Musikal
187
Semua
berbalut putih dan semburat keemasan. Sebuah pernikahan yang dibilang mewah.
Diadakan dalam sebuah ballroom hotel terkenal
yang memuat hampir 700 undangan. Pesta dilaksanakan dengan mengambil
konsep standing party. Dimana
mempelai lebih bebas menyapa tamu undangan dan tidak berdiam diri di atas
pelaminan. Di depan pintu masuk terpampang sebuah foto kedua mempelai yang
bertulisakan:
Evan dan Riani
Akhirnya pascatujuh tahun berpisah dari Dave,
Riani menambatkan hatinya pada pria pilihan orang tuanya. Meski pilihan orang
tuanya, tapi bukan berarti ia menikah dengan terpaksa. Ia sendiri yang
memutuskan dan pada kenyataannya Evan adalah pria yang ideal untuknya.
Semua teman-temannya mendapatkan undangan.
Bahkan Dave pun tak luput. Pria itu juga datang sebagai tanda penghormatan.
Pintu ballroom kembali terbuka. Meski tak
terdengar, tapi hentakan hak sepatu wanita itu terasa mantap. Ujung-ujung dress berayun bebas pada bagian atas
lututnya. Beberapa orang sempat dibuat menoleh olehnya karena pada masa itu dress batik masih jarang dikenakan.
Dengan buket mawar merah besar di tangannya, wanita itu menyapa kedua mempelai
yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa tamu.
“Congratulation,
Ri!”
Riani tak percaya dengan apa yang sedang ia
lihat. Bahkan ia tak sudah memekik dan mengejutkan tamu-tamu yang lain.
“TIFA!”
Satu lantunan nama diiringi pelukan hangat cukup
membuat beberapa mantan personel Love
Musical terperanjat. Bagaimana tidak, sosok fenomenal yang biasanya hanya
bisa mereka lihat di media massa kini ada dalam satu ruangan dengan mereka.
Tentunya yang heboh tidak hanya Riani, beberapa anggota Love MusicaI yang lain sudah bersiap menyambutnya.
“Astaga, Tif. Aku benar-benar gak nyangka kamu
akan datang!”
“Kalau kamu yang nikah, aku pasti pulang kok,”
senyuman Tifa beralih pada suami Riani. Ia mengulurkan tangan seraya
menyerahkan buket tersebut, “Halo, Mas Evan. Mungkin ini pertama kalinya kita
bertemu.”
“Ya, senang bertemu denganmu,” Evan menyambut
jabat tangan Tifa. “Riani banyak cerita mengenaimu.”
Tawa Tifa pecah, “Oh, kuharap bukan yang
aneh-aneh. Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian.”
Baru saja Evan mengucapkan terima kasih, Gloria
dan Hana sudah menghantui. Akan ada acara reuni dadakan setelah ini.
“Oh, apa aku bermimpi?” ujar Gloria sarkastis.
“Latifa Kusuma Ningsih ada di hadapanku saat ini?”
“Maka tetaplah dalam mimpimu.”
Keduanya serempak berseru riang dan meskipun
Hana tak ikut berteriak, tapi ia juga tak mau ketinggalan dipeluk. Suasana pun
langsung berubah riuh. Popularitas Tifa langsung mengalahkan kedua mempelai
yang harusnya menjadi raja dan ratu kala itu.
Di tengah keramaian pesta seharusnya menjadi
perjalanan yang lambat. Waktu terasa berputar lebih lama dan orang-orang pun
rela beraktivitas lebih lambat dari biasanya. Namun, ada satu orang yang
bergerak bahkan lebih cepat daripada pelayan pembawa minuman. Ia melewati
celah-celah dengan gesit meski beberapa kali ia harus bersinggungan dengan
orang lain. Ia beranggapan bahwa ia harus bergerak secepat mungkin karena jika
tidak maka ia akan kehilangan momen itu.
Tepat di suatu titik keramaian kakinya berhenti
melangkah. Jiwa dan matanya seirama terpaku pada sosok yang ada di hadapannya.
Sosok perempuan yang selalu berwujud dalam ribuan mimpinya. Sosok yang sedang
tertawa bersama teman-temannya. Sosok dari masa lalu.
Mata Tifa berpapasan dengan Dave. Mereka
sama-sama bergeming. Tak ada yang membuat pergerakan. Tak ada pula yang
bersuara. Hanya saling tatap. Seolah-olah hanya dengan lewat mata pertanyaan
remeh-temeh langsung terjawab.
Sengaja atau tidak, tapi tubuh Tifa terdorong
oleh Gloria. Ia menoleh, tapi sahabatnya itu hanya mengedipkan mata. Tifa tak
tahu harus bagaimana karena sekarang ia sudah ada tepat di depan Dave.
“Kamu terlihat hebat, Dave,” Tifa memulai
basa-basinya. “Apa kabar?”
“Kamu lebih kurus sekarang,” balas Dave kaku.
Tifa tersenyum geli, “Aku terlalu sering
marah-marah makanya kurus. Bukannya kamu juga sibuk mengatur para trainee-mu. Ayahmu pasti bangga anaknya
sudah jadi CEO sekarang. Ah, lama tak jumpa ayah ibumu. Ngomong-ngomong aku
sekarang sudah lancar bahasa Inggris loh.”
“Kalau tidak, mana mungkin bertahun-tahun kamu
tahan di sana.”
Keduanya hanya tertawa ringan. Kemudian
sama-sama membisu. Di tengah keramaian keduanya justru terjebak dalam suasana
canggung.
“Senang melihatmu bisa tertawa lagi.”
Tifa tersenyum simpul, “Waktu perlahan
menyembuhkan.”
“Apakah waktu bisa juga mengembalikan?”
Tifa menoleh cepat. Ia mendapati Dave menatapnya
serius.
“Kau dan aku, tentu saja.”
Tifa menarik napas panjang, “Aku perlu waktu, Dave.”
Buru-buru Tifa meninggalkan Dave. Ia tak bisa
membiarkan Dave menebak isi hatinya hanya lewat perubahan air mukanya. Degupan
jantungnya lebih keras daripada biasanya. Tifa perlu menenangkan diri.
“Tif, kamu ngapain di sini?”
Tifa tersentak. Ketika ia meninggalkan Dave, ia
memilih untuk menenangkan diri di koridor gedung. Tak ia duga ternyata Riani
menghampirinya. Wanita itu tidak sendiri. Ada beberapa asisten yang menemani.
“Oh, gak apa-apa. Tadi aku ada telepon dan di
dalam terlalu bising,” Tifa beralasan. “Kamu sendiri kenapa malah di luar?”
“Mau touch
up dulu. Sebentar lagi mau acara potong kue, kayaknya aku perlu benerin make up dulu. Ah ya, Tif, ada yang mau
aku bicarakan. Temani aku yuk.”
Tak ada firasat apa pun saat Tifa mengikuti
ajakan Riani. Namun, entah kenapa Riani meminta privasi dan menyuruh asistennya
untuk menunggu di luar.
“Ada yang mau kubicarakan denganmu. Masalah
Dave.”
Dave?
Kenapa pula lelaki itu?
“Emm, yah, aku juga cukup terkejut saat tahu
bukan nama Dave dalam undangan itu.”
“Itulah masalahnya, Tif. Ak masih menginginkan
nama Dave dalam undangan itu.”
Tifa terperanjat mendengar Riani mengatakan hal
itu dengan tenang.
“Tapi bukannya kamu sudah menikah? Lalu
bagaimana dengan suamimu?”
“Dari dulu Dave tidak pernah mencintaiku. Meski
aku sudah berusaha, tapi tetap saja pada akhirnya dia memutuskanku. Sampai
suatu hari, aku dikenalkan orang tuaku pada Mas Evan. Dia pria yang baik dan
bertanggung jawab. Saat dia melamarku, aku hanya berpikir kalau kesempatanku
mendapatkan lelaki seperti Mas Evan tidak datang dua kali. Makanya aku bersedia
menikah dengannya, tapi ternyata aku masih menyimpan rasa pada Dave.”
“Apa suamimu tahu?”
“Ya, dia tahu. Dia tahu makanya aku membuat
persyaratan sebelum aku menikah. Dia harus menerimaku yang separuhnya masih
mencintai Dave dan dia menerima itu.”
Tifa menatap Riani tak percaya.
“Apa kamu gak berpikir itu jahat sekali?”
“Ya, aku juga berpikir demikian,” Riani terlihat
menyesal. “Tapi sebenarnya aku juga mengajukan syarat pada diriku sendiri.
Meskipun aku masih menyukai Dave, aku juga ingin melupakannya secepat mungkin.”
Riani meraih dan menggenggam tangan Tifa, “Tif,
kamu mau bantu aku’kan? Bantu aku melupakan Dave.”
“Aku harus bagaimana?”
“Kumohon, sampai aku bisa melupakan Dave
sepenuhnya, kamu jangan pernah kembali pada Dave. Aku tidak peduli jika Dave
dengan perempuan lain, tapi jangan denganmu.”
“Ke—kenapa?”
“Dave memutuskanku karena sejak kamu
meninggalkannya tak pernah sedetik pun dia melupakanmu. Kamu alasan terbesar
Dave tak bisa mencintaimu. Kalau kamu kembali ke sisinya sekarang, aku gak
bakal bisa move on. Kamu ngerti’kan?”
Jemari Tifa terasa mengejang. Entah kenapa
kata-kata Riani seperti seperti perjanjian antara hidup dan mati. Menyetujuinya
sama saja melakukan hal yang tidak masuk akal, tapi semua akan damai bila ia
mengiyakan. Lagi pula ia juga masih tidak yakin dengan perasaannya. Sudah
terlalu lama ia tak bertemu dengan Dave dan ia masih bingung harus kembali atau
tidak.
“Baiklah, jika memang itu membuatmu merasa lebih
baik. Aku setuju.”
Mata Riani langsung berbinar, “Ta—tapi kamu gak
marah’kan?”
Tifa membalas genggaman Riani lebih erat. Bukan
untuk meyakinkan wanita itu, tapi membulatkan tekadnya agar suatu hari nanti ia
tak melanggarnya.
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Terima kasih, Tif!”
Mata Riani lebih berbinar daripada sebelumnya.
Tifa hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Kemudian ia pamit karena kali ini
Riani harus benar-benar memperbaiki make
up-nya.
Tifa melangkah pergi. Semakin mendekati ballroom, jantungnya berdebar semakin keras.
Ia berusaha bersembunyi di dalam keramaian. Ia tak mau menemui siapa pun,
terutama Dave. Padahal bersama Riani tadi ia sudah memantapkan hati, tapi
sekarang kegundahan justru menyerangnya.
Ia memang berhasil bersembunyi dari Dave, tapi
dengan mudahnya Gloria dan Hana menemukannya. Tanpa babibu, Gloria menarik Tifa
ke tengah kerumunan.
“Riani mau potong kue, masa kamu nyempil di sini
sih?”
Tifa tak bisa menolak, tapi ia masih berusaha
bersembunyi dari Dave. Sayang, Dave berdiri di seberangnya. Mata mereka saling
bertemu dan tak sedetik pun pria itu mengalihkan pandangannya. Tifa pura-pura
antusias melihat Riani dan suaminya sedang beradu keromantisan. Acara pun
berlanjut dengan dansa antara para tamu. Namun, Tifa buru-buru pamit pada Riani
dan teman-temannya.
Ia beralasan bahwa ia masih jetlag dan butuh istirahat. Namun, Dave tak percaya semudah itu.
Dengan sigap ia mencegat sebelum wanita itu pergi.
“Kamu mau pulang? Biar
aku antar.”
Tifa langsung
menghentikan langkahnya, “Oh, aku baik-baik saja, Dave. Aku sudah pesan taksi
kok.”
“Kamu bisa batalkan.
Sudahlah, biarkan aku mengantarmu.”
Tifa menghela napas. Ia
menatap Dave dalam-dalam. Sial, safir indahnya masih saja memesona.
Pertahanannya bisa goyah hanya dengan satu kedipan.
“Aku benar-benar lelah, Dave.
Besok saja kalau mau bicara. Kita bisa makan siang bersama.”
Dave terlihat kecewa,
tapi ucapan Tifa terdengar menjanjikan, “Baiklah, kalau begitu aku harus
menjemputmu dimana dan jam berapa?”
“Aku mau ke ziarah dulu.
Jadi jemput saja aku di sana pukul sebelas.”
“Sepakat!”
Akhirnya, Tifa bisa
melepaskan diri dari genggaman pria itu. meski begitu ia masih tak yakin dengan
jawaban yang akan ia berikan besok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar