Musikal
201
Tifa berlari kencang.
Sesekali ia mengusap air matanya tak sabar menunggu gravitasi menyerap. Ia tak
peduli dengan larangan untuk tidak bergerak cepat atau terlalu lelah. Ada
sebuah kabar yang mengejutkan. Terlalu mengejutkan bahkan jantung akan dua kali
lepas jika mendengarnya.
“Dok—dokter, a—apa ini
mung—mungkin?”
“Ya, hasil
pengecekkanmu menunjukkan bahwa….”
Tifa sampai di ambang pintu. Dengan napas terengah-engah, ia memanggil
sebuah nama. Suaranya bahkan melebihi suara audio yang sangat kencang.
“DAVE….”
Semua orang tersentak. Merasa namanya dipanggil, Dave buru-buru
menghampiri Tifa yang keadaan sudah semewarut. Di sisi lain, Alexi buru-buru mematikan
volume turntable-nya. Semua orang
tegang menunggu apa yang akan dilakukan Tifa.
Wanita itu kembali berlari. Kemudian melempar tubuhnya dalam pelukan
Dave. Air matanya merembes dari balik kemeja pria itu. Tak lama, karena sang
pria langsung melepaskan pelukan si wanita dan menatapnya cemas.
“Tif, ada apa?”
“…. Bahwa penyakitmu
sembuh. Semua sel kankermu menghilang”.
Senyum Tifa mengembang kemudian ia menegakkan tubuhnya dengan bangga.
“Lamar aku sekali lagi, Dave”.
ooOoo
Dave merasa tak
sendiri. Semua orang yang ada di sana juga terkejut. Bagaimana mungkin Tifa
mengatakan hal sakral dengan sikap yang sembrono.
“Ka—kamu baik-baik saja, Tif?”
“Ya, sangat baik”.
“Kamu tidak bercanda, kan?”
“Tidak. Kamu bawa cincinnya,
kan?”
“Ya—ya—ya, aku bawa, ta—tapi kenapa?”
“Kenapa? Apa kamu tidak suka?”
“Su—suka, ta—tapi—”
“Kamu mau aku berubah pikiran?”
“Demi Tuhan, tunggu dulu!”
Dave menarik napas panjang sementara itu Tifa berusaha menyimpan
kegeliannya dengan mengulum senyumnya. Pria itu tampak kebingungan. Ia merogoh
saku celananya dan mengeluarkan kotak beludru merah.
“Aku harap adegan ini bisa lebih romantis lagi, tapi….”
Dave tiba-tiba berlutut di hadapan Tifa, “Dengan segala kekurangan dan
kelemahan, aku datang membawa semua harapan untukmu. Kaulah satu-satunya
cintaku. Latifa Kusuma Ningsih, bersediakah kamu menerimaku sebagai suamimu?”
Semua wanita akan menahan napas saat mendengarnya. Meski Dave menyatakan
ia bisa lebih romantis, tapi semua kata-kata yang ia susun membuat siapa pun
meleleh bila mendengarnya. Sungguh terlalu jika ada wanita yang menolak pria
seromantis ini.
“Ya!” jawab Tifa dalam satu tarikan napas.
Dave memerlukan tiga detik sampai sorakan semua orang menyadarkannya. Ia
masih tak percaya Tifa menerima lamarannya. Ia selalu siap jika ditolak Tifa
kapan saja, tapi sensasi lamaran yang diterima ternyata sungguh membuatnya
bingung. Ia bahkan tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan saat ini.
“Apa kamu akan tetap diam atau memasangkan cincin itu untukku?”
Dave tertawa patah-patah, “Sungguh, kupikir kali ini aku akan ditolak
lagi”.
Tifa tertawa saat Dave menyematkan cincin itu di jari manisnya. Semua
orang kembali bersorak. Kali ini Dave yang mendekap Tifa sangat erat. Ia tak
ingin jika kali ini Tifa akan pergi dan membuat semua ini hanya menjadi mimpi.
“Sungguh, aku ingin punya sebelas anak darimu,” bisik Dave.
“Berarti kau harus siap aku kebiri,” balas Tifa.
Dave tak bisa menahan diri lagi. Tak peduli di sana banyak anak-anak dan
orang tua kolot. Dave mencium gadis pujaannnya ini di depan banyak orang. Biar
saja banyak yang protes, kali ini dunia hanya milik mereka berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar