Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 209)





Musikal 209


Tiga bulan kemudian

Untuk pertama kalinya SMA Chandra Kirana menerima siswa laki-laki. Rasanya sedikit aneh ketika melihat seragam bercelana berkeliaran di sekolah. Wajah-wajah baru mulai menghiasi sekolah. Para anggota LM pun beranjak menjadi kakak kelas.
Dengan berkacak pinggang, Fi menyambut kedatangan Andani, Priyanka, dan Ririn. Ketiga gadis itu sudah berupaya datang secepat mungkin hingga napas mereka terengah-engah. Namun, masih saja terlambat.
“Dari mana saja, sih? Aku sendirian nungguin stand”.
“Kan kita sudah bilang kalau kita ngurusin klub kita dulu,” sahut Andani. “Aku baru minta izin sama klub padus, Ririn baru balik dari klub Koran, dan Priyanka juga dari klub balet”.
“Oh, jadi karena Cuma aku yang gak ikut klub lain kalian tega ninggalin aku sendirian? Sisanya mana lagi?”
“Kenyataannya memang gitu,” Ririn terkekeh. “Lagian kamu ketuanya, kan?”
Fi meniup ujung-ujung poninya dengan kesal. Rasanya sedikit menyesal menerima pengukuhan ketua LM beberapa waktu lalu. Love Musical kini menjadi klub tetap di sekolah tersebut. Selain itu, klub ini juga menerima anggota dari SMA Panji Semirang. Sebelumnya pernah diadakan voting mengenai siapa yang akan memegang tampuk ketua klub. Mereka menyarankan agar ketuanya berasal dari SMA Chandra Kirana karena gedung teater ada di sana. Anggota yang lain juga mengusulkan supaya mencari ketua yang tidak terlibat dengan klub lain. Hal ini bertujuan untuk tidak terganggunya konsentrasi ketua saat mengurus klub. Selain itu, sifat disiplin dan tegas juga harus dimiliki si calon ketua.
Mereka menemukan kombinasi lengkap itu pada diri Fi. Fi sempat menolak karena ia mengira pikir kalau ini adalah upaya orang-orang untuk menjatuhkan dirinya. Akan tetapi, setelah mendengar penjelas panjang lebar, ia pun bersedia menjadi pemimpin Love Musical.
‘Awas saja waktu latihan nanti. Aku bantai kalian semua. Jangan main-main dengan jabatan ketua, ya’.
“Iya deh, Fi, sorry,” Priyanka tersenyum seraya meraih flyer klub mereka. “Kayaknya sudah banyak yang ngambil, ya?”
“Ada beberapa. Rata-rata yang datang adalah penonton kita kemarin. Pementasan kemarin sepertinya menjadi ajang promosi yang baik,” sahut Fi .
Keempat gadis ini pun disibukkan dengan kegiatan promosi. Di sela-sela aktivitas mereka, Priyanka kembali membuka obrolan.
“Eh, pernikahan Miss Tifa dan Pak Dave minggu depan, kan? Bagaimana persiapannya?”
“Sudah rampung. Tinggal menunggu hari H saja,” sahut Ririn. “Miss Tifa orangnya gak mau ribet. Jadi, hanya buat acara yang sederhana saja”.
“Kupikir akan jadi royal wedding. Oom-mu kan orangnya glamor,” Priyanka terkekeh. “Dan kamu yang jadi bridesmaid-nya?”
The nephew and the niece. What a good couple,” sahut Fi sambil membereskan flyer yang beterbangan oleh angin. “Dia jadi groomsmen-nya, kan?”
“Ah, i—iya,” Ririn menyahut terbata. Suasana berubah canggung.
Fi mendesah panjang, “Oh, sudahlah. Gak usah canggung gitu kalau sedang bahas dia. Aku udah move on kok”.
“Benar, lagian gebetan Fi—”
Fi membekap cepat mulut Priyanka agar tidak ember. Mungkin teman-temannya sudah merasakan kedekatan Fi dengan Rafi. Hanya saja ia belum mau jadi bahan pembicaraan. Pertengkaran mereka terhenti saat seorang gadis mengawasi mereka dari jauh.
“Hei, kamu!” panggil Andani. “Tertarik dengan duani teater? Ayo, ke sini”.
Gadis berkuncir itu malu-malu mendekati stand. Fi dan Priyanka pun menghentikan pertengkaran mereka.
“Selamat datang di Love Musical. Aku Andani dari tim musik. Boleh tahu siapa namamu”.
“Na—namaku Nayla. Aku siswa baru. Kemarin aku menonton pertunjukkan kalian dan itu sangat menakjubkan”.
“Wah, kami merasa tersanjung,” sahut Priyanka. “Apa kamu tertarik untuk bergabung dengan kami?”
“I—iya, tapi aku tidak berbakat apa pun. Aku tidak bisa berakting, suaraku pas-pasan, dan badanku juga kaku. Apa orang sepertiku bisa masuk klub ini?”
Akhirnya Fi buka suara, “Dengar, gadis manis. Kami tidak memerlukan orang berbakat di sini. Kami mencari orang yang punya tekad kuat dan mau bekerja keras. Kamu bukan sekumpulan orang yang akan tampil di Broadway, tapi kami bisa membimbingmu menuju ke sana”.
“Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat,” Ririn ikut menimpali. “Hanya saja kamu gak tahu sampai kamu menekuninya”.
“Itu benar,” sahut Andani dengan senyum yang lebar. “Jadi, bagaimana? Tertarik?”
Wajah gadis itu berubah cerah. Ia mengangguk mantap.
“Kalau begitu silakan isi formulirnya,” Andani menyerahkan selembar kerta bserta pena.
Priyanka merangkul Fi dan Ririn, “Wow, nice words, girls! Apa jadinya jika Ririn dan Fi bersatu? Langit pun runtuh”.
“Lebaaay,” Fi melepaskan tangan Priyanka yang langsung disahut tawa Ririn.
Gadis bernama Nayla itu tampak bingung lalu diserahkannya kembali formulir itu pada Andani, “Kak, maksud poin kedelapan ini apa, ya?”
Andani juga ikut bingung sekaligus kaget saat membacanya. Ia langsung menyerahkan formulir pada ketiga temannya.
“Pemeran utama dilarang pacaran dengan sesama anggota Love Musical?” Priyanka tertawa sarkastis. “Syarat gila macam apa ini?”
Ririn menyahut, “Lebih tepatnya siapa yang menulis ini?”
Tatapan langsung mengarah pada Fi. Gadis itu hanya mengangkat bahu dengan ekspresi polos.
Well, mitos itu memang ada. Aku cuma gak mau kejadian berulang”.
Ketiga gadis ini hanya bisa mengelus dada.
“Diisi saja dulu. Itu hanya masalah teknis saja,” lerai Andani.
Gadis itu mengangguk. Ia berterima kasih setelah membubuhkan tana tangan pada formulir itu.
“Baiklah, nanti kami hubungi jika latihan sudah dimulai. Sampai jumpa lagi, Nayla”.
Gadis itu pun berlalu dan keempat gadis ini kembali bergosip.
“Ngomong-ngomong, apa cowok-cowok oriental kalian akan datang di pesta nanti?” ujar Priyanka.
“Alexi?” Ririn menggeleng. “Ada resital di sekolahnya. Lagi pula dia kan masih murid baru, aku pikir tidak semudah itu meminta izin cuti”.
“Ya, sama,” sahut Andani lemas. “Dia harus latihan untuk mini konser musim panas ini”.
Priyanka mendesah berat, “Kalian memang cewek-cewek tangguh. Hebat sekali bisa saling menjaga perasaan dengan jarak sejauh itu. Kalau aku, pisah sekolah saja sudah sangat terbebani”.
“Wah, wah, wah, aku benar-benar gak percaya loh kalau sekarang Kemal mau serius sama kamu,” ujar Andani. “Padahal dulu dia sukanya sama—aww!”
Ririn tak mengindahkan Andani yang mengaduh karena injakan kakinya. Andani dan Priyaka memang mirip kalau soal mulut ember.
“Berhentilah bergosip!” omel Fi seraya menyerahkan setumpuk flyer. “Sana, pergi promosi!”
Ririn, Andani, dan Priyanka hanya bisa mengulum senyum. Ternyata mereka telah memilih seorang diktator titisan Latifa Kusuma Ningsih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar