Musikal 209
Tiga bulan
kemudian
Untuk pertama kalinya SMA Chandra Kirana menerima
siswa laki-laki. Rasanya sedikit aneh ketika melihat seragam bercelana
berkeliaran di sekolah. Wajah-wajah baru mulai menghiasi sekolah. Para anggota
LM pun beranjak menjadi kakak kelas.
Dengan berkacak pinggang, Fi menyambut kedatangan
Andani, Priyanka, dan Ririn. Ketiga gadis itu sudah berupaya datang secepat
mungkin hingga napas mereka terengah-engah. Namun, masih saja terlambat.
“Dari mana saja, sih? Aku sendirian nungguin stand”.
“Kan kita sudah bilang kalau kita ngurusin klub kita
dulu,” sahut Andani. “Aku baru minta izin sama klub padus, Ririn baru balik
dari klub Koran, dan Priyanka juga dari klub balet”.
“Oh, jadi karena Cuma aku yang gak ikut klub lain
kalian tega ninggalin aku sendirian? Sisanya mana lagi?”
“Kenyataannya memang gitu,” Ririn terkekeh. “Lagian
kamu ketuanya, kan?”
Fi meniup ujung-ujung poninya dengan kesal. Rasanya
sedikit menyesal menerima pengukuhan ketua LM beberapa waktu lalu. Love Musical kini menjadi klub tetap di
sekolah tersebut. Selain itu, klub ini juga menerima anggota dari SMA Panji
Semirang. Sebelumnya pernah diadakan voting mengenai siapa yang akan memegang
tampuk ketua klub. Mereka menyarankan agar ketuanya berasal dari SMA Chandra
Kirana karena gedung teater ada di sana. Anggota yang lain juga mengusulkan
supaya mencari ketua yang tidak terlibat dengan klub lain. Hal ini bertujuan
untuk tidak terganggunya konsentrasi ketua saat mengurus klub. Selain itu,
sifat disiplin dan tegas juga harus dimiliki si calon ketua.
Mereka menemukan kombinasi lengkap itu pada diri Fi.
Fi sempat menolak karena ia mengira pikir kalau ini adalah upaya orang-orang
untuk menjatuhkan dirinya. Akan tetapi, setelah mendengar penjelas panjang
lebar, ia pun bersedia menjadi pemimpin Love
Musical.
‘Awas saja waktu
latihan nanti. Aku bantai kalian semua. Jangan main-main dengan jabatan ketua,
ya’.
“Iya deh, Fi, sorry,”
Priyanka tersenyum seraya meraih flyer klub
mereka. “Kayaknya sudah banyak yang ngambil, ya?”
“Ada beberapa. Rata-rata yang datang adalah penonton kita
kemarin. Pementasan kemarin sepertinya menjadi ajang promosi yang baik,” sahut
Fi .
Keempat gadis ini pun disibukkan dengan kegiatan
promosi. Di sela-sela aktivitas mereka, Priyanka kembali membuka obrolan.
“Eh, pernikahan Miss
Tifa dan Pak Dave minggu depan, kan? Bagaimana persiapannya?”
“Sudah rampung. Tinggal menunggu hari H saja,” sahut
Ririn. “Miss Tifa orangnya gak mau
ribet. Jadi, hanya buat acara yang sederhana saja”.
“Kupikir akan jadi royal
wedding. Oom-mu kan orangnya glamor,” Priyanka terkekeh. “Dan kamu yang
jadi bridesmaid-nya?”
“The nephew and
the niece. What a good couple,”
sahut Fi sambil membereskan flyer yang
beterbangan oleh angin. “Dia jadi groomsmen-nya,
kan?”
“Ah, i—iya,” Ririn menyahut terbata. Suasana berubah
canggung.
Fi mendesah panjang, “Oh, sudahlah. Gak usah canggung
gitu kalau sedang bahas dia. Aku udah move
on kok”.
“Benar, lagian gebetan Fi—”
Fi membekap cepat mulut Priyanka agar tidak ember.
Mungkin teman-temannya sudah merasakan kedekatan Fi dengan Rafi. Hanya saja ia
belum mau jadi bahan pembicaraan. Pertengkaran mereka terhenti saat seorang
gadis mengawasi mereka dari jauh.
“Hei, kamu!” panggil Andani. “Tertarik dengan duani
teater? Ayo, ke sini”.
Gadis berkuncir itu malu-malu mendekati stand. Fi dan Priyanka pun menghentikan
pertengkaran mereka.
“Selamat datang di Love
Musical. Aku Andani dari tim musik. Boleh tahu siapa namamu”.
“Na—namaku Nayla. Aku siswa baru. Kemarin aku menonton
pertunjukkan kalian dan itu sangat menakjubkan”.
“Wah, kami merasa tersanjung,” sahut Priyanka. “Apa
kamu tertarik untuk bergabung dengan kami?”
“I—iya, tapi aku tidak berbakat apa pun. Aku tidak
bisa berakting, suaraku pas-pasan, dan badanku juga kaku. Apa orang sepertiku
bisa masuk klub ini?”
Akhirnya Fi buka suara, “Dengar, gadis manis. Kami
tidak memerlukan orang berbakat di sini. Kami mencari orang yang punya tekad
kuat dan mau bekerja keras. Kamu bukan sekumpulan orang yang akan tampil di
Broadway, tapi kami bisa membimbingmu menuju ke sana”.
“Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat,” Ririn
ikut menimpali. “Hanya saja kamu gak tahu sampai kamu menekuninya”.
“Itu benar,” sahut Andani dengan senyum yang lebar.
“Jadi, bagaimana? Tertarik?”
Wajah gadis itu berubah cerah. Ia mengangguk mantap.
“Kalau begitu silakan isi formulirnya,” Andani menyerahkan
selembar kerta bserta pena.
Priyanka merangkul Fi dan Ririn, “Wow, nice words, girls! Apa jadinya jika
Ririn dan Fi bersatu? Langit pun runtuh”.
“Lebaaay,” Fi melepaskan tangan Priyanka yang langsung
disahut tawa Ririn.
Gadis bernama Nayla itu tampak bingung lalu
diserahkannya kembali formulir itu pada Andani, “Kak, maksud poin kedelapan ini
apa, ya?”
Andani juga ikut bingung sekaligus kaget saat
membacanya. Ia langsung menyerahkan formulir pada ketiga temannya.
“Pemeran utama dilarang pacaran dengan sesama anggota Love Musical?” Priyanka tertawa
sarkastis. “Syarat gila macam apa ini?”
Ririn menyahut, “Lebih tepatnya siapa yang menulis
ini?”
Tatapan langsung mengarah pada Fi. Gadis itu hanya
mengangkat bahu dengan ekspresi polos.
“Well, mitos
itu memang ada. Aku cuma gak mau kejadian berulang”.
Ketiga gadis ini hanya bisa mengelus dada.
“Diisi saja dulu. Itu hanya masalah teknis saja,”
lerai Andani.
Gadis itu mengangguk. Ia berterima kasih setelah
membubuhkan tana tangan pada formulir itu.
“Baiklah, nanti kami hubungi jika latihan sudah
dimulai. Sampai jumpa lagi, Nayla”.
Gadis itu pun berlalu dan keempat gadis ini kembali
bergosip.
“Ngomong-ngomong, apa cowok-cowok oriental kalian akan
datang di pesta nanti?” ujar Priyanka.
“Alexi?” Ririn menggeleng. “Ada resital di sekolahnya.
Lagi pula dia kan masih murid baru, aku pikir tidak semudah itu meminta izin
cuti”.
“Ya, sama,” sahut Andani lemas. “Dia harus latihan
untuk mini konser musim panas ini”.
Priyanka mendesah berat, “Kalian memang cewek-cewek tangguh.
Hebat sekali bisa saling menjaga perasaan dengan jarak sejauh itu. Kalau aku,
pisah sekolah saja sudah sangat terbebani”.
“Wah, wah, wah, aku benar-benar gak percaya loh kalau
sekarang Kemal mau serius sama kamu,” ujar Andani. “Padahal dulu dia sukanya
sama—aww!”
Ririn tak mengindahkan Andani yang mengaduh karena
injakan kakinya. Andani dan Priyaka memang mirip kalau soal mulut ember.
“Berhentilah bergosip!” omel Fi seraya menyerahkan
setumpuk flyer. “Sana, pergi
promosi!”
Ririn, Andani, dan Priyanka hanya bisa mengulum
senyum. Ternyata mereka telah memilih seorang diktator titisan Latifa Kusuma
Ningsih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar