Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 187)




Musikal 187


Semua berbalut putih dan semburat keemasan. Sebuah pernikahan yang dibilang mewah. Diadakan dalam sebuah ballroom hotel terkenal  yang memuat hampir 700 undangan. Pesta dilaksanakan dengan mengambil konsep standing party. Dimana mempelai lebih bebas menyapa tamu undangan dan tidak berdiam diri di atas pelaminan. Di depan pintu masuk terpampang sebuah foto kedua mempelai yang bertulisakan:
Evan dan Riani
Akhirnya pascatujuh tahun berpisah dari Dave, Riani menambatkan hatinya pada pria pilihan orang tuanya. Meski pilihan orang tuanya, tapi bukan berarti ia menikah dengan terpaksa. Ia sendiri yang memutuskan dan pada kenyataannya Evan adalah pria yang ideal untuknya.
Semua teman-temannya mendapatkan undangan. Bahkan Dave pun tak luput. Pria itu juga datang sebagai tanda penghormatan.
Pintu ballroom kembali terbuka. Meski tak terdengar, tapi hentakan hak sepatu wanita itu terasa mantap. Ujung-ujung dress berayun bebas pada bagian atas lututnya. Beberapa orang sempat dibuat menoleh olehnya karena pada masa itu dress batik masih jarang dikenakan. Dengan buket mawar merah besar di tangannya, wanita itu menyapa kedua mempelai yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa tamu.
Congratulation, Ri!”
Riani tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Bahkan ia tak sudah memekik dan mengejutkan tamu-tamu yang lain.
“TIFA!”
Satu lantunan nama diiringi pelukan hangat cukup membuat beberapa mantan personel Love Musical terperanjat. Bagaimana tidak, sosok fenomenal yang biasanya hanya bisa mereka lihat di media massa kini ada dalam satu ruangan dengan mereka. Tentunya yang heboh tidak hanya Riani, beberapa anggota Love MusicaI yang lain sudah bersiap menyambutnya.
“Astaga, Tif. Aku benar-benar gak nyangka kamu akan datang!”
“Kalau kamu yang nikah, aku pasti pulang kok,” senyuman Tifa beralih pada suami Riani. Ia mengulurkan tangan seraya menyerahkan buket tersebut, “Halo, Mas Evan. Mungkin ini pertama kalinya kita bertemu.”
“Ya, senang bertemu denganmu,” Evan menyambut jabat tangan Tifa. “Riani banyak cerita mengenaimu.”
Tawa Tifa pecah, “Oh, kuharap bukan yang aneh-aneh. Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian.”
Baru saja Evan mengucapkan terima kasih, Gloria dan Hana sudah menghantui. Akan ada acara reuni dadakan setelah ini.
“Oh, apa aku bermimpi?” ujar Gloria sarkastis. “Latifa Kusuma Ningsih ada di hadapanku saat ini?”
“Maka tetaplah dalam mimpimu.”
Keduanya serempak berseru riang dan meskipun Hana tak ikut berteriak, tapi ia juga tak mau ketinggalan dipeluk. Suasana pun langsung berubah riuh. Popularitas Tifa langsung mengalahkan kedua mempelai yang harusnya menjadi raja dan ratu kala itu.
Di tengah keramaian pesta seharusnya menjadi perjalanan yang lambat. Waktu terasa berputar lebih lama dan orang-orang pun rela beraktivitas lebih lambat dari biasanya. Namun, ada satu orang yang bergerak bahkan lebih cepat daripada pelayan pembawa minuman. Ia melewati celah-celah dengan gesit meski beberapa kali ia harus bersinggungan dengan orang lain. Ia beranggapan bahwa ia harus bergerak secepat mungkin karena jika tidak maka ia akan kehilangan momen itu.
Tepat di suatu titik keramaian kakinya berhenti melangkah. Jiwa dan matanya seirama terpaku pada sosok yang ada di hadapannya. Sosok perempuan yang selalu berwujud dalam ribuan mimpinya. Sosok yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Sosok dari masa lalu.
Mata Tifa berpapasan dengan Dave. Mereka sama-sama bergeming. Tak ada yang membuat pergerakan. Tak ada pula yang bersuara. Hanya saling tatap. Seolah-olah hanya dengan lewat mata pertanyaan remeh-temeh langsung terjawab.
Sengaja atau tidak, tapi tubuh Tifa terdorong oleh Gloria. Ia menoleh, tapi sahabatnya itu hanya mengedipkan mata. Tifa tak tahu harus bagaimana karena sekarang ia sudah ada tepat di depan Dave.
“Kamu terlihat hebat, Dave,” Tifa memulai basa-basinya. “Apa kabar?”
“Kamu lebih kurus sekarang,” balas Dave kaku.
Tifa tersenyum geli, “Aku terlalu sering marah-marah makanya kurus. Bukannya kamu juga sibuk mengatur para trainee-mu. Ayahmu pasti bangga anaknya sudah jadi CEO sekarang. Ah, lama tak jumpa ayah ibumu. Ngomong-ngomong aku sekarang sudah lancar bahasa Inggris loh.”
“Kalau tidak, mana mungkin bertahun-tahun kamu tahan di sana.”
Keduanya hanya tertawa ringan. Kemudian sama-sama membisu. Di tengah keramaian keduanya justru terjebak dalam suasana canggung.
“Senang melihatmu bisa tertawa lagi.”
Tifa tersenyum simpul, “Waktu perlahan menyembuhkan.”
“Apakah waktu bisa juga mengembalikan?”
Tifa menoleh cepat. Ia mendapati Dave menatapnya serius.
“Kau dan aku, tentu saja.”
Tifa menarik napas panjang, “Aku perlu waktu, Dave.”
Buru-buru Tifa meninggalkan Dave. Ia tak bisa membiarkan Dave menebak isi hatinya hanya lewat perubahan air mukanya. Degupan jantungnya lebih keras daripada biasanya. Tifa perlu menenangkan diri.
“Tif, kamu ngapain di sini?”
Tifa tersentak. Ketika ia meninggalkan Dave, ia memilih untuk menenangkan diri di koridor gedung. Tak ia duga ternyata Riani menghampirinya. Wanita itu tidak sendiri. Ada beberapa asisten yang menemani.
“Oh, gak apa-apa. Tadi aku ada telepon dan di dalam terlalu bising,” Tifa beralasan. “Kamu sendiri kenapa malah di luar?”
“Mau touch up dulu. Sebentar lagi mau acara potong kue, kayaknya aku perlu benerin make up dulu. Ah ya, Tif, ada yang mau aku bicarakan. Temani aku yuk.”
Tak ada firasat apa pun saat Tifa mengikuti ajakan Riani. Namun, entah kenapa Riani meminta privasi dan menyuruh asistennya untuk menunggu di luar.
“Ada yang mau kubicarakan denganmu. Masalah Dave.”
Dave? Kenapa pula lelaki itu?
“Emm, yah, aku juga cukup terkejut saat tahu bukan nama Dave dalam undangan itu.”
“Itulah masalahnya, Tif. Ak masih menginginkan nama Dave dalam undangan itu.”
Tifa terperanjat mendengar Riani mengatakan hal itu dengan tenang.
“Tapi bukannya kamu sudah menikah? Lalu bagaimana dengan suamimu?”
“Dari dulu Dave tidak pernah mencintaiku. Meski aku sudah berusaha, tapi tetap saja pada akhirnya dia memutuskanku. Sampai suatu hari, aku dikenalkan orang tuaku pada Mas Evan. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Saat dia melamarku, aku hanya berpikir kalau kesempatanku mendapatkan lelaki seperti Mas Evan tidak datang dua kali. Makanya aku bersedia menikah dengannya, tapi ternyata aku masih menyimpan rasa pada Dave.”
“Apa suamimu tahu?”
“Ya, dia tahu. Dia tahu makanya aku membuat persyaratan sebelum aku menikah. Dia harus menerimaku yang separuhnya masih mencintai Dave dan dia menerima itu.”
Tifa menatap Riani tak percaya.
“Apa kamu gak berpikir itu jahat sekali?”
“Ya, aku juga berpikir demikian,” Riani terlihat menyesal. “Tapi sebenarnya aku juga mengajukan syarat pada diriku sendiri. Meskipun aku masih menyukai Dave, aku juga ingin melupakannya secepat mungkin.”
Riani meraih dan menggenggam tangan Tifa, “Tif, kamu mau bantu aku’kan? Bantu aku melupakan Dave.”
“Aku harus bagaimana?”
“Kumohon, sampai aku bisa melupakan Dave sepenuhnya, kamu jangan pernah kembali pada Dave. Aku tidak peduli jika Dave dengan perempuan lain, tapi jangan denganmu.”
“Ke—kenapa?”
“Dave memutuskanku karena sejak kamu meninggalkannya tak pernah sedetik pun dia melupakanmu. Kamu alasan terbesar Dave tak bisa mencintaimu. Kalau kamu kembali ke sisinya sekarang, aku gak bakal bisa move on. Kamu ngerti’kan?”
Jemari Tifa terasa mengejang. Entah kenapa kata-kata Riani seperti seperti perjanjian antara hidup dan mati. Menyetujuinya sama saja melakukan hal yang tidak masuk akal, tapi semua akan damai bila ia mengiyakan. Lagi pula ia juga masih tidak yakin dengan perasaannya. Sudah terlalu lama ia tak bertemu dengan Dave dan ia masih bingung harus kembali atau tidak.
“Baiklah, jika memang itu membuatmu merasa lebih baik. Aku setuju.”
Mata Riani langsung berbinar, “Ta—tapi kamu gak marah’kan?”
Tifa membalas genggaman Riani lebih erat. Bukan untuk meyakinkan wanita itu, tapi membulatkan tekadnya agar suatu hari nanti ia tak melanggarnya.
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Terima kasih, Tif!”
Mata Riani lebih berbinar daripada sebelumnya. Tifa hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Kemudian ia pamit karena kali ini Riani harus benar-benar memperbaiki make up-nya.
Tifa melangkah pergi. Semakin mendekati ballroom, jantungnya berdebar semakin keras. Ia berusaha bersembunyi di dalam keramaian. Ia tak mau menemui siapa pun, terutama Dave. Padahal bersama Riani tadi ia sudah memantapkan hati, tapi sekarang kegundahan justru menyerangnya.
Ia memang berhasil bersembunyi dari Dave, tapi dengan mudahnya Gloria dan Hana menemukannya. Tanpa babibu, Gloria menarik Tifa ke tengah kerumunan.
“Riani mau potong kue, masa kamu nyempil di sini sih?”
Tifa tak bisa menolak, tapi ia masih berusaha bersembunyi dari Dave. Sayang, Dave berdiri di seberangnya. Mata mereka saling bertemu dan tak sedetik pun pria itu mengalihkan pandangannya. Tifa pura-pura antusias melihat Riani dan suaminya sedang beradu keromantisan. Acara pun berlanjut dengan dansa antara para tamu. Namun, Tifa buru-buru pamit pada Riani dan teman-temannya.
Ia beralasan bahwa ia masih jetlag dan butuh istirahat. Namun, Dave tak percaya semudah itu. Dengan sigap ia mencegat sebelum wanita itu pergi.
“Kamu mau pulang? Biar aku antar.”
Tifa langsung menghentikan langkahnya, “Oh, aku baik-baik saja, Dave. Aku sudah pesan taksi kok.”
“Kamu bisa batalkan. Sudahlah, biarkan aku mengantarmu.”
Tifa menghela napas. Ia menatap Dave dalam-dalam. Sial, safir indahnya masih saja memesona. Pertahanannya bisa goyah hanya dengan satu kedipan.
“Aku benar-benar lelah, Dave. Besok saja kalau mau bicara. Kita bisa makan siang bersama.”
Dave terlihat kecewa, tapi ucapan Tifa terdengar menjanjikan, “Baiklah, kalau begitu aku harus menjemputmu dimana dan jam berapa?”
“Aku mau ke ziarah dulu. Jadi jemput saja aku di sana pukul sebelas.”
“Sepakat!”
Akhirnya, Tifa bisa melepaskan diri dari genggaman pria itu. meski begitu ia masih tak yakin dengan jawaban yang akan ia berikan besok.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar