Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 201)




Musikal 201

Tifa berlari kencang. Sesekali ia mengusap air matanya tak sabar menunggu gravitasi menyerap. Ia tak peduli dengan larangan untuk tidak bergerak cepat atau terlalu lelah. Ada sebuah kabar yang mengejutkan. Terlalu mengejutkan bahkan jantung akan dua kali lepas jika mendengarnya.
“Dok—dokter, a—apa ini mung—mungkin?”
“Ya, hasil pengecekkanmu menunjukkan bahwa….”
Tifa sampai di ambang pintu. Dengan napas terengah-engah, ia memanggil sebuah nama. Suaranya bahkan melebihi suara audio yang sangat kencang.
“DAVE….”
Semua orang tersentak. Merasa namanya dipanggil, Dave buru-buru menghampiri Tifa yang keadaan sudah semewarut. Di sisi lain, Alexi buru-buru mematikan volume turntable-nya. Semua orang tegang menunggu apa yang akan dilakukan Tifa.
Wanita itu kembali berlari. Kemudian melempar tubuhnya dalam pelukan Dave. Air matanya merembes dari balik kemeja pria itu. Tak lama, karena sang pria langsung melepaskan pelukan si wanita dan menatapnya cemas.
“Tif, ada apa?”
“…. Bahwa penyakitmu sembuh. Semua sel kankermu menghilang”.
Senyum Tifa mengembang kemudian ia menegakkan tubuhnya dengan bangga.
“Lamar aku sekali lagi, Dave”.
ooOoo
Dave merasa tak sendiri. Semua orang yang ada di sana juga terkejut. Bagaimana mungkin Tifa mengatakan hal sakral dengan sikap yang sembrono.
“Ka—kamu baik-baik saja, Tif?”
“Ya, sangat baik”.
“Kamu tidak bercanda, kan?”
 “Tidak. Kamu bawa cincinnya, kan?”
“Ya—ya—ya, aku bawa, ta—tapi kenapa?”
“Kenapa? Apa kamu tidak suka?”
“Su—suka, ta—tapi—”
“Kamu mau aku berubah pikiran?”
“Demi Tuhan, tunggu dulu!”
Dave menarik napas panjang sementara itu Tifa berusaha menyimpan kegeliannya dengan mengulum senyumnya. Pria itu tampak kebingungan. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak beludru merah.
“Aku harap adegan ini bisa lebih romantis lagi, tapi….”
Dave tiba-tiba berlutut di hadapan Tifa, “Dengan segala kekurangan dan kelemahan, aku datang membawa semua harapan untukmu. Kaulah satu-satunya cintaku. Latifa Kusuma Ningsih, bersediakah kamu menerimaku sebagai suamimu?”
Semua wanita akan menahan napas saat mendengarnya. Meski Dave menyatakan ia bisa lebih romantis, tapi semua kata-kata yang ia susun membuat siapa pun meleleh bila mendengarnya. Sungguh terlalu jika ada wanita yang menolak pria seromantis ini.
“Ya!” jawab Tifa dalam satu tarikan napas.
Dave memerlukan tiga detik sampai sorakan semua orang menyadarkannya. Ia masih tak percaya Tifa menerima lamarannya. Ia selalu siap jika ditolak Tifa kapan saja, tapi sensasi lamaran yang diterima ternyata sungguh membuatnya bingung. Ia bahkan tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan saat ini.
“Apa kamu akan tetap diam atau memasangkan cincin itu untukku?”
Dave tertawa patah-patah, “Sungguh, kupikir kali ini aku akan ditolak lagi”.
Tifa tertawa saat Dave menyematkan cincin itu di jari manisnya. Semua orang kembali bersorak. Kali ini Dave yang mendekap Tifa sangat erat. Ia tak ingin jika kali ini Tifa akan pergi dan membuat semua ini hanya menjadi mimpi.
“Sungguh, aku ingin punya sebelas anak darimu,” bisik Dave.
“Berarti kau harus siap aku kebiri,” balas Tifa.
Dave tak bisa menahan diri lagi. Tak peduli di sana banyak anak-anak dan orang tua kolot. Dave mencium gadis pujaannnya ini di depan banyak orang. Biar saja banyak yang protes, kali ini dunia hanya milik mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar