Musikal
208
“Saya ucapkan terima
kasih atas partisipasi kalian. Semoga di pertemuan kita selanjutnya, kalian
sudah menjadi orang yang hebat dan dapat membanggakan kedua nama sekolah ini.
Kami semua senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian. Akhir
kata, selamat berjuang dan sampai jumpa lagi”.
Baru
kali ini pidato upacara Hana diakhiri dengan tepuk tangan. Rasanya sedih begitu
upacara berakhir karena itu artinya duo Hasegawa, Alexi, serta semua siswa dan
guru SMA Panji Semirang akan berangkat pulang. Upacara ditutup dengan pelukan
penuh haru dari para anggota Love Musical.
“Kita
masih anggota LM kok,” ujar Anjani saat Ririn memeluknya. “Lagian rumah kita
dekat, kan?”
“Tapi
rasanya beda kalau gak sekelas lagi,” balas Ririn. Kemudian ia bertatapan
dengan Wenda. Awalnya mereka sedikit canggung, tapi akhirnya tawa mereka pecah
dan saling berangkulan.
“Senang
pernah menjadi pesaingmu, Rin”.
“Tolong,
jangan ingatkan aku soal hari-hari bodoh itu”.
Mereka
saling melepaskan pelukan dengan tawa lalu Ririn berpapasan dengan pasangan
Ben-Kemal. Tanpa pemberitahuan, kedua orang itu langsung memeluk Ririn.
“Wenda
gak bakal cemburu kok”.
“Priyanka
juga”.
Ririn
tergelak, “Yap, sekali ini saja ya. Sampai jumpa, guru-guruku. Terima kasih
sudah mendidikku”.
Mereka
saling melambaikan tangan. Meskipun dipenuhi gadis-gadis, tapi duo Hasegawa ini
masih menangkap sosok Ririn. Kedua orang itu juga memberikan pelukan
perpisahan.
“Matta nee, Ririn-chan,” ujar Hiro.
“You’re always be our bestfriend,” sahut
Jiro.
Desahan
berat Ririn meluncur, “Arigatou, Senpai.
Sayonara.”
“Hei,
jangan bilang sayonara. Memangnya
kamu gak mau ketemu kita lagi?” omel Jiro.
Ririn
melongo. Kedua orang ini hanya tertawa.
“Sayonara digunakan kalau memang kita
benar-benar akan berpisah, tapi kita tentu akan bertemu lagi,” Hiro tersenyum.
“Jadi, katakan jaa matta”.
Ririn
mengangguk mantap, “Jaa matta, Jiro-senpai, Hiro-senpai”.
Duo
Hasegawa ini tersenyum. Mereka bertiga lalu saling mengucapkan perpisahan
dengan yang lain. Di antara salam perpisahan itu terlihat Wenda dan Priyanka
kembali berpelukan. Suasana terasa haru begitu mereka mengucapkan kata rindu
yang tulus. Begitu pula dengan Fi. Sosoknya yang terkenal kaku justru terasa
bersahabat saat mengucapkan perpisahan dengan siswa dari SMA Panji Semirang.
Baru kali ini ia tersenyum tulus dalam jangka lama.
Dari
semua orang yang akan pergi, ada beberapa lelaki yang menjadi rebutan selfie oleh para gadis. Orang-orang itu
adalah Jiro, Hiro, dan Alexi. Ketiga orang itu mendadak menjadi selebriti. Para
gadis tak henti-hentinya meminta foto bareng, bahkan Andani sampai gemas
melihat pacarnya menjadi rebutan. Untung ia belum sempat mengeluarkan jurus
ekor sembilan.
Entah
mengapa tatapan Ririn seolah terpaku pada Alexi yang sedang diperebutkan
gadis-gadis. Tiba-tiba saja lalu-lalang di hadapannya seperti menghentikan
waktu. Ia seperti terhisap dalam lubang hitam tak berujung. Lalu-lalang itu
berubah menjadi bayangan-bayangan yang tak pernah ia temui.
Alunan
piano, hiruk-pikuk penonton, dan kata-kata itu….
‘Setidaknya kamu telah
berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau
dua’
‘Dalam satu kali
kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil
yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa’
‘Bukankah kita
masih terlalu muda untuk patah hati’
Air mata tiba-tiba mengalir dan tatapan Ririn masih
tertuju pada Alexi. Akhirnya ia ingat semua hal yang pernah terlupa olehnya.
Denyutan di dahinya kembali terasa.
“Kamu nangis, Rin?”
Suara Andani ternyata menyedot perhatian Alexi. Ia
langsung menatap Ririn tanpa berkedip.
“Ke—kelilipan,” Ririn berbalik. “Aku ke to—toilet
dulu. Ke—kebelet”.
Ia mengambil langkah seribu. Sama sekali tak menoleh.
Ia bahkan tak tahu ke mana kakinya melangkah. Ia hanya ingin menjauh dari
keramaian agar dapat menumpahkan semua air mata tanpa ada orang yang lihat.
Sekali lagi ia tak mengerti kenapa langkahnya salalu
membawanya ke tempat ini. Tempat di mana semua kenangan terukir. Mungkin bukan
untuk pertemuan pertama, tapi di mana semua terjadi dan membuat perasaan suka
itu tumbuh.
Kakinya terasa lemas. Akhirnya ia hanya bisa
menumpahkan air mata sambil memeluk lututnya. Begitu panjang kalimat-kalimat
penyesalan yang terucap.
“Kenapa baru sekarang?” bisiknya. “Harusnya dari awal
dia bilang dan sekarang aku yang akan kehilangannya”.
Ririn kembali menangis.
“Dalam satu
kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan
berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa”.
Tangis Ririn tertahan. Ia mengangkat wajahnya.
‘Su—suara itu….’
“Setidaknya kamu telah
berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau
dua”.
Ririn menegakkan tubuh seraya menghapus air matanya.
“Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
Kali ini Ririn baru berani membalikkan tubuhnya. Ia
mendapati Alexi sedang tersenyum padanya. Ririn kembali menunduk. Hatinya belum
siap untuk menatap wajah indah itu. Ia bahkan tak sadar kalau Alexi sudah ada
di hadapannya.
“Ya, harusnya aku bilang dari awal. Maaf, sudah
membuatmu salah paham”.
Ririn menggeleng pelan.
“Memang kedatanganku adalah untuk membalas budimu
waktu itu. Ternyata aku justru menjadi tamak. Terlalu lama mengenalmu, justru
membuat niatku berubah”.
Jemari Alexi menyentuh pipi Ririn yang basah. Gadis
itu tersentak dan akhirnya mata mereka saling bertatapan.
“Aku justru ingin memilikimu, Rin. Aku suka kamu”.
Bibir Ririn bergetar menahan tangis. Ia berusaha
tersenyum, tapi yang terjadi air matanya kembali jatuh.
“Aku juga minta maaf karena harus melupakanmu begitu
lama. Harusnya aku lebih peka dan—”
Alexi mengecup lembut bibir Ririn. Sontak saja hal itu
membuat Ririn kehilangan kata-kata. Hanya tiga detik sampai Alexi kembali
tersenyum.
“I—ini di sekolah, Al. Ka—kamu ini….”
Alexi menoleh ke belakang lalu menghela napas. “Tidak
ada yang tahu. Lagi pula setelah ini aku harus berangkat. Jadi, biarkan saja”.
Ririn menunduk malu. Jemarinya menggaruk-garuk ujung
hidungnya.
“Ja—jadi, kita jadian?”
“Tergantung apa jawabanmu. Aku sudah mengatakannya, sekarang
giliranmu”.
Senyum Ririn perlahan mengembang, “Kalau begitu, bisa
aku tanya sekali lagi? Bagaimana kamu bisa menemukanku?”
“Dunia maya itu luas, Rin”.
Alexi terkekeh dan jawabannya membuat wajah Ririn
merah padam. Rasanya kolot sekali menanyakan hal itu. Jemarinya kembali
menggaruk-garuk ujung hidung. Tiba-tiba saja Alexi ikut menyentuh ujung
hidungnya.
“Dan gerakanmu ini. Sejak pertemuan pertama kita, aku
tak akan melupakan gadis yang menggaruk ujung hidungnya sampai flek melanomanya
ikut kemerahan.”
“Bilang aja tahi lalat. Dasar!” Ririn meninju kecil
pada perut Alexi lalu ia memeluk tubuh kurus pemuda itu. “Kalau begitu jangan
cari gadis lain, karena aku bersedia jadi pacarmu”.
Pelukan Ririn dibalas hangat oleh Alexi. Sensasi
menyenangkan itu mengalir dari aliran darah dan menyatu pada epidermis
masing-masing. Memberikan getaran hangat pada tiap detak jantung.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menjadi pria hebat
seperti yang pernah aku janjikan pada ayahmu”.
“Apa ini sebuah lamaran?” Ririn bertanya iseng.
“Boleh saja. Siap-siap saja”.
Kali ini Ririn memastikan membalas ciuman keduanya.
Musikal
208
“Saya ucapkan terima
kasih atas partisipasi kalian. Semoga di pertemuan kita selanjutnya, kalian
sudah menjadi orang yang hebat dan dapat membanggakan kedua nama sekolah ini.
Kami semua senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian. Akhir
kata, selamat berjuang dan sampai jumpa lagi”.
Baru
kali ini pidato upacara Hana diakhiri dengan tepuk tangan. Rasanya sedih begitu
upacara berakhir karena itu artinya duo Hasegawa, Alexi, serta semua siswa dan
guru SMA Panji Semirang akan berangkat pulang. Upacara ditutup dengan pelukan
penuh haru dari para anggota Love Musical.
“Kita
masih anggota LM kok,” ujar Anjani saat Ririn memeluknya. “Lagian rumah kita
dekat, kan?”
“Tapi
rasanya beda kalau gak sekelas lagi,” balas Ririn. Kemudian ia bertatapan
dengan Wenda. Awalnya mereka sedikit canggung, tapi akhirnya tawa mereka pecah
dan saling berangkulan.
“Senang
pernah menjadi pesaingmu, Rin”.
“Tolong,
jangan ingatkan aku soal hari-hari bodoh itu”.
Mereka
saling melepaskan pelukan dengan tawa lalu Ririn berpapasan dengan pasangan
Ben-Kemal. Tanpa pemberitahuan, kedua orang itu langsung memeluk Ririn.
“Wenda
gak bakal cemburu kok”.
“Priyanka
juga”.
Ririn
tergelak, “Yap, sekali ini saja ya. Sampai jumpa, guru-guruku. Terima kasih
sudah mendidikku”.
Mereka
saling melambaikan tangan. Meskipun dipenuhi gadis-gadis, tapi duo Hasegawa ini
masih menangkap sosok Ririn. Kedua orang itu juga memberikan pelukan
perpisahan.
“Matta nee, Ririn-chan,” ujar Hiro.
“You’re always be our bestfriend,” sahut
Jiro.
Desahan
berat Ririn meluncur, “Arigatou, Senpai.
Sayonara.”
“Hei,
jangan bilang sayonara. Memangnya
kamu gak mau ketemu kita lagi?” omel Jiro.
Ririn
melongo. Kedua orang ini hanya tertawa.
“Sayonara digunakan kalau memang kita
benar-benar akan berpisah, tapi kita tentu akan bertemu lagi,” Hiro tersenyum.
“Jadi, katakan jaa matta”.
Ririn
mengangguk mantap, “Jaa matta, Jiro-senpai, Hiro-senpai”.
Duo
Hasegawa ini tersenyum. Mereka bertiga lalu saling mengucapkan perpisahan
dengan yang lain. Di antara salam perpisahan itu terlihat Wenda dan Priyanka
kembali berpelukan. Suasana terasa haru begitu mereka mengucapkan kata rindu
yang tulus. Begitu pula dengan Fi. Sosoknya yang terkenal kaku justru terasa
bersahabat saat mengucapkan perpisahan dengan siswa dari SMA Panji Semirang.
Baru kali ini ia tersenyum tulus dalam jangka lama.
Dari
semua orang yang akan pergi, ada beberapa lelaki yang menjadi rebutan selfie oleh para gadis. Orang-orang itu
adalah Jiro, Hiro, dan Alexi. Ketiga orang itu mendadak menjadi selebriti. Para
gadis tak henti-hentinya meminta foto bareng, bahkan Andani sampai gemas
melihat pacarnya menjadi rebutan. Untung ia belum sempat mengeluarkan jurus
ekor sembilan.
Entah
mengapa tatapan Ririn seolah terpaku pada Alexi yang sedang diperebutkan
gadis-gadis. Tiba-tiba saja lalu-lalang di hadapannya seperti menghentikan
waktu. Ia seperti terhisap dalam lubang hitam tak berujung. Lalu-lalang itu
berubah menjadi bayangan-bayangan yang tak pernah ia temui.
Alunan
piano, hiruk-pikuk penonton, dan kata-kata itu….
‘Setidaknya kamu telah
berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau
dua’
‘Dalam satu kali
kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan berhasil
yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa’
‘Bukankah kita
masih terlalu muda untuk patah hati’
Air mata tiba-tiba mengalir dan tatapan Ririn masih
tertuju pada Alexi. Akhirnya ia ingat semua hal yang pernah terlupa olehnya.
Denyutan di dahinya kembali terasa.
“Kamu nangis, Rin?”
Suara Andani ternyata menyedot perhatian Alexi. Ia
langsung menatap Ririn tanpa berkedip.
“Ke—kelilipan,” Ririn berbalik. “Aku ke to—toilet
dulu. Ke—kebelet”.
Ia mengambil langkah seribu. Sama sekali tak menoleh.
Ia bahkan tak tahu ke mana kakinya melangkah. Ia hanya ingin menjauh dari
keramaian agar dapat menumpahkan semua air mata tanpa ada orang yang lihat.
Sekali lagi ia tak mengerti kenapa langkahnya salalu
membawanya ke tempat ini. Tempat di mana semua kenangan terukir. Mungkin bukan
untuk pertemuan pertama, tapi di mana semua terjadi dan membuat perasaan suka
itu tumbuh.
Kakinya terasa lemas. Akhirnya ia hanya bisa
menumpahkan air mata sambil memeluk lututnya. Begitu panjang kalimat-kalimat
penyesalan yang terucap.
“Kenapa baru sekarang?” bisiknya. “Harusnya dari awal
dia bilang dan sekarang aku yang akan kehilangannya”.
Ririn kembali menangis.
“Dalam satu
kali kehidupan, kita akan merasakan jatuh cinta berkali-kali, gagal dan
berhasil yang selalu mengiringi, serta tangis sedih atau tawa”.
Tangis Ririn tertahan. Ia mengangkat wajahnya.
‘Su—suara itu….’
“Setidaknya kamu telah
berjuang. Siapa yang jadi pemenang, itu hanya ditentukan oleh angka satu atau
dua”.
Ririn menegakkan tubuh seraya menghapus air matanya.
“Bukankah kita masih terlalu muda untuk patah hati?”
Kali ini Ririn baru berani membalikkan tubuhnya. Ia
mendapati Alexi sedang tersenyum padanya. Ririn kembali menunduk. Hatinya belum
siap untuk menatap wajah indah itu. Ia bahkan tak sadar kalau Alexi sudah ada
di hadapannya.
“Ya, harusnya aku bilang dari awal. Maaf, sudah
membuatmu salah paham”.
Ririn menggeleng pelan.
“Memang kedatanganku adalah untuk membalas budimu
waktu itu. Ternyata aku justru menjadi tamak. Terlalu lama mengenalmu, justru
membuat niatku berubah”.
Jemari Alexi menyentuh pipi Ririn yang basah. Gadis
itu tersentak dan akhirnya mata mereka saling bertatapan.
“Aku justru ingin memilikimu, Rin. Aku suka kamu”.
Bibir Ririn bergetar menahan tangis. Ia berusaha
tersenyum, tapi yang terjadi air matanya kembali jatuh.
“Aku juga minta maaf karena harus melupakanmu begitu
lama. Harusnya aku lebih peka dan—”
Alexi mengecup lembut bibir Ririn. Sontak saja hal itu
membuat Ririn kehilangan kata-kata. Hanya tiga detik sampai Alexi kembali
tersenyum.
“I—ini di sekolah, Al. Ka—kamu ini….”
Alexi menoleh ke belakang lalu menghela napas. “Tidak
ada yang tahu. Lagi pula setelah ini aku harus berangkat. Jadi, biarkan saja”.
Ririn menunduk malu. Jemarinya menggaruk-garuk ujung
hidungnya.
“Ja—jadi, kita jadian?”
“Tergantung apa jawabanmu. Aku sudah mengatakannya, sekarang
giliranmu”.
Senyum Ririn perlahan mengembang, “Kalau begitu, bisa
aku tanya sekali lagi? Bagaimana kamu bisa menemukanku?”
“Dunia maya itu luas, Rin”.
Alexi terkekeh dan jawabannya membuat wajah Ririn
merah padam. Rasanya kolot sekali menanyakan hal itu. Jemarinya kembali
menggaruk-garuk ujung hidung. Tiba-tiba saja Alexi ikut menyentuh ujung
hidungnya.
“Dan gerakanmu ini. Sejak pertemuan pertama kita, aku
tak akan melupakan gadis yang menggaruk ujung hidungnya sampai flek melanomanya
ikut kemerahan.”
“Bilang aja tahi lalat. Dasar!” Ririn meninju kecil
pada perut Alexi lalu ia memeluk tubuh kurus pemuda itu. “Kalau begitu jangan
cari gadis lain, karena aku bersedia jadi pacarmu”.
Pelukan Ririn dibalas hangat oleh Alexi. Sensasi
menyenangkan itu mengalir dari aliran darah dan menyatu pada epidermis
masing-masing. Memberikan getaran hangat pada tiap detak jantung.
“Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menjadi pria hebat
seperti yang pernah aku janjikan pada ayahmu”.
“Apa ini sebuah lamaran?” Ririn bertanya iseng.
“Boleh saja. Siap-siap saja”.
Kali ini Ririn memastikan membalas ciuman keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar