Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Januari 2018

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 184)




Musikal 184

Latihan di bawah asuhan Hana pun dimulai. Suasana sedikit terasa kaku, mengingat mereka sudah lama tidak latihan kemudian berganti instruktur pula. Namun, selebihnya latihan berjalan normal. Semua anggota tak ada yang absen, begitu pula dengan para pelati mereka. Riani, Gloria, bahkan Dave kembali melatih seolah-olah tidak ada hal besar yang terjadi kemarin.
Hana belum sepenuhnya melatih. Ia membiarkan Adrian yang memimpin karena posisi pemuda itu sebagai asisten sutradara lebih berpengaruh saat ini. Ia lebih memilih untuk mengobservasi keadaan dan banyak belajar dari catatan-catatan yang dibuat Tifa.
“Baiklah, terima kasih sudah berlatih dengan baik hari ini, tapi aku punya sedikit catatan untuk kalian.”
Sesi latihan ditutup dengan mendengar wejangan-wejangan dari pelatih baru mereka. Kepala sekolah mereka ternyata lebih teliti daripada sutradara lama mereka. Selain itu, diksi yang disampakan terdengar lebih teratur. Berbanding terbalik dengan cara Tifa menyampaikan catatan latihan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasa seperti orang tolol yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tak jarang setelah latihan banyak yang merasa sakit hati dan menggunjingkan hal tersebut dalam kesempatan lain. Begitulah Tifa karena baginya dengan cara yang keras seorang amatir bisa berubah disiplin.
“Tapi dari semua masalah kalian, saya masih sangat terganggu dengan adegan dansa,” Hana menatap tajam pada Adrian dan Fi. “Tolong fokuskan pada adegan ini karena adegan ini adalah adegan utama. Saya tidak mau tahu pokoknya chemistry kalian harus lebih intim daripada tadi. Mengerti?”
“Mengerti,” sahut Fi dan Adrian hampir berbarengan.
Ririn hanya bisa melirik keduanya bergantian.
“Oke, sampai di sini dulu latihan kita hari ini. Silakan pulang dan beristirahat.”
Dave tahu kalau hanya anggota yang dibubarkan. Hana pasti akan melakukan evaluasi lagi untuk para instruktur. Ia pun buru-buru menyambar keponakannya sebelum gadis itu melangkah ke luar.
“Rin, pulangnya bareng Om aja.”
“Oh, boleh,” ujar gadis itu setengah terkejut. “Hari ini gak nungguin Miss Tifa?”
“Gak dulu. Tadi ibunya Tifa bilang dia aja yang mau jaga Tifa. Adrian juga disuruhnya pulang,” ujar Dave. “Tapi tunggu dulu ya, soalnya mau ada rapat kecil nih. Gak apa’kan?”
Ririn mengangguk paham. Dave memberikan kunci mobil dan meminta gadis itu menunggu di mobilnya. Kemudian ia segera bergabung dengan ketiga temannya.
“Baiklah, terima kasih sudah mau meluangkan waktu kalian sedikit lebih lama. Aku akan langsung membahas pada poin-poinnya saja.”
Hana menunjukkan catatan yang ia buat selama latihan berlangsung. Ia membahasnya satu per satu. Mempertanyakan ini dan itu. Berbagai respon pun mulai ditunjukkan oleh Gloria, Riani, bahkan Dave. Perdebatan berlangsung alot, tapi tidak memakan waktu lama.
“Uwaaah, rasanya lebih ribet dari biasanya,” Gloria merentangkan kedua tangannya.
“Maaf deh, kalian jadi repot,” ujar Hana sambil menyimpan buku catatannya. “Aku juga baru bergabung jadi aku gak mau buat kesalahan.”
“Bukan gitu, Han,” sahut Gloria. “Kita memang selalu terima beres dari Tifa, tapi kadang sebel juga dengan ide-idenya yang kadang bikin terkejut. Kadang-kadang kita sudah fix sama suatu hal, eh tiba-tiba dia ganti seenak jidat. Bikin capek tahu gak.”
“Memangnya sejak kapan Tifa mau kompromi?” Dave terkekeh
“Maksud Gloria itu sebenarnya kita senang kalau dilibatkan langsung seperti ini. Mungkin kita sedikit capek, tapi rasanya kita benar-benar bekerja,” ujar Riani seraya melirik Gloria. “Iya’kan, Glo?”
Gloria mengangguk setuju.
“Beda orang beda cara,” Hana tersenyum tipis. “Jangan pernah bandingankan Holmes dan Poirot.”
Mereka tertawa bersama.
ooOoo
“Sendirian aja, Non?”
Ririn terlonjak kaget mendengar suara itu. Ia menunggu di dalam mobil dan sengaja tidak menyalakan AC. Sebagai gantinya ia membiarkan kaca mobil terbuka. Namun, ia tak menyangka Adrian akan menyapanya dengan cara yang mengejutkan seperti tadi.
“Astaga, aku kira om-om gatel tahu gak?”
Adrian balas tersenyum, “Belum pulang?”
“Nunggu Om-ku rapat dulu. Eh, kamu gak ke rumah sakit?”
“Nenek bilang dia mau nunggu sendirian. Aku sedikit khawatir sih, tapi dia bilang mau kasih kesempatakan aku dan Om-mu istrirahat di hari pertama latihan.”
Ririn mengangguk pelan, “Ah ya, sebenarnya ada yang menganggu pikiranku sejak latihan tadi. Ini yah… tentang kamu dan Fi.”
“Oh itu,” terdengar desahan berat dari Adrian.
“Begini, bukan maksudku mencampuri urusan kalian, tapi kupikir kalian harus bicara. Kalian gak bisa selamanya berakting baik-baik saja. Semua selalu terlihat dari atas panggung.”
Desahan berat itu lagi.
“Tidak akan semudah itu, Rin.”
“Aku tahu, tapi bicaralah. Harus sekarang karena setelah pementasan ini berakhir, aku yakin kamu gak bakal di sini lagi dan semua akan percuma.”
Adrian tersentak, “Kenapa kamu berpikir demikian?”
“Firasat saja,” Ririn mengangkat bahu.
“Entahlah, Rin. Aku bahkan tidak bisa menentukan prioritasku sekarang untuk apa. Mungkin yah… aku memang penakut.”
“Jangan begitu dong,” Ririn memberikan tinju kecil pada bahu Adrian. “Kamu bisa cerita sama aku. Kamu juga bisa minta tolong sama aku kok. Kita ini―”
“Yah, aku tahu,” Adrian mengusap lembut kepala gadis itu. “Sahabat dan saudara, bukan?”
Ada banyak yang ingin Ririn tanyakan dari hubungan ini. Namun, selalu tertahan dalam senyumannya. Terutama saat matanya menatap pemuda ini.
“Hei, jangan ganggu anak gadis malam-malam,” Dave menyapa dengan nada marah yang di buat-buat. “Mentang-mentang keponakanku cantik.”
“Wah, maaf deh. Pengawal tuan putri udah datang ternyata,” Adrian terkekeh. “Padahal cuma mau nemenin aja kok.”
Dave tersenyum geli, “Belum pulang?”
“Ya, tadinya, tapi pas lihat ada cewek cantik jadi niat godain dulu deh.”
Dua-duanya tertawa bersama.
“Kita bisa cepat pulang, Om?” omel Ririn dengan bibir berkerut.
“Ah, tuan putri sudah marah. Baiklah, sampai jumpa besok. Salam buat nenekmu.”
Adrian tersenyum lalu melambaikan tangan saat mobil knalpot mobil itu menderu. Entah kenapa malam itu Ririn tak mengucapkan salam perpisahan sebelum mereka berpisah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar