Musikal
202
“Mereka sangat
romantis,” komentar Wenda saat semua orang memberikan selamat pada pasangan
yang baru saja melaksanakan lamaran gegana.
“Iri?” tanya Ben yang ada di sebelahnya.
“Siapa juga yang tidak iri?” Wenda tertawa kecil. “Cinta dari SMA,
terpisah ribuan mil, kemudian kembali bersatu. Seperti cerita dalam dongeng”.
“Semua bisa kalau memang ingin”.
“Oh ya, memangnya siapa lagi yang bisa?”
Ben mendaratkan ciumannya tepat di bibir Wenda. Begitu cepat, bahkan
Wenda tak sempat terkejut. Ia hanya mendapati Ben tersenyum jahil.
“Suatu saat kita juga akan seperti mereka”.
“Janji?”
“Aku tidak mau berjanji, tapi aku lebih suka berusaha”.
Tak ada momen yang bisa membuat pipi Wenda bersemu merah daripad itu.
ooOoo
Hari semakin sore.
Pesta mulai berakhir. Satu per satu penonton mulai meninggalkan gedung. Hanya
tersisa anggota klub karena mereka masih diwajibkan untuk menginap satu malam
lagi di sana.
Ririn sedang menunggu untuk dilepaskan bajunya. Ia mendapatkan baju yang
sedikit rumit karena di adegan terakhir ia harus mengenakan gaun pengantin.
Tiba-tiba ada yang menarik lengannya dan mengajaknya pergi.
“Alexi!” seru Ririn. Ia berusaha agar tak tersangkut dengan ujung
gaunnya. “Kita mau ke mana?”
Namun, pemuda itu tak menjawab. Hingga ia sampai di sebuah ruangan yang
bertuliskan “RUANG MUSIK”. Tanpa permisi, Alexi mengajaknya masuk.
“Kamu mau ngapain sih, Al? Horor deh”.
Alexi mendesah pendek, “Maaf ya, tapi seharian ini aku sudah kesel
karena gak bisa foto berdua sama kamu. Aku juga gak bisa dansa sama kamu,
padahal semua lagu aku yang mainkan”.
Ririn menahan tawa. Jadi, karena
itu…
“Lho, bukannya tadi kamu sendiri yang sibuk jadi ‘kakak DJ’?”
Alexi berdecak kesal. Kali ini Ririn tak bisa menahan tawanya.
“Jadi, sekarang mau berdansa?”
Ririn tak tega melihat tangan Alexi yang melayang di udara. Ia menyambut
ajakan itu meski ia sendiri sudah lelah.
“Kamu musiknya. Kalau kamu berdansa, siapa yang akan jadi musiknya?”
Alexi memasangkan sebelah earphone
di telinga Ririn dan sebelahnya lagi di telinganya, kemudian ia menyalakan
musik dari ponsel. Gadis itu tersentak saat mengetahui musik yang mengalun itu.
“December? Tapi tunggu dulu,
kali ini lebih ceria ya?”
Hanya sebuah senyuman yang Alexi gunakan sebagai balasan. Keduanya lalu
hanyut dalam langkah-langkah waltz.
“Kenapa?” tanya Alexi saat mendapati tatapan Ririn setengah kosong.
“Ah, nggak. Aku Cuma ingat kalau ruangan ini yang dijadikan ruang audisi
waktu itu. Rasanya seperti nostalgia”.
“Kamu pengingat yang pandai. Sekarang aku tanya, dimana pertama kali
kita bertemu?”
“Waktu itu kamu nolongin aku di toko buku, kan?”
Alexi tersenyum tipis, “Gak, kamu salah”.
“Eh, jadi?”
Tubuh Ririn berputar. Alexi seperti sengaja menunda kalimat jawabannya.
Tepat ketika Ririn kembali dalam pelukannya, ia membuka kacamata hitam yang
sedari tadi tak ia lepaskan.
“Apa wajah ini mengingatkanmu?”
Ririn tersentak. Ia tak menyangka bahwa selama ini Alexi menyembunyikan
wajah tampannya di balik kacamata yang super tebal. Kalau begitu, apa yang
salah dengan wajah itu? Apa ada rahasia di balik itu?
“Maksudmu? Aku gak paham deh.”
Mata Alexi beralih pada sudut dahi Ririn, “Siapa yang mendadanimu?”
“Bu Tri dan asistennya.”
“Kalau begitu mereka pandai menutupi bekas lukanya, tapi tidak dengan
kenangannya”.
Ririn melepaskan tangannya. Ia menjauh bahkan kabel earphone-nya sampai terlepas.
“Jangan berbelit-belit, Al! Ada apa sebenarnya?”
“Kalau begitu jangan terkejut,” Alexi mendekat dan kembali memasang earphone itu di telinga Ririn. “Bekas
luka, dua tahun lalu, Jakarta, gedung Balai Resital Kertanegara, dan di
penghujung Desember”.
Kening Ririn berkerut saat merangkai kata-kata Alexi. Ada koherensi
tersembunyi di balik itu semua.
Tiba-tiba Alexi melepaskan earphone
dari telinga Ririn, “Sudahlah, hari ini tenagamu sudah diforsir. Jangan
bebankan dengan kata-kataku. Istirahat saja”.
Meski Alexi mengajaknya kembali, tapi Ririn masih menyimpan tanda tanya
besar pada pemuda ini. Memang benar kehadirannya sangat misterius. Ia selalu
saja bisa terhubung dengan orang-orang hebat lalu kemampuannya yang bisa
dibilang luar biasa untuk anak seusia mereka. Ririn menahan langkah Alexi tepat
sebelum mereka masuk kembali ke gedung teater.
“Kalau begitu, beri aku petunjuk lagi. Aku benar-benar tak mengerti”.
Alexi kembali tersenyum, “Tanyakan pada Andani dan…ayahmu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar