Musikal
194
Dua minggu pascakoma,
akhirnya dokter mengizinkan Tifa untuk pulang. Tentunya ia harus melewati
serangkaian medical check up agar
kepulangannya benar-benar terasa nyaman. Nantinya ia juga masih harus
bolak-balik ke rumah sakit untuk terapi dan check
up lagi tentunya.
Tifa menyambutnya kabar ini dengan gembira. Ia bahkan sibuk mengabari
teman-teman mengenal kabar kepulangan. Di sisi lain, Adrian, ibunya, berserta
Dave sibuk menyiapkan kepulangan Tifa. bukan untuk penyambutan, tapi
membereskan barang-barang bawaan selama di rumah sakit.
“Pokoknya sampai di rumah, kamu jangan langsung latihan dulu. Dilarang
makan junk food dan minum kopi,
ngerti?”
Tifa mengumpat dalam hati. Semua yang dilarang ibunya adalah hal-hal
yang ia sukai. Bagaimana mungkin ia menghabiskan satu hari penuh tanpa kegiatan
dan makanan enak, terutama tanpa kopi.
“Kamu boleh latihan, tapi gak boleh ikut nginap dan harus ada yang
dampingi,” pesan ibunya lagi.
“Saya bakal dampingi kok, Tante,” sahut Dave.
July mengangguk setuju, “Ya, benar. Terima kasih, Dave,” ujarnya yang
dibalas senyum riang di wajah Dave. Kemudian ia memerintahkan Adrian untuk
mengangkat sebagian barang ke mobil.
“Dan setelah itu, kalian berdua menikahlah”.
Pintu tertutup. Dave langsung mengerling jahil pada Tifa. Serta-merta
Tifa pun membuang muka.
“Wah, padahal belum ada lamaran resmi, tapi sudah dapat restu. Aku harus
gimana nih?”
“Mana aku tahu, tanya saja pada ibuku”.
“Kalau mau dilamar sekarang boleh, kok,” ujar Dave dengan nada menggoda.
Tifa mendengus pendek, “Waktu aku koma kemarin, aku ketemu Kak Laksmi”.
Dave tersentak. Ia tak melanjutkan gombalannya lagi.
“Aku sampai gak mau pulang. Aku senang banget ketemu dia, tapi ternyata
dia sendiri yang nyuruh aku pulang”.
Tifa tersenyum kaku, “Dia bilang, dia belum butuh aku, tapi justru
banyak yang menungguku di sini. Sampai saat ini aku masih tidak bisa melupakan
pertemuan itu. Andai aku masih ada kesempatan satu kali lagi”.
Mata Tifa terlihat kosong. Ada kesedihan yang memancar dari wajahnya.
Dave mendekat seraya meraih tangan gadis itu dalam genggamannya.
“Aku tahu bagaimana rasa rindumu itu, tapi pernahkah kamu berpikir kami juga
mempunyai rasa rindu yang sama ketika kamu pergi?”
Perlahan Tifa menatap Dave.
“Adrian, ibumu, teman-temanmu, dan semua anggota Love Musical semua mengharapkan kamu kembali. Terlalu banyak yang
membutuhkanmu, jadi kata-kata kakakmu itu benar. Kakakmu sudah tenang di sana
dan kamu harus bahagia juga”.
‘Jangan buat kesalahan
yang sama dengaku, Tif…’
Air mata Tifa menggenang. Perlahan menuruni lekuk wajahnya.
Akhir-akhirnya ini Tifa jadi lebih sering menangis. Emosinya terlalu meluap,
terutama setelah ia sadar.
“Dan jangan lupakan aku yang sangat menginginkanmu di sini”.
Dave mendaratkan ciumannya di pelupuk mata Tifa yang basah. Seperti
sentuhan ajaib, air mata Tifa perlahan surut. Senyumnya pun mengembang.
“Terima kasih…”
‘Mungkin tidak
sekarang, tapi aku tetap merindukanmu. Sampai nanti, Kak”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar