemelut pikirannya. Kata-kata Alexi
membuatnya pusing tujuh keliling.
“Selamat ya, atas keberhasilanmu”.
“I—iya, Miss. Ini semua juga
berkat Miss kok”.
Tifa tersenyum sinis, “Katakan, kamu juga turut memberi ide pada
perubahan adegan tadi, kan?”
Ririn menelan ludah dengan sulit, “Y—ya, a—apa sekarang Miss mau menghukum saya juga?”
“Cih, sudah kuduga,” ujar Tifa sambil bersedekap. “Tidak mungkin Adrian
punya pikiran gila seperti itu. Saya yakin ini adalah kerja sama kamu dan
seseorang. Mungkin Fi atau orang lain, tapi yang jelas ada kamu di dalamnya”.
Ririn tersenyum malu-malu.
“Tapi kata-kata Adrian ada benarnya. Kamu memang yang seharusnya ada di
adegan itu. Berhubung saya puas, jadi saya hanya memberikan hukuman itu pada
Adrian”.
Tifa menatap Ririn tanpa senyuman sinisnya, “Sekarang kamu sudah
mengerti kenapa kamu saya pindahkan di tim akting?”
“Eh, itu… saya masih belum paham”.
“Karena kamu mempunyai kharisma. Kharisma yang bisa membuat semua orang
tak bisa mengedipkan mata bila sudah melihat penampilanmu. Dari pertama kali
kamu bernyanyi dengan gitar itu, saya sudah perkirakan kalau kamu bisa memeran
adegan dansa itu, tapi keputusan teman-teman saya juga tak bisa diabaikan. Kamu
masih perlu dilatih, sementara Fi adalah barang jadi. Terlalu berisiko
menempatkanmu sebagai pemeran utama. Makanya saya hanya memindahkanmu di tim
akting dan berharap kamu bisa belajar banyak ketika berperan sebagai Anna
Croux.
“Apapun alasanya, keputusanmu bertukar tempat itu adalah keputusan yang
sangat tepat. Pementasan ini tak akan se-perfect
tadi jika Fi masih ada di posisi itu”.
Ririn mengangguk paham. Selama ini ia sudah berpikiran buruk tentang
perubahan posisinya. Andai ia tahu lebih awal, mungkin ia akan lebih menjiwai
perannya.
“Terima kasih, Miss. Terima
kasih untuk semua pelajaran yang sudah Anda beri dan telah membawa saya ke
dunia yang baru”.
Tifa tersenyum lembut, “Jangan bersembunyi lagi. Tempatmu bukan di balik
layar, tapi di atas panggung yang megah”.
Setelah itu Tifa berlalu tanpa pamit, tapi kata-katanya tak akan lekang
dari benak Ririn. Ia seperti mendapat sugesti yang sangat kuat.
Tempatmu bukan di balik
layar, tapi di atas panggung yang megah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar