Musikal
195
[Kita harus bicara]
[Adrian]
Hanya sebuah pesan singkat yang menghadirkan tiga kata, tapi sanggup
membuat Fi bimbang sepanjang hari. Haruskah ia mengiyakan dengan konsekuensi
bahwa ia harus membicarakan hal yang ingin ia lupakan. Namun, jika kembali
menunda maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Ia menginginkan masalah ini
cepat berakhir, maka dari itu ia menyetujuinya.
Setelah mendikusikan tempat, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di
halaman belakang gedung teater. Mungkin Adrian sudah menunggu hingga ia pulang
sekolah. Maka dari itu, ia bergegas melangkah kaki begitu pulang berbunyi.
Adrian, seperti biasa, tampak kasual dan tampan. Hanya saja saat mereka
bersua tak ada senyum ramah seperti dulu. Fi pun jadi ragu untuk berbasi-basi.
Mereka saling membisu untuk waktu yang cukup lama. Berusaha menatap lawan
bicara, tapi saling menghindar ketika mata mereka bertemu.
“Kita harus selesaikan ini. itu tujuanku mengajak bertemu,” Adrian
membuka percakapan. “Tapi jujur aku bingung harus bagaimana”.
“Mungkin kita mulai dari hubungan kita,” Fi bernisiatif.
“Kita tidak bisa melawan fakta. Jadi, yah, tidak ada cara untuk
kembali”.
Ada sebilah pisau menancap langsung di dadanya. Begitu cepat hingga rasa
sakit itu menelusup hingga ke relung terdalam.
“Aku tidak akan dendam seperti tanteku. Kita semua punya salah dalam
masalah ini. Aku tidak akan membenci ibumu dan aku akan berusaha memaafkan
ayahku, ah, ayahmu, ah, maksudku, ayah kita”.
Kata terakhir terasa agak kelu saat Adrian mengatakannya.
“Lalu denganku, apa yang akan kamu lakukan?”
“Setelah pertemuan ini, berbicara padaku hanya ketika di gedung teater
dan membahas tentang pementasan. Pura-puralah tidak mengenalku setelah ini”.
“Apa kamu membenciku?”
Adrian menatap Fi cukup lama, “Menurutmu apa aku sanggup membencimu?
Bahkan sampai saat ini aku masih menyukaimu”.
‘Tidak! Jangan! Katakan
kau benci padaku! Itu lebih baik’.
Air mata Fi hampir menggenang di pelupuknya. Sekuat tenaga ia menahan
agar pertahanannya tidak roboh.
“Apa tidak bisa kita berteman saja?”
Adrian menarik napas panjang lau menatap Fi lurus-lurus.
“Tidak. Sampai kapan pun kamu akan jadi wanitaku”.
“Itu gila,” suara Fi terdengar serak.
“Ya, kamu benar. Dalam satu kali kehidupan, kita akan bertemu dengan
banyak orang dengan akhir yang berbeda-beda. Aku yakin, kamu dan aku akan
menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat juga. Makanya untuk saat ini aku
hanya sanggup meninggalkanmu, tapi tidak untuk melupakanmu”.
Adrian mengulurkan tangannya untuk bersalaman, “Setelah ini, ayo kita
jangan saling bertemu lagi”.
Fi membalas uluran tangan itu. Ada sensasi yang menggetarkan ketika
mereka menyadari bahwa itulah terakhir kalinya tangan mereka saling
menggenggam. Adrian menatap Fi dengan murung. Sementara Fi masih sekuat tenaga
menahan tangisnya. Tak ada yang mau saling melepaskan. Namun, gerakan kecil
dari Fi mengisyaratkan jemari Adrian untuk berpisah.
“Selamat tinggal,” bisik Fi.
Fi berbalik. Air matanya mulai meleleh. Terasa panas di pipi dan menusuk
di hati. Ia tahu begitu ia melangkah pergi, maka itu adalah terakhir kali
menatap Adrian…
….sebagai miliknya.
ooOoo
[Kami akan bertemu di
gedung teater sepulang sekolah. Tunggu aku!]
[Adrian]
Ririn memilih untuk menunggu di perpustakaan. Ia tidak tidak boleh
terlihat oleh Fi kalau ia sedang menunggu Adrian. Lagipula ia juga pasti jemu
jika menunggu tanpa melakukan apa pun.
Tiga puluh menit berlalu. Ponsel Ririn kembali berdering.
[Dimana? Aku sudah selesai. Aku tunggu di mobil]
Ririn mengembalikan buku yang baru beberapa lembar ia baca. Ia bergegas
menuju parkiran. Didapatinya ekspresi Adrian yang kaku.
“Apa benar sudah selesai?”
Tak ada jawaban pasti. Hanya tarikan kecil pada ujung bibir Adrian.
“Kamu sudah berhasil. Waktunya untuk move
on”.
“Menurutmu aku bisa move on?”
“Pasti, walau bukan sekarang. Perlahan saja, semuanya pasti berlalu”.
Adrian mengangguk, “Kamu benar. Naiklah, seseorang harus mentraktirku
coklat karena aku tidak boleh makan es krim sekarang”.
“Eh, maksudnya aku?” Ririn menunjuk hidungnya. “Kok aku?”
“Siapa lagi coba? Aku kan lagi patah hati, sudah saatnya kamu menghibur
aku”.
“Wah, aku merasa terhormat mentraktir pangeran yang sedang patah hati”.
Keduanya pun tertawa.
ooOoo
Fi mencoba menahan air
mata. Namun, tetap saja pipinya selalu basah. Ia cepat-cepat melangkahkan
kakinya agar meninggalkan gedung itu selekas mungkin. Sayang, langkahnya tertahan
karena berpapasan dengan seseorang.
“Butuh tisu, Non?”
Fi mendongak. ‘Sial, pria ini
lagi!’
“Gak usah. Makasih. Dasar tukang nguping!”
“Waduh, galaknya. Kamu pikir aku datang ke sini cuma buat nguping kamu?”
Memang benar, meski wajahnya dihiasi cengiran usil khasnya, tapi kedua
tangannya penuh dengan peralatan audio. Tampaknya bukan karena unsur
kesengajaan mereka dipertemukan. Fi mengelap air matanya dengan cepat lalu
membuang muka.
“Yah, sayang tanganku penuh kalau nggak pasti aku yang menghapus air matamu”.
“Sudahlah, aku capek. Aku lagi gak ada tenaga buat ngeladenin kamu. Aku
duluan,” Fi pun lantas melangkah pergi.
“Hei!” panggilannya berhasil membuat langkah Fi terhenti. “Kamu butuh
tempat cerita?”
“Gak usah, maka—”
“Bukan aku,” potongnya cepat. “Maksudku, aku bisa mengantar menemui
temanmu yang waktu itu. Anggap saja taksi online,
tapi aku gak minta bayaran dari cewek cantik kayak kamu”.
Fi terpaku sejenak, kemudian ia berbalik.
“Baiklah, tapi aku gak mau bantuin kamu bawa-bawa itu. Berat”.
Rafi tersenyum riang. Rasnaya peralatan audio di tangannya seringan
kapas. Tanpa sadar ia bersenandung pelan.
ooOoo
“Ini jalan ke rumah
temanmu? Wah, jauh juga”, ujar Rafi saat mengubah persenling di perempatan
jalan.
“Bukan, ini jalan menujut ‘Sweet Story’”.
“Apa?”
“Kafe dessert. Aku lebih butuh
makanan manis-manis sekarang”.
“Hm, kenapa tidak ambil cermin saja. Wajahmu lebih manis dari brownies”.
Rafi terkekeh saat melihat Fi mendengus kesal. Akhirnya mereka pun
sampai di tempat yang dituju. Fi lantas memesan berbagai dessert yang didominasi rasa coklat sementara Rafi hanya memesan coffe latte karena ia tak begitu suka
manis. Begitu pesanaan tiba, Fi menghabiskannya dengan rakus. Hal itu membuat
Rafi tersenyum-senyum saat melihatnya.
“Kenapa senyum-senyum? Kamu pasti mau bilang kalau aku ini monster,
kan?” Fi tersenyum sinis. “Ya iyalah, mana ada cewek serakus aku”.
“Tapi kalo aku sih suka. Aku memang lebih suka sama cewek yang gak hemat
makna”.
“Kamu godain aku sekali lagi, bakal aku lempar pakai kue”.
Ancaman Fi membuat tawa Rafi pecah. Ia pun mengakhiri rayuannya dan
membiarkan gadis itu menghabiskan makanan. Sesaat sebelum menghabiskan kue
terakhir, Fi pun bertanya.
“Kamu sudah mau nganterin aku ke sini. Selain ocehan gak jelasmu, kenapa
kamu gak tanya tentang masalah aku?”
“Memangnya kamu mau cerita?”
“Mungkin aja,” ujar Fi sambil mengaduk-aduk krim kue.
“Kamu yakin aku orangnya aman?”
Fi tersentak. Rafi pun kembali tertawa.
“Nah, makanya. Mungkin aku bisa promosikan diriku sebagai orang yang
aman, tapi apa kamu juga yakin kalau tempat ini atau di sekeliling kita aman?
Kalau sampai ada orang yang usil lagi, bisa hancur semuanya. Bukan hanya kamu
atau sutradaramu, tapi pementasan ini menyangkut orang-orang terkenal. Jika ada
skandal lagi, juga bukan cuma kamu, tapi nama orang-orang terkenal di sini juga
akan rusak. Sekarang kamu harus bisa menutup mulut sampai acara ini selesai.”
Fi termenung. Semua kalimat Rafi barusan memang benar. Ia tak menyangka
cowok yang biasanya hanya bisa gombal ternyata bisa juga memberi nasihat.
“Lagi pula, aku kan datang untuk menghiburmu bukan untuk mendengar keluh
kesah,” Rafi tertawa lagi, tapi sejurus kemudian ia mendesah berat. “Hmm, berat
juga ya menjalan hidup kayak kamu. Cewek kan kalau patah hati biasanya curhat,
tapi ini malah gak boleh”.
“Kayaknya kamu beneran nguping, ya?”
“Aku hanya menyimpulkan. Swear,
aku tadi baru mau pulang dan tiba-tiba papasan sama kamu. Kalau dari gelagatnya
sih, kentara banget kamu patah hati”.
“Ya, aku memang patah hati,” Fi menghabiskan suapan terakhirnya.
Rafi menatap Fi jahil, “Tahu gak obat patah hati yang paling manjur
apa?”
“Apa memangnya?”
“Cari pacar yang lebih keren dari mantanmu,” Rafi menegakkan posisi
duduknya. “Dan aku mempromosikan diriku, gimana?”
“Hmm, gimana ya?” giliran Fi tersenyum jahil. “Mungkin kalau kamu mau
bayarin semua ini bakalan aku
pertimbangkan”.
Secepat kilat Rafi melesat menuju kasir. Di saat itulah untuk pertama
kalinya Fi tergelak hebat. Pria ini berhasil menghiburnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar