Musikal
204
Ririn hanya meletakan
barang-barangnya begitu ia pulang kemudian ia langsung mendatangi rumah Andani.
Anjani yang menyambutnya kebingungan karena baru kali ini ia melihat Ririn
beringasan.
“Jangan khawatir, aku cuma mau mengintrogasi dia bukan mau memakannya,”
ia meyakinkan Anjani agar tidak cemas. Ia langsung menutup pintu kamar Andani
dan menguncinya.
“Aku pikir kamu bakal tidur panjang. Ada apa ke sini buru-buru?”
“Sekarang cerita sama aku, ada hubungan apa antara kamu dengan Alexi?”
Andani terperanjat. Ia tak pernah menyangka Ririn akan mencurigai
kedekatan mereka.
“Wow, wow, aku dan Alexi baik-baik saja. Kami hanya berteman dan tidak
lebih dari itu. Kamu pikir aku akan mengkhianati pacarku yang jauh lebih
ganteng?”
“Bukan itu maksudku, An,” Ririn menghela napas berat. “Maksudku, apa
kamu tahu sesuatu tentang Alexi? Latar belakangnya mungkin”.
Kepala Andani mengangguk ketika ia memahami kata-kata sahabatnya.
Bukannya langsung menjawab, ia justru menyalakan laptop dan membuka Youtube. Ia mengisyaratkan Ririn agar
ikut menonton tayangan tersebut.
“See? Itu Alexi”.
Giliran Ririn yang terkejut. Bukan karena tayangan tersebut menyeramkan.
Video tersebut hanya menampilkan seorang anak laki-laki yang sedang bermain
piano dalam sebuah resital. Kemudian banyak tayangan serupa di bawah video
tersebut.
“Itu baru resital dan video itu diambil sekitar dua atau tiga tahun
lalu. Masih ada konsernya bersama orkestra-orkestra terkenal”.
“Ta—tapi, Alexi Kim?”
Andani mengangguk, “Ya, itu nama aslinya. Ayahnya asli Korea dan ibunya
dari Bandung. Aku gak terlalu kepo dengan urusan pribadinya, tapi nama Alexi
Agriawan itu sama dengan nama ibunya, Sandra Agriawan. Nama aslinya sekaligus
nama panggungnya sih Alexi Kim”.
‘Sabar aja, ya.
Memiliki darah campuran itu gak seenaknya yang dibayangkan kok.’
Rasanya sudah lama sekali Ririn mendengar kata-kata
itu. Akhirnya ia mengetahui hubungan kalimat itu dengan kehidupan pribadi
Alexi. Pantas pemuda itu seolah bisa mengerti semuanya.
“Terus, kamu tahu dari mana?”
“Bisa dibilang aku salah satu fansnya. Aku sering nonton dia resital
atau konser dengan orkestra, tapi waktu pertama kali ketemu dia, jujur aku
benar-benar gak kenal. Aku gak ngerti kenapa dia harus nyamar jadi anak seculun
itu. Padahal salah satu daya tariknya adalah muka imut-imut kayak artis Korea.
“Aku mulai curiga sama dia waktu kita masih sama-sama dalam tim musik.
Jarang ada anak bermain piano sehebat dia. Akhirnya aku gak sengaja lihat
mukanya langsung waktu dia mau bersihin kacamata. Aku paksa dia jawab, terus
dia ngaku deh, tapi dia minta aku tutup mulut soal jati dirinya. Waktu aku
tanya kenapa, dia bilang dia gak mau dianggap berbeda oleh teman-teman.”
Dahi Ririn berkerut, “Cuma itu?”
“Ya, sebenarnya aku minta imbalan juga sih,” Andani terkekeh seraya
menunjukan ponselnya. “Aku minta selfie
bareng dia dengan muka asli. Sumpah, cuma itu dan aku langsung tutup mulut
sampai hari ini”.
Ririn mengamati foto itu. Benar, wajahnya mirip dengan laki-laki yang
ada di video itu. Kalau memang benar dia adalah seniman hebat, lantas kenapa
dia harus pindah ke sekolah yang tidak akan membawanya ke masa depan yang lebih
cerah?
“Satu lagi sih yang aku lagi selidiki,” Andani mengetuk-ngetuk dagu
dengan telunjuknya. “Dia memang gak bilang, tapi kayaknya dia suka kamu deh”.
Ririn mendesah panjang seraya mengembalikan ponsel Andani, “Kalau itu
sih aku tahu?”
“Serius? Dia sudah bilang?” ujar Andani antusias.
“Gak sih, cuma nebak-nebak juga”.
“Yaah, kirain udah bilang,” Andani menghempaskan punggungnya ke kursi,
senyum jahilnya kembali menghiasi. “Terus Adrian gimana tuh?”
“Gak tahu, aku udah move on”.
“Waaw, yakin nih?”
“Udah deh, kenapa jadi bahas ke sana sih?” sahut Ririn dongkol. “Ya
udah, makasih buat informasinya. Aku pulang dulu, capek. Aku buru-buru ke sini
karena penasaran aja”.
Andani hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kebingungan justru
menyergapi Anjani yang menunggu Ririn di luar kamar. Ririn hanya tersenyum
kecil saat berpamitan dan tanpa sepatah kata ia pulang ke rumahnya.
“Anak itu kenapa sih? Datang-datang udah kayak petugas BNN aja”.
“Ah, bukan masalah besar,” Andani terkekeh sambil mematikan laptopnya.
“Cuma masalah asmara”.
“Asmara? Sama siapa?”
“Lihat saja nanti. Udah ah, aku mau istirahat dulu”.
ooOoo
Ririn tak sabar
menunggu malam tiba. Seusai makan malam, ia sengaja menunggu ayahnya yang
sedang sibuk di balik meja kerja. Saksi kunci terakhirnya harus segera ia
introgasi sekarang. Sayangnya, sang ayah sudah berpesan untuk tidak diganggu
karena ia harus menyelesaikan satu artikel yang tenggat waktunya besok. Tak punya
pilihan lain, ia terpaksa menunggu di ruang tamu sembari mencari tahu sosok
“Alexi Kim” di internet.
Ternyata sosok “Alexi Kim” itu luar biasa. Ayahnya seorang konduktor
hebat dari Korea Selatan dan ibunya seorang dosen yang mengajarkan seni musik. Kedua
orang tuanya bertemu ketika ayah Alexi datang ke Indonesia. Kala itu ia datang
sebagai tamu di kampus tempat ibunya mengajar. Setelah mengalami kisah yang
cukup panjang, mereka menikah. Meski keduanya menetap di Korea, tetapi mereka
sering berpindah-pindah karena tuntutan kerja sang ayah. Bahkan Alexi sendiri
lahir bukan di Korea, tetapi Prancis.
Sampai dengan umur tujuh tahun, Alexi menetap di Prancis. Kemudian
mereka sekeluarga pindah lagi ke Seoul. Hingga karena kesehatan sang ibu, Alexi
mengakhiri hidup nomadennya di Bandung.
‘Mungkin saat itu dia
berkenalan dengan Nadia,’ pikir Ririn seraya mendesah panjag.
Bakat kedua orang tuanya, ternyata mengalir dalam diri Alexi. Sejak
kecil, Alexi memang mempunyai kemampuan yang cepat dalam memahami musik.
Ditambah lagi obsesi sang ayah yang ingin menjadikannya seorang legenda musik.
Meski masih muda, kemampuan Alexi di bidang musik sudah tak diragukan lagi.
INSIDEN
GEDUNG BALAI RESITAL KERTANEGARA, SATU PENONTON TERLUKA
Napas Ririn tertahan saat headline
berita itu muncul di salah satu hasil pencarian. Jantungnya berdebar-debar saat
membuka situs tersebut. Ia membaca semua berita yang tertulis dengan hati-hati.
Perutnya semakin bergejolak saat melihat tanggal dan nama korban di sana.
Marinda Prasetya (13)
tak sadarkan diri akibat tertimpa reruntuhan genting. Menurut saksi mata, gadis
itu mencoba menyelamatkan seorang pianis terkenal asal Korea Selatan, Alexi Kim
(13). Kini korban dibawa ke rumah sakit untuk penanganan intensif.
Mata Ririn menatap kosong layar laptopnya. Ia bahkan tak sadar kalau
ayahnya sedari tadi memanggilnya.
“Rin, Rin, kamu baik-baik saja?”
Tatapan kosong itu beralih pada ayahnya. Baru kali ini Armandi melihat
putri memasang ekspresi sangat horor.
“Pa, ceritakan padaku gimana caranya aku bisa dapat luka ini?”
Armandi baru menarik napas panjang, tapi Ririn kembali menekannya.
“Jujur, Pa”.
“Oke, Papa akan cerita. Kita ke balkon ya, Nak. Satu lagi, berhentilah
memasang wajah seseram itu. Ini di rumah, bukan di panggung”.
Ririn mengerjap matanya beberapa kali. Dalam satu tarikan napas, ia
kembali ke wajah aslinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar