Musikal
184
Latihan di bawah asuhan
Hana pun dimulai. Suasana sedikit terasa kaku, mengingat mereka sudah lama
tidak latihan kemudian berganti instruktur pula. Namun, selebihnya latihan
berjalan normal. Semua anggota tak ada yang absen, begitu pula dengan para
pelati mereka. Riani, Gloria, bahkan Dave kembali melatih seolah-olah tidak ada
hal besar yang terjadi kemarin.
Hana belum sepenuhnya melatih. Ia membiarkan Adrian yang memimpin karena
posisi pemuda itu sebagai asisten sutradara lebih berpengaruh saat ini. Ia lebih
memilih untuk mengobservasi keadaan dan banyak belajar dari catatan-catatan
yang dibuat Tifa.
“Baiklah, terima kasih sudah berlatih dengan baik hari ini, tapi aku
punya sedikit catatan untuk kalian.”
Sesi latihan ditutup dengan mendengar wejangan-wejangan dari pelatih
baru mereka. Kepala sekolah mereka ternyata lebih teliti daripada sutradara
lama mereka. Selain itu, diksi yang disampakan terdengar lebih teratur.
Berbanding terbalik dengan cara Tifa menyampaikan catatan latihan. Siapa pun
yang mendengarnya pasti akan merasa seperti orang tolol yang tidak bisa
melakukan apa-apa. Tak jarang setelah latihan banyak yang merasa sakit hati dan
menggunjingkan hal tersebut dalam kesempatan lain. Begitulah Tifa karena
baginya dengan cara yang keras seorang amatir bisa berubah disiplin.
“Tapi dari semua masalah kalian, saya masih sangat terganggu dengan
adegan dansa,” Hana menatap tajam pada Adrian dan Fi. “Tolong fokuskan pada
adegan ini karena adegan ini adalah adegan utama. Saya tidak mau tahu pokoknya chemistry kalian harus lebih intim
daripada tadi. Mengerti?”
“Mengerti,” sahut Fi dan Adrian hampir berbarengan.
Ririn hanya bisa melirik keduanya bergantian.
“Oke, sampai di sini dulu latihan kita hari ini. Silakan pulang dan
beristirahat.”
Dave tahu kalau hanya anggota yang dibubarkan. Hana pasti akan melakukan
evaluasi lagi untuk para instruktur. Ia pun buru-buru menyambar keponakannya
sebelum gadis itu melangkah ke luar.
“Rin, pulangnya bareng Om aja.”
“Oh, boleh,” ujar gadis itu setengah terkejut. “Hari ini gak nungguin Miss Tifa?”
“Gak dulu. Tadi ibunya Tifa bilang dia aja yang mau jaga Tifa. Adrian
juga disuruhnya pulang,” ujar Dave. “Tapi tunggu dulu ya, soalnya mau ada rapat
kecil nih. Gak apa’kan?”
Ririn mengangguk paham. Dave memberikan kunci mobil dan meminta gadis
itu menunggu di mobilnya. Kemudian ia segera bergabung dengan ketiga temannya.
“Baiklah, terima kasih sudah mau meluangkan waktu kalian sedikit lebih
lama. Aku akan langsung membahas pada poin-poinnya saja.”
Hana menunjukkan catatan yang ia buat selama latihan berlangsung. Ia
membahasnya satu per satu. Mempertanyakan ini dan itu. Berbagai respon pun
mulai ditunjukkan oleh Gloria, Riani, bahkan Dave. Perdebatan berlangsung alot,
tapi tidak memakan waktu lama.
“Uwaaah, rasanya lebih ribet dari biasanya,” Gloria merentangkan kedua
tangannya.
“Maaf deh, kalian jadi repot,” ujar Hana sambil menyimpan buku
catatannya. “Aku juga baru bergabung jadi aku gak mau buat kesalahan.”
“Bukan gitu, Han,” sahut Gloria. “Kita memang selalu terima beres dari
Tifa, tapi kadang sebel juga dengan ide-idenya yang kadang bikin terkejut.
Kadang-kadang kita sudah fix sama suatu hal, eh tiba-tiba dia ganti seenak
jidat. Bikin capek tahu gak.”
“Memangnya sejak kapan Tifa mau kompromi?” Dave terkekeh
“Maksud Gloria itu sebenarnya kita senang kalau dilibatkan langsung
seperti ini. Mungkin kita sedikit capek, tapi rasanya kita benar-benar
bekerja,” ujar Riani seraya melirik Gloria. “Iya’kan, Glo?”
Gloria mengangguk setuju.
“Beda orang beda cara,” Hana tersenyum tipis. “Jangan pernah
bandingankan Holmes dan Poirot.”
Mereka tertawa bersama.
ooOoo
“Sendirian aja, Non?”
Ririn terlonjak kaget mendengar suara itu. Ia menunggu di dalam mobil
dan sengaja tidak menyalakan AC. Sebagai gantinya ia membiarkan kaca mobil
terbuka. Namun, ia tak menyangka Adrian akan menyapanya dengan cara yang
mengejutkan seperti tadi.
“Astaga, aku kira om-om gatel tahu gak?”
Adrian balas tersenyum, “Belum pulang?”
“Nunggu Om-ku rapat dulu. Eh, kamu gak ke rumah sakit?”
“Nenek bilang dia mau nunggu sendirian. Aku sedikit khawatir sih, tapi
dia bilang mau kasih kesempatakan aku dan Om-mu istrirahat di hari pertama
latihan.”
Ririn mengangguk pelan, “Ah ya, sebenarnya ada yang menganggu pikiranku
sejak latihan tadi. Ini yah… tentang kamu dan Fi.”
“Oh itu,” terdengar desahan berat dari Adrian.
“Begini, bukan maksudku mencampuri urusan kalian, tapi kupikir kalian
harus bicara. Kalian gak bisa selamanya berakting baik-baik saja. Semua selalu
terlihat dari atas panggung.”
Desahan berat itu lagi.
“Tidak akan semudah itu, Rin.”
“Aku tahu, tapi bicaralah. Harus sekarang karena setelah pementasan ini
berakhir, aku yakin kamu gak bakal di sini lagi dan semua akan percuma.”
Adrian tersentak, “Kenapa kamu berpikir demikian?”
“Firasat saja,” Ririn mengangkat bahu.
“Entahlah, Rin. Aku bahkan tidak bisa menentukan prioritasku sekarang
untuk apa. Mungkin yah… aku memang penakut.”
“Jangan begitu dong,” Ririn memberikan tinju kecil pada bahu Adrian. “Kamu
bisa cerita sama aku. Kamu juga bisa minta tolong sama aku kok. Kita ini―”
“Yah, aku tahu,” Adrian mengusap lembut kepala gadis itu. “Sahabat dan
saudara, bukan?”
Ada banyak yang ingin Ririn tanyakan dari hubungan ini. Namun, selalu
tertahan dalam senyumannya. Terutama saat matanya menatap pemuda ini.
“Hei, jangan ganggu anak gadis malam-malam,” Dave menyapa dengan nada
marah yang di buat-buat. “Mentang-mentang keponakanku cantik.”
“Wah, maaf deh. Pengawal tuan putri udah datang ternyata,” Adrian
terkekeh. “Padahal cuma mau nemenin aja kok.”
Dave tersenyum geli, “Belum pulang?”
“Ya, tadinya, tapi pas lihat ada cewek cantik jadi niat godain dulu
deh.”
Dua-duanya tertawa bersama.
“Kita bisa cepat pulang, Om?” omel Ririn dengan bibir berkerut.
“Ah, tuan putri sudah marah. Baiklah, sampai jumpa besok. Salam buat
nenekmu.”
Adrian tersenyum lalu melambaikan tangan saat mobil knalpot mobil itu
menderu. Entah kenapa malam itu Ririn tak mengucapkan salam perpisahan sebelum
mereka berpisah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar