Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 208)




Musikal 208

“Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi kalian. Semoga di pertemuan kita selanjutnya, kalian sudah menjadi orang yang hebat dan dapat membanggakan kedua nama sekolah ini. Kami semua senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian. Akhir kata, selamat berjuang dan sampai jumpa lagi”.
Baru kali ini pidato upacara Hana diakhiri dengan tepuk tangan. Rasanya sedih begitu upacara berakhir karena itu artinya duo Hasegawa, Alexi, serta semua siswa dan guru SMA Panji Semirang akan berangkat pulang. Upacara ditutup dengan pelukan penuh haru dari para anggota Love Musical.
“Kita masih anggota LM kok,” ujar Anjani saat Ririn memeluknya. “Lagian rumah kita dekat, kan?”
“Tapi rasanya beda kalau gak sekelas lagi,” balas Ririn. Kemudian ia bertatapan dengan Wenda. Awalnya mereka sedikit canggung, tapi akhirnya tawa mereka pecah dan saling berangkulan.
“Senang pernah menjadi pesaingmu, Rin”.
“Tolong, jangan ingatkan aku soal hari-hari bodoh itu”.
Mereka saling melepaskan pelukan dengan tawa lalu Ririn berpapasan dengan pasangan Ben-Kemal. Tanpa pemberitahuan, kedua orang itu langsung memeluk Ririn.
“Wenda gak bakal cemburu kok”.
“Priyanka juga”.
Ririn tergelak, “Yap, sekali ini saja ya. Sampai jumpa, guru-guruku. Terima kasih sudah mendidikku”.
Mereka saling melambaikan tangan. Meskipun dipenuhi gadis-gadis, tapi duo Hasegawa ini masih menangkap sosok Ririn. Kedua orang itu juga memberikan pelukan perpisahan.
Matta nee, Ririn-chan,” ujar Hiro.
You’re always be our bestfriend,” sahut Jiro.
Desahan berat Ririn meluncur, “Arigatou, Senpai. Sayonara.”
“Hei, jangan bilang sayonara. Memangnya kamu gak mau ketemu kita lagi?” omel Jiro.
Ririn melongo. Kedua orang ini hanya tertawa.
Sayonara digunakan kalau memang kita benar-benar akan berpisah, tapi kita tentu akan bertemu lagi,” Hiro tersenyum. “Jadi, katakan jaa matta”.
Ririn mengangguk mantap, “Jaa matta, Jiro-senpai, Hiro-senpai”.
Duo Hasegawa ini tersenyum. Mereka bertiga lalu saling mengucapkan perpisahan dengan yang lain. Di antara salam perpisahan itu terlihat Wenda dan Priyanka kembali berpelukan. Suasana terasa haru begitu mereka mengucapkan kata rindu yang tulus. Begitu pula dengan Fi. Sosoknya yang terkenal kaku justru terasa bersahabat saat mengucapkan perpisahan dengan siswa dari SMA Panji Semirang. Baru kali ini ia tersenyum tulus dalam jangka lama.
Dari semua orang yang akan pergi, ada beberapa lelaki yang menjadi rebutan selfie oleh para gadis. Orang-orang itu adalah Jiro, Hiro, dan Alexi. Ketiga orang itu mendadak menjadi selebriti. Para gadis tak henti-hentinya meminta foto bareng, bahkan Andani sampai gemas melihat pacarnya menjadi rebutan. Untung ia belum sempat mengeluarkan jurus ekor sembilan.
Entah mengapa tatapan Ririn seolah terpaku pada Alexi yang sedang diperebutkan gadis-gadis. Tiba-tiba saja lalu-lalang di hadapannya seperti menghentikan waktu. Ia seperti terhisap dalam lubang hitam tak berujung. Lalu-lalang itu berubah menjadi bayangan-bayangan yang tak pernah ia temui.
Alunan piano, hiruk-pikuk penonton, dan kata-kata itu….
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua
‘Dalam satu kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa’
‘Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati’
Air mata tiba-tiba mengalir dan tatapan Ririn masih tertuju pada Alexi. Akhirnya ia ingat semua hal yang pernah terlupa olehnya. Denyutan di dahinya kembali terasa.
“Kamu nangis, Rin?”
Suara Andani ternyata menyedot perhatian Alexi. Ia langsung menatap Ririn tanpa berkedip.
“Ke—kelilipan,” Ririn berbalik. “Aku ke to—toilet dulu. Ke—kebelet”.
Ia mengambil langkah seribu. Sama sekali tak menoleh. Ia bahkan tak tahu ke mana kakinya melangkah. Ia hanya ingin menjauh dari keramaian agar dapat menumpahkan semua air mata tanpa ada orang yang lihat.
Sekali lagi ia tak mengerti kenapa langkahnya salalu membawanya ke tempat ini. Tempat di mana semua kenangan terukir. Mungkin bukan untuk pertemuan pertama, tapi di mana semua terjadi dan membuat perasaan suka itu tumbuh.
Kakinya terasa lemas. Akhirnya ia hanya bisa menumpahkan air mata sambil memeluk lututnya. Begitu panjang kalimat-kalimat penyesalan yang terucap.
“Kenapa baru sekarang?” bisiknya. “Harusnya dari awal dia bilang dan sekarang aku yang akan kehilangannya”.
Ririn kembali menangis.
 “Dalam satu kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa”.
Tangis Ririn tertahan. Ia mengangkat wajahnya.
‘Su—suara itu….’
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua”.
Ririn menegakkan tubuh seraya menghapus air matanya.
“Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
Kali ini Ririn baru berani membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Alexi sedang tersenyum padanya. Ririn kembali menunduk. Hatinya belum siap untuk menatap wajah indah itu. Ia bahkan tak sadar kalau Alexi sudah ada di hadapannya.
“Ya, harusnya aku bilang dari awal. Maaf, sudah membuatmu salah paham”.
Ririn menggeleng pelan.
“Memang kedatanganku adalah untuk membalas budimu waktu itu. Ternyata aku justru menjadi tamak. Terlalu lama mengenalmu, justru membuat niatku berubah”.
Jemari Alexi menyentuh pipi Ririn yang basah. Gadis itu tersentak dan akhirnya mata mereka saling bertatapan.
“Aku justru ingin memilikimu, Rin. Aku suka kamu”.
Bibir Ririn bergetar menahan tangis. Ia berusaha tersenyum, tapi yang terjadi air matanya kembali jatuh.
“Aku juga minta maaf karena harus melupakanmu begitu lama. Harusnya aku lebih peka dan—”
Alexi mengecup lembut bibir Ririn. Sontak saja hal itu membuat Ririn kehilangan kata-kata. Hanya tiga detik sampai Alexi kembali tersenyum.
“I—ini di sekolah, Al. Ka—kamu ini….”
Alexi menoleh ke belakang lalu menghela napas. “Tidak ada yang tahu. Lagi pula setelah ini aku harus berangkat. Jadi, biarkan saja”.
Ririn menunduk malu. Jemarinya menggaruk-garuk ujung hidungnya.
“Ja—jadi, kita jadian?”
“Tergantung apa jawabanmu. Aku sudah mengatakannya, sekarang giliranmu”.
Senyum Ririn perlahan mengembang, “Kalau begitu, bisa aku tanya sekali lagi? Bagaimana kamu bisa menemukanku?”
“Dunia maya itu luas, Rin”.
Alexi terkekeh dan jawabannya membuat wajah Ririn merah padam. Rasanya kolot sekali menanyakan hal itu. Jemarinya kembali menggaruk-garuk ujung hidung. Tiba-tiba saja Alexi ikut menyentuh ujung hidungnya.
“Dan gerakanmu ini. Sejak pertemuan pertama kita, aku tak akan melupakan gadis yang menggaruk ujung hidungnya sampai flek melanomanya ikut kemerahan.”
“Bilang aja tahi lalat. Dasar!” Ririn meninju kecil pada perut Alexi lalu ia memeluk tubuh kurus pemuda itu. “Kalau begitu jangan cari gadis lain, karena aku bersedia jadi pacarmu”.
Pelukan Ririn dibalas hangat oleh Alexi. Sensasi menyenangkan itu mengalir dari aliran darah dan menyatu pada epidermis masing-masing. Memberikan getaran hangat pada tiap detak jantung.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menjadi pria hebat seperti yang pernah aku janjikan pada ayahmu”.
“Apa ini sebuah lamaran?” Ririn bertanya iseng.
“Boleh saja. Siap-siap saja”.
Kali ini Ririn memastikan membalas ciuman keduanya.   




Musikal 208

“Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi kalian. Semoga di pertemuan kita selanjutnya, kalian sudah menjadi orang yang hebat dan dapat membanggakan kedua nama sekolah ini. Kami semua senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian. Akhir kata, selamat berjuang dan sampai jumpa lagi”.
Baru kali ini pidato upacara Hana diakhiri dengan tepuk tangan. Rasanya sedih begitu upacara berakhir karena itu artinya duo Hasegawa, Alexi, serta semua siswa dan guru SMA Panji Semirang akan berangkat pulang. Upacara ditutup dengan pelukan penuh haru dari para anggota Love Musical.
“Kita masih anggota LM kok,” ujar Anjani saat Ririn memeluknya. “Lagian rumah kita dekat, kan?”
“Tapi rasanya beda kalau gak sekelas lagi,” balas Ririn. Kemudian ia bertatapan dengan Wenda. Awalnya mereka sedikit canggung, tapi akhirnya tawa mereka pecah dan saling berangkulan.
“Senang pernah menjadi pesaingmu, Rin”.
“Tolong, jangan ingatkan aku soal hari-hari bodoh itu”.
Mereka saling melepaskan pelukan dengan tawa lalu Ririn berpapasan dengan pasangan Ben-Kemal. Tanpa pemberitahuan, kedua orang itu langsung memeluk Ririn.
“Wenda gak bakal cemburu kok”.
“Priyanka juga”.
Ririn tergelak, “Yap, sekali ini saja ya. Sampai jumpa, guru-guruku. Terima kasih sudah mendidikku”.
Mereka saling melambaikan tangan. Meskipun dipenuhi gadis-gadis, tapi duo Hasegawa ini masih menangkap sosok Ririn. Kedua orang itu juga memberikan pelukan perpisahan.
Matta nee, Ririn-chan,” ujar Hiro.
You’re always be our bestfriend,” sahut Jiro.
Desahan berat Ririn meluncur, “Arigatou, Senpai. Sayonara.”
“Hei, jangan bilang sayonara. Memangnya kamu gak mau ketemu kita lagi?” omel Jiro.
Ririn melongo. Kedua orang ini hanya tertawa.
Sayonara digunakan kalau memang kita benar-benar akan berpisah, tapi kita tentu akan bertemu lagi,” Hiro tersenyum. “Jadi, katakan jaa matta”.
Ririn mengangguk mantap, “Jaa matta, Jiro-senpai, Hiro-senpai”.
Duo Hasegawa ini tersenyum. Mereka bertiga lalu saling mengucapkan perpisahan dengan yang lain. Di antara salam perpisahan itu terlihat Wenda dan Priyanka kembali berpelukan. Suasana terasa haru begitu mereka mengucapkan kata rindu yang tulus. Begitu pula dengan Fi. Sosoknya yang terkenal kaku justru terasa bersahabat saat mengucapkan perpisahan dengan siswa dari SMA Panji Semirang. Baru kali ini ia tersenyum tulus dalam jangka lama.
Dari semua orang yang akan pergi, ada beberapa lelaki yang menjadi rebutan selfie oleh para gadis. Orang-orang itu adalah Jiro, Hiro, dan Alexi. Ketiga orang itu mendadak menjadi selebriti. Para gadis tak henti-hentinya meminta foto bareng, bahkan Andani sampai gemas melihat pacarnya menjadi rebutan. Untung ia belum sempat mengeluarkan jurus ekor sembilan.
Entah mengapa tatapan Ririn seolah terpaku pada Alexi yang sedang diperebutkan gadis-gadis. Tiba-tiba saja lalu-lalang di hadapannya seperti menghentikan waktu. Ia seperti terhisap dalam lubang hitam tak berujung. Lalu-lalang itu berubah menjadi bayangan-bayangan yang tak pernah ia temui.
Alunan piano, hiruk-pikuk penonton, dan kata-kata itu….
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua
‘Dalam satu kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa’
‘Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati’
Air mata tiba-tiba mengalir dan tatapan Ririn masih tertuju pada Alexi. Akhirnya ia ingat semua hal yang pernah terlupa olehnya. Denyutan di dahinya kembali terasa.
“Kamu nangis, Rin?”
Suara Andani ternyata menyedot perhatian Alexi. Ia langsung menatap Ririn tanpa berkedip.
“Ke—kelilipan,” Ririn berbalik. “Aku ke to—toilet dulu. Ke—kebelet”.
Ia mengambil langkah seribu. Sama sekali tak menoleh. Ia bahkan tak tahu ke mana kakinya melangkah. Ia hanya ingin menjauh dari keramaian agar dapat menumpahkan semua air mata tanpa ada orang yang lihat.
Sekali lagi ia tak mengerti kenapa langkahnya salalu membawanya ke tempat ini. Tempat di mana semua kenangan terukir. Mungkin bukan untuk pertemuan pertama, tapi di mana semua terjadi dan membuat perasaan suka itu tumbuh.
Kakinya terasa lemas. Akhirnya ia hanya bisa menumpahkan air mata sambil memeluk lututnya. Begitu panjang kalimat-kalimat penyesalan yang terucap.
“Kenapa baru sekarang?” bisiknya. “Harusnya dari awal dia bilang dan sekarang aku yang akan kehilangannya”.
Ririn kembali menangis.
 “Dalam satu kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa”.
Tangis Ririn tertahan. Ia mengangkat wajahnya.
‘Su—suara itu….’
Setidaknya kamu telah berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau dua”.
Ririn menegakkan tubuh seraya menghapus air matanya.
“Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
Kali ini Ririn baru berani membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Alexi sedang tersenyum padanya. Ririn kembali menunduk. Hatinya belum siap untuk menatap wajah indah itu. Ia bahkan tak sadar kalau Alexi sudah ada di hadapannya.
“Ya, harusnya aku bilang dari awal. Maaf, sudah membuatmu salah paham”.
Ririn menggeleng pelan.
“Memang kedatanganku adalah untuk membalas budimu waktu itu. Ternyata aku justru menjadi tamak. Terlalu lama mengenalmu, justru membuat niatku berubah”.
Jemari Alexi menyentuh pipi Ririn yang basah. Gadis itu tersentak dan akhirnya mata mereka saling bertatapan.
“Aku justru ingin memilikimu, Rin. Aku suka kamu”.
Bibir Ririn bergetar menahan tangis. Ia berusaha tersenyum, tapi yang terjadi air matanya kembali jatuh.
“Aku juga minta maaf karena harus melupakanmu begitu lama. Harusnya aku lebih peka dan—”
Alexi mengecup lembut bibir Ririn. Sontak saja hal itu membuat Ririn kehilangan kata-kata. Hanya tiga detik sampai Alexi kembali tersenyum.
“I—ini di sekolah, Al. Ka—kamu ini….”
Alexi menoleh ke belakang lalu menghela napas. “Tidak ada yang tahu. Lagi pula setelah ini aku harus berangkat. Jadi, biarkan saja”.
Ririn menunduk malu. Jemarinya menggaruk-garuk ujung hidungnya.
“Ja—jadi, kita jadian?”
“Tergantung apa jawabanmu. Aku sudah mengatakannya, sekarang giliranmu”.
Senyum Ririn perlahan mengembang, “Kalau begitu, bisa aku tanya sekali lagi? Bagaimana kamu bisa menemukanku?”
“Dunia maya itu luas, Rin”.
Alexi terkekeh dan jawabannya membuat wajah Ririn merah padam. Rasanya kolot sekali menanyakan hal itu. Jemarinya kembali menggaruk-garuk ujung hidung. Tiba-tiba saja Alexi ikut menyentuh ujung hidungnya.
“Dan gerakanmu ini. Sejak pertemuan pertama kita, aku tak akan melupakan gadis yang menggaruk ujung hidungnya sampai flek melanomanya ikut kemerahan.”
“Bilang aja tahi lalat. Dasar!” Ririn meninju kecil pada perut Alexi lalu ia memeluk tubuh kurus pemuda itu. “Kalau begitu jangan cari gadis lain, karena aku bersedia jadi pacarmu”.
Pelukan Ririn dibalas hangat oleh Alexi. Sensasi menyenangkan itu mengalir dari aliran darah dan menyatu pada epidermis masing-masing. Memberikan getaran hangat pada tiap detak jantung.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menjadi pria hebat seperti yang pernah aku janjikan pada ayahmu”.
“Apa ini sebuah lamaran?” Ririn bertanya iseng.
“Boleh saja. Siap-siap saja”.
Kali ini Ririn memastikan membalas ciuman keduanya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar